Keutamaan laki-laki atas perempuan

Saat ini permasalahan gender atau persamaaan hak laki-laki dengan perempuan selalu hangat untuk dibicarakan. Persamaan hak tersebut meliputi berbagai bidang, dari mulai hak mendapatkan pekerjaan, hak untuk mengeluarkan aspirasi, hak berpolitik, pendidikan, dan lain sebagainya.

Islam telah menerangkan bahwa laki-laki dan perempuan itu pada dasarnya berbeda, artinya dari mulai jenis kelamin, hak persaksian, hak waris, dan lain sebagainya. Oleh karena itu jangan sampai permasalahan gender tersebut menjadi kebablasan, artinya ada batasan-batasan mana wilayah laki-laki dan mana wilayah perempuan.

Banyak sekali dalil dari Al Qur’an dan hadits yang menjelaskan mengenai keutamaan laki-laki atas perempuan ini, beberapa diantaranya akan dijelaskan di bawah ini.

Allah berfirman dalam surat An Nisaa’ ayat 34:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[a] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[b]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[c], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[d]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.”

[a] Maksudnya: tidak Berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.

[b] Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

[c] Nusyuz: Yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.

[d] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Ayat di atas turun mengenai peristiwa Sa’ad bin Ar Rabi’ Al Anshari yang telah menampar istrinya, puteri Muhammad bin Maslamah. Datanglah istrinya menghadap Rasulullah, dan beliau memutuskan untuk dibalas. Maka turunlah malaikat Jibril seketika itu juga kepada beliau dengan membawa ayat di atas. Ar rijaalu qawwaamuuna ‘alan nisaa-i, yakni mereka dikuasakan untuk menangani urusan-urusan istri dan mendidiknya.

Diriwayatkan dari Fudhail bin Ubaidah, dia mengatakan bahwa ada seorang laki-laki telah masuk dalam masjid, lalu dia mengerjakan shalat. Setelah selesai dia berdoa, “Ya Allah, ampunilah aku dan berilah aku rahmat.”

Lalu Nabi Muhammad bersabda, “Engkau tergesa-gesa hai orang yang mengerjakan shalat. Apabila engkau telah mengerjakan shalat, duduklah lalu memujilah kepada Allah dengan pujian yang pantas untuk-Nya dan bacalah shalawat kepadaku, kemudian berdoalah kepada Allah.”

Kemudian datang laki-laki lain dan mengerjakan shalat. Setelah dia selesai dia memuji Allah dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Maka Rasulullah bersabda, “Hai orang-orang yang shalat, berdoalah tentu engkau akan dikabulkan, berdoalah tentu engkau dikabulkan. Demikianlah, barang siapa yang mendengar namaku, lalu dia membaca shalawat padaku tentu Allah akan mengabulkan semua doanya.”

 

Dunia Akan Rusak Jika Kaum Lelaki Mengingkari Ajaran Allah

Kalaulah kaum wanita yang tidak shalih, maka ia akan bertingkah merusak dunia dengan godaannya berupa kerlingan mata yang jalang, memamerkan keindahan tubuhnya, hanya sekedar itu. Tetapi kalau lelaki yang ingkar pada agama Allah, Masya Allah, dia akan gunakan kekuatan dan kemampuan dirinya itu untuk merusak sistem kehidupan yang diajarkan islam, kalau ada orang lain yang menolak, maka ia akan memaksa dengan kekerasan.

Lihatlah Fir’aun ! Seorang raja yang membunuh semua anak laki-laki yang lahir di negerinya, dia adalah seorang laki-laki.

Lihatlah Namrudz ! Raja zalim yang membakar tubuh seorang kekasih Allah, dia pun seorang laki-laki.

Siapakah yang membakar hidup-hidup semua warga yang beriman dalam kisah Ashkabul Khudud ? Itu pun seorang laki-laki.

Siapakah Hitler ? Siapakah Benito Mussolini ? Siapakah Ferdinand Marcos ?

Semua begundal-begundal yang pernah menindas, menggunting kebenaran Allah, kebanyakan terdiri dari kaum lelaki.

Wahai kaum lelaki, kau memang gagah, kau perkasa, tubuhmu tegap, tapi Allah Tuhan kami tidak akan takut padamu. Betapa pun gagahnya kamu, kau tetap tak akan tahan dengan panasnya api neraka, kau tetap akan menjerit, merintih-rintih didalamnya.

Wahai kaum lelaki, takutlah akan kemurkaan Allah, gunakan kekuatanmu untuk menghantam musuh-musuh Allah, bukan untuk menampari muka kami (wanita) yang lemah. Tunduklah pada ajaran Allah, jangan membantahnya, Allah jauh lebih gagah dan perkasa dari kamu.

• Muawiyah bin Haidah bertanya : “Ya Rasulullah, apakah hak seorang isteri terhadap suaminya ?” Rasul menjawab : “Harus kau beri makan jika kamu makan, harus kau beri pakaian jika kau berpakaian, jangan memukul mukanya, jangan kamu memamerkan kemolekannya, dan jangan memboikot (menjauhi), kecuali di dalam rumah saja.” (HR. Abu Dawud)

• Bersabda Rasulullah saw : “Jika mereka (isterimu) telah taat, hendaklah kamu jangan mencari-cari jalan yang bukan-bukan (mencari-cari perselisihan atau membuat hatinya susah)”. (HR. Ibnu Majah)

• Rasulullah bersabda : “Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap ahlinya (isteri dan anak-anaknya), dan aku ini sebaik-baik orang di antara kamu kepada ahlinya. Tidak akan menghormat perempuan kecuali orang yang terhormat, tidak ada yang menghina perempuan kecuali orang yang hina. (HR. Ibnu Asakir). Ikhwan, hinalah kamu dalam pandangan kami. Jika kamu menghina, mencela, menyakiti isterimu (tanpa izin syara). Entahlah dalam pandangan Allah dan Rosul-Nya, jangan menyakiti mereka, karena mereka akhwat kami juga.

• Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada seorang penggembala, dari apa yang telah ia kerjakan atas penggembalaannya, dipelihara dengan baik kah ? atau ia sia-siakan ? hingga Ia tanyakan pula kepada seorang lelaki (suami) tentang isterinya. (HR. Ibnu Hibban dari Sayidina Hasaan ra.)

• Siti Aisyah ra, pernah berkata : “Adalah Nabi itu tidak pernah berasing-asing dengan isterinya, amat lemah lembut dan sangat hormat, banyak tertawa dan tersenyum.” Allah Tuhan pencipta kita berfirman : “Sesungguhnya adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu satu tauladan yang baik bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan banyak menyebut Allah (zikir)” (QS. 33:21)

• Ikhwan dengarlah kata-kata kami ! Bukankah engkau percaya pada adanya Allah? Bukankah engkau percaya bahwa sesudah hidup ini, akan ada kehidupan lain ? Kalau memang percaya, teladanilah kehidupan Rosul !

• Tanggung jawab suami dalam memberi nafkah pada isterinya, ditegaskan oleh Allah dalam ayatnya : “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah kepada isterinya menurut kemampuannya, dan bagi yang sempit rezekinya maka hendaklah ia memberi belanja menurut apa yang telah dirizkikan.” (QS. 65:7)

• Rasulullah bersabda : ”Sejahat-jahat manusia ialah yang mempersempit belanja atas keluarganya.” (HR. At Thabrani dari Sayidina Abi Umamah ra.)

• Rasulullah bersabda : “Barang siapa membawa hadiah (bahan makanan) dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti pahala orang yang bersedekah, dan hendaklah diberi dahulu kepada anak perempuan sebelum anak laki-laki. “(HR. Anas ra.)

• Sabda Rasulullah saw : “Kewajiban suami terhadap isterinya ialah suami harus memberi makan jika ia makan, memberi pakaian jika ia berpakaian, tidak boleh memukul mukanya, tidak boleh memperolok-olokannya, tidak boleh meninggalkannya kecuali di tempat tidur (ketika ia membangkang)”.

• Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman ! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At Tahrim ayat 6). Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar mengerjakan shalat. Alangkah anehnya lelaki jaman sekarang, mereka menuntut isterinya untuk mempercantik diri tetapi acuh tak acuh jika isterinya tidak taat pada ajaran Allah. Di dalam ajaran islam wanita itu tempat ibadahnya adalah di rumah, bukan di luar. Tidak boleh dia keluar rumah, kecuali untuk hal-hal yang mustahak (teramat penting), tapi Masya Allah, suami sekarang tak pernah menegur isterinya yang keluar rumah, bahkan banyak yang menganjurkan mereka keluar rumah.

• Ibnu Abbas pernah berkata : “Berilah isterimu tentang pengertian agama, berilah pelajaran budi pekerti yang bagus pada mereka.” Ikhwan, jika engkau seorang yang cinta agama islam, ajak isterimu melaksanakan syariat Allah, suruh dia menutup aurat. Larang isterimu berpakaian seperti wanita yahudi jahiliyah dulu (yaitu berkerudung panjang, menutup rambut, tetapi dada terbuka).

• Di dalam kitab Uqudul Lujain : Ketahuilah bahwa dianjurkan seorang suami memerintahkan isterinya (untuk taat pada ajaran Allah), dan mengingatkan mereka (dengan cara halus jika suatu saat mengingkari ajaran), menafkahi mereka menurut kemampuannya, berlaku tabah (jika disakiti oleh isterinya), bersikap halus kepadanya, dan mengarahkannya ke jalan yang baik juga mengajar isterinya tentang hukum-hukum agama yang perlu diketahui isteri, seperti hukum haid, bersuci, ibadah, dll.

• Rasulullah bersabda : “Takutlah kamu pada Allah di dalam memimpin isteri-isterimu, karena sesungguhnya mereka itu amanat Allah yang berada di sampingmu. Barang siapa yang tidak menyuruh isterinya mengerjakan shalat dan tobat, mengajarkan agama kepadanya, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya”

• Ikhwan, kami amanatkan baik-baiklah bersikap pada isterimu, karena dia hamba Allah juga, beranikah engkau menyakiti seorang hamba Allah ? Engkau bisa terjerumus ke lembah darah penuh nanah lagi teramat panas (neraka). Baik-baiklah bila menasehatinya, bujuk rayulah, Mereka ibarat tulang rusuk yang bengkok. Tutup kejelekan isterimu, jangan disebarkan pada orang lain, kecuali untuk keperluan amar ma’ruf (meminta nasihat pada orang lain demi kerukunan), sebab kata Nabi “Tiada seorang menutup aurat (kejelekan) orang di dunia, melainkan Allah menutup kejelekannya di hari kiamat.” (HR. Muslim)

• Isterimu adalah saudaramu seagama, maka kewajiban kamu menurut Nabi adalah: “Seorang muslim adalah saudara bagi sesama muslim yang lain, tidak boleh menganiayanya atau membiarkan dia dianiaya orang lain, dan siapa yang yang menyampaikan hajat saudaranya, maka Allah akan menyampaikan hajatnya. Dan barang siapa yang membebaskan seorang muslim dari kesukaran, Allah akan membebaskan kesukarannya di hari kiamat, dan siapa yang menutupi kejelekan seorang muslim, Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat.” (HR. Bukhori Muslim)

• Bimbing isterimu untuk taat kepada Allah, agar dialah kelak yang menjadi isterimu di sorga nanti. Biar dia menjadi yang tercantik diantara semua bidadari sorga. Bagaimana keadaan hatimu jika kelak engkau tinggal di sorga, sedang isterimu yang kamu cintai di dunia menjerit-jerit di tengah luapan api neraka. Ketika di dunia engkau sakit, dia yang mengurusmu, kalau kau lapar dia memasakan makanan untukmu, dia setia padamu. Bagaimana hatimu jika nanti engkau bahagia di sorga, sedang dia menggelepar-gelepar di neraka ? Atau bukan tidak mungkin terjadi seperti kata Nabi saw. Ketika tinggal selangkah lagi engkau akan masuk sorga, tiba-tiba menjerit isterimu mengadu kepada Allah. “Tuhan, bagaimana mungkin dia masuk sorga, sedang di dunia dia mempersempit belanja, dia menzalimiku, dia menelantarkan aku”. Street….masuklah engkau ke neraka karenanya.

Dirangkum oleh Ustadz M. Aas Satibi (pondok pesantren Pulosari Leuwigoong Kab. Garut) dari berbagai macam kitab fikih

5 Perbedaan Sikap Pria dan Wanita dalam Shalat

Shalat merujuk kepada ibadah pemeluk agama Islam. Menurut syariat Islam, praktik salat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara Nabi Muhammad sebagai figur pengejawantah perintah Allah. Umat muslim diperintahkan untuk mendirikan salat karena menurut Surah Al-‘Ankabut dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Secara bahasa salat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti, doa. Sedangkan, menurut istilah, salat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Sikap laki-laki dalam salat

  1. Merenggangkan dua siku tangganya dari kedua lambungnya waktu rukuk dan sujud.
  2. Waktu rukuk dan sujud mengangkat perutnya dari dua pahanya.
  3. Menyaringkan suaranya/bacaannya pada shalat jahr.
  4. Bila memberitahu sesuatu kepad imam maka membaca tasbih, yakni membaca “subhanallah”.
  5. Aurat laki-laki dalam shalat adalah anggota badan antara pusat dan lutut.

Sikap wanita dalam salat

  1. Merapatkan satu anggota kepada anggota lainnya.
  2. Meletakkan perutnya pada dua tangan/sikunya ketka sujud.
  3. Merendahkan suaranya/bacaannya dihadapan laki-laki lain, yakni yang bukan muhrimnya.
  4. Bila memberitahu sesuatu kepada imam dengan bertepuk tangan, yakni tangan yang kanan dipukulkan pada punggung telapak tangan kiri.
  5. Aurat wanita dalam shalat adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua belah telapak tangan.

Surga Dalam Rumah Tangga

Alangkah indahnya apabila terdapat surga dalam rumah tangga. Jika Allah telah mempersatukan dua orang yang berlawanan sifatnya, maka pasangan tersebut menjadi saling melengkapi, saling menutupi kekurangan, bersedia berkorban untuk kebahagiaan, memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing serta bekerja sama secara sinergistik menjadikan rumah laksana surga yang indah, hangat, tentram, tempat berteduh, bertukar pikiran, beribadah dan berbagi rasa dengan pondasi ketaqwaan kepada-Nya. Subhanallah.

“ Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadaNya, dan dijadikanNya diantara rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar Ruum:21)

Ketika dua jiwa dipersatukan dalam maghligai perkawinan dua keluarga akan menjadi satu keluarga baru. Perasaannya terhadap keluarganya, akan menjadi bagian dari perasaan masing-masing baik istri maupun suami. Karena suami dan istri adalah satu. Sungguh teramat indah Al Qur’an melukiskannya, “Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.”

Adakah yang lebih indah dari rasa kasih sayang diantara kedua insan yang berlainan jenis dalam sebuah ikatan pernikahan? Ia adalah sebuah mitsaqan ghalidza (perjanjian yang kuat), karenanya yang haram menjadi halal, maksiat menjadi ibadah, kekejian menjadi kesucian dan kebebasan pun menjadi sebuah tanggung jawab. Dua hati yang berserakan akhirnya bertautan.

Cinta karena Allah, bukankah hanya itu yang menjadikan mahligai cinta selalu indah. Keindahan cinta dalam sebuah mahligai pernikahan adalah harapan penghuninya. Cinta akan membuat seseorang lebih mengutamakan yang dicintainya, sehingga seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga. Seorang suami pun tentu akan mengutamakan perlindungan dan pemberian nafkah kepada istri tercinta.

Cinta memang dapat berbentuk kecupan sayang, kehangatan, dan perhatian. Namun bunga cinta tetaplah membutuhkan pupuk agar selalu bersemi indah. Karenanya, segala kekurangan akan menumbuhkan kebesaran jiwa. Hingga air mata yang mengalir itu pun adalah sebagai tanda rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allah telah memberikan pasangan hidup yang selalu bersama mengharap keridhoan-Nya.

Firman-Allah untuk direnungkan tentang hakikat suami dan istri dipertemukan oleh Allah atas namanya pertemuan. “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah kembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (An Nissa:1)

Seorang suami adalah pemimpin bagi istri.

Jadikanlah suatu pernikahan itu sebagai asas pembangunan iman, dan bukannya untuk memuaskan bisikan syaitan yang menjadikan ikatan pernikahan sebagai tujuan nafsu semata-mata. Memberikan nafkah lahir dan batin kepada istri, mendidik, membina akhlaq keluarganya, senantiasa melaksanakan tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga dengan syura kesabaran, qanaah ketabahan, moga kita akan menjadi salah satu dari pada jamaah saf menuju syurga.

Bilamana Allah Azza wa Jalla meridhai seorang wanita menjadi wanita (istri) shalihah, karena wanita tersebut memang dengan hati ikhlas menjalankan kebaikan-kebaikan dengan mentaati suaminya, melayani suaminya dengan baik walaupun sedang dalam kesibukan, mendahulukan hak suami atas orang tuanya, menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya, senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami.

Menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya (saat suami tidak di rumah), mensyukuri segala sesuatu yang diberikan suami , menjaga sholatnya, menunaikan perintah dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dimurkaiNya karena kesucian serta keshalihannya terhadap suami dan anaknya, memiliki hati yang indah dan mulia, menjadikan Allah sebagai puncak cinta dan Rasulullah sebagai teladannya maka penghargaan Allah baginya adalah puncak segala harapan seluruh orang mukmin, yakni surga yang kenikmatannya tidak dapat dibayangkan oleh pikiran manusia.

Keluarga sakinah mawaddah warohmah merupakan dambaan setiap insan yang menjalani bahtera rumah tangga. Keindahan surga rumah tangga tersebut dapat diwijudkan dengan upaya bersama buah dari caring dan sharing suami dan istri. Yang satu tidak menjadi beban bagi yang lainnya, tapi sebaliknya memperkuat satu sama lain.

Beberapa pilar penting yang mutlak ada pada kehidupan suami istri:

1. Taqwa, keluarga sakinah tidak akan pernah dicapai tanpa ketaqwaan kepada Allah SWT. Ketaqwaan adalah hubungan kasih sayang yang menimbulkan keikhlasan untuk mengerjakan apa yang diperintahkanNya dan menjauhi apa yang dilarangNya.

2. Harta, harta mutlak ada dalam kehidupan rumah tangga. Harta membuat kita memiliki kebebasan sesuai dengan ketentuan Allah, untuk mencukupi kebutuhan dan mewujudkan keinginan kita. Tapi perlu diingat bahwa kebahagiaan bukan dari banyak nya harta akan tetapi dari hati yang penuh rasa syukur atas setiap rejeki yang telah diupayakan dengan baik, halal, mempunyai nilai manfaat bagi diri, keluarga dan sesama dan ikhlas hanya berharap ridhoaNya.

3. Sabar, hakikat dari sabar dalam rumah tangga adalah menahan sehingga melahirkan ketenangan dan kedamaian memaknai setiap cobaan dengan saling bergandengan tangan bersama dan mengambil hikmah dalam setiap goncangan-goncangan yang terjadi dalam perkawinan.

4. Ikhlas, dalam berumah tangga keikhlasan hakikatnya adalah menerima. Sifat ikhlas akan tercermin dari aura yang terpancar keluar dari dalam diri kita: wajah yang masih tersenyum walaupun sedang dirundung masalah, perkataan yang tetap terjaga dalam kondisi bagaimanapun, rela berkorban demi kebahagiaan keluarga.

5. Selalu berada dalam kebenaran, rumah tangga yang sakinah harus dibangun di atas kejujuran antar masing-masing pasangan. Tanpa kejujuran rumah tangga akan kehilangan salah satu pilarnya yaitu “kepercayaan”.

6. Adil, adil bukan sama rasa dan sama rata tapi meletakkan sesuatu pada tempat dan kadarnya.

7. Syukur, hakikat syukur adalah menampakkan nikmat yang didapat. Salah satunya adalah sedekah, infak dan zakat.

8. Doa, perbanyak doa. Ada satu do’a yang diajarkan langsung oleh Allah SWT kepada suami da istri dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Do’a termakhtub dalam QS Al Furqon (25):74: ” Ya Tuhan kami, jadikanlah pasangan hidup kami dan anak-anak kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami panutan bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Hal yang perlu dibina dalam berumah tangga:

  1. Kejujuran
  2. Pengorbanan Ikhlas.
  3. Menyayangi setulus hati dengan sepenuh jiwa, atas Cinta karena Allah
  4. Menyetujui dan memberikan dukungan sekaligus saran untuk perubahan yang lebih baik.
  5. Kesetiaan
  6. Kepercayaan
  7. Pemberian tanpa mengharap pujian.
  8. Menerima keadaan walau bagaimanapun secara ridho Alloh Ta’ala.
  9. Melengkapi segala kekurangan.
  10. Memberikan segenap perhatian dan pengertian.
  11. Menghargai pemberian.
  12. Mengakui keberadaan atau kehadiran pasangan
  13. Rela meluangkan waktu untuk bersama dalam keakraban.
  14. Senantiasa mengasihi berbagi rasa diantara suka dan duka.
  15. Senantiasa positif thinking
  16. Senantiasa bersabar, bersikap lembut dan halus dan mencoba mengalah jika pasangan dalam keadaan emosi sekaligus menenangkan pikiran dan hati pasangan
  17. Senantiasa peduli terhadap perasaan pasangan berupa keinginan atau maksud pikirannya.