Riwayat Nabi Ayyub

Diceritakan bahwa Nabi Ayyub bin Aish bin Ishak adalah seorang berbangsa Rum. Ibunya ialah puteri Nabi Luth. Nabi Ayyub adalah seorang laki-laki yang berakal cerdas, bersih, penyantun dan bijaksana. Ayahnya  adalah seorang kaya raya. Tidak ada seorang pun di negeri Syam yang menandingi dalam kekayaannya.

Setelah ayahnya meninggal maka berpindahlah semua kekayaan itu kepada Nabi Ayyub. Menikahlah beliau dengan Rahmah binti Afrayim bin Yusuf as. Allah menganugerahkan kepadanya dari istrinya itu 12 kandungan. Pada setiap kandungan melahirkan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Kemudian Allah mengutusnya kepada kaumnya, yaitu penduduk Hauran dan Tih.

Allah memberinya kebaikan budi peekerti dan kelembutan hati selagi seseorang tidak menentangnya dengan mendustakan dan mengingkarinya, karena kemuliaannya dan kemuliaan nenek moyangnya. Dia menerapka syariat-syariat pada mereka dan membangunkan masjid-masjid untuk mereka. Dia menyediakan hidangan untuk fakir dan miskin, serta para tamu.

Nabi Ayyub berlaku sebagai bapak yang menyayangi anak yatim, sebagai suami yang sangat sayang terhadap para janda dan sebagai saudara yang mengasihi terhadap orang-orang lemah. Dia memerintahkan wakil-wakil dan orang yang diberi kepercayaan untuk tidak menolak siapapun dari hasil tanaman dan buah-buahannya. Ternaknya pun selalu beranak kembar. Tetapi dia tidak merasa gembira dengan hal-hal seperti itu sedikitpun.

Ayyub berkata, “Ya Tuhanku, semua ini adalah pemberian-Mu kepada hamba-hamba-Mu di penjara dunia, lalu bagaimana pula pemberian-Mu di surga untuk orang-orang yang memiliki kemuliaan di sisi-Mu di dalam negeri jamuan-Mu. Dalam keadaan penuh limpahan nikmat itu tidak pernah hatinya lupa dari mensyukuri kenikmatannya dan lidahnya pun tidak pernah kendor berdzikir kepada Tuhannya.

Maka merasa hasudlah (dengki) Iblis kepadanya dan berkata, “Sesungguhnya Ayyub ini berhasil mendapatkan dunia dan akhirat.” Dia bermaksud merusakkan salah satu dari dunia atau akhirat itu atas Ayyub atau bahkan kedua-duanya kalau mungkin. Iblis dalam waktu itu dapat naik ke langit yang ketujuh, dan berhenti dimana saja dia suka.

Naiklah Iblis pada suatu hari seperti biasannya, berfirmanlah Allah, “Hai Iblis terkutuk, bagaimana engkau lihat hamba-Ku Ayyub? Apakah engkau dapat mencapai sedikit saja seperti Ayyub?” Iblis menjawab, “Ya Tuhanku, sesungguhnya Ayyub dapat beribadah kepada-Mu seperti itu karena Engkau telah memberinya kelapangan dalam dunia dan kesehatan. Jika tidak ada semua itu tentu dia tidak beribadah kepada-Mu. Jadi dia adalah hamba dari kesehatan.”

Allah berfirman, “Engkau bohong, karena sesungguhnya Aku mengetahui bahwa dia akan tetap beribadah kepada-Ku dan bersyukur kepada-Ku walaupun dia tidak memiliki kelapangan dalam dunia.”

Berkatalah Iblis, “Ya Tuhanku, kuasakanlah dia padaku. Lihatlah bagaimana aku membuatnya lupa dari dzikir kepada-Mu dan aku menyibukkan dia sehingga lengah dari ibadah kepada-Mu.”

Maka Allah memberi kuasa pada Iblis terhadap sesuatu dari Nabi Ayyub kecuali ruh dan lidahnya.

Kembalilah Iblis dan berangkat ke tepi pantai. Berteriaklah dia dengan keras sehingga tidak tersisa satu jin laki-laki atau perempuan kecuali semuanya berkumpul di samping Iblis. Mereka bertanya, “Apakah yang menimpamu hai pemimpin kami?” Iblis berkata, “Aku benar-benar memperoleh sebuah kesempatan yang tidak pernah aku dapatkan kesempatan ini sejak aku berhasi mengusir Adam dari surga. Maka bantulah aku menghadapi Ayyub ini.”

Menyebarlah mereka dengan secepatnya dan merusak serta membakar semua harta Ayyub. Berangkatlah Iblis menuju Ayyub, sedangkan dia sedang mengerjakan shalat di masjid. Iblis berkata, “Apakah engkau tetap beribadah kepda Tuhanmu dalam penderitaanmu ini. Allah benar-benar mengirimkan api dari langit melahap semua hartamu hingg ajadi abu.”

Nabi Ayyub tidak mau berbicara padanya sehingga dia telah selesai dari shalatnya. Kemudian dia membaca, “Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah yang telah memberi kepadaku kemudian mengambilnya lagi dari diriku.” Diapun berdiri dan bertindakmengerjakan shalat lagi. Kembalilah Iblis dengan tangan hampa, hina, menyesali perbuatannya sendiri.

Nabi Ayyub memiliki 14 anak, 8 laki-laki dan 6 perempuan. Mereka setiap hari makan pagi di rumah seorang saudara laki-laki diantara mereka. Pada hari itu mereka sedang makan di rumah saudara  laki-laki yang terbesar, yaitu Harmal. Berkumullah setan-setan dan mengepung rumah itu serta merobohkan rumah itu menimpa anak-anak Nabi Ayyub. Matilah mereka semuanya.

Lalu Iblis datang kepada Ayyub dan berkata, “Apakah engkau masih beribadah kepada Tuhanmu sedang Dia telah merobohkan rumah menimpa anak-anakmu, lalu mereka sudah meninggal semuanya.”

Nabi Ayyub tidak mau berkata sebelum selesai shalatnya, kemudian setelah selesai berkata, “Hai Iblis terkutuk,  segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku kemudian mengambil kembali dariku. Karena anak-anak dan harta adalah fitnah bagi para lakilaki atau perempuan. Maka diambil harta dan anak-anak dari diriku agar aku dapat lebih memiliki kesempatan untuk beribadah kepada Tuhanku.” Pergilah Iblis dengan tangan hampa  dan marah.

Kemudian dia datang lagi, sedangkan Ayyub sedang shalat. Ketika Ayyub bersujud, Iblis meniup pada hidung Ayyub dan mulutnya. Bengkaklah tubuh Nabi Ayyub, berkeringat dengan keringat yang bercucuran dan diapun merasakan kepayahan berat dalam tubuhnya.

Berkatalah istrinya Rahmah, “Ini semua adalah akibat kesedihan terhadap harta yang musnah dan kematian anak-anak. Sedang engkau malam harinya mengerjakan shalat dan siang harnya berpuasa, serta tidak pernah beristirahat satu jam pun dan tidak menemukan kenyamanan.”

Kemudian terlihatlah kudis atau carca pada tubuh Nabi Ayyub as, dan memenuhi seluruh tubuhnya sejak dari kepala sampai kedua telapak kakinya. Nanah keluar dari sana dan di dalamnya terdapat ulat. Semua kerbat dan kenalannya mulai menjauh dari dirinya.

Nabi Ayyub memiliki 3 orang istri, tetapi sejak itu dua istrinya minta cerai dan Nabi Ayyub pun menceraikan keduanya. Tinggalla Rahmah yang setia melayaninya dan mengurusnya siang dan malam. Sehingga suatu saat datanglah kaum perempuan dari tetangganya dan berkata, “Hai Rahmah, kami semua khawatir kalau musibah Ayyub akan menular pada anak-anak kami. Singkirkanlah dia dari bertetangga dengan kami, dan jika tidak kami akan mengusirmu dengan paksa.”

Maka keluarlah Rahmah dari desa itu dan membungkus semua pakaiannya serta berteriak dengan suaranya yang keras sekali, “Aduh terasingku, aduh terpisahku. Mereka telah mengusir kami dari negeri kami sendiri dan mengeluarkan kami dari rumah kami sendiri.”

Digendongnya Nabi Ayyub di atas punggungnya dengan bercucuran air mata. Berangkatlah dia ke suatu tempat kosong yang biasa digunakan untuk membuang sampah. Diletakkannya Nabi Ayyub di atas tumpukan sampah. Suatu hari penghuni desa itupun keluar dan melihat keadaan Nabi Ayyub, maka berkatalah mereka, “Bawalah suamimu menjauh dari kami, jika tidak kami akan mengirimkan anjing-anjing kami agar memakannya.”

Maka Rahmah membawa Ayyub pergi hingga sampai tempat persimpangan jalan. Diletakkannya Ayyub dan dia datanglagi dengan membawa kapak dan tali. Dibuatnya gubuk dari kayu dan dibawanya pula abu lalu dihamparkannya di bawah Ayyub, serta membawa sebuah batu untuk digunakan bantal Nabi Ayyub. Kemudian dia membawa sebuah piring yang biasa digunakan para penggembala untuk memberi minum ternaknya.

Kemudian berangkatlah Rahmah meuju ke dalam desa. Nabi Ayyub memanggilnya, “Kembalilah engkau, hai Rahmah sehingga aku dapat berwasiat kepadamu jika engkau ingin pergi meninggalkan aku dan membiarkan aku di tempat ini.” Rahmah berkata, “jangan khawatir hai junjunganku, aku tidak akan meninggalkanmu selagi nyawaku masih ada pada tubuhku.”

Berangkatlah Rahmah menuju desa. Dia bekerja memotong-motong roti dan memberi makan Ayyub dari hasil kerjanya itu, hingga pada akhirnya diketahui dalam desa itu bahwa dia adalah istri Ayyub, maka mereka tidak mau memberi makan kepadanya. Mereka berkata, “menyingkirlah dari kami, karena kami sangat jijik kepadamu.”

Maka menangislah Rahmah dan berkata, “Ya Tuhanku, engkau telah mengetahui keadaanku. Bumi ini telah sempit bagiku, sedang manusia-manusia telah menganggap jijik pada kami di dunia dan janganlah Engkau merasa jijik kepada kami di akhirat nanti. Mereka telah mengusir kami dari rumah kami sendiri dan janganlah Engkau mengusir kami dari rumah-Mu pada hari kiamat.”

Berangkatlah dia menuju seorang istri tukang roti dan berkata, “Kekasihku Ayyub benar-benar lapar. Maka berilah aku hutang sepotong roti.” Istri tukang roti berkata, “Menyingkirlah engkau dari kami agar suamiku tidak melihatmu. Tetapi berikanlah gelung rambut itu padaku.”

Dia memiliki 12 gelung (kepang) yang menjuntai ke tanah. Dia mempunyai kemiripan dengan kakeknya Nabi Yusuf dalam kecantikannya. Nabi Ayyub sangat menyukai gelung rambutnya itu. Lalu datanglah Rahmah membawa gunting dan dipotongnya rambut itu lalu diberikannya kepada istri tukang roti dengan imbalan 4 potong roti. Berkatalah Rahmah, “Ya Tuhanku, semua ini aku lakukan untuk taat kepada suamiku dan memberi makan Nabi-Mu Ayyub, aku terpaksa menjual gelung rambutku.”

Ketika Nabi Ayyub melihat rotiyang utuh terasa beratlah kejadian itu di hatinya. Dia menyangka bahwa istrinya telah menjual dirinya. Maka diapun bersumpah jika Allah memberinya kesembuahnd ia akan memukulnya seratus kali dera.

Rahmah itulah perempuan yang difirmankan Allah dalam menerangkan kafaratnya:

“Ambillah dengan tanganmu seikat rumput (segenggam rumput), lalu pukullah dengannya dan janganlah engkau melanggar sumpahmu.”

Setelah Rahmah menceritakan kisah sebenarnya kepada Ayyub, maka menangislah Ayyub dan berkata, “Ya Tuhanku, telah hilang daya upayaku sehingga sampailah pada perihalku bahwa istri Nabi-Mu telah menjual rambutnya dan memberikan nafkah pada diriku.”

Rahmah berkata, “Hai junjunganku, janganlah engkau gelisah ada hari ini, karena rambut itu akan tumbuh kembali dengan lebih baik dari sebelumnya.” Lalu dia memotong roti itu dan memberi makan Nabi Ayyub. Dia duduk di sampingnya. Nabi Ayyub, setiap ada seekor ulat jatuh dari tubuhnya dia meletakkannya kembali pada tubuhnya dan berkata, “Makanlah dari rezeki yang diberikan Allah kepadamu.”

Maka tidak lagi tersisa daging pada tubuhnya, sehingga terlihat tulang-tulangnya, urat dan ototnya. Apabila matahari terbit maka sinarnya akan menembus dari bagian depan tubuhnya ke bagian belakangnya. Tidaklah tersisa dari bagian tubuhnya yang mulia kecuali hati dan lidahnya berdzikir kepada Allah. dia berdiam diri dalam sakitnya itu selama 18 tahun menurut sebuah riwayat.

Berkatalah Rahmah pada suatu hari, “Engkau adalah seorang nabi yang mulia di sisi Allah Tuhanmu. Hendaklah engkau berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.”

Nabi Ayyub pun menjawabnya, “Berapakah lamanya waktu kelonggaran.” Rahmah menjawab, “80 tahun.” Nabi Ayyub berkata lagi, “Aku merasa malu kepada Allah kalau sampai berdoa kepada-Nya, sedang waktu penderitaanku bemum mencapai waktu longgarku.”

Setekah tidak tersisa lagi pada tubuh Ayyub sekerat dagingpun maka bertindaklah ulat-ulat itu makan sesamanya. Tinggallah sekarang dua ekor ulat. Mereka mengelilingi seluruh tubuhnya mencari daging, tetapi mereka tidak menemukan selain hati dan lidah. Datanglah seekor dari keduanya menuju tempat hati Ayyub dan menggigitnya, sedang yang seekor lagi menuju tempat lidah dan menggigitnya pula. Saat itulah Nabi Ayyub memanggil Tuhannya dan berkata, “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit (bencana yang berat) dan Engkau adalah Tuhan yang paling pnyayang di antara orang-orang yang menyayangi.” (Al Anbiya: 83)

Seruan itu bukanlah suatu pengaduan (keluhan) dari Nabi Ayyub, jadi tidaklah dia keluar dari golongan orang-orang yang sabar. Karena itulah Allah berfirman mengenai perihalnya, “Sesungguhnya Kami temukan dia dalam keadaan bersabar.” (Shaad: 44)

Karena dia tidak mengeluh karena hartanya atau anaknya. Tetapi dia mengeluh terputusdari dzikir kepada Allah. seolah-olah dia berkata, “Ya Tuhanku, aku akan dapat bersabar menghadapi semua ujian-Mu, selagi hatiku masih dapat tenggelam dalam mencintai-Mu dan lidahku dalam berdzikir kepada-Mu. Tetapi jika kedua anggota ini hilang maka akan terputuslah aku. Aku tidak dapat bersabar jika terputus dari Engkau, sedangkan Engkau adalah Tuhan yang paling penyayang diantara orang-orang yang menyayangi.”

Allah lalu menurunkan wahyu kepadanya, “Hai Ayyub, lidah ini milik-Ku, hati dan ulat pun milik-Ku, sedang sakit adalah dari-Ku, lalu mengapa pula harus mengeluh.”

Disebutkan pula bahwa Allah menurunkan wahyu kepadanya, “Sesungguhnya 70 orang Nabi telah meminta bala’ ini dari-Ku. Tetapi Aku memilihnya untukmu untuk menambah kemuliaanmu. Jadi cobaan ini bagimu adalah bala’ dalam lahirnya tetapi suatu cinta kasih pada hakekatnya.”

Adapun Nabi Ayyub mengeluh kalau sampai hati dan lidahnya dimakan ulat karena dia tenggelam dengan merenungkan Allah dan berdzikir kepada-Nya. Maka jika kalau keduanya dimakan juga dia tidak dapat lagi menyibukkan dirinya degan tafakkur kepada-Nya dan berdzikir kepada-Nya.

Kemudian Allah menjatuhkan dua ulat itu dari tubuh Nabi Ayyub. Seekor jatuh di air maka menjelma menjadi lintah yang dapat digunakan obat pada beberapa jenis penyakit, sedang yang seekor lagi jatuh di darat dan menjelma menjadi lebah yang mengeluarkan adu dan dalam madu terdapat obat bagi manusia.

Kemudian datanglah Jibril dengan membawa dua buah delima dari surga. Brkatalah Ayyub, “Hai Jibril, apakah Tuhanku mengingatku?” Jibril menjawab, “Ya, Dia membacakan salam untukmu dan memerintahkan engkau untuk makan dua buah delima ini, maka akan sembuh engkau hingga ke tulang dan dagingmu.”

Setelah Ayyub memakan kedua buah delima itu, maka berkatalah Jibril, “Berdirilah dengan ijin Allah.” maka berdirilah Nabi Ayyub. Allah berfirman, “Jejakkanlah kakimu.” (Shaad: 42)

Maka dijejakkannya kakinya sebelah kanan, maka keluarlah air panas. Lalu mandilah dia dengan air itu. Kemudian menjejakkan kakinya sebelah kiri dan keluarlah sumber air yang dingin. Lalu minumlah dia dengan airnya. Hilanglah segala penyakit dari dirinya baik lahir maupun batin. Tiba-tiba tubuhnya menjadi lebih tampan daripada sebelum sakit dahulu, dan wajahnya lebih terang daripada bulan. Seperti firman Allah dalam surat Al Anbiya ayat 84, “Maka Kamu mengabulkan kepadanya, lalu Kami hilangkan bahaya yang menimpa dirinya dan Kami kembalikan keluarganya padanya dan Kami lipatkan bilangan mereka.”

Yakni Kami terima doanya.

Muqatil berkata, “Kami lipatkan bilangan mereka.” Artinya Allah menghidupkan mereka kembali dan memberi kepadanya sejumlah mereka lagi. Adh Dhahak berkata, “Allah menurunkan wahyu kepada Ayyub, ‘Apakah engkau ingin agar Aku membangkitkan mereka kembali?’ Nabi Ayyub berkata, ‘Ya Tuhanku, biarkan mereka di surga.’ Menurut pendapat ini arti firman Allah ‘Kami kembalikan keluarganya padanya.’ Adalah Allah mengembalikan mereka padanya di akhirat dan memberikan kepadanya semisal mereka di dunia, yaitu dilahirkannya beberapa orang anak baginya sejumlah anak-anak yang meninggal itu.

Allah berfirman dalam surat Al Anbiya ayat 84, “Sebagai rahmat dari sisi Kami (kenikmatan untuk Ayyub) dan peringatan (pelajaran) bagi orang-orang yang ahli ibadah.”

Agar mereka mengetahui dengan adanya kisah ini bahwa orang yang paling berat menerima ujian adalah pada nabi, kemudian para wali, kemudian setingkat di bawahnya, dan setingkat lagi di bawahnya. Akhirnya mereka berbuat seperti apa yang telah mereka perbuat dan bersabar seperti apa yang mereka sabarkan. Dan dapat diketahui dari kisah Nabi Ayyub ini bahwa perjalanan menuju Allah melalui kebaikan ujian adalah lebih dekat daripada kebaikan anugerah (pemberian).

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail

Allah berfirman dalam surat Ash Shaffaat ayat 99-105:

  1. dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku[a].
  2. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.
  3. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar[b].
  4. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.
  5. tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
  6. dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,
  7. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu[c] Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

[a] Maksudnya: Ibrahim pergi ke suatu negeri untuk dapat menyembah Allah dan berda’wah.

[b] Yang dimaksud ialah Nabi Ismail a.s.

[c] Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksana- kannya.

Dikatakan bahwa sebab-sebab Nabi Ibrahim menyembeli putranya yaitu Ismail adalah bawah dia telah berkurban seribu ekor kambing, 300 ekor lembu dan 100 ekor unta dalam jalan Allah. semua orang dan malaikat sangat kagum mengenai pengorbanan itu.

Berkatalah Nabi Ibrahim, “Semua yang telah aku kurbankan bukan apa-apa bagiku. Demi Allah, jika aku mempunyai seekor putra, tentu akan aku sembelih untuk kepenringan di jalan Allah dan aku kurbankan untuk Allah swt.”

Setelah Nabi Ibrahim mengatakan demikian dan selang waktu beberapa lama, lupalah dia akan ucapan itu. Lalu setelah dia datang di Ardhul Muqaddasah (bumi suci), dia memohon kepada Allah untuk dianugerahi seorang anak. Dan Allah mengabulkan doanya.

Saat anak tersebut sudah besar, dikatakanlah kepada Ibrahim, “Penuhilah nadzarmu dahulu.”

Menurut Ibnu Abbas bahwa Ketika tiba malam Tarwiyah (8 Dzulhijjjah), dan ketika Nabi Ibrahim tidur, dia bermimpi ada orang yang berkata kepadanya, ‘Penuhilah nadzarmu.’ Ketika pagi harinya dia merenungkan apakah mimpi itu dari Allah atau dari setan. Karena itulah hari tersebut dinamakan hari Tarwiyah (renungan). Malam kedua dia bermimpi untuk kedua kalinya. Ketika pagi harinya dia telah mengetahui bahwa mimpi itu dari Allah. karena itu hari itu dinamakan hari Arafah (mengetahui), dan tempat itu dinamakan Arafah. Kemudian dia bermimpi pada malam ketiga seperti itu juga, maka diapun telah membulatkan tekadnya untuk menyembelih putranya. Karena itulah hari tersebut dinamakan hari nahar (menyembelih).

Ketika Nabi Ibrahim hendak pergimembawa Ismail untuk disembelih, berkatalah dia kepada Hajar, “Berilah anakmu Ismail dengan pakaian yang bagus, karena aku akan membawanya untuk bertamu.”

Maka Hajar mengenakan pakaian padanya dan meminyaki rambutnya serta menyisirnya. Lalu Nabi Ibrahim membawa pisau dan tali serta membawa Ismail pergi ke arah Mina. Belum pernah Iblis sejak dia diciptakan oleh Allah sibuk dan lebih banyak mondar-mandir dibandingkan dengan hari itu.

Ismail telah berlarian di depan ayahnya, datanglah Iblis dan berkata kepada Nabi Ibrahim, “Bukankah engkau dapat melihat kesempurnaan potongan tubuhnya, ketampanan wajahnya dan kelembutan tingkah lakunya?” Nabi Ibrahim menjawab, “Ya, tetapi aku telah diperintahkan untuk menyembelihnya.”

Setelah itu Iblis datang kepada Hajar, “Bagaimana engkau enak duduk-duduk, sedangkan Ibrahim pergi membawa anakmu untuk disembelihnya?” Hajar berkata, “Janganlah engkau berbohong kepadaku, apakah engkau pernah melihat seorang ayah membunuh anaknya sendiri?”

Iblis berkata, “Untuk keperluan itulah dia membawa tali dan pisau.” Hajr bertanya, “Untuk keperluan apakah dia harus menyembelihnya?” Iblis berkata, “Dia mengira bahwa Tuhannya memerintahkan demikian.” Berkatalah Hajar, “Seorang Nabi tidak akan diperintahkan untuk mengajarkan kebathilan, dan aku akan mengeluarkan nyawaku sendiri untuk memenuhi perintahnya, apalagi anakku.”

Setelah putus asa dalam mempengaruhi Nabi Ibrahim dan Hajar. Iblis datang kepada Ismail, “Engkau kelihatan gembira, sedangkan ayahmu akan menyembelihmu.” Ismail berkata, “Janganlah engkau berbohong, mengapa ayahku akan menyembelihku?” Iblis berkata, “Dia menyangka bahwa Tuhannya telah memerintahkan demikian.” Ismail berkata, “Kami akan mendengar dan mematuhi perintah Tuhanku.”

Ketika iblis akan mengucapkan kata-kata yang lain lagi, maka Ismail mengambil sebuah batu dari tanah dan melemparnya dengan batu itu, serta membutakan matanya yang sebelah kiri. Pergilah Iblis dengan tangan hampa dan kecewa. Maka Allah mewajibkan kepada kita untuk melempar jumrah di tempat ini, untuk mengusir setan dan mengikuti jejak Ismail.

Setelah Nabi Ibrahim sampai di Mina, berkatalah dia kepada Ismail, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka renungkanlah apa pendapatmu?” terangkanlah kepadaku, bagaimana pendapatmu? Apakah engkau dapat tabah menghadapi perintah Allah atau engkau harus meminta ampun sebelum dikerjakan. Ini adalah suatu ujian dari Nabi Ibrahim kepada putranya, apakah dia akan menjawab dengan ‘Mendengar dan patuh.’ Atau ‘tidak.’

Ismail menjawab, ‘Hai ayahku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, engkau akan menemukan aku termasuk orang-orang yang bersabar, Insya Allah.’ yaitu bersabar menghadapi perintah untuk disembelih.

Karena Nabi Ibrahim telah mendengar jawaban putranya itu, tahulah dia bahwa Allah telah mengabulkan doanya ketika dia berdoa kepada Allah, ‘Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang shalih.’ (Ash Shaffaat: 100). Lalu dia memuji kepada Allah sebanyak-banyaknya.

Kemudian Ismail berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, aku berwasiat kepadamu dengan beberapa hal:

  1. Engkau harus mengikat kedua tanganku agar aku tidak bergerak keras sehingga dapat menyakitimu.
  2. Engkau hendaknya menjadikan wajahku menghadap ke tanah agar engkau tidak memandang wajahku sehingga engkau menjadi kasihakn kepadaku.
  3. Singsingkan pakaianmu agar sedikit darahku tidak melumuri pakaianmu, sehingga menjadi berkurang pahalaku, dan ibuku akan melihatnya sehingga menjadi bersedih.
  4. Tajamkanlah pisaumu dan cepatlah dalam menggerakkannya di atas tenggorokanku agar lebih ringan, karena kematian sangat berat.
  5. Hendaklah engkau membawa bajuku kepada ibuku agar dapat dijadikan kenangan baginya dariku.
  6. Sampaikan salamku adanya dan katakanlah kepadanya, ‘Tabahkanlah hatimu menerima perintah Allah ini.’
  7. Janganlah engkau ceritakan padanya bagaimana engkau telah menyembelihku dan bagaimana engkau mengikat tanganku.
  8. Janganlah engkau bawa masuk anak-anak kepadaibuku agar tidak mengungkit kesedihannya terhadap aku.
  9. Apabila engkau melihat seorang anak janganlah engkau memperhatikannya sehingga engkau tidak menjadi gelisah dan bersedih hati.

Berkatalah Nabi Ibrahim, “sebaik-baik penolong adalah engkau hai anakku, untuk menghadapi perintah Allah swt ini.”

“ketika keduanya menyerah.” Yakni menyerahkan diri dan patuh terhadap perintah Allah “dan Ibrahim membaringkan putranya pada pelipisya” yakni menjatuhkan putranya pada belahan tubuhnya seperti seekor kambing yang disembelih.

Diletakkannya pisau itu di atas tenggorokan putranya, dan melaksanakan penyembelihan itu dengan keras dan kuat, tetapi dia tidak mampu memotong tenggorokan itu. Allah benar-benar telah menghilangkan tabir dari penglihata malaikat langit dan bumi. Ketika mereka melihat bahwa Nabi Ibrahim menyembelih putranya Ismail, rebahlah mereka dengan bersujud kepada Allah. kemudian Allah berfirman, “Lihatlah hambaku, bagaimana dia mneggerakkan pisaunya di atas tenggorokan puteranya demi mendapatkan ridha-Ku. Sedangkan waktu Kami berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi.’ (Al Baqarah: 30), kamu mengatakan, ‘Apakah Engkau akan menjadikan di bumi itu orang yang akan berbuat kerusakan di sana dan menumpahkan beberapa darah, sedang kami bertasbih dengan memuji kebesaran-Mu dan mensucikan Engkau (Al Baqarag: 30).”

Kemudian Ismail berkata kepada ayahnya, “Hai ayahku, lepaskanlah kedua tanganku dan kedua kakiku sehingga Allah tidak melihatku dalam keadaan terpaksa. Yakni di dalam taat kepada perintah-Nya dalam keadaan terpaksa. Tetapi letakkanlah pisau di atas leherku agar para malaikat mengetahui bahwa putra Nabi Al Khalil taat kepada Allah dan perintah-Nya dengan kesadarannya.”

Maka Ismail membentangkan kedua tangan dan kakinya tanpa diikat, dan dipalingkannya wajahnya ke tanah. Lalu Nabi Ibrahim menggerakkan pisau dengan semua kekuatannya. Tetapi pisau tersebut tidak dapat memutus leher Ismail.

Ismail berkata, “Wahai ayah, kekuatanmu lemah disebabkan kecintaanmu kepadaku sehingga tidak dapat menyembelihku.”

Maka Nabi Ibrahim memukulkan pisau (pedangnya) pada sebuah batu dan jadilah batu itu terbelah dua. Berkatalah beliau, “Engkau dapat memotong batu tetapi mengapa tidak dapat memotong daging?” berkatalah pisau itu dengan ijin Allah, “Hai Ibrahim, engkau engatakan ‘potonglah’ tetapi Tuhan berfirman, ‘Janganlah engkau potong’. Bagaimana aku harus menuruti perintahmu tetapi durhaka kepada Tuhanmu?”

Lalu Allah berfirman, “Dan Kami berseru kepada Ibrahim, ‘Hai Ibrahim, engkau benar-benar telah membenarkan mimpimu.’ Yakni apa yang dilihat dalam mimpi (wahyu Allah). terlihatlah bagi hamba-hamba-Ku bahwa engkau adalah memilih ridha-Ku mengalahkan cintamu pada putramu, dan dalam hal ini engkau telah menjadi orang yang berbuat baik. “Sesungguhnya demikianlah Kami akan membalas orang-orang yang berbuat baik.” (Ash Shaffaat: 104-105). Yakni orang-orang yang taat kepada perintah-Ku.

“Sesungguhnya ini benar-benar merupakan ujian yang nyata.” (Al Baqarah: 106)

Yakni penyembelihan itu adalah suatu ujian yang terang atau cobaan yang nyata dan membedakan antara orang yang berlaku ikhlas dengan yang lain. atau sebuah cobaan yang berat, sebab memang tidak suatu hal yang lebih berat daripada ujian ini.

“Dan kami tebus anak itu dengan binatang sembelihan yang besar.” (Al Baqarah: 107)

Yakni kami selamatkan anak yang diperintahkan untuk disembelih dengan binatang sembelihan yang besar dari surga, yaitu seekor kambing yang pernah digunakan kurban Habil dan diterima Allah. kambing itu hidup di surga sehingga dapat digunakan untuk menebus Ismail. Dia adalah seekor kambing yang besar tubuhnya.

Malaikat Jibril datang dengan membawa kambing tersebut sehingga dia dapat melihat Nabi Ibrahim sedang menggerak-gerakkan pisaunya pada tenggorokan Ismail. Berkatalah Jibril, “Allahu akbar, Allaahu akbar.” Nabi Ibrahim menyambut, “laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.” Ismail berkata, “Allaahu akbar wa lillaahil hamdu.”

Maka Allah menganggap bagus susunan kalimat ini, maka diwajibkan-Nya pada hari kita di hari-hari Nahar karena mengikuti jejak Nabi Ibrahim.

Ibnu Abbas berkata, “Seandainya penyembelihan itu dapat terlaksana sempurna tentu manusia menyembelih anaknya termasuk perbuatan sunat.” Dan Abu Hanifah mengambil dalil dengan ayat ini, bahwa jika ada orang bernazar untuk menyembelih anaknya maka wajiblah baginya menyembelih seekor kambing.

Diriwayatkan bahwa Ismail pernah berkata kepada ayahnya, “engkaukah yang lebih pemurah hati ataukah aku?” nabi Ibrahim menjawab, “Aku.” Ismail berkata, “Akulah yang lebih pemurah. Karena engkau memiliki anak yang lain, tetapi aku tidak memiliki kecuali satu nyawa saja.” Dan Allah berfirman, “Akulah yang lebih pemurah daripada engkau berdua, karena Aku telah memberikan tebusan untuk engkau berdua dan menyelamatkan engkau berdua dari siksaan berupa penyembelihan itu.”

Diriwayatkan bahwa para malaikat sangat kagum kepada kemuliaan Ismail di sisi Tuha, karena Allah mengirimkan seekor kambing dari surga di atas pundak malaikat Jibril sebagai tebusan untuknya. Allah berfirman, “Demi keagungan-Ku dan keluhuran-Ku, seandainya seluruh malaikat memikul tebusan di atas pundak mereka, tentu hal itu tidak dapat mengimbangi ucapan Ismail, “Hai ayahku, kerjakanlah apa yag diperintahkan kepadamu. Engkau akan menemukan aku termasuk orang-orang yang bersabar, Insya Allah.”

Nabi Ibrahim diuji oleh malaikat Jibril

Ketika Allah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai Al Khalil, berkatalah para malaikat, “Ya Tuhan, dia memiliki harta, anak dan istri. Bagaimana dia menjadi kekasih-Mu disertai semua hal yang menyibukkannya itu?”

Berfirmanlah Allah swt, “Janganlah kamu memandang rupa wajah hamba-Ku, dan jangan pula kepada hartanya. Tetapi pandanglah hatinya dan amal perbuatannya. Tidak ada sebuah cintapun dalam hati kekasih-Ku itu kepada selain Aku. Jika kamu mau, pergilah dan ujilah dia.”

Maka datanglah malaikat Jibril dalam bentuk manusia. Nabi Ibrahim memiliki 12 ribu ekor anjing untuk berburu dan menjaga kambing-kambingnya. Setiap anjing memiliki kalung dari emas, untuk memberi pelajaran bahwa dunia ii suatu yang najis dan najis tidak pantas kecuali untuk sesuatu yang najis pula. Nabi Ibrahim berada di atas sebuah bukit yang tinggi dan mengawasi kambing-kambingnya itu.

Jibril memberi salam kepadanya dan berkata kepadanya, “Milik siapakah kambing-kambing ini?” nabi Ibrahim menjawab, “Milik Allah, hanya saja saat ini ada di tanganku.”

Kemudian Jibril berkata, “Bersedekahlah dengan seekor kambing.” Ibrahim menjawab, “Berdzikirlah kepada Allah dan ambillah sepertiganya.” Maka jibril membaca Subbuuhun qudduusun rabbunaa wa rabbul malaaikati war ruuh (Maha Suci lagi Maha Agung Tuhan kami, Tuhan para malaikat dan Tuhan malaikat ruh (Jibril). Kemudian Ibrahim berkata, “Berdzikirlah untuk yang kedua kali maka ambillah separuhnya.”

Malaikat Jibril membaca Subbuuhun qudduusun rabbunaa wa rabbul malaaikati war ruuh. Kemudian Ibrahim berkata lagi, “Berdzikirlah untuk ketiga kalinya maka ambillah seluruhnya, beserta penggembala dan anjing-anjingnya.”

Berdzikirlah malaikat Jibril, dan Nabi Ibrahim berkata, “Berdzikirlah untuk yang keempat maka aku menyatakan sebagai budakmu.”

Allah berfirmn, “Hai Jibril, bagaimana engkau temukan kekasih-Ku?” Jibril menjawab, “Sebaik-baik kekasih adalah dia, ya Tuhanku.”

Maka Nabi Ibrahim memanggil-manggil, “Hai penggembala-penggembala kambing, halaulah kambing-kambing itu di belakang orang ini kemana dia mau. Karena kamu semua sekarang ini telah menjadi kekuasaannya.”

Lalu malaikat Jibril menampakkan dirinya dan berkata, “Hai Ibrahim, tidak ada keperluan bagiku dalam kambing-kambing itu. Aku hanya datang untuk mengujimu.” Nabi Ibrahim berkata, “Aku adalah khalilullah, aku tidak akan mencabut pemberianku padamu.”

Lalu Allah enurunkan wahyu kepada Nabi Ibrahim agar menjualnya dan membelikan uangnya pekarangan dan kebun serta menjadikannya sebagai waqaf yang dapat dimakan oleh orang fakir maupun orang aya sampai hari kiamat.”

Disebutkan bahwa orang yang memiliki 20 mitsqal emas atau 200 dirham perak (yaitu ukuran nishab bagi keduanya) setelah keperluan-keperluan pokoknya, maka dia adalah orang kaya. Jika orang memiliki harta selain dinar dan dirham, maka dilihat jka seharga dua ratus dirham itu maka dia adalah orang kaya, dan wajiblah baginya berkurban (menyembelih binatang kurban). Jika kurang dari itu maka tidaklah wajib.

Disebutkan pula bahwa orang yang memiliki pekarangan (tanah) adalah orang kaya jika seharga 200 dirham, sedang orang yang memiliki kebun anggur apabila seharga 200 dirham maka dia adalah orang kaya dengan kesepakatan para ulama. Karena kebun anggur adalah untuk kemewahan bukan keperluan pokok, sebab manusia dapat hidup tanpa dengan buah-buahan itu.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Kisah Nabi Musa Dengan Orang Tua Yang Membaca Syahadat

Diceritakan bahwa Nabi Musa pernah lewat sebuah jalan. Dilihatnya seorang laki-laki tua yang telah bongkok di punggungnya karena tuanya. Dia mengikatkan tali pinggang di perutnya, dan di depannya terdapat api yang disembahnya.

Berkatalah Nabi Musa kepadanya, “Hai orang tua,sudah berapa tahun engkau menyembah api ini?” dia berkata, “490 tahun.” Nabi Musa berkata, “Belum cukupkah waktunya bagimu untuk bertaubat dari menyembah api, dan engkau kembali kepada Allah Yang Maha Raja lagi Maha Perkasa?”

Orang tua itu menjawab, “Hai Musa, apakah engkau beranggapan kalau aku kembali kepada-Nya lalu Dia akan menerimaku?” Nabi Musa berkata, “Bagaimana Dia tidak menerima sedang Dia paling penyayang di antara orang-orang yang menyayangi?”

Orang tua itu berkata, “Hai Nabi Musa, aku memang mengetahui bahwa Allah swtOrang tua itu berkata, “Hai Nabi Musa, aku memang mengetahui bahwa Allah swt selalu menerima orang yang lari berkat kemurahan dan belas kasih-Nya, ajarkan islam kepadaku.”

Maka Nabi Musa mengerjakan islam kepadanya dan masuklah dia ke dalam agama islam. berkatalah dia, “Laa ilaaha illallaah Musaa Rasuulullaah.” Berteriaklah dia dan menjerit sehingga dikhawatirkan dia mati karena kegembiraannya dapat masuk islam.

Nabi Musa menggerak-gerakkan dengan kakinya, ternyata orang tua itu telah memisahkan dunia fana ini. Lalu bertindaklah Nabi Musa untuk mengurus jenazahnya dan menguburkannya. Nabi Musa duduk di atas kuburnya dan berkata, “Ya Tuhanku, aku ingin Engkau mmberi pengetahuan kepadaku, bagaimana Engkau perlakukan hamba ini denga bertauhid sekali.”

Malaikat Jibril turun dan berkata, “Hai Musa, sesungguhnya Tuhanmu membacakan slam untukmu dan berfirman, ‘Hai Musa, tidakkah engkau mengetahui bahwa orang yang telah berdamai kepada Kami dengan kalimah Laa ilaaha illallaah Musaa Rasuulullaah akan Kami dekatkan dia ke haribaan Kami, dan Kami akan memberinya berpakaian dengan pakaian-pakaian surga?”

Barulah Nabi Musa kembali kepada kaumnya dan mengisahkan semua kejadian tersebut. mereka lalu menghitung huruf yang ada dalam kalimat Laa ilaaha illallaah Musaa Rasuulullaah, 24 huruf. Maka Allah telah mengampuni denga setiap huruf dosa-dosa selama 27 tahun.

Keutamaan Dzikir atau Kalimat Tauhid (Syahadat)

Dalam hadis disebutkan bahwa ada seorang hamba didatangkan di hari kiamat dan dihadapkan kepada Allah swt lalu dihisab oleh Allah dan dia berhak mendapatkan neraka sebab banyak dosanya dan sedikit kebaikannya. Hampir saja dia binasa dan bergetar tubuhnya. Berfirmanlah Allah swt, “Hai para malaikat-Ku, lihatlah bukunya. Apakah kamu temukan dalam buku catatan amalnya itu sebuah kebaikan?” mereka melihat buku catatan dn mereka berkata, “Ya Tuhan kami, kami tidak menemukan sedikitpun.” Allah berfirman lagi, “Di sisi-Ku ada sesuatu baginya. Sesungguhnya dia pernah tidur pada suatu malam. Bangunlah dia dari tidurnya dan bermaksud untuk berdzikir kepada-Ku, tetapi kantuk menguasainya sehingga dia tidak bisa berdzikir kepada-Ku. Sesungguhnya Aku telah mengampuninya disebabkan hal itu.”

Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya setan yang terkutuk telah berkata kepada Tuhannya, ‘Demi keagungan dan keluhuran-Mu ya Tuhanku, tidak henti-hentinya aku akan menyesatkan hamba-hamba-Mu untuk selama-lamanya, dan aku akan memerintahkan mereka untuk kafir dan berbuat maksiat, selagi nyawa mereka ada dalam tubuh mereka.’ Allah berfirman juga, ‘Hai setan terkutuk, demi keagungan dan keluhuranku, Aku pun tidak henti-hentinya mengampuni mereka selagi berdzikir kepada-Ku dan memohon ampun kepada-Ku.”

Nabi Muhammad bersabda, “Akan didatangkan di hari kiamat seorang laki-laki ke hadapan timbangan amal. Dikeluarkan 99 buku untuknya, setiap buku sepanjang pandangan mata dan di dalamnya terdapat kesalahan atas dosanya. Diletakkanlah buku-buku itu di sebuah daun timbangan. Kemudian dikeluarkan pula sebuah kertas seberat semut, di dalamnya terdapat syahadat Laa ilaaha illallaah Muhammadun Rasuulullaah. Lalu kertas itu diletakkan di daun timbangan yag lain, dan lebih unggul beratnya daripada semua kesalahannya. Maka Allah menyelamatkannya dari neraka berkat tauhidnya dan memasukkannya ke dalam surga.”

Kisah Umar bin Khaththab Yang Berbuat Adil Kepada Rakyatnya

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab pernah mengadakan perjalanan pada suatu malam. Lewatlah dia di depan pintu sebuah rumah dan didengarnya sebuah suara tangisan. Berhentilah dia dan didengarnya seorang perempuan berkata kepada anak-anaknya, “Allah berada di antara aku dan Umar bin Khaththab.”

Umar bermaksud melegakan hati perempuan itu dari kesedihan. Maka diketuknya pintu dan berkata, “Apa yang diperbuat Umar padamu?” penghuni rumah itu tidak mengetahui bahwa dia Umar.

Berkatalah perempuan itu, “Suamiku telah dikirim ke medan perang anu dan dia meninggalkan anak-anakku yang masih kecil-kecil, padahal aku tidak memiliki sesuatu yang dapat aku gunakan untuk menghidupi mereka. Mereka menangis dan berkata kepadaku, “Amirul mukminin telah melupakan kita.”

Keluarlah Umar dan mengambil sekarung tepung gandum dan lemak binatang yang banyak sekali. dipikulnya karung itu di atas punggungnya. Berkatalah orang yang bersamanya, “Letakkanlah agar aku yang memikulnya.” Umar menjawab, “Biarkanlah, engkau dapat memikul ini di dunia, tetapi siapakah yang akan memikul dosa-dosaku di hari kiamat?”

Umar menangis hingga masuk ke rumah perempuan itu. Diaduknyalah tepung itu seketika dengan tangannya sendiri. Dia menyalakan api di dapur, memasak roti dan lemak. Lalu membangunkan anak-anak di rumah itu dan disuapinya mereka dengan tangannya sendiri sampai anak-anak itu kenyang.

Berkatalah Umar, “Maafkanlah aku, agar kamu dapat menuntutku di hari kiamat kelak.” Mereka berkata, “Ya.” Barulah Umar keluar bersama keadilannya.

Dia pernah dilihat dalam mimpi setelah wafatnya lima belas tahun kemudian. Ditanyalah dia, “Apakah yang diperbuat Allah denganmu, hai Umar?” dia menjawab, “Sekarang aku bebas dari tuntutan firman Allah dalam surat An Nahl ayat 90, ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan perbuatan adil dan berbuat baik.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Kisah Nabi Ibrahim Dengan Raja Mesir

Pada saat Nabi Ibrahim diselamatkan Allah, yaitu api dijadikan Allah untuknya dingin. Maka dia bermaksud pergi ke arah Mesir.

Allah berfirman dalam surat Ash Shaffaat ayat 99, “Dan Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya aku akan pergi kepada Tuhanku dan Dia akan memberiku petunjuk.”

Dia pergi bersama istrinya Sarah. Dikatakanlah kepadanya, “Sesungguhnya di Mesir terdapat raja yang dzalim dan merampas istri-istri orang dengan aniaya. Raja itu mempunyai pgawai yang memungut sepersepuluh (upeti) di sepanjang jalan.”

Nabi Ibrahim adalah orang yang cemburu (mengkhawatirkan) atas istrinya, lagipula Sarah adalah seorang yang paling cantik sehinnga tidak ada bandingannya saat itu. Maka Nabi Ibrahim mengambil sebuah peti dan memasukkan istrinya ke dalam peti itu, lalu Nabi Ibrahim menguncinya dan memuat di atas unta serta menuju ke Mesir.

Setelah Ibrahim sampai pada pegawai upeti, pegawai itu minta kepada Ibrahim untuk berhenti dan bermaksud membuka peti. Tetapi Ibrahim menolak, dan pegawai upeti itu tidak mau membiarkan Nabi Ibrahim sehingga dia datang dengan membawa banyak pembantunya, dia membuka peti itu dengan paksa. Dilihatnya Sarah itu di dalamnya yang mempunyai kecantikan dan kesempurnaan.

Bertanyalah pegawai upeti itu, “Apakah ini istrimu?” Nabi Ibrahim menjawab, “Dia saudaraku.”

Pegawai itu berkata, “Aku kira di sangat pantas untuk sang raja.” Mereka lalu membawa Sarah menghadap raja. Allah telah menghilangkan semua bentuk penghalang dari Nabi Ibrahim, sehingga dia dapat melihat Sarah dari luar rumah.

Raja bermaksud mendekati Sarah dan mengulurkan tangannya kepada Sarah. Tetapi matilah tangan dan kedua kakinya. Berkatalah raja itu, “Engkau perempuan tukang sihir? Engkau telah membuat tangan dan kakiku lumpuh.”

Sarah menjawab, “Aku bukanlah tukang sihir. Tetapi aku adalah istri dari Khalilullah (kekasih Allah). maka dia mendoakan celaka padamu. Allah membuat tangan dan kakimu lumpuh. Karena itu bertaubatlah kepada Allah sehingga Allah akan menyembuhkan tangan dan kakimu.”

Bertaubatlah raja dan Allah menyembuhkan tangan dan kakinya seketika itu juga.

Kemudian dia memandang kepada Sarah, dan dia tidak dapat menahan diri lagi karena kecantikannya. Dia bermaksud menjamahnya untuk kedua kalinya, maka Allah mmebutakan kedua matanya. Bertaubatlah raja itu dan Allah pun mengembalikan penglihatannya kepada dirinya.

Kemudian dia masih menginginkan untuk ketiga kalinya, maka Allah membuat lumpuh semua anggota tubuhnya. Lalu barulah dia bertaubat dengan sebenar-benarnya, dan mengembalikan Sarah kepada Ibrahim serta minta ampun sebanyak-banyaknya.

Berkatalah raja kepada Ibrahim, “Putuskanlah dengan putusan yang engkau kehendaki kepadaku.”

Nabi Ibrahim berkata, “Semua itu adalah urusan Tuhanku, aku tidak akan memutuskan kecuali apa yang diperintahkan oleh Tuhanku.”

Lalu turunlah malaikat Jibril dan berkata, “Hai Ibrahim, Allah berfirman kepadamu, ‘Katakanlah kepada raja, bahwa dia harus keluar dair kerajaan dan semua kekayaannya, dan menyerahkannya kepadamu, kemudian doakanlah dia.”

Nabi Ibrahim mengabarkan semua putusan Allah itu kepada raja, dan raja pun menerima keputusan Allah itu. Nabi Ibrahim lalu mendoakannya dan Allah menyembuhkan seluruh anggota tubuhnya.

Ketika raja itu sembuh, dia datang menghadap dengan membawa Hajar dan diserahkannya dia kepada Sarah. Berkatalah Sarah, “Aku memberikannya kepada Ibrahim, karena dia sudah susah akibat diriku.”

Lalu diberikannya hajar kepada Ibrahim dan diapun mengajukan alasan kepada ibrahim, dan berkata, “Janganlah engkau susah, karena Allah telah menghilangkan peghalang di antara aku dan engkau.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin