Perceraian dengan cara khulu’

Perceraian dengan kata khulu’ merupakan talak dan mengurangi bilangan talak.

Menurut suatu pendapat yang dinashkan di dalam qaul qadim dan qaul jadid (ijtihad Imam Syafi’i di Mesir), disebutkan bahwa perceraian dengan kata khulu’ jika tidak dimaksud talak, berarti fasakh yang tidak mengurangi bilangan talak. Berdasarkan pendapat terakhir ini diperbolehkan memperbarui ikah sesudah berulang-ulangnya kasus yang sama tanpa batas.

Pendapat di atas dipilih oleh sejumlah orang yang banyak jumlahnya dari kalangan ulama terdahulu dan ulama kemudian, bahkan Al Bulqini sering memfatwakannya.

Akan tetapi, perceraian dengan memakai kata talak dengan tebusan, hal ini dinamakan talak secara pasti dan mengurangi bilangan talak orang yang bersangkutan. Perihalnya sama saja seandainya seseorang bermaksud talak dengan memakai kata khulu’.

Akan tetapi, Al Imam telah menukil dari ulama ahli tahqiq suatu kepastian hukum, bahwa khulu’ tidak dapat berubah menjadi talak hanya bersandar kepada niat saja.

Ayah atau wali meminta khulu’

Seandainya seorang ayah atau wali lainnya meminta khulu’ dengan memberi tebusan maskawin anak perempuan perwaliannya, atau ia mengatakan, “Ceraikanlah dia, maka engkau terbebaskan dari maskawinnya,” maka talak yang jatuh adalah talak raj’i, sedangkan pihak suami tidak terbebas dari kewajiban membayar maskawin barang sedikit pun.

Tetapi memang si suami terbebas dari membayar maskawin jika ayah atau wali lainnya menjamin apa yang dituntut oleh pihak suami, atau si ayah (juga wali lainnya) mengatakan, “Akulah yang menanggung semuanya.” Maka si istri terceraikan secara ba’in dengan tebusan membayar sejumlah mahar mitsil yang ditanggung oleh ayah atau (wali) lainnya.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Ayah atau wali meminta khulu’

Seandainya seorang ayah atau wali lainnya meminta khulu’ dengan memberi tebusan maskawin anak perempuan perwaliannya, atau ia mengatakan, “Ceraikanlah dia, maka engkau terbebaskan dari maskawinnya,” maka talak yang jatuh adalah talak raj’i, sedangkan pihak suami tidak terbebas dari kewajiban membayar maskawin barang sedikit pun.

Tetapi memang si suami terbebas dari membayar maskawin jika ayah atau wali lainnya menjamin apa yang dituntut oleh pihak suami, atau si ayah (juga wali lainnya) mengatakan, “Akulah yang menanggung semuanya.” Maka si istri terceraikan secara ba’in dengan tebusan membayar sejumlah mahar mitsil yang ditanggung oleh ayah atau (wali) lainnya.

Seandainya seseorang mengatakan kepada orang lain (dengan nada perintah), “Mintakanlah kepada si Fulan agar menceraikan istrinya dengan tebusan seribu anu,” maka disyaratkan untuk kepastian jaminan pembayaran yang seribu itu melalui ucapan, “Atas tanggunganku.”

Lain halnya jika (seorang istri mengatakan), “Mintakanlah kepada suamiku agar menceraikan diriku dengan tebusan sekian.” Sesungguhnya pernyataan terssebut merupakan perwakilan, sekalipun si istri tidak mengataakan, “Atas tanggunganku.”

Seandainya seorang lelaki mengatakan, “Ceraikanlah istrimu dengan imbalan, aku pun menceraikan istriku,” lalu keduanya melakukan hal tersebut. maka kedua istri tersebut tertalak ba’in, mengingat dalam khulu’ ini tidak terjadi suatu faktor pun yang membatalkannya. Juga karena tebusan yang digunakan dalam masalah ini memang hal yang menjadi tujuannya. Lain halnya menurut pendapat sebagian di antara ulama yang berpendapat berbeda.

Pada prinsipnya dalam masalah ini masing-masing dari suami harus membayar tebusan mahar mitsil istrinya kepada yang lain.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Khulu’ tanpa disebutkan tebusannya

Seandainya khulu’ berlangsung tanpa disebutkan tebusannya di saat di ajukan kepada pihak istri, dengan niat memancing pihak istri mau melakukan kabul. Umpamanya si suami berkata, “Aku khulu’ kamu,” atau “Aku meminta tebusan darimu,” dengan niat memancing agar pihak istri bersedia menerimanya, ternyata si istri mau menerimanya. Maka pihak istri wajib membayar sejumlah mahar mitsil, mengingat tradisi telah memberlakukan hal tersebut harus dengan tebusan.

Untuk itu, seandainya khulu’ dinyatakan di hadapan lelaki lain, maka si istri tertalak secara Cuma-Cuma. Perihalnya sama saja seandainya khulu’ dinyatakan di hadapan lelaki lain, sedangkan tebusan yang diminta tak berguna (fasid).

Suami mengucapkan khulu’ secara bebas

Seandainya seorang suami mengucapkan kata khulu’-nya dengan bebas tanpa ikatan, misalnya dia mengatakan, “Aku khulu’ kamu,” sedangkan dia tidak berniat memancing kabul pihak istri, maka yang terjadi adalah talak raj’i, sekalipun pada akhirnya pihak istri menerimanya.

Suami mengucapkan kata-kata yang mengandung tebusan

Apabila si suami mulai mengutarakan kata-kata yang mengandung arti tebusan, misalnya, “Aku ceraikan kamu atau aku khulu’ kamu dengan tebusan sebanyak seribu anu,” maka hal tersebut dinamakan mu’awadhah (permintaan tebusan), karena pihak suami akan menerima tebusan sebagai pembebasan atas farji hak miliknya. Hanya saja perkara mu’wadhah ini mengandung pengertian ta’liq (menggantungkannya dengan hal lain), karena jatuhnya talak bergantung pada kabul dari pihak istri. Untuk itu, pihak suami boleh mencabut kembali pernyataan mu’awadhah-nya itu sebelum pihak istri menerimanya, karena masalahnya sama dengan masalah mu’awadhah (pertukaran).

Kabul dari pihak istri disyaratkan seketika

Disyaratkan kabul dari pihak istri dilakukan dengan seketika, yakni di dalam majelis final penentuannya, dengan ucapan seperti, “Aku terima,” atau “Aku tanggung,” atau dengan realisasi nyata, umpamanya pihak istri menyerahkan uang sejumlah seribu anu misalnya. Demikianlah pendapat yang dikemukakan oleh sejumlah ahli tahqiq.

Seandainya terjadi selingan di antara ucapan mu’awadhah pihak suami dan kabul dari pihak istri, yakni selingan waktu atau pembicaraan yang cukup panjang, maka khulu’ tidak jadi.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Khulu’ yang batal

Di dalam kitab syarah Al Minhaj dan syarah Al Irsyad, disebutkan bahwa seandainya si suami menghentikan nafkah terhadap istrinya agar istrinya meminta khulu’ dengan imbaan sejumlah uang, kemudian ternyata si istri melakukannya, maka khulu’ nya batal, dan yang jadi hanyalah talak raj’i saja. Demikianlah yang telah dinukil oleh sejumlah ulama terdahulu dari Syeikh Abu Hamid.

Atau si suami tidak bermaksud demikian (memperoleh tebusan berupa uang dari pihak istri), maka yang jadi adalah talak ba’in. Demikianlah interpretasi oleh Imam Rafi’i dan Imam Nawawi, dari Abu Hamid, yaitu khulu’ nya sah. Hanya, si suami berdosa karena perbuatannya dalam dua kondisi tersebut, sekalipun perbuatan zina istrinya telah nyata; dan jika perbuatan zina istrinya telah nyata, maka khulu’ nya tidak dimakruhkan.

Khulu’ menurut istilah syara’

Makna khulu’ menurut istilah syara’ ialah perceraian dengan tebusan yang dimaksud (oleh pihak suami sekalipun berupa sesuatu yang tidak sah dijadikan maskawin karena tak berguna), umpamanya bangkai. Tebusan tersebut dari pihak istri atau oleh orang lain, diberikan kepada pihak suami atau tuannya, dengan memakai kata talak atau khulu’ atau tebusan, sekalipun khulu’ dijatuhkan kepada istri yang berada dalam talak raj’i, sebab istri yang ada dalam talak raj’i sama kedudukannya dengan istri dalam banyak hal, menyangkut hukum-hukumnya.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani