Cara Untuk Membuka Pintu Khauf dan Roja

Orang muslim itu harus memiliki 2 sifat yang baik, yaitu sifat khauf dan sifat roja’. Dua sifat tersebut merupakan sifat yang bisa mendorong seseorang untuk menambah ketakwaan kepada Allah.

Dengan memiliki sifat khauf, maksudnya memiliki rasa takut, takut tidak disukai/dibenci oleh Allah, takut amalnya tidak diterima Allah. Maka dirinya akan hati-hati dalam beramal, dan akan menahan dari segala dosa yang bisa menyebabkan dirinya dibenci Allah.

Dengan memiliki sifat roja’, maksudnya berharap-harap terhadap datangnya kebaikan dari Allah. Hal ini bisa mendorong seseorang melakukan tho’at kepada Allah yang menghasilkan terhadap segala kebaikan.

Siapa saja orang yang menginginkan pintu roja’ terbuka bagi dirinya, maka dia harus mengingat segala kebaikan yang sudah diberikan oleh Allah kepada dirinya. Misalnya kebaikan memberikan kesehatan, memberikan ilmu, memberikan iman dan islam, dan macam-macam kenikmatannya. Sehingga tidak ada satu detik pun yang kosong dari nikmat yang diberikan Allah.

Maka dengan mengingat-ingat kebaikan yang telah diberikan Allah, kita akan terus-terusan mengharapkan kebaikan dari Allah yang dibarengin dengan husnudhan (berprasangka baik) kepada Allah. Dengan berhusnudhan akan menghasilkan segala kebaikan, karena Allah akan berkehendak (mengabulkan) sesuai dengan persangkaan manusia. Seperti di dalam hadist: “anaa fii dhannii ‘abdii bii”, “Aku yang agung, kehendaknya ada didalam prasangkanya ‘abdi terhadap-Ku,  apabila prasangkanya bagus maka bagus pula maka Allah akan menghendaki yang bagus pula.” Dan juga didalam hadist: “Ada 2 kabaikan yang tidak diungguli oleh yang lainnya, yaitu husnudhan kepada Allah dan husnudhan kepada ‘Abdi-Nya.”

Dan apabila kita menginginkan pintu khauf terbuka, yang mendorong untuk menjauhi kemaksiatan, maka kita harus mengingat-ingat keburukan yang sudah dilakukan oleh kita. dengan mengingat-ingat segala dosa dan kesembronoan kita dalam menghadap Allah, maka kita akan selamanya memiliki rasa khauf.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus empat puluh enam)