Kesulitan dan Kebahagiaan Menurut Islam

Kalau sedikit perkara yang senang, maka akan sedikit pula perkara yang bingung.

Contoh yang bisa membuat senang adalah menjadi pimpinan yang sering diakhiri dengan diberhentikan. Kalau kita tidak mau diberhentikan, maka janganlah ingin menjadi pimpinan, karena biasanya sering diberhentikan. Sebab nantinya kita akan jadi prihatin apabila diberhentikan.

Para ulama ahli suluk berpegang kepada patokan qawa’id: “mencegah dari kebingungan lebih diutamakan daripada mendatangkan kebahagiaan.”

Jadi kesenangan dan kebingungan, atau kebahagiaan dan  kesulitan itu akan sering kita temui dalam hidup ini. Apabila kita sedang mendapatkan kebahagiaan atau kemudahan, kita harus hati-hati dan jangan sampai lupa diri, malahan kita harus banyak mensyukurinya. Jangan sampai kebahagiaan itu menjadikan kita lupa diri dan akhirnya terjerumus ke dalam jalan yang tidak baik dan tidak diridhai oleh Allah swt.

Begitupun juga sebaliknya, ketika kita sedang mendapatkan cobaan atau ujian, hal ini jangan sampai membuat kita putus asa dan berprasangka buruk kepada Allah. tetapi kita harus yakin bahwa Allah memberikan ujian itu adalah untuk kebaikan kita, untuk melebur dosa kita apabila kita bersabar, dan menaikkan derajat kita. Sehinggan akhirnya kita nanti mendapatkan kebahagiaan dengan adanya cobaan ini.

Oleh karena itu kita harus banyak bergaul atau berinteraksi dengan orang-orang yang berilmu (faham ilmu agama), sering mengikuti pengajian, dan lain-lain.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus tujuh belas)

Sikap Seorang Muslim Ketika Menghadapi Kesulitan Dan Kebahagiaan

Manusia itu sering kedatangan bingung dan juga sering kedatangan senang/bahagia. Dua hal tersebut sering datang bergantian, kadang bingung kadang bahagia. Seperti saling bergantiannya siang dan malam, ketika bingung terasa seperti malam, sedangkan ketika senang/bahagia seperti siang.

Malam adalah waktunya beristirahat sedangkan siang waktunya berusaha/berikhtiar. Nah ketika sedang bingung, nafsu itu keadaannya tidak berkutik karena tidak ada yang disukai. Dan ketika sedang senang/kaya/bahagia, keadaan nafsu juga ikut senang dan melaksanakan keinginannya.

Ketika keadaan nafsu sedang tidak berkutik, itu akan lebih mendekatkan kepada keselamatan, dan akan lebih besar datangnya faidah.  Maka ketika sedang bingung atau dalam kesulitan yang disamakan dengan malam, kita harus banyak bermunajat kepada Allah, banyak membersihkan diri, dan manteng (kuat) hatinya kepada Allah.

Sehingga Allah akan memberikan keutamaan ketika sedang berada dalam kesulitan (kebingungan), dimana keutamaan tersebut tidak bisa dihasilkan ketika keadaan kita sedang senang/lapang. Jadi ketika kita sedang dalam kesulitan (bingung) atau sedang berada dalam kesenangan/kelapangan, dua-duanya ada faidahnya.

Adab-adaban atau sikap kita ketika mengalami kesulitan (kebingungan) yaitu harus pasrah sepenuhnya kepada Allah, jangan banyak mengeluh, jangan rewel. Malah kalau kita bisa inkisar hati maka itu bisa menjadikan tempat datangnya rahmat Allah swt. Firman Allah dalam hadist qudsi: “anaa ‘indal munkasiraati quluu buhum”, artinya rahmat Allah akan diberikan kepada orang yang sedang inkisar hatinya, yaitu rasa diri lemah dan faqir, tidak ada kekuasaan, tidak ada daya dan upaya. Nah dalam keadaan demikian sering turun pemberian dari Allah yang tidak diberikan ketika waktu lapang/senang.

Apabila kita sedang mengalami kebingungan/kesulitan jangan terlalu menginginkan kesenangan (lapang), sebab mungkin saja lebih bagus ketika sedang mengalami kesulitan. Begitu juga ketika kita sedang senang/lapang/ bahagia, jangan menginginkan kesulitan (kebingungan), sebab mungkin saja lebih bagus ketika sedang lapang/senang.

Kesimpulannya adalah dalam keadaan apapun, baik itu ketika sedang bahagia, senang, bingung, sulit, kita harus tetap sabar dan tawakal dan ridha terhadap semua ketentuan atau taqdir Allah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus empat puluh tujuh)

Mengapa Manusia Mengalami Kesulitan Hidup Di Dunia Menurut Pandangan Islam

Kesulitan atau kebutuhan merupakan perkara dzati buat kita, tegasnya tidak akan pisah dari dzat kita. Dan datangnya macam-macam kebutuhan itu adalah peringatan buat kita terhadap perkara yang samar ke kita dari kesulitan kepada diri kita. Dan kesulitan golongan dzati tidak akan bisa dihilangkan dengan datangnya yang dibutuhkan.

Penjelasan :

Sebenar-benarnya manusia selama hidup di dunia itu tidak akan bisa pisah dari kesulitan dan kebutuhan. Sebab kebutuhan yang sangat atau mendesak adalah termasuk golongan dzati bagi diri manusia.

Dan kenapa kebutuhan ini termasuk ke dalam golongan dzati, sebab jiwa manusia didalamnya oleh Allah disusun diantara hisi (panca indera) dan ma’nawi, tegasnya jiwa raga tidak akan bisa ajeg (sempurna) tanpa dibarengin ruh. Dan adanya ruh itu sirrun min asrorillaah, artinya sesuatu yang halus yang tidak ada yang tahu kecuali Allah.

Adanya kebutuhan ini difirmankan oleh Allah : yaa ayyuhannaasu antum fuqaraa an ilallaahi wallaahu huwal ghaniyyul hamiidu “ Hai, ingatlah orang-orang bahwa kalian semua membutuhkan pertolongan Allah, sedangkan Allah itu adalah Maha Kaya dari makhluknya, dan Maha Terpuji”.

Dengan adanya kebutuhan (datangnya macam-macam sebab kebutuhan), itu jadi peringatan bagi kita bahwa sebenarnya kita adalah Maha Butuh. Dan dengan adanya dihasilkan macam-macam kebutuhan ini, itu tidak akan bisa menghilangkan terhadap kebutuhan kita.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kesembilan puluh enam)