Hukum Saksi Palsu Dalam Islam

Saksi palsu merupakan sebuah hal yang sangat dilarang dalam islam, karena hal ini akan sangat merugikan orang lain dan merupakan sebuah hal yang termasuk dosa dan diharamkan oleh Allah.

Banyak sekali keterangan yang menjelaskan tentang saksi palsu ini, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

Rasulullah telah menegaskan di dalam sabdanya sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Abu Bakar:

Kami duduk disini, Rasulullah saw lalu bersabda, “Maukah kamu aku beritahukan tentang dosa yang paling besar (beliau mengulangnya sampai tiga kali)?” para sahabat menjawab, “Baiklha, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua. Ingat! Dan saksi palsu. Ingat, saksi palsu. Ingat, saksi palsu.” Pada mulanya Rasulullah bersanda, lalu duduk tegak. Tak henti-hentinya beliau mengulangi ucapannya, sehingga kami berkata, “Semoga Rasulullah diam.”

Imam Turmudzi dan Imam Abu Dawud juga telah meriwayatkan dari Khuraim bin Fatik yang artinya sebagai berikut:

Rasulullah menjadi imam jamaah kami di waktu mengerjakan salat shubuh, ketika telah selesai, lalu beliau berdiri dan berkata, “Dosa saksi palsu itu sebanding dengan menyekutukan pada Allah (beliau mengulanginya sampai tiga kali), kemudian beliau membaca ayat (surat Al Haj ayat 30),”  maka jauhilah berhala-berhala yang najis dan perkataan yang dusta, perbuatannya lurus untuk Allah tidak menyekutukan pada-Nya.”

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:

Barang siapa yang bersaksi palsu yang membahayakan orang muslim, maka hendaklah menempati tempat duduknya di dalam neraka.

Imam Thabrani juga telah meriwayatkan dari Abu Musa, bahwa Rasulullah telah bersabda:

Barang siapa yang menyimpan kesaksian ketika diminta untuk menerangkannya maka dosanya sama dengan orang yang bersaksi palsu.

Saksi palsu ialah seorang yang menyatakan sesuatu, sedang ia belum menyatakan kebenarannya atau belum membuktikan kebenarannya, sehingga hukumnya tetap haram. Bahkan sebagian besar para ulama menggolongkannya ke dalam dosa besar.

Menurut Syeikh Izzudin bin Abdis Salam, bahwa jika saksi itu berkata bohong, maka ia akan mendapat 3 dosa, yaitu: dosa karena berbuat maksiat, dosa membantu orang yang dzalim, dan dosa karena mengecewakan orang yang dianiaya. Jika ia tidak menyaksikan sendiri persoalan yang sedang terjadi, lalu ia menjadi saksi, maka berdosa karena telah berbuat maksiat yaitu tidak tahu masalah sebenarnya tapi mau menjadi saksi. Karena dialah penyebab orang yang dzalim terlepas dari tanggung jawab dan memberikan hak kepada orang yang teraniaya.

Kesaksian bohong merupakan sebuah dosa besar

Haram melakukan kesaksian palsu

Allah swt berfirman dalam surat Al Hajja ayat 30, “Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.”

Surat Al Isra ayat 36:

dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Bakrah, yakni Nufai’ ibnul Harits, yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda:

“Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa yang paling besar?” (hal ini dikatakannya) sebanyak tiga kali. Lalu kami menjawab, “Tentu saja kami mau, wahai Rasulullah.” Nabi Muhammad bersabda, “Mempersekutukan Allah, menyakiti kedua orang tua,” ketika itu beliau bersandar, lalu duduk dan bersabda, “Ingatlah, dan perkataan dusta serta kesaksian palsu.” Beliau masih terus mengulanginya hingga kami mengatakan, “Seandainya beliau berhenti.”

Larangan menyebut-nyebut pemberian

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 264, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Abu Dzar, dari Nabi Muhammad yang telah bersabda:

Ada tiga macam orang yang kelak di hari kiamat Allah tidak mau berbicara kepada mereka, tidak mau melihat mereka serta tidak mau membersihkan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih. Rasulullah mengucapkan kalimat ini sebanyak 3 kali. Abu Dzar bertanya, “Alangkah kecewa dan meruginya mereka. Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Nabi Muhammad menjawab, “Orang yang memanjangkan kainnya, orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya, dan orang yang melariskan barang jualannya melalui sumpah dusta.”

Kesaksian yang tidak dapat dicampuradukkan

Ahmad Al Muzjid mengatakan, “Seandainya seseorang mempersaksikan adanya penjualan, sedangkan yang lain mempersaksikan adanya pengakuan penjualan. Atau seseorang mempersaksikan apa yang didakwakan oleh pendakwa adalah miliknya sendiri, sedangkan yang lain mempersaksikan bahwa pemegang barang mengakuinya. Maka kesaksian keduanya tidak dapat dicampuradukkan.

Seandainya salah seorang dari kedua saksi itu mencabut kembali kesaksiannya, lalu dia mempersaksikan lagi sama dengan temannya, maka dia dapat diterima karena boleh saja dia mempersaksikan kedua perkara itu.

Mendakwakan jumlah pemilikan secara mutlak

Barang siapa mendakwakan memiliki dua ribu rupiah secara mutlak, lalu ada seseorang yang mempersaksikannya secara mutlak, sedangkan saksi lain menyatakan bahwa dua ribu itu dari hasil utang, maka jumlah dua ribu itu dapat dikuatkan menjadi miliknya.

Atau ada seseorang yang mempersaksikan bahwa transaksi memiliki seribu dari hasil jualan, sedangkan saksi lain mempersaksikan bahwa jumlah itu dari hasil utang, maka kedua kesaksian itu dapat dicampuradukkan. Untuk itu, pendakwa dapat bersumpah terhadap masing-masing dari kedua saksi tersebut (yakni untuk menangkis kesaksian keduanya).

Kesaksian yang dapat di-talfiq-kan

Seandainya seorang saksi mempersaksikan melalui pengakuan, sedangkan yang lain mempersaksikan melalui informasi yang lengkap; sekiranya kesaksiannya dapat diterima, maka kedua kesaksian ini dapat di-talfiq-kan.

Syeikh Athiyyah Al Makki pernah ditanya mengenai masalah dua orang laki-laki; salah seorang mendengar seorang suami menjatuhkan talak tiga, sedangkan yang lain mendengar pengakuan suami adanya talak tiga, apakah kesaksian keduanya daapt di-talfiq-kan atau tidak?

Maka Syeikh Athiyyah menjawab, “Saksi yang mendengar talak itu dan yang mendengar pengakuan talak tiga suami, wajib mempersaksikan kepastian talak tiga yang dijatuhkan oleh pihak suami, tetapi bukan mempersaksikan adanya talak dan bukan pula pengakuan mengenainya dari pihak suami.”

Masalah ini bukan termasuk talfiq dalam kesaksian ditinjau dari segi mana pun, bahkan gambaran tentang menjatuhkan talak dan mengakui pada garis besarnya mempunyai pengertian yang sama (yakni jatuhnya talak tiga), sedangkan hukum pun memutuskan adanya talak dengan alasan apa pun di antara kedua kesaksian tersebut. untuk itu, hendaknya kadi mendengarkan kesaksian keduanya.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Suami tidak mempercayai saksi

Sekiranya pihak suami tidak mempercayai kesaksian mereka, para saksi diwajibkan membayar mahar mitsil, sekalipun (perpisahan kedua suami istri diputus) sebelum adanya persetubuhan atau sesudah pihak istri membebaskan pihak suami dari maskawin, karenamahar mitsil itu sebagai ganti dari kemaluan yang terlewatkan oleh suaminya sebab kesaksian mereka.

Kecuali jika terbukti bahwa tidak boleh ada pernikahan di antara keduanya karena adanya ikatan saudara sepersusuan di antara keduanya. Maka para saksi tidak terkena denda karena tidak ada sesuatu objek pun yang mereka lewatkan sebab kesaksiannya.

Saksi dikenakan denda

Seandainya para saksi yang menyangkut masalah sejumlah harta mencabut kembali kesaksiannya, mereka terkena denda buat orang yang terkena sanksi kesaksiannya sesudah vonis dijatuhkan, bukan sebelumnya, sekalipun mereka mengatakan, “Kami keliru.” Denda tersebut ditanggung secara merata di antara mereka.

Syeikh Zakaria mengatakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan Al Ghuzzi dalam masalah kesaksian yang di-talfiq-kan (dicampuradukkan).

Seandainya seseorang mempersaksikan pengakuan transaksi, bahwa transaksi telah mewakilkan kepada seseorang mengenai masalah anu, sedangkan orang lain memberikan izin kepada orang tersebut untuk mengelolanya atau memasrahkannya kepada dia, hal ini berarti terjadi pencampuradukkan dua kesaksian, karena ungkapan dengan makna kedudukannya sama dengan ungkapan secara lafzi.

Lain halnya jika salah seorang mempersaksikan bahwa transaksi telah mengatakan, “Aku wakilkan kepadamu dalam masalah ini,” sedangkan yang lain mengatakan (kepada orang yang dimaksud), “Aku serahkan hal ini kepadamu.” Atau seseorang mempersaksikan bahwa utang tersaksi telah dibayar, sedangkan menurut kesaksian orang lain dibebaskan dari utang. Maka kedua kesaksian tersebut tidak dapat dicampuradukkan.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Saksi asal terlibat permusuhan

Seandainya saksi asal terlibat dalam permusuhan (dengan orang yang dipersaksikannya) atau dia melakukan suatu kefasikan, maka pengemban saksi tidak boleh mengemukakan kesaksiannya. Seandainya hambatan-hambatan saksi asal telah hilang, maka diperlukan adanya pengemban yang baru bagi kesaksiannya.

Kesaksian yang diemban oleh wanita

Pengembanan kesaksian yang dilakukan oleh wanita tidak sah, sekalipun saksi asal adalah sama dengan mereka (yakni wanita juga), umpamanya dalam kasus kelahiran. Dikatakan demikian karena kebanyakan masalah kesaksian ini hanya dapat dilakukan oleh kaum laki-laki.

Dua orang pengemban saksi bagi dua orang saksi asal

Cukup diperlukan dua orang pengemban saksi bagi dua orang  saksi asal, yakni seorang pengemban saksi untukmeasing-masing saksi asal. Maka tidak disyaratkan adanya dua orang pengemban saksi bagi seorang saksi asal.

Masih belum dianggap mencukupi kesaksian seorang pengemban saksi terhadap suatu kasus, sedangkan pengemban yang lain terhadap kasus yang lainnya. Belum cukup kesaksian seseorang dari keduanya atas yang lainnya dalam masalah hilal ramadhan.

Kasus yang tidak dapat diputuskan

Seandainya para saksi mencabut kembali kesaksiannya sebelum perkaranya diputuskan, maka kasus yang ditanganinya tidak dapat diputuskan. Tetapi jika pencabutan kesaksian dilakukan sesudah perkaranya diputuskan, pencabutan tersebut tidak mempengaruhi keputusan hakim yang telah divonis.

Keputusan hukum tidak dapat ditolak atau hipotesis

Seandainya para saksi mempersaksikan suatu kasus talak ba’in atau mahram sepersusuan, lalu kadi memisahkan kedua suami istri yang bersangkutan, kemudian para saksi itu mencabut kembali kesaksiannya, maka perpisahan keduanya masih tetap berlaku karena ucapan kedua saksi yang mencabut kembali kesaksiannya hanya berdasar kepada suatu hipotesis, sedangkan masalah keputusan hukum tidak dapat ditolak oleh hipotesis.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani