Bagaimanakah Cara Mensyukuri Nikmat Dari Allah

Orang yang tidak ingat terhadap kenikmatan dari Allah swt, maka akan dicabut kenikmatannya. Serta apabila tidak mensyukuri kenikmatan yang diberikan Allah, maka akan dibenci oleh-Nya. Sedangkan kenikmatan itu banyak sekali, seperti yang difirmankan Allah swt: “Wa in ta’udduu ni’matallaahi laa tuhsuu haa”, apabila kita menghitung-hitung kenikmatan Allah swt, maka tidak kita tidak akan bisa menghitungnya saking banyaknya.

Ketika ada pertanyaan bagaimana cara mensyukuri nikmat yang sangat banyak? Maka jawabannya adalah dengan cara mengakui bahwa segala kenikmatan itu merupakan kepunyaan Allah swt. Dengan datangnya macam-macam kenikmatan jangan menjadikan kita bingung dalam mensyukurinya, atau khawatir (takut) tidak bisa mensyukurinya. Sebab dengan adanya kekhawatiran dan bingung, maka akan terjadi kita tidak ridha terhadap pemberian dari Allah, sehingga akhirnya kita tidak mau diberi. Tingkah atau kelakuan seperti ini akan mengurangi kenikmatan kita.

Apabila kita ingin menjadi orang yang bisa mensyukuri kenikmatan dari Allah, maka di tiap-tiap pagi atau sore harus mengucapkan doa ini: “Allaahumma maa ashbaha bii min ni’matin au bi ahadin min khalqika waminka wahdaka laa syariika laka falakal hamdu falakas syukru ‘alaa dzaalika.”, yang artinya “Ya Allah, kenikmatan yang datang padaku pada pagi ini atau datang ke semua makhluk-Mu, itu semua adalah pemberian dari-Mu, tidak ada yang mencampuri”

Kalau kita di tiap pagi berfikir tentang kenikmatan yang diberikan Allah, dari mulai kesehatan badan, bisa melihat, bisa mendengar, bisa merasa, bisa ngomong, bisa berfikir, bisa berjalan, bisa bergerak, dan mempunyai iman dan islam, maka cukup bagi kita itu semua disertai dengan mengakui bahwa sebenar-benarnya segala kenikmatan itu adalah pemberian dari Allah.

Dan yang lebih baik atau utama adalah dengan dibarengin doa supaya Allah memberi taufik untuk mensyukurinya, maksudnya ingin diberi kemampuan untuk mensyukurinya.

Pengakuan atau mensyukuri nikmat dari Allah itu tidak menjamin akan bertambah kenikmatannya, tetapi yang menjamin bertambahnya kenikmatan itu adalah harus dibarengin dengan syukuran menurut istilah. Yaitu harus mengolah segala kenikmatan kepada yang seharusnya, yang sesuai dengan perintah Allah swt. Misalnya kalau kita diberi rizki memiliki sawah dan ingin bertambah sawahnya itu, maka sawah itu harus diolah sesuai yang seharusnya.

Artinya harus ditanami, kalau tidak ditanami tidak akan bertambah malah akan menambah kesulitan, karena dengan ditanami nantinya sawahnya itu kotor (tidak bersih), sehingga harus dibersihkan dan akhirnya membutuhkan biaya, hal ini dapat mengurangi kenikmatan.

Nabi Daud as berkata: “Ya Allah, harus bagaimanakah aku harus mensyukuri nikmat-Mu, sebab aku tidak bisa mensyukurinya kecuali sebagian?” Lalu Allah menurunkan wahyu kepada beliau: “Dimana kamu sudah tahu dan mengakui bahwa semua nikmat itu datangnya dari Aku Yang Agung, berarti kamu sudah bersyukur kepada-Ku, dan Aku ridha dengan syukurannya.”

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus sembilan puluh dua)

Mengapa Kita Harus Bersyukur Atas Nikmat Dari Allah

Siapa saja orang yang tidak tahu dan tidak mengingat-ingat ukuran kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada orang tersebut, maka Allah swt sering memberi tahu tentang ukuran kenikmatan itu dengan cara menghilangkannya.

Dibawah ini akan dijelaskan tentang kehendak Allah bagi orang yang sering melupakan kenikmatan yang diberikan oleh-Nya, sehingga tidak ingat untuk mensyukurinya.

Allah akan mencabut kenikmatan yang diberikan, sehingga dengan dicabut maka orang-orang jadi ingat tentang adanya kenikmatan. Jadi bagi orang yang tidak ingin kenikmatannya dicabut, harus bisa mensyukuri segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah swt. Kita harus ingat bahwa segala kenikmatan itu adalah berasal dari Allah, dan lisan kita harus banyak mengucapkan pujian kepada-Nya.

Kenikmatan yang diberikan Allah haruslah diolah atau dijalankan di jalan takwa kepada Allah, jangan sampai kenikmatan itu menjadikan kita jauh dari takwa dan lebih dekat dengan ma’siyat.

Orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah, maka seolah-olah orang tersebut sudah menghilangkan kenikmatannya. Dan orang yang mensyukuri kenikmatan maka seolah-olah dia telah mengikat kenikmatan itu dengan tali yang kuat.

Kesimpulannya bahwa kenikmatan itu apabila tidak disyukuri maka akan menghilang, sedangkan apabila disyukuri bakal tetap, maksudnya yang sudah ada bakal tetap dan yang belum ada akan datang.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus sembilan puluh satu)

Inilah Kenikmatan Agung Yang Diberikan Allah

Cukup dari pembalasan Allah terhadap kita dari hasil tho’at, bahwa Allah ridho terhadap kita karena tho’at itu serta jadi ahli tho’at. Dan cukup pula terhadap orang yang beramal balasannya dari Allah, perkara yang dibukakan oleh Allah kedalam hatinya ketika waktu tho’atnya, dan perkara yang didatangkan oleh Allah kepada orang yang beramal dari ketenteramannya.

Penjelasan : Disini akan dijelaskan terhadap agungnya kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang yang bisa tho’at. Selain Allah membuat kita tho’at, meridhoi, serta memberi ketenteraman dalam beribadah, sehingga hati tenang dan senang beribadah. Kemudian Allah memberikan kenikmatan surga yang sangat agung.

Orang yang hatinya normal, dengan bisa beramal sudah cukup pembalasan dari Allah ladang amalnya, dengan keadaan diri dijadikan ahli tho’at dan diridhoi Allah, dan diberi ketenteraman di waktu ibadah. Ini semua merupakan penghormatan Allah, sehingga tidak diberikan kecuali kepada orang yang diutamakan oleh Allah. Karena kalau tidak diutamakan tidak akan jadi utama. Dengan adanya penghormatan ini, maka cukup dipakai pembalasan dari Allah.

Apabila kita bisa tho’at dan memiliki ketenteraman, maka sudah seharusnya kita bersyukur terhadap penghormatan dari Allah tersebut. Jadi bagi kita tidak ada jalan untuk menjawab dengan bisanya tho’at, apalagi nagih pembalasan. Tetapi sebaliknya kita harus banyak syukuran dengan bisa tho’at, dan harus bahagia Allah membuat kita bisa tho’at.

Khusu’ kepada Allah ketika waktu tho’at ada tiga :

  1. Yang disebut mahadoroh, yaitu menghadirkan hati, rasa diri untuk berbakti kepada Allah, khusu’ nya orang tholibin ahlul bidayah.
  2. Muroqobah, melekatkan hati untuk manteng ke Allah, sehingga tidak ada yang terlihat oleh mata hatinya kecuali Allah, yang ini khusu’nya orang saairiin.
  3. Musahadah, dengan sangat mantengnya (kuatnya) hati kepada Allah, sehingga diluar atau selain Allah dianggap rusak, tersalip oleh wujudnya Allah. Tidak ada yang terasa dan terlihat dengan mata hatinya kecuali dzat Allah. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas kehendak Allah swt.

Khusyu’ mahadhoroh untuk orang umum, khusu’ muroqobah untuk orang khusus, dan khusu’ musahadah bagi orang khususil khusus.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedelapan puluh sembilan)