Inilah Hadits Qudsi Tentang Kekuasaan dan Keagungan Allah

Dalam hadist qudsi dijelaskan: “Hei ‘abdi-Ku, Aku Yang Agung yang sudah mengharamkan terhadap pekerjaan yang dhalim kepada dzat-Ku, tegasnya Aku janji tidak akan dhalim kepada siapapun. Dan Aku yang Agung sudah menjadikan perbuatan dhalim itu haram diantara kalian semua, maka jangan saling mendhalimi kalian semua.

Hai ‘abdi-Ku, sebenarnya kalian semua ada di dalam kesesatan, kecuali orang yang diberi petunjuk oleh-Ku. Maka memintalah petunjuk kalian semua kepada-Ku, maka Aku akan memberi petunjuk kepada kalian.

Hai, ‘abdi-abdi-Ku, sebenarnya kalian semua ada dalam kelaparan kecuali orang yang diberi makanan oleh-Ku. Kalian harus meminta makanan kepada-Ku, maka akan diberi makanan oleh-Ku yang Agung.

Hai ‘abdi-abdi-Ku, sebenarnya kalian semua telanjang kecuali orang yang diberi pakaian oleh-Ku. Memintalah kalian semua kepada-Ku, maka bakal memberi pakaian Aku Yang Agung kepada kalian semua.

Hai ‘abdi-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan di waktu siang dan malam. Akan mengampuni dosa semuanya, meminta ampunlah kepada-Ku, maka Aku Yang Agung akan mengampuni kepada kalian semua.

Hai ‘abdi-Ku, kalian semua tidak bisa me madharat kan kepada-Ku sehingga Aku mendapatkan kemadharathan, dan kalian semua tidak akan bisa mendatangkan kemanfaatan bagi-Ku sehingga Aku mendapatkan manfaat.

Hai ‘abdi-Ku, apabila sesungguhnya yang paling duluan diantara kalian semua, dan paling akhir diantara kalian semua, dan manusia, dan jin, terus bukti mendiami (menjadi) orang yang paling takwa diantara kalian semua, maka tidak akan menambahi (bertambah) takwa tersebut terhadap kerajaan Aku.

Hai ‘abdi-Ku, kalau sesungguhnya paling awal kalian semua terus sampai ke yang paling akhir, dengan jin, dengan manusia, itu mendiami di dalam hati yang paling buruk (lacur) diantara kalian semua, maka tidak akan mengurangi lacur (yang buruk) itu terhadap kerajaan-Ku.

Hai ‘abdi-Ku, kalau sebenar-benarnya jin dan manusia dari awal diciptakan sampai akhir, terus kumpul dan berkumpul di suatu tanah (tempat), lalu mereka meminta kepada-Ku, terus diberi oleh-Ku seperti yang dimintanya. Maka tidak akan berkurang kepunyaan-Ku Yang Agung, kecuali seperti jarum yang dimasukkan kepada-Ku.

Hai ‘abdi-Ku, sebenar-benarnya perbuatan kalian ditentukan oleh-Ku, oleh sifat iradat, untuk kalian semua, kemudian Aku melaksanakan terhadap perbuatan (pekerjaan) dengan qudrat-Ku.

Maka siapa saja yang menemukan amal baik, harus memuji Allah. Dan siapa saja orang yang menemukan amal tidak baik, maka jangan mencela, kecuali kepada dirinya sendiri.”

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Cara Untuk Mencari Keagungan Yang Tidak Akan Rusak

Apabila kita mempunyai keinginan untuk memiliki keagungan yang tidak akan rusak, maka kita jangan mencari keagungan yang akan rusak.

Penjelasan : Didalam hikmah ini akan dijelaskan tentang keagungan yang patut dicari.

Keagungan itu dibagi 2 :

  1. Keagungan yang tidak akan rusak.
  2. Keagungan yang akan rusak.

Nah kedua keagungan diatas tidak akan bisa dicari berbarengan. Siapa saja orang yang ingin punya keagungan yang tidak akan rusak, yaitu keagungan Allah, maka jangan mencari keagungan yang akan rusak, yaitu keagungan makhluk.

Keagungan yang tidak akan rusak bisa dihasilkan oleh tiga cara :

  • Dengan pertolongan Allah.
  • Dengan tho’at kepada Allah.
  • Berdekatan (mendekatkan diri) dengan orang yang diagungkan Allah.

Keagungan dengan pertolongan Allah bisa dihasilkan dengan cara mengagungkan Allah, memulyakan Allah, merasa silau, merasa cinta dan m’rifat ke Allah. Serta dengan melaksanakan adab-adaban dihadapan Allah, merasa ridho dan pasrah terhadap segala ketentuan Allah.

Keagungan dengan perjalanan tho’at kepada Allah yaitu dengan mensegerakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, memperbanyak ingat (eling), serta mengerahkan tenaga dalam menghasilkan kebaikan.

Keagungan yang dihasilkan dengan mendekatkan diri terhadap orang yang diagungkan Allah, yaitu dengan bersahabat, mengagungkannya, berkhidmah, dan beradab kepada para kekasih Allah.

Siapa saja orang yang menyatakan terhadap perkara diatas, maka yakin sudah mencari keagungan yang tidak akan rusak. Seperti firman Allah man kaana yuriidul ‘izzata falillaahil ‘izzatu jamii’an, orang yang ingin mendapatkan keagungan, maka keagungan yang sebenarnya adalah keagungan Allah .

Mencari keagungan yang akan rusak yaitu keagungan yang datangnya dari makhluk, misalnya kepangkatan dunia, banyak harta, berwibawa.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedelapan puluh lima)