Siapakah Yang Mendapatkan Karomah dan Ma’unah Dari Allah

Amrun khawariq lil’adat, yaitu kejadian luar biasa (diluar adat/kebiasaan) atas kehendak Allah, seperti manusia bisa terbang atau manusia bisa berjalan di atas air. Nah hal tersebut akan diberikan oleh Allah kepada orang yang sudah bisa melakukan pekerjaannya keluar dari adat/kebiasaan.

Jadi penghormatan dari Allah seperti karomah dan ma’unah itu diberikannya kepada orang yang kelakuannya sudah keluar dari adat. Dan kalau adat/kebiasaan itu ada dua:

  1. Ada yang hissi, maksudnya bisa terlihat, bisa terasa, seperti banyak makan, banyak minum atau banyak tidur dan senang berkumpul dengan orang banyak, dan sering memperhatikan sebab-sebab atau banyak bicara.
  2. Adat yang ma’nawi seperti senang mempunyai pangkat, suka jadi pemimpin, senang mencari keistimewaan yang beda dari orang lain, senang dunia, senang dipuji, senang hasud, senang takabur, senang, ‘ujub dan riya.

Nah apabila orang dalam pekerjaannya baik itu hissi nya maupun dan ma’nawinya masih biasa seperti yang barusan disebut, maka jangan menginginkan amrun khawariq lil’adat.

Kalau ada orang yang hidupnya masih biasa-biasa saja, lalu kedatangan suatu penghormatan dari Allah, maka orang tersebut harus merasa takut akan adanya istidraj.

Kita harus merasa takut apabila Allah membuat kebaikan bagi kita, sedangkan kita terus-terusan berdosa kepada Allah. Harus takut bahwa kebaikan atau pemberian Allah itu semata-mata hanya istidraj.

Kesimpulannya adalah bahwa adanya amrun khawariq lil’adat itu diberikan kepada orang yang tingkah lakunya sudah keluar dari adat/kebiasaan manusia. Misalkan terus-terusan bangun malam untuk shalat dan ibadah, sering berpuasa, atau sering menolong orang lain.

Dan juga amrun khawariq lil’adat kalau masih diinginkan oleh kita, berarti kita masih punya keinginan, baik itu ingin terkenal, ingin dipuji dan lain-lain. Maka dengan adanya keinginan berarti masih biasa, dengan masih biasa maka kita tidak akan diberi oleh Allah.

Biasanya karomah itu diberikan kepada ahli ibadah, dan ibadahnya tersebut luar biasa, sehingga dicintai oleh Allah swt. Ibadahnya jujur, semata-mata karena Allah swt dan bukan karena ingin amrun khawariq lil’adat.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus dua puluh empat)

Macam-Macam Karomah

Bukan tiap orang yang tetap keistimewaannya, sempurna kebersihannya.

Penjelasan : Sebenar-benarnya karomah adalah kehormatan Allah terhadap ‘abdinya itu ada dua, yaitu karomah haqiqi dan karomah amrun khowariq lil’adat.

Karomah haqiqi adalah perkara yang merupakan penghormatan dari Allah yang sebenarnya, yaitu memberikannya Allah terhadap ‘abdi-Nya agar bisa tho’at dalam dhohirnya, dan bisa pasrah terhadap takdir atau ketentuan Allah dalam batinnya. Karomah ini adalah paling utamanya pemberian dari Allah, sebab bisa menghasilkan tujuan yang paling luhur dan kenikmatan yang paling akhir, hal tersebut diberikan kepada orang yang bersih.

Karomah amrun khowariq lil’adat, bukan merupakan karomah haqiqi sebab terkadang diberikan kepada orang yang belum istiqomah secara sempurna, dan sering kejadian ditangannya orang mubtadin.

Tidak terlalu dhohir di golongan wasiliin, tapi 2 golongan diatas termasuk min ahlillaah. Maka perlu oleh kita dihormati dan diagungkan dua-duanya, tapi harus lebih mengagungkan ahli istiqomah.

Orang yang kedatangan karomah bukan berarti dia sempurna kebersihannya dari kotoran dan ngambil keuntungan nafsunya. Sebab karomah amrun khowariq lil’adat yang merupakan keistimewaan dari Allah kadang diberikan kepada sebagian orang yang tidak bersih dari mengambil keuntungannya nafsu.

Dan didhohirkannya oleh Allah ada tiga hikmah :

  1. Menambah semangat.
  2. Mencoba, apakah berhenti atau tidak dengan didatangkannya karomah.
  3. Menambah keyakinannya atau keyakinan yang lainnya, supaya diambil manfaat oleh yang lainnya, sehingga orang-orang ingin mencontohnya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus delapan)