5 Soal Essay Jawaban Prinsip dan Praktik Ekonomi Dalam Islam

Selamat berjumpa kembali kawa-kawan, di bawah ini ada Soal Essay Jawaban Prinsip dan Praktik Ekonomi Dalam Islam. Semoga Soal Essay Jawaban Prinsip dan Praktik Ekonomi Dalam Islam ini bermanfaat banyak.

Soal No. 1). Tuliskan tiga contoh jual-beli yang dianggap baṭil!

Jawaban:

  • Jual beli barang yang tidak halal dan tidak suci.
  • Haram menjual arak dan bangkai, begitu juga babi danberhala, termasuk lemak bangkai tersebut
  • Menjual barang yang tidak dapat diserah terimakan. Contohnya, menjual ikan dalam laut atau barang yang sedang dijadikan jaminan sebab semua itu mengandung tipu daya.
  • Menjual barang yang bukan milik sendiri kecuali diberi kuasa.

Soal No. 2). Tuliskan pengertian riba dan macam-macamnya!

Jawaban:
Riba adalah bunga uang atau nilai lebih atas penukaran barang. Hal ini sering terjadi dalam pertukaran bahan makanan, perak, emas, dan pinjam-meminjam.

Macam-macam riba
a. Riba Fadli
b. Riba Qord
c. Riba Yadi
d. Riba Nasi’ah

Soal No. 3). Tuliskan pengertian syirkah dan macam-macamnya!

Jawaban:
Secara bahasa, kata syirkah (perseroan) berarti mencampurkan dua bagian atau lebih sehingga tidak dapat lagi dibedakan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya.

Menurut istilah, syirkah adalah suatu akad yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan.

Macam-macam syirkah
a. Syirkah ‘Inan
b. Syirkah ‘Abdan
c. Syirkah Wujuh
d. Syirkah Mufawadah

Soal No. 4). Kemukakan perbedaan antara perbankan konvensional dan perbankan syari’ah!

Jawaban:
Bank konvensional Bank konvensional ialah bank yang fungsi utamanya menghimpun dana untuk disalurkan kepada yang memerlukan, baik perorangan maupun badan usaha, guna mengembangkan usahanya dengan menggunakan sistem bunga.

Sedangkan bank syari’ah sistem bagi hasil atau bank yang menjalankan operasinya menurut syariat Islam. Istilah bunga yang ada pada bank konvensional tidak ada dalam bank Islam. Bank syariah menggunakan cara yang bersih dari riba.

Soal No. 5). Jelaskan apa yang dimaksud dengan syirkah wujuh dan berikan contohnya!

Jawaban:
Syirkah wujuh adalah kerja sama karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan, atau keahlian (wujuh) seseorang di tengah masyarakat. Syirkah wujuh adalah syirkah antara dua pihak yang sama-sama memberikan kontribusi kerja (amal) dengan pihak ketiga yang memberikan konstribusi modal (mal).

Contohnya: A dan B adalah tokoh yang dipercaya pedagang. Lalu A dan B bersyirkah wujuh dengan cara membeli barang dari seorang pedagang secara kredit. A dan B bersepakat bahwa masing-masing memiliki 50% dari barang yang dibeli. Lalu, keduanya menjual barang tersebut dan keuntungannya dibagi dua. Sementara harga pokoknya dikembalikan kepada pedagang.

 

Pengertian Hutang Piutang Dalam Islam

Iqradh atau memberi utang dinyatakan sah dengan adanya kabul yang berhubungan langsung dengan ijab, seperti ucapan, “Aku beri dia utang,” lalu dijawab langsung, “aku terima utangnya.”

Qiradh secara hukmi tidak memerlukan ijab dan kabul

Dibenarkan qiradh secara hukmi tidak memerlukan adanya ijab dan kabul seperti ketentuan di atas, misalnya memberi nafkah kepada anak yang ditemukan dalam keadaan memerlukan bantuan, memberi makan orang yang kelaparan, dan memberi pakaian orang yang tidak berpakaian (telanjang).

Termasuk ke dalam pengertian qiradh hukmi yaitu memerintahkan orang lain agar memberikan sesuatu untuk tujuan si penyuruh sendiri (menalangi), mislanya memberi penyair, orang zalim, memberi makan orang miskin, atau menebus tawanan, dan juga kata-kata, “Renovasilah rumahku.”

Segolongan ulama mengatakan, dalam qiradh tidak disyaratkan adanya ijab dan kabul. Pendapat ini dipilih oleh Al-Adzru’i. Dia mengatakan bahwa qias boleh melakukan jual beli secara mu’athah (saling memberi tanpa ijab dan kabul), dalam masalah jual beli diperbolehkan pula melakukan mu’athah dalam masalah qiradh.

Orang yang boleh memberikan qiradh

Sesungguhnya orang yang boleh memberikan qiradh itu hanyalah orang yang secara sukarela berhak mengelola apa yang dipesankan kepadanya, baik berupa ternak ataupun lainnya, sekalipun barang pesanan tersebut berupa uang yang tidak murni (yakni emas dan perak yang bukan mata uang resmi).

Boleh mengutangkan roti dan adonannya serta peragi asamnya, tetapi tidak boleh mengutangkan ragi yang telah diproses menjadi yoghurt, menurut pendapat yang kuat alasannya. Yang dimaksud ialah ragi yang dicampur dengan susu agar susu menjadi yoghurt. Dikatakan demikian karena kadar masamnya berbeda-beda (hingga sulit pengembaliannya dengan barang yang sama).

Seandainya seseorang mengatakan, “Hutangilah aku sebanyak sepuluh dinar,” lalu orang yang diminta itu mengatakan, “Ambillah sejumlah itu dari si fulan.” Jika jmlah itu telah berada di tangan si fulan (ebagai wakilnya), maka diperbolehkan mengambilnya dari si fulan secara langsung (tanpa pembaruan transaksi utang). Tetapi jika keadaannya tidak demikian, berarti dia adalah sebagai wakil untk menagih. Untuk itu, diharuskan adanya pembaruan akad qiradh.

Seorang wali dilarang memberikan utang (kepada orang lain) dari harta orang yang berada dalam ampunannya tanpa keadaan darurat.

Tetapi pihak kadi dibenarkan (boleh) mengutangkan harta orang yang berada dalam pengampunannya, sekalipun tanpa keadaan darurat mengingat kesibukan kadi cukup banyak, tetapi dengan syarat “jika orang yang meminta utang adalah orang terpercaya dan keadaannya cukup mampu (untuk membayar utangnya).

Orang yang berutang dapat memiliki begitu ia menerima barang dengan seizin pemberi utang, sekalipun dia belum menggunakannya; perihalnya sama dengan barang yang dihibahkan.

Hukum Memberi Hutang Kepada Orang Lain

Qiradh dinyatakan sah dengan ijab, seperti kata-kata, “Aku mengutangkan ini kepadamu,” atau “Aku berikan ini kepadamu dengan syarat kamu mengembalikannya nanti dengan yang serupa,” atau “Ambillah ini dan kembalikanlah nanti gantinya,” atau “gunakanlah ini untuk keperluanmu dan kembalikanlah nanti gantinya.”

Kata-kata yang mengandung kinayah dan yang tidak mengandung kinayah

Apabila dia tidak mengucapkan kata-kata, “Kembalikanlah gantinya,” maka artinya kinayah. Sedangkan kalau hanya kata-kata, “Ambillah!”, maka dianggap bukan memberikan utang. Kecuali jika didahului oleh permintaan, “Berilah aku utang barang ini,” maka dinamakan utang. Jika didahului dengan kata-kata, “berilah aku,” maka jadinya hibah.

Seandainya dia hanya mengatakan, “Aku milikkan ini kepadamu,” sedangkan dia tidka berniat meminta gantinya, maka dinamakan hibah. Jika dia berniat meminta penggantinya, maka dinamakan utang secara kinayah (sendirian).

Berselisih tentang niat penagihan

Seandainya kedua belah pihak berselisih mengenai niat penagihan, maka yang dibenarkan ialah pihak pemberi utang, sebab dia  lebih mengetahui niat dirinya. Atau keduanya berselisih pendapat mengenai penyebutan tagihannya, maka yang dibenarkan ialah pihak penerima yang menyatakan tidak menyebut tagihannya, karena hal inilah yang asal, dan pernyataan yang dikemukakan jelas memperkuat dakwaannya.

Seandainya seseorang mengatakan kepada orang yang terpaksa, “Aku memberimu makan dengan pembayaran (tidak gratis),” lalu si terpaksa mengingkarinya, maka yang dibenarkan adalah pihak pemberi makan, karena memacu orang-orang agar melakukan perbuatan yang terhormat ini.

Seandainya seseorang mengatakan, “Aku hibahkan kepadamu dengan pembayaran,” sedangkan si penerima mengatakan, “Bahkan gratis,” maka yang dibenarkan ialah si pemberi hibah.

Seandainya seseorang mengatakan, “Belikanlah dengan dirhammu sepotong roti buatku,” lalu seseorang disuruh membelikan roti tersebut untuknya, maka uang dirham yang dipakainya merupakan utang (yang dibebankan kepada pihak penyuruh), bukan hibah, menurut pendapat yang dapat dipegang.

Keutamaan Memberi Hutang atau Pinjaman

Iqradh artinya mengutangkan sesuatu dengan syarat si penerima diharapkan mengembalikannya dengan barang yang serupa. Hukumnya sunat, sebab perbuatan ini mengandung makna membantu untuk menghilangkan kesulitan. Memberi utang atau   termasuk perbuatan yang sangat dianjurkan dan dalil-dalil sunnahnya sudah cukup terkenal.

Antara lain hadis Imam Muslim yang mengatakan, “Barang siapa menolong saudaranya dari suatu kesulitan di dunia, niscaya Allah akan menolongnya dari suatu kesulitan di hari kiamat. Allah selalu membantu hamba-Nya selagi hamba yang bersangkutan selalu menolong saudaranya.”

Dalam sebuah hadis sahih lain disebutkan bahwa barang siapa memberi pinjaman karena Allah sebanyak dua kali, maka dia memperoleh pahala semisal dengan jumlah salah satunya seandainya dia menyedekahkannya.

Memberi sedekah lebih baik daripada memberi utang

Memberi sedekah lebih afdhal daripada memberi utang. Lain halnya menurut sebagian ulama yang berpendapat berbeda (yakni lebih mengafdhalkan memberi utang daripada memberi sedekah, sebab orang yang mengajukan utang jelas memerlukan. Lain halnya dengan penerima sedekah, adakalanya dia tidak memerlukannya).

Hukum sunat memberi utang itu jika orang yang mengajukan tidak dalam keadaan terpaksa. Jika dia dalam keadaan terpaksa, maka hukum memberi utang bukan lagi sunat, melainkan wajib.

Haram mengajukan utang bila tidak karena terpaksa

Haram mengajukan utang bagi orang yang tidak dalam keadaan terpaksa, sedangkan keadaan lahiriahnya menunjukkan tidak ada harapan untuk dapat segera mengembalikan utangnya secara kontan di saat masa pelunasannya tiba, bagi utang yang berjangka waktu.

Demikian pula halnya di saat orang yang mengutangkan mengetahui atau menduga bahwa orang yang berutang kepadanya akan membelanjakan hasil utangnya itu untuk tujuan maksiat (maka haram memberinya utang).

Hukum Mengembalikan Barang Yang Sudah Dibeli Karena Cacat

Seandainya seorang pembeli mengembalikan barang yang telah dibelinya secara kontan karena ada aib, sedangkan pihak penjual mengingkari sebagai barang jualannya, maka yang dibenarkan adalah pihak penjual melalui sumpah, sebab pada asalnya transaksi telah berlangsung, sedangkan keadaannya utuh.

Apabila pembeli kembali dengan membawa barang yan didalmanya terdapat bangkai tikus, lalu ia mengatakan, “Aku terima dalam keadaan demikian (ada bangkai tikus),” sedangkan pihak yang menyerahkan menyangkalnya, maka yang dibenarkan ialah pihak yang menyerahkan melalui sumpah.

Seandainya seorang penjual menuangkan barang yang terjual ke dalam kantong milik pembeli, ternyata di dalamnya terdapat bangkai tikus. Kemudian masing-masing pihak saling menuduh bahwa tikus itu berasal darinya, maka yang dibenarkan adalah pihak penjual melalui sumpah, jika pengakuannya itu dapat dibenarkan, sebab dia mendakwakan sahnya transaksi dan pada asalnya setiap kejadian itu diperkirakan keberadaannya dalam masa yang paling dekat. Juga pada asalnya pun pihak penjual bebas dari segala tanggungan.

Jika seseorang membayar utang kepada orang yang mengutanginya, lalu yang mengutangi itu mengembalikan pembayarannya karena ada cacat, kemudian pihak yang membayar menyangkal, “ini bukan barang yang pernah kubayarkan,” maka yang dibenarkan adalahyang mengutangi, sebab pada asalnya dia terbebas dari tanggungan.

Penggasab dapat dibenarkan (melalui sumpah) di saat dia mengembalikan yang telah di gasab seraya mengatakan, “barang inilah yang telah kugasab.” Demikian pula halnya orang yang dititipi barang titipan (sewaktu mengembalikannya, lalu disangkal oleh orang yang menitipkannya).