Membunuh secara aniaya

Membunuh secara aniaya merupakan dosa palng besar sesudah kufur. Akan tetapi, dengan adanya sanksi hukuman pembalasan atau pemaafan (dari wali si terbunuh), maka di akhirat tidak ada tuntutan lagi (bagi pelakunya).

Perbuatan mencabut nyawa itu ada tiga macam, yaitu disengaja, mirip disengaja, dan keliru.

Tiada hukuman qishash selain dalam kasus pembunuhan secara sengaja, berbeda halnya dengan mirip disengaja dan keliru.

Membunuh secara sengaja dan mirip sengaja

Yang dinamakan membunuh secara sengaja ialah merencanakan pembunuhan secara aniaya, dan yang dijadikan sasarannya adalah manusia tertentu. Untuk itu, seandainya seseorang membidikkan sasarannya kepada seorang manusia yang ia duga kijang, ternyata setelah kena bukan kijang, melainkan manusia, maka menurut kebiasaan pembunuhan yang dilakukannya itu merupakan pembunuhan secara keliru.

Baik mempergunakan alat yang dapat melukai, misalnya menusukkan jarum ke anggota yang mematikan, sepeti otak, mata, lambung, saluran kencing laki-laki dan perempuan, serta anggota tubuh yang terletak di antara buah pelir dan liang anus, ataupun tidak memakai alat yang bersifat fisik, misalnya menelantarkan hingga mati kelaparan, atau memakai sihir.

Sedangkan melakukannya terhadap orang tertentu dengan sengaja tanpa memakai sarana yang menurut kebiasaan tidak sampai mematikan, dinamakan pembunuhan mirip disengaja.

Tanpa memandang apakah cara yang dipakai itu sering mematikan atau jarang mematikan, seperti pukulan yang biasanya dapat mengakibatkan kematian (cara tersebut tetap dikatakan pembunuhan mirip disengaja).

Lain halnya bila sarana yang dipakai untuk memukul adalah tangkai pena atau pukulan yang sama, tetapi dilakukan dengan ringan sekali, maka darah si terbunuh sia-sia.

Dengan kata lain, kasus seperti itu bukan termasuk ke dalam kasus pembunuhan, karena kemungkinan matinya si terbunuh karena faktor lain, bukan karena pukulan yang teka berarti itu.

Seandainya seseorang menusukkan jarum ke anggota tubuh yang tidak mematikan, umpamanya pada pantat dan paha, sedangkan si tertusuk merasa sakit hingga meninggal dunia, maka kasus seperti ini dinamakan pembunuhan disengaja.

Tetapi jika tidak tampak bekasnya dan dia meninggal dunia seketika, dinamakan kasus pembunuhan mirip disengaja.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Jinayah atau tindak pidana kejahatan

Pengertian jinayah

Tindak jinayah ialah perbuatan yang menyangkut masalah pembunuhan dan pemotongan (pelukaan) serta perbuatan jinayah lainnya.

Dalil mengenai jinayah adalah firman Allah salam surat Al Baqarah ayat 178:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.”

Hadis Nabi Muhammad saw mengatakan:

Tidak halal darah seorang muslim yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah kecuali karena melakukan salah satu dari tiga perkara, yaitu: Janda atau duda yang berzina, membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jamaah.

Hukuman qishash dalam masalah tindak pidana disyariatkan untuk memelihara jiwa, karena seorang yang hendak melakukan kejahatan manakala ia mengetahui akan dibalas dengan perbuatan yang serupa, niscaya dirinya tercegah melakukan tindakan jahatnya. Dengan demikian, terpeliharalah jiwanya dan juga jiwa orang yang sedang diincarnya. Demikian pula halnya dengan hukuman had, disyariatkan untuk memelihara keutuhan keturunan, akal, harta benda, dan agama.

Dalam surat Al Baqarah ayat 179 Allah berfirman, “Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertakwa.”

Demikianlah penjelasan mengenai pengertian jinayah atau tindak pidana kejahatan. Semoga uraian singkat di atas dapat memberikan manfaat bagi kita semua di dunia maupun di akhirat, amin.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani