Hikmah tetap dalam barisan perang ketika berjihad

Hikmah yang terkandung dalam hukum wajib bertahan di dalam barisan perang ialah karena orang muslim berperang untuk memperoleh salah satu dari dua kebaikan, yaitu mati syahid atau menang dengan mendapat ghanimah (harta rampasan perang) dan pahala; sedangkan orang kafir berperang hanya untuk memperoleh kesenangan dunia belaka.

Jika jumlah personel mereka (musuh) lebih dari dua kali lipat jumlah personel pasukan kaum muslim, umpamanya 201 lawan 100 orang, secara mutlak diperbolehkan lari dari medan perang.

Sejumlah ulama ahli ijtihad mengharamkan lari dari medan perang secara mutlak jika jumlah pasukan kaum muslim terdiri atas dua belas ribu personel, karena berdasarkan kepada sebuah hadis yang mengatakan, “Dua belas ribu orang pasukan tidak akan dapat dikalahkan oleh pasukan yang sedikit jumlahnya.” Ayat di atas di-takhshish oleh hadis ini.

Tetapi makna yang dimaksud dari hadis ini, bahwa pasukan yang jumlahnya terdiri atas bilangan tersebut (dua belas ribu orang) biasanya selalu memperoleh kemenangan, dapat disanggah. Dengan demikian, berarti tidak ada kaitan antara makna hadis dna pengertian haram atau tidaknya melarikan diri dari medan perang, seperti yang sudah jelas bagi kita semua.

Sesungguhnya hukum haram melarikan diri dari medan perang berkaitan dengan keadaan di saat kita bertempur melawan mereka. Kecuali jika dilakukan sebagai bagian dari siasat perang (pura-pura terpukul mundur) atau bergabung dengan kekuatan lain untuk meminta bantuan mereka guna melawan pasukan musuh, sekalipun letak mereka cukup jauh.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Haram lari dari barisan perang

Orang yang termasuk dari kalangan para penduduk yang wajib jihad haram meninggalkan barisan perangnya sesudah berhadapan dengan musuh, sekalipun menurut dugaan musuh lebih kuat; jika dia tetap bertahan, pasti mati terbunuh. Dikatakan demikian karena Nabi saw menganggap perbuatan lari dari medan perang merupakan salah satu dari tujuh dosa besar yang membinasakan.

Seandainya senjata seseorang lenyap, sedangkan dia dapat melakukan perlawanan dengan lemparan batu, maka ia tidak boleh melarikan diri dari medan perang. Hanya, masalah ini masih diperselisihkan di kalangan ulama.

Sebagian ulama aday yang menetapkan, “Apabila menurut dugaan yang kuat pasti akan binasa jika tetap bertahan tanpa menimbulkan kerusakan di pihak mereka (musuh), maka orang yang bersangkutan harus melarikan diri dari medan perang.”

Haram meninggalkan barisan perang seperti yang disebutkan di atas, dengan ketentuan “Jika jumlah personel musuh tidak sebanyak dua kali lipat jumlah personel kaum muslim” karena ada ayat yang mneyatakan demikian.

Demikianlah penjelasan dari kami tentang haramnya lari dari peperangan. Semoga uraian singkat di atas dapat bermanfaat bagi kita semua, baik di dunia maupun di akhirat, amin.

Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah dan selalu berada dalam keridaan-Nya, serta menjadi orang-orang yang berbahagia dengan masuk ke surga.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Ketika diserang kafir apakah harus Menyerah atau berperang

Apabila persiapan perang tidak memungkinkan, sedangkan alternatif yang ada di hadapannya ialah menyerah atau berperang, maka ia boleh berperang dan boleh menyerah. Tetapi dengan syarat “apabila dia merasa yakin pasti dibunuh jika tidak mau menyerah, dan istrinya pasti aman dari perkosaan jika tertangkap; tetapi jika dia menyerah, pasti dibunuh, dan istrinya akan diperkosa.” Maka tidak ada jalan lain, jihad merupakan fardu ‘ain baginya.

Barang siapa merasa yakin atau menduga jika dirinya ditangkap pasti dibunuh, dia tidak boleh menyerah.

Membebaskan tawanan

Seandainya ada seorang muslim yang ditawan oleh musuh, maka setiap orang yang kuat diwajibkan segera melakukan perlawanan terhadap mereka untuk membebaskannya, jika cara ini dapat diharapkan bagi kebebasannya.

Seandainya seorang (muslim) berkata kepada seorang kafir, “Lepaskanlah tawananmu, akan kubayar sekian,” lalu orang kafir itu melepaskannya, maka dia harus menepati janjinya dan tidak boleh membebankan hal tersebut kepada si tertawan. Kecuali jika si tertawan setuju dengan tebusan dirinya, baru dia boleh membebankan biayanya kepada si tertawan, sekalipun si penebus tidak mensyaratkan kepada si tertawan bahwa dia akan menagih kepadanya.

Jihad merupakan fardu ‘ain pula atas orang-orang yang bertempat tinggal kurang dari jarak perjalanan qashar dari negeri yang dimasuki oleh orang-orang kafir, sekalipun di negeri setempat terdapat kekuatan yang cukup untuk menangkal serangan mereka, karena orang-orang yang tinggal dekat dengan negeri tersebut sama kedudukannya dengan mereka yang berada di negeri itu.

Jihad pun merupakan fardu ‘ain atas orang-orang yang bertempat tinggal jauh sejauh perjalanan qashar dari negeri yang dimaksud, jika di negeri tersebut dan negeri-negeri yang berdekatan dengannya tidak terdapat kekuatan yang cukup untuk menangkal serangan musuh.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jihad merupakan fardu ‘ain ats orang-orang yang berada di dekat negeri yang dimaksud, dan fardu kifayah atas orang-orang yang tinggal jauh dari mereka.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Berjihad dan menunaikan ibadah haji sunat harus seizin orang tua

Haram melakukan perjalanan jihad dan haji sunat, tanpa seizin orang tua yang muslim, yakni ayah dan ibu, sekalipun ada izin dari orang yang tingkatannya lebih tinggi daripada ayah dan ibu (yaitu kakek dan nenek), dan sekalipun mendapat izin dari kerabat terdekat.

Haram pula bepergian tanpa seizin orang tua untuk keperluan berdagang bila keamanan dalam perjalanan kurang dapat dipercaya, karena kebanyakan tidak selamat.

Akan tetapi, tidak haram melakukan perjalanan untuk belajar ilmu yang difardukan, sekalipun statusnya fardu kifayah, seperti menuntut ilmu nahwu dan mencapai derajat seorang mufti. Seseorang boleh melakukan perjalanan untuk tujuan tersebut, sekalipun orang tuanya tidak mengizinkan.

Hukum jihad menjadi fardu ‘ain

Apabila orang-orang kafir memasuki negeri kita, maka hukum jihad menjadi fardu ‘ain atas penduduk negeri setempat. Dengan kata lain, melakukan jihad dengan segala kekuatan yang mereka miliki merupakan fardu ‘ain demi mempertahankan diri.

Cara mempertahankan diri

Cara mempertahankan diri ada dua macam:

Pertama, bila keadaan memungkinkan mereka untuk menghimpun kekuatan dan persiapan untuk perang, maka setiap orang dari kalangan mereka diwajibkan mempertahankan diri dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimiliki, sekalipun orang tersebut tidak terkena kewajiban berjihad (dilibatkan pula di dalamnya), seperti orang miskin, anak-anak, orang yang berutang, budak belian, dan wanita yang memiliki kekuatan, sekalipun tanpaseizin orang yang telah disebutkan sebelumnya.

Pengerahan seluruh kekuatan tanpa kecuali ini dapat dimaafkan karena akan menghadapi malapetaka besar yang tidak dapat diabaikan begitu saja.

Kedua, bila orang-orang kafir telah memasuki negeri mereka secara merata dan para penduduknya tidak sempat menghimpun kekuatan dan persiapan, maka siapa pun dari kalangan mereka diincar oleh seorang kafir atau  oleh orang-orang kafir, sedangkan dia merasa yakin jika tertangkap, ia pasti dibunuh. Maka dia harus mempertahankan diri dengan segala kemampuan yang dimilikinya, sekalipun dia bukan dari kalangan orang-orang yang tidak wajib berjihad, karena ada larangan yang mencegah berserah diri kepada orang kafir.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Setiap muslim mukallaf wajib berjihad

Jihad adalah fardu kifayah atas setiap muslim mukallaf, yakni yang telah balig dan berakal, mengingat tiada kewajiban untuk jihad bagi selain keduanya; fardu kifayah juga bagi laki-laki, karena pada umumnya wanita tidak mampu melakukannya, yang merdeka, mampu, dan memiliki senjata. Untuk itu, orang yang berstatus budak tidak wajib berjihad, sekalipun mukatab atau muba’-‘adh, dan sekalipun tuannya mengizinkan, karena status dirinya kurang bebas.

Orang yang bebas dari kewajiban jihad

Jihad tidak diwajibkan atas orang yang tidak mampu, seperti orang yang putus salah satu anggota tubuhnya, orang tuna netra, orang yang sebagian besar jari-jarinya terputus, dan orang yang parah kepincangannya atau orang yang sakit berat; tetapi mereka menanggung masyaqat jihad.

Contoh lain yang tidak wajib jihad ialah orang yang tidak mempunyai perbekalan dan kendaraan untuk perjalanan sejauh jarak salat qashar sebagai kelebihan dari biaya nafkah orang-orang yang berada dalam tanggungannya, perihalnya sama saja dengan masalah melakukan ibadah haji.

Jihad tidak diwajibkan atas orang yang tidak memiliki senjata, karena tanp senjata jelas tidak akan memperoleh kemenangan.

Orang kaya yang berutang, sedangkan dalam masa pelunasannya telah tiba dan dia tidak mewakilkan kepada seseorang untuk melunasi utangnya itu dari hartanya yang ada di tempat, maka ia diharamkan melakukan perjalanan jihad dan untuk keperluan lainnya, sekalipun jarak perjalanannya dekat dan tidak menakutkan (yakni aman), atau dia hendak mencari ilmu (dalam perjalanannya itu). Dikatakan demikian demi memelihara hak orang lain.

Sehubungan dengan masalah di atas, di dalam kitab Shahih Muslim disebutkan sebuah hadis yang mengatakan, “Perang di jalan Allah dapat menghapu segala sesuatu kecuali utang.”

Keberangkatannya itu tanpa seizin orang yang memberinya utang, atau tanpa dugaan kerelaannya, padahal si pemberi utang dikenal sebagai orang yang mudah memberikan izin; juga tanpa memandang apakah si pemberi utang adalah kafir dzimmi, atau dia mempunyai barang yang dijaminkan kepada si pemberi utang atau ada orang kaya yang bersedia menjaminnya.

Al Asnawi di dalam kitab Al Muhimmaat mengatakan, “Sesungguhnya sikap diam si pemberi utang masih kurang cukup dianggap sebagai pemberian izin untuk pengutang boleh berangkat ke medan jihad.” Ia mengatakan demikian berpegang kepada pemahaman yang disimpulkan dari pendapat Imam Rafi’i dan Imam Nawawi.

Larangan mengadakan perjalanan harus dengan kata-kata yang jelas

Ibnu Rif’ah, Al Qadhi Abuth Thayyib, Al Bandaniji, dan Al Qazuwaini mengatakan, “untuk memutuskan hukum haram berangkat diharuskan adanya kata-kata yang jelas melarangnya.” Demikian menurut apa yang dinukil oleh Al Qadhi Ibrahim Zhahirah.

Tetapi tidak haram melakukan perjalanan, bahkan tidak dilarang melakukannya jika orang yang berutang ternyata dalam keadaan kesulitan (miskin), atau pembayaran utangnya masih mempunyai masa tangguh, sekalipun masa pelunasannya sudah dekat; tetapi dengan syarat, “Hendaknya utang masih berada dalam masa tangguh saat ia telah mencapai jarak perjalanan qashar.”