Mengapa Nabi Muhammad Melakukan Mi’raj?

Sebab-sebab terjadinya Mi’raj

Penyebab terjadinya Mi’raj adalah bahwa bumi telah membanggakan dirinya kepada langit. Berkatalah bumi,”Aku lebih baik daripada engkau. Karena Allah telah menghiasiku dengan berbagai negeri, lauta, sungai, pepohonan, gunung-gunung dan yang lain lagi.”

Langit menjawab, “Akulah yang lebih baik daripada engkau, karena matahari, bulan, bintang gemintang, cakrawala, buruj, Arasy, Al Kursyi dan surga berada padaku.”

Bumi berkata lagi, “Padaku terdapat Bait yang selalu dikunjungi dan dikelilingi (thawaf) oleh para Nabi, Rasul, wali-wali dan umumnya orang-orang mukmin.”

Langitpun menjawab, “Padaku terdapat Baitul Makmur yang selalu dikelilingi malaikat-malaikat di langit, dan padaku terdapat surga yang merupakan tempat arwah para Nabi, Rasul, arwah para wali dan orang-orang shalih.”

Bumi berkata lagi, “Sesugguhnya pemimpi para Rasul, terakhir dari para Nabi, kekasih Tuhan seru sekalian alam dan paling utama di antara yang ada, semoga dilimpahkan kepadanya penghormatan yang paling mulia, dia berada padaku dan dia memberlakukan syaria’atnya pun di atas aku.”

Setelah langit mendengar jawaban bumi ini dia tidak mampu lagi menjawab dan dia diam saja.  Menghadaplah dia kepada Allah dan berkata, “Ya Tuhanku, Engkau akan memenuhi orang yang terjepit ketika berdoa kepada-Mu. Aku merasa tidak mampu menjawab bumi. Maka aku mohon kepada-Mu untuk menaikkan Muhammad kepadaku, agar aku dapat mejadi mulia disebabkannya. Sebab dia sebagaimana bumi telah mejadi mulia sebab keindahannya serta dia telah membanggakan diri disebabkannya.”

Allah mengabulkan doanya dan memberikan wahyu kepada malaikat Jibril pada malam kedua puluh tujuh dari bulan Rajab, “Hai Jibril, janganlah engkau membaca tasbih pada malam ini. Hai Izrail, janganlah engkau mencabut nyawa pada malam ini.”

Berkatalah Jibril, “Apakah kiamat telah datang?”

Allah berfirman, “Tidak, hai Jibril. Tetapi pergilah ke surga, ambillah buraq dan pergilah kepada Muhammad.”

Pergilah malaikat Jibril dan dia melihat 40 ribu buraq sedang merumput di taman-taman surga, sedang pada dahinya terdapat ama Muhammad. Malaikat Jibril lalu melihat seekor buraq di antara mereka yang sedang menundukkan kepalanya dan menangis serta menetes air mata dari kedua matanya.

Jibril bertanya, “Mengapa engkau ini hai buraq?” buraq itu menjawab, “Hai Jibril, aku telah mendengar sejak 40 ribu tahun tentang Naa Muhammad. Maka hatiku terpesona pada pemilik nama ini dan aku selalu merindukannya setelah itu. Aku tidak memerlukan makan atau minum dan terbakarlah aku dengan api keriduan.”

Jibril berkata, “Aku akan mempertemukan engkau dengan orang yang engkau rindukan itu.” Kemudian dia memberinya pelana dan memberinya tali kekang. Lalu membawanya datang kepada Muhammad.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Perbedaan pendapat tentang Nabi Muhammad melihat Allah pada peristiwa Isra’ Mi’raj

Para ulama salaf berbeda pendapat mengenai perkara Nabi Muhammad melihat Allah.

A’isyah mengingkarinya. Dari Amir dari Msruq, dia berkata kepada A’isyah, “Hai Ummul Mukminin, apakah Nabi Muhammad saw melihat Tuhan-Nya?” Yakni pada malam isra’ dalam keadaan terjaga.

Berkatalah A’isyah, “Meremang rambutku dari apa yang engkau katakan itu. Yakni berdiri bulu tubuhku karena apa yang engkau tanyakan kepadaku. Tiga hal, barang siapa yang menceritakan kepadamu tentang ketiga-tiganya: yaitu orang yang menceritakan kepadamu bahwa Nabi Muhammad telah melihat Tuhan-Nya, maka dia benar-benar telah bohong. Kemudian dia membaca ayat Al An’aam 103, ‘Tidaklah dapat mencapai-Nya beberapa penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan mata.”

Segolongan ulama memilih pendapat A’isyah ini, dan itu pula yang mayyhur dari Ibnu Mas’ud. Semisal itu pula dari Abu Hurairah, dia berkata, “Sesungguhnya malaikat Jiril yang dapat melihat. Tetapi masih diperselisihkan.”

Segolongan ulama ahli hadis dan fuqaha serta ahli Kalam berkata tentang diingkarinya malaikat Jibril melihat Allah dan tidak  mungkin dilihat di dunia.

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Muhammad telah melihat-Nya dengan matanya. Atha’ meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa beliau melihat Allah dengan mata hatinya. Dan dari Abul Aliyah dari Ibnu Abbas bahwa beliau melihat Allah dengan mata hatinya. Dan dari Abul Aliyah dari Ibnu Abbas bahwa beliua melihat Allah dengan mata hatinya sampai dua kali.

Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Ibnu Umar mengutus orang untuk bertanya kepada Ibnu Umar, “Apakah Nabi Muhammad telah melihat Tuhan-Nya?” lalu dia berkata, “Ya.”

Pendapat yang paling masyhur dari Ibnu Abbas adalah bahwa Nabi Muhammad telah melihat Tuhan-Nya dengan mata kepalanya. dia meriwayatkan hal itu dari berbagai riwayat. Dia berkata, “Sesungguhnya Allah mengistimewakan Musa dengan Kalam, Nabi Ibrahim dengan kekasih dan Nabi Muhammad dengan melihat. Hujjah yang digunakan oleh Ibnu Abbas adalah firman Allah dalam surat An Najm ayat 11-13, ‘Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu akan membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad saw telah melihatnya pada waktu yang lain.”

Al Mawardi berkata, “Telah disebutkan bahwa Allah telah membagi Kalam dan melihat-Nya di antara Musa dan Nabi Muhammad saw. Lalu Nabi Muhammad saw dapat melihat-Nya dua kali dan Nabi Musa diberi kalam oleh Allah dua kali pula.

Al Samarqandi menceritakan dari Nabi Muhammad bin Ka’b Al Qurdhi dan Ruba’i bin Anas, bahwa Nabi Muhammad ditanya, “Apakah engkau telah melihat Tuhanmu?” beliau bersabda, “Aku melihat-Nya dengan mata hatiku dan aku tidak melihat-Nya dengan mata kepalaku, dst…….”

 

Sumber; Durrotun Nasihin

Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad saw, dan mengenai kisahnya akan diuraikan di bawah ini.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Ketika malam aku diisra’kan saat aku sedang berada di Mekah dalam keadaan tidur dan jaga, datanglah Jibril kepadaku. Berkatalah dia, ‘Hai Muhammad, berdirilah.’ Maka berdirilah aku. Ternyata Jibril yang disertai malaikat Mika’il.

Berkatalah Jibril kepada malaikat Mika’il, ‘Bawalah kemari seember air zamzam agar aku dapat membersihkan hatinya dan melapangkan dadanya.’

Nabi Muhammad bersabda, “Lalu Jibril membelah perutku dan membasuhnya tiga kali, sedangkan Mika’il mondar-mandir membawakan tiga ember air. Dia telah melapangkan dadaku dan membuang sifat dengki (dan yang lain) yang ada di dalamnya, lalu dipenuhi hikmah, ilmu dan iman serta menempelkan cap kenabian di antara kedua pundakku. Jibril lalu membimbing tanganku hingga sampai di sumur zamzam. Dia berkata kepada malaikat Mika’il, ‘Bawalah setimba air zamzam atau setimba air telaga al-Kautsar.” Dan dia berkata kepadaku, ‘Berwudulah.’ Maka akupun berwudhu.

Kemudian Jibril berkata, ‘Berangkatlah hai Muhammad.’ Bertanyalah aku, ‘Kemana?’ dia menjawab, ‘Kepada Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu.’

Dibimbingnya tanganku dan membawaku keluar dari masjid. Ternyata di depanku ada seekor buraq, lebih besar dari khimar dan lebih kecil dari bighal. Pipinya seperti pipi manusia, ekornya seperti ekor unta, rambut di atas kepalanya seperti rambut di atas kepala kuda, kaki-kakinya seperti kaki unta, telapak kakinya seperti telapak kaki lembu, punggungnya laksana mutiara putih, memakai pelana dari pelana-pelana dari surga, bersayap dua buah pada kedua pahanya. Dia berjalan seperti kilat dan langkahnya sejauh pandangan matanya.

Jibril berkata, “Naiklah, dia adalah binatang yang dikendarai Nabi Ibrahim ketika berkunjung ke Baitul Haram.”

Lalu aku menaikinya, dan berjalanlah Buraq itu bersama Jibril. Berkatalah Jibril, ‘Turunlah, maka kerjakanlah shalat.’  Nabi bersabda, “Lalu aku turun dan mengerjakan shalat.’ Berkatalah Jibril, ‘Tahukan engkau dimanakah engkau telah mengerjakan shalat?’ aku menjawab, ‘Tidak.’ dia berkata lagi, ‘engkau telah mengerjakan shalat di Thaibah, dan kesanalah kelak tempat engkau berhijrah, Insya Allah.’

Kemudian kami berjalan lagi dan Jibril berkata, ‘Turunlah dan kerjakanlah shalat.’ Lalu aku turun dan mengerjakan shalat. Berkatalah Jibril, ‘Tahukan engkau dimanakah engkau telah mengerjakan shalat?’ aku menjawab, ‘Tidak.’ dia berkata lagi, ‘Engkau telah mengerjakan shalat di Thurisaina’, tempat dimana Allah berfirman kepada Nabi Musa.’

Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi, berkatalah Jibril, ‘Turunlah dan kerjakanlah shalat.’ Aku lalu turun dan mengerjakan shalat. Berkatalah Jibril, ‘‘Tahukan engkau dimanakah engkau telah mengerjakan shalat?’ aku menjawab, ‘Tidak.’ dia berkata lagi, ‘Engkau telah mengerjakan shalat di Baitu Lahm dimana Nabi Isa tela dilahirkan.’

Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi sehingga sampailah kami di baitul Maqdis. Ketika aku smapai disana, ternyata aku melihat para malaikat telah turun dari langit dan menjemputku dengan kegembiraan dan kemuliaan dari Allah swt. mereka berkata, ‘Assalamu ‘alaika, ya awwalu, ya aakhiru, ya haasyiru.’

Nabi berkata, ‘Hai Jibril, apa maksudnya salam mereka itu?’ Jibril menjawab, ‘Engkau adalah orang pertama yang menyebabkan bumi terbelah (pada hari kebangkitan dari kubur) dan juga ummatmu. Engkau pula orang pertama yang memberikan syafaat dan orang pertama yang diterima pemberian syafaatnya.  Sedang akhir karena engkau adalah Nabi yang terakhir. Lalu hasyir, karena penghimpunan makhluk kelak sebab engkau dan ummatmu.’

Kemudian kami berlalu dan sampailah ke pintu masjid. Jibril lalu menurunkan aku dan menambatkan Buraq pada lingkaran yang biasa digunakan menambatkan para nabi dengan tali dan sutra surga. Setelah aku masuk pintu masjid ternyata aku melihat para nabi dan para Rasul.’

Di dalam hadis Abul Aliyah disebutkan, “Ruh-ruh para Nabi yang diutus oleh Allah sebelumku, sejak Nabi Idris, Nuh sampai kepada Nabi Isa, semuanya dikumpulkan Allah Azza wa jalla. Mereka memberi salam dan penghormatan yang diucapkan para malaikat.’ Aku bertanya, ‘Hai Jibril, siapakah mereka itu?’ dia menjawab, ‘Saudara-saudara para Nabi ‘alaihis salam.”

Kemudian Jibril membimbing tanganku dan berangkat membawaku menuju sebuah bat besar, lalu naik bersamaku. Beliau bersabda, ‘Tiba-tiba aku melihat sebuah tangga ke langit, tidak pernah aku melihat tangga seperti itu, indah dan bagusnya. Demikian pula tidak seorangpun pernah melihat seindah itu. Dari tangga itulah malaikat naik ke langit. Pangkal tangga itu berada di Baitul Maqdis, dan ujungnya menyentuh langit. Sebelah kakinya berupa mutiara yaqud dan yang lain. tangga itu pula yang digunakan turun malaikat petugas maut untuk mencabut ruh. Maka ketika kamu melihat orang yang akan mati dari kamu membelalakkan matanya, adalah karena mereka kehilangan pengetahuannya setelah melihat keindahan tangga itu. Jibril lalu mengangkatku dan diletakkannya di atas sayapnya. Kemudian dia naik ke langit dunia melalui tangga tersebut. diketuknyalah pintu dan ditanyakan, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Aku Jibril.’ Ditanyakan lagi, ‘Siapakah yang menyertaimu?’ dia menjawab, ‘Muhammad.’ Dibukalah pintu dan masuklah kami ke dalamnya.

Waktu kami berjalan di langit dunia tiba-tiba aku melihat seekor ayam jantan yang berbulu putih dan yang paling putih, aku tidak pernah melihat putih seperti itu. Ia memiliki bulu halus di bawah bulu kasarnya yang berwarna hijau dan yang paling hijau, aku belum pernah melihat hijau seperti itu. Ternyata kedua kakinya berada di dasar bumi yang paling bawah, sedang kepalanya berada di bawah Arasy. Ia memiliki dua buah sayap pada kedua bahunya, apabila ia mengembangkan keduanya akan melewati dunia timur dan dunia barat. Lalu ketika sebagian malam telah tiba, ia akan mengembangkan kedua sayapnya dan mengepakkan keduanya serta berteriak dengan bacaan tasbih kepada Allah Azza wa jalla. Dan dibacanya Subhaanal malikil quddusil kabiiril muta’aali, laa ilaaha illallaahul hayyul qayyuum (Maha Suci Tuhan Maha Raja, Maha Suci, Maha Besar, Maha Tinggi, Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri.”

Apabila ayam jantan itu mengerjakan demikian maka ayam-ayam jantan di bumi akan ikut membaca tasbih, mengepakkan sayap-sayapnya dan berkokok. Lalu apabila ayam jantan di langit itu tenang kembali maka kembali tenang pula ayam jantan di bumi. Rasulullah bersabda, ‘Lalu tidak henti-hentinya sejak aku melihat ayam jantan itu, aku selalu merindukan untuk melihatnya pada kedua kalinya.’

Nabi Muhammad bersabda, “Kemudian kamu naik lagi ke langit yang kedua, dan Jibril minta dibukakan sampai seterusnya. Kemudian kami naik lagi ke langit ketiga, dan Jibril pun minta dibukakan dan seterusnya. Kemudian kami naik lagi ke langit keempat dan Jibril minta dibukakan sampai seterusnya. Kemudian kami naik ke langit kelima dan Jibril minta dibukakan dan seterusnya. Kemudian kami naik ke langit keenam dan Jibril minta dibukakan dan seterusnya. Kemudian kami naik ke langit ketujuh dan Jibril minta dibukakan dan seterusnya.

Kemudian kami masuk, tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki yang sedikit beruban, sedang duduk di atas kursi dekat pintu surga dan di dekatnya terdapat sekelompok manusia yang putih wajahnya (bersinar). Bertanyalah aku kepada Jibril, ‘Hai Jibril, siapakah orang yang sedikit beruban itu dan siapa pula orang-orang itu, serta sungai apakah itu?’

Jibril menjawab, ‘Ini adalah bapakmu Ibrahim, yaitu pertama-tama orang yang beruba di bumi. Adapun orang-orangyang bersinar wajahnya itu adalah sekelompok manusia yang tidak mencampur imannya dengan kedzaliman.”

Nabi Muhammad bersabda, “Ternyata Nabi Ibrahim bersandar pada sebuah rumah.’ Jibril berkata, ‘Rumah itu adalah Baitul Ma’mur yang setiap hari 70 ribu malaikat yang masuk ke dalamnya. Apabila mereka telah keluar tidak lagi akan masuk ke dalamnya.”

Nabi Muhammad bersabda, “Lalu Jibril membawaku datang di Sidratul Muntaha. Ternyata dia adalah sebuah pohon yang mempunya beberapa daun, setiap lembar daunnya dapat menutupi dunia beserta isinya. Buahnya sebesar tempat-tempat air dari kulit orang Hajar. Dan dari bawah pohon itu mengalir empat buah aliran sungai, dua buah sungai di luar dan dua buah lagi di dalam. Aku bertanya kepada Jibril, dan dia berkata, ‘Dua buah sungai itu di surga dan dua buah sungai yang lain adalah sungai Nil dan sungai Furat.”

Nabi Muhammad bersabda, “Kemudian aku sampai di Sidratul Muntaha, dan dapat melihat daun dan buahnya. Lalu Sidratul Muntaha itu diliputi nur Allah dan diliputi para malaikat, seolah-olah para malaikat itu adalah belalang-belalang dari emas karena takut kepada Allah swt. setelah Sidratul Muntaha diliputi apa yang telah meliputinya itu berubahlah ia sehingga tidak seorangpun dapat menerangkan sifat-sifatnya.”

Nabi Muhammad bersabda, “Di sana terdapat para malaikat yang tidak dapat mengetahui hitungannya kecuali Allah Azza wa jalla. Sedang tempat malaikat Jibril berada di tengah-tengah Sidratul Muntaha itu. Berkatalah Jibril kepadaku, ‘Majulah.’ Aku berkata, ‘Engkau saja yang maju.’ Jibril berkata, ‘Engkau saja yang maju, hai Muhammad. Karena sesungguhnya engkau lebih mulia daripada aku di sisi Allah.’

Aku lalu maju, sedang Jibril berada di belakangku. Hingga akhirnya dia membawaku sampai sebuah hijab (penghalang) dari hamparan emas. Digerakkannya hijab emas itu dan dikatakan (oleh para malaikat yang menghuninya) dari belakang hijab itu, ‘Siapakah ini?’ Jibril menjawab, ‘Aku Jibril bersama Muhammad.’ Malaikat itu berkata, ‘Allaahu akbar.’ Malaikat itu mengeluarkan tangannya dari bawah hijab dan membawaku (mengangkatku) sedang Jibril tertinggal. Aku bertanya, ‘Kemana?’

Malaikat itu berkata, ‘Ya Muhammad, tidak satupun dari kami kecuali mempunyai tempat tertentu. Tempat ini adalah batas terakhir dari makhluk. Sedang aku diijinkan mendekat hijab ini karena hormat dan memuliakanmu.’

Malaikat itu membawaku berangkat lebih cepat daripada kerdipan mata menuju hijab ke mutiara lu’lu, lalu dia menggerakkan hijab itu. Berkatalah malaikat di sana dari belakang hijab, ‘Siapakah ini?’ malaikat itu berkata, ‘Aku malaikat pemilik hamparn emas dan ini adalah Muhammad Rasul orang Arab bersamaku.’

Malaikat itu berkata, ‘Allaahu akbar.’ Lalu dia mengeluarkan tangannya dari bawah hijab, sehingga dia meletakkan aku di depannya. Lalu tidak henti-hentinya aku seperti itu dari hijab yang satu kepada hijab berikutnya, setiap hijab sejauh 500 tahun perjalanan. Kemudian turunlah sebuah selambu hijau di hadapanku, sinarnya seperti sinar matahari dan menjadi silaulah pandanganku. Diletakkanlah aku pada selambu itu kemudian mengangkatku. Ketika aku melihat Arasy aku temukan ia lebih luas daripada segala sesuatu. Lalu Allah mendekatkan aku kepada tempat sandaran Arasy (tiangnya) dan meneteslah sebuah tetesan ke mulutku yang tidak pernah seorangpun merasakan lebih manis daripada tetesan itu. Kemudian Allah Azza wa jalla menceritakan kepadaku tentang cerita orang-orang kuno dan orang-orang kemudian. Dia membuat lidahku menjadi lancar setelah sebelumnya terasa kelu karena kewibawaan Allah.

Aku membaca At Tahiyyatu lillaahi, washshalawaatu wath thayyibaatu (Segala penghormatan adalah milik Allah, segala rahmat dan segala kebaikan). Allah berfirman, ‘ As-Salaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuhuu (Keselamatan bagimu wahai seorang Nabi, rahmat dan berkah-Nya).

Aku membaca lagi As-Salaamu ‘alainaa wa ‘ibaadillaahish shaalihiina (Keselamatan semoga bagi kami dan para hamba-hamba Allah yang shalih).

Berfirmanlah Allah kepadaku, ‘Hai Muhammad, Aku mengambilmu sebagai habib (kekasih) sebagaimana Aku telah mengambil Ibrahim sebagai khalil (kesayangan) dan Akupun mmeberi firman kepadamu seperti memberi firman kepada Musa. Akupun menjadikan ummatmu sebuah ummat yang terbaik yang pernah dikeluarkan pada manusia, dan akupun menjadikan mereka sebagai ummat wasath (adil dan pilihan) serta menjadikan mereka yang dahulu dan yang terakhir. Maka ambillah apa yang Aku berikan kepadamu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.’

Kemudian Dia menyampaikan beberapa hal yang tidak diijinkan kepadaku untuk mengabarkan kepadamu. Difardhukanlah padaku dan ummatku dalam sehari 50 kali shalat. Setelah Dia menjanjikan kepadaku dengan janji-Nya dan membiarkan aku apa yang dikehendaki-Nya, berfirmanlah Dia kepadaku, ‘Kembalilah kepada ummatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari-Ku.”

Lalu selambu yang telah membawaku tadi sekarang membawaku lagi dan tidak henti-hentinya dia menurunkan dan mengangkatku sehingga membawaku turun ke Sidratul Muntaha. Tiba-tiba aku melihat malaikat Jibril dengan hatiku sebagaimana aku melihatnya dengan mataku di depanku. Berkatalah Jibril, “Allah telah memberi kehormatan kepadamu dengan penghormatan yang tidak pernah diberikan seorangpun dari makhluk-Nya, baik malaikat yang dekat atau Nabi yang diutus. Dan dia telah membuatmu sampai suatu kedudukan yang tak seorangpun dari penghuni langit maupun bumi dapat mencapainya, berbahagialah engkau dengan penghormatan yang diberikan Allah kepadamu, berupa kedudukan tinggi dan kemuliaan yang tiada bandingannya. Ambillah kedudukan tersebut dengan bersyukur kepada-Nya, karena Allah Tuhan Pemberi nikmat yang menyukai orang-orang yang bersyukur.” Lalu aku memuji Allah atas semua itu.

Kemudian Jibril berkata, ‘Berangkatlah hai Muhammad ke surga, agar aku perlihatkan kepadamu apa yang menjadi milikmu di sana sehingga engkau lebih zuhud dalam dunia di samping zuhudmu yang telah ada sekarang ini, dan lebih menambah cintamu pada akhirat di samping cintamu yang telah ada.’

Maka berlalulah kami dan sampailah di surga dengan ijin Allah swt. tidak ada sebuah tempat pun aku dibiarkan Jibril kecuali aku telah melihatnya dan dia telah memberitahukan padaku tentang tempat itu. Aku melihat gedung-gedung dari intan permata, mutiara yaqud dan zabarjad. Aku juga melihat pohon-pohon dari emas merah. Aku melihat di surga apa yang mata belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar dan tidak terlintas di hati manusia. Semuanya masih kosong dan disediakan. Hanya pemiliknya dari kekasih-kekasih Allah ini yang dapat melihatnya. Dan apa yang aku sempat aku lihat itu membuat kagum hatiku dan berkatalah aku, ‘Untuk seperti inilah mestinya orang-orang itu beramal.’

Kemudian diperlihatkan kepadaku neraka, sehingga aku dapat melihat belenggu-belenggu dan rantai-rantainya. Lalu Jibril membawaku keluar dari langit. Lewatlah kami dengan menuruni langit demi langit sehingga aku bertemu dengan Nabi Musa.

Nabi Musa berkata, “Apakah yang telah difardhukan Allah terhadapmu dan terhadap ummatmu?” aku menjawab, “Difardhukan lima puluh kali shalat.” Musa berkata, “Ummatmu tidak akan mampu mengerjakan 50 kali shalat dalam sehari. Aku benar-benar telah mencoba pada manusia dan menanganinya pada Bani israil dengan sepenuh penanganan. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah kepada-Nya suatu keringanan.”

Lalu aku kembali dan Allah menghapus 10 shalat dariku. Aku datang lagi pada Musa dan diapun  mengatakan hal yang sama. Maka akupun kembali lagi dan Allah menghapus 10 kali shalat. Aku datang kepada Musa dan berkatalah dia seperti itu. Aku kembali lagi dan Allah menghapuskan 10 lagi. Aku datang kepada Musa dan berkata seperti itu, lalu aku kembali dan aku diperintahkan lima kali shalat dalam setiap hari.

Aku datang kepada Musa dan diapun berkata, “Sesungguhnya ummatmu masih tidak mampu mengerjakan lima kali shalat itu setiap hari. Karena aku telah mencoba manusia dan menangani Bani Israil dengan sepenuh penanganan. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mohonlah keringanan kepada-Nya.”

Tetapi aku lalu berkata, “Aku telah minta kepada Tuhanku sehingga aku menjadi malu sendiri. Tetapi aku sudah puas dan menyerahkan diri. Setelah kami melewati Musa ada seruan yang berseru, ‘Aku tetap memberlakukan fardhuku dan memberi keringanan pada hamba-hamba-Ku.’ Dalam sebuah riwayat, ‘Dan Aku membalas sebuah kebaikan dengan 10 kali kelipatannya.”

Nabi Muhammd bersabda, “Kemudian aku kembali bersama Jibril, dia tidak kehilangan aku dan akupun tidak kehilangan dia sehingga kami kembali di tempat pembaringanku semula. Waktu itu adalah terjadi dalam satu malam dari malam-malammu ini.”

Nabi Muhammad bersabda, “Aku adalah pemimpin (tuan) dari anak cucu Adam, tetapi tidak bangga. Dan di tanganku terdapat liwa’ul hamdi, tetapi juga tidak bangga.”

 

Sumber; Durrotun Nasihin

 

Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad

Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad saw. Banyak sekali kisah mengenai peristiwa ini.

Dari Abu Sa’id al Khudri, dia bertanya kepada Nabi Muhammad tentang malam beliau diisra’kan. Nabi Muhammad bersabda, “Aku disediakan seekor binatang yang paling mirip dengan keledai. Ia adalah Buraq yang sebelumnya telah dinaiki oleh para Nabi.”

Nabi Muhammad bersabda lagi, “Berangkatlah Buraq itu membawaku, Buraq itu meletakkan kaki depannya ketika berjalan sampai sejauh pandangan matanya. Lalu aku mendengar sebuah panggilan dari sebelah kananku, ‘Hai Muhammad tunggulah.’ Tetapi akupun tetap berlalu dan tidak menunggunya di atas Buraq itu. Kemudian aku mendengar lagi sebuah panggilan di sebelah kiriku, tetapi akupun tetap berlalu dan tidak menolehnya. Menghadanglah seorang perempuan yang memakai segala macam perhiasan. Dia melambaikan tangan dan berkata, ‘Hai Muhammad, tunggulah.’ Tetapi aku tetap berlalu dan aku tidak menolehnya. Kemudian sampailah  aku di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha). Turunlah aku dan mengikat Buraq itu pada lingkaran yang telah digunakan para Nabi menambatkan Buraq itu. Kemudian aku masuk masjid dan mengerjakan shalat.

Aku berkata kepada Jibril, “Aku mendengar panggilan di sebelah kananku.” Jibril berkata, “Itu adalah panggilan dari juru dakwah Yahudi. Ingat, seandainya engkau berhenti padanya tentu ummatmu akan menjadi Yahudi.”

Aku berkata lagi, “Aku mendengar panggilan dari sebelah kiriku.” Jibril berkata, “Itu adalah juru dakwah dari agama Nashrani. Ingat, seandainya engkau berhenti padanya tentu ummatmu akan menjadi Nahrani. Sedang perempuan itu adalah dunia yang berhias untukmu. Ingat, seandainya engkau berhenti padanya tentu ummatmu akan memilih dunia daripada akhirat.”

Kemudian aku disodori dua gelas air minum, segelas berisi madu sedangkan yang lain berisi khamer. Berkatalah Jibril kepadaku, “Minumlah satu dari kedua yang engkau suka.” Lalu aku mengambil susu dan meminumnya, serta membiarkan yang berisi khamer. Berkatalah Jibril, “Engkau telah memperoleh fitrah, yakni engkau telah memberikan Islam pada ummatmu. Ingat, seandainya engkau mengambil khamer tentu sesatlah ummatmu.”

Sumber: Durrotun Nasihin

Isra’ Mi’raj tidak masuk akal?

Ketika Nabi Muhammad menceritakan mengenai di isra’kannya beliau kepada masyarakat, maka banyak orang yang menjadi murtad, dan tidak mempercayai cerita Nabi Muhammad.

Ada golongan orang musyrik yang datang kepada Abu Bakar dan berkata, “Kawanmu mengira bahwa dia telah diisra’kan malam in ke Baitul Maqdis, dan dari sana ke langit dan dia datang sebelum subuh.” Abu Bakar menjawab, “Kalau memang dia berkata begitu tentu memang benar.” Mereka berkata lagi, “Engkau dapat membenarkannya dalam ini?” Abu Bakar menjawab, “Ya, aku membenarkannya dalam hal yang lebih jauh dari itu.” Karena itulah dia terkenal dengan sebutan Abu Bakar Ash Shiddiq (yang sangat membenarkan Rasulullah saw).

Datang pula seorang musyrik kepada Nabi Muhammad saw dan berkata, “Hai Muhammad, berdirilah!” Maka berdirilah Nabi Muhammad.

Lalu orang itu berkata lagi, “Angkatlah salah satu dari kedua kakimu.” Nabi pun mengangkatnya. Orang itu berkata lagi, “Angkat pula kakimu yang lain.” Nabi Muhammad bersabda, “Jika aku mengankatnya tentu aku terjatuh.”

Berkatalah orang kafir itu, “Jika engkau tak dapat mengangkat sejengkal saja dari bumi, lalu bagaimana engkau dapat mengangkat sampai ke langit dan bahkan ke Sidratul Muntaha?”

Nabi Muhammad bersabda, “Keluarlah dari masjid dan tanyakanlah pertanyaan itu kepada Ali. Dialah yang akan menjawabmu.”

Keluarlah orang itu dari masjid dan dia bertemu dengan Ali. Diceritakannya semua cerita itu kepada Ali. Seketika itu jug Ali menghunus pedangnya dan menebas batang lehernya, matilah orang kafir itu. Para sahabat menentang tindakan Ali dan bertanya, “Mengapa engkau membunuhnya? Sedang sabda Nabi itu dapat diterima akal, sedang beliau memerintahkanmu untuk menjawab bukan membunuh.”

Ali berkata, “Jawaban untuk orang yang menentang adalah demikian itu. Karena Rasulullah bukanlah tidak mampu menjawabnya. Tetapi beliua mengetahui bahwa orang ini tidak akan mau menerima jawaban. Karena itu beliau mengirimkannya kepadaku untuk membunuhnya.”

Rasulullah memang tidak mampu naik walaupun sejengkal saja dengan daya dan kekuatannya sendiri. Tetapi peristiwa Mi’raj adalah karena kekuatan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Kuat, dan semua bentuk kekuasaan di sisi kekuasaan-Nya adalah ibarat seekor semut kecil dengan matahari atau setetes  air dengan lautan.

Kemudian mereka berkumpul di sisi Nabi Muhammad dan duduk mengelilingi beliau. Mereka menanyakan beberapa hal di Baitul Maqdis. Mereka berkata, “Ceritakanlah kepada kami mengenai rombongan unta kami (rombongan pedagang kami) yang telah berangkat ke Syam. Apakah engkau juga bertemu sesuatu dari mereka?”

Nabi Muhammad bersabda, “Benar aku telah melewati rombongan Bani Fulan, mereka berada di Rauha’ dan mereka sedang kehilangan seekor untanya dan mereka sedang mencarinya. Di dalam perkemahan mereka terdapat segelas air yang aku ambil dan aku minum airnya. Kemudian aku meletakkannya kembali seperti semula. Bertanyalah kepada mereka apakah mereka masih menemukan air itu di dalam gelas sewaktu mereka kembali?” mereka berkata, “Ini adalah suatu bukti.”

Mereka berkata lagi, “Ceritakan kepada kami mengenai rombongan unta kami, kapan mereka datang?”

Nabi Muhammad bersabda, “Aku melewati mereka di Tan’im, yaitu sebuah tempat di dekat tanah Haram.” Mereka berkata, “Lalu berapa bilangannya, muatannya, keadaannya dan siapa saja yang berada di dalamnya?”

Nabi Muhammad bersabda, “Rombongan itu adalah begini dan begini dan di dalamnya ada Fulan dan Fulan. Rombongan itu yang paling depan adalah seekor unt abu-abu, yaitu seekor unta yang warnanya seperti tanah yang ada dua warna putih pada unta itu. Mereka akan muncul pada kamu saat matahari terbit nanti.”

Mereka berkata, “Ini sebuah tanda bukti.” Lalu mereka keluar pada saat terakhir dari malam itu. Mereka menungu rombongan unta datang untuk membuktikan kebenaran dari Nabi Muhammad mengenai berita dari langit kalau memang terlihat kebenarannya.

Berkatalah seorang dari mereka, “Ini matahari telah terbit.” Yang lain pun berkata, “Nah itu dia rombongan unta telah muncul, demi Allah mereka didahului seekor unta yang abu-abu dan di sana ada Fula dan Fulan.” Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Nabi Muhammad saw.” Tetapi mereka tetap tidak mau beriman, dan bahkan berkata, “Tidak lain ini hanyalah sebuah sihir yang nyata.”

Sumber: Durrotun Nasihin