Karakteristik Iman Orang Mukmin

Dari Abu Bakar Ar Razi, beliau mengatakan, “Iman dalam hati orang mukmin adalah seperti pohon yang berdahan tujuh buah. Dahan pertama sampai kepada hatinya, sedangkan buahnya adalah kebenaran kehendaknya. Dahan kedua sampai pada lidahnya, sedang buahnya adalah kebenaran bicaranya. Dahan ketiga sampai kepada kedua kakinya, sedang buahnya adalah berjalan ke tempat jamaah. Daha keempat sampai kepada kedua tangannya, sedang buahnya adalah memberikan sedekah. Dahan kelima sampai kepada kedua matanya, sedang buahnya adalah melihat kejadian-kejadian yang dapat diambil sebagai pelajaran. Dahan keenam sampai kepada perutnya, sedang buahnya adalah makan halal. Dan dahan ketujuh adalah sampai kepada nafsunya, sedang buahnya adalah meninggalkan segala macam kesenangan nafsu.

Dalam Al Khabar disebutkan, “Apabila datang hari kiamat, maka Allah membangkitkan para makhluk dari kubur mereka masing-masing. Datanglah para malaikat di arah kepala orang-orang mukmin dan mengusap kepala mereka dari debu yang menempel. Berhamburanlah debu dari mereka kecuali dari dahi-dahi mereka, yaitu tempat-tempat sujudnya. Malaikat mengusap tempat-tempat itu kembali tetapi debu itu tidak mau hilang dari sana. Diserulah mereka, ‘Hai malaikat-malaikat-Ku, itu bukan debu kubur mereka tetapi itu debu tempat-tempat ibadah mereka. Biarkanlah debu itu pada mereka sehingga sehingga mereka melewati Shirath dengan selamat dan masuk ke surga. Agar orang yang melihat mereka menjadi tahu bahwa mereka-mereka ini adalah hamba-hamba-Ku yang istimewa.”

Siapa sajakah yang memberikan berita gembira?

  1. Nabi Muhammad saw ketika di dunia, sebab firman Allah dalam syrat Al Baqarah ayat 155, “Dan berikanlah kabar gembira pada orang-orang yang bersabar.”
  2. Malaikat pada saat sakaratul maut, sebab firman Allah dalam surat Fushshilat ayat 30, “Dan bergembiralah dengan mendapat surga yang telah dijanjikan kepada kamu.”
  3. Allah SWT, sebab firman-Nya dalam surat At Taubah ayat 21, “Tuhan mereka memberi kabar gembira kepada mereka dengan rahmat daripada-Nya dan keridhaan-Nya.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Rukun islam dan rukun iman

Rukun islam

Rukun islam itu ada lima, yaitu:

  1. Membaca dua kalimat syahadat.
  2. Mendirikan shalat.
  3. Mengeluarkan zakat
  4. Puasa pada bulan ramadhan.
  5. Mengerjakan haji ke Baitullah bagi orang yang mampu untuk menunaikannya.

Di bawah ini adalah hadis yang menerangkan tentang rukun islam.

Dari Ibnu Umar juga telah berkata: “ketika kami duduk dekat Rasulullah pada suatu hari mka sekonyong-konyong nampaklah kepada kami seorang laki-laki yang memakai pakaian yang sanagt putih dan berambut sangat hitam, tak terlihat padanya bekas (tanda-tanda) perjalanan dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya, maka duduklah ia di hadapan Nabi, lalu disandarkanlah lututnya pada lutut Nabi dan meletakkan tangannya di atas paha Nabi, kemudian berkata, ‘Hai Muhammad terangkanlah padaku tentang islam!’

Maka Rasulullah menjawab, ‘islam itu yaitu hendaklah engkau menyaksikan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah. hendaklah engkau mendirikan shalat, dan hendaklah engkau berpuasa dalam bulan ramadhan dan hendaklah engkau mengerjakan haji ke Baitullah (Mekah) jika engkau kuasa menjalaninya…. (HR Muslim)

Rukun Iman

Sedangkan rukun iman itu semuanya ada 6, yaitu:

  1. Beriman kepada Allah.
  2. Beriman kepada malaikat-Nya.
  3. Beriman kepada kitab-kitab-Nya.
  4. Beriman kepada para utusan-Nya.
  5. Beriman kepada hari akhir (kiamat).
  6. Beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah.

Hadis yang menerangkan rukun iman yaitu:

dari Umar juga telah berkata, …. maka bertanya lagi orang itu, “Maka bentangkanlah kepadaku tentang iman.” Nabi Menjawab, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan-Nya, kepada hari kiamat, dan hendaklah engkau beriman kepada qadar yang baik dan yang buruk.”

Apakah iman itu makhluk atau bukan?

Iman itu hidayah dari Allah dan membenarkan dengan seteguh hati terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad dari Allah, serta menyatakan dua kaliamt syahadat dengan lisannya.

Hidayah itu ciptaan Allah, sedangkan ciptaan Allah itu qadim. Adapun membenarkan dan mengikrarkan itu merupakan perbuatan hamba, dan perbuatan hamba adalah baru. Maksudnya ada sesudah tidak ada.

Segala perkara yang qadim (dahulu) adalah qadim dan bukan makhluk. Sedangkan apa saja yang baru datangnya maka perkara itu adalah pasti baru.

Menurut Syaikh Abu Ma’in An Nasafi bahwa tidak dapat dikatakan kalau iman dari seorang hamba itu adalah ikrar dengan lisan dan membenarkan dengan hati serta timbul petunjuk dan pertolongan dari Allah.

Sementara ulama berpendapat bahwa tidak dapat dikatakan kalau iman itu menjadi hidayah dan taufik (petunjuk dan pertolongan). Karena manusia itu diperintahkan untuk beriman. Perintah itu hanya terdapat dalam perkara yang ada pada lingkungan hamba. Dan seluruh perkara yang demikian pasti makhluk.

Menurut Syaikh Al Bajuri bahwa yang benar itu ialah makhluk. Karena itu membenarkan dengan hati, atau membenarkan yang disertai dengan pernyataan lisan. Keduanya ialah makhluk. Kalau ada yang mengatakan qadim dengan memandang hidayah Allah adalah keluar dari hakikat iman. Dan hidayah itu juga baru. Tetapi jika kita memandang adanya iman itu karena qadha sejak azali, maka bisa benar kalau dikatakan bahwa iman itu qadim.

Syaikh Muhammad Khalil mengutip Syaikh Syamsudin Ar Ramli mengatakan, “Menurut mayoritas ulama ahli tahkik, iman itu adalah membenarkan dengan hati terhadap apa yang diketahui tanpa berangan-angan atas apa yang dibawa dan dijelaskan oleh Rasulullah saw dari sisi Allah Ta’ala. Adapun pernyataan dengan lisan adalah hanya menjadi syarat untuk melaksanakan hukum-hukum di dunia. Ada yang mengatakan, bahwa iman ialah pernyataan dan pembenaran bersama-sama. Ada yang berpendapat, bahwa iman itu ialah pernyataan dan amal perbuatan. Menurut cara-cara pendapat terakhir ini, maka iman adalah makhluk. Karena iman merupakan perbuatan seorang hamba yang diciptakan Allah. berdasarkan firman Allah dalam surat Ash Shaffat ayat 96:

“Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”

Adapun pendapat Imam Abu Laits As Samarqandi sebagai jawaban atas pertanyaan, “Apakah iman itu makhluk atau bukan?” beliau mengatakan bahwa iman itu adalah pernyataan dan petunjuk. Ikrar merupakan perbuatan manusia, dan perbuatan manusia adalah makhluk. Sedangkan hidayah atau petunjuk adalah ciptaan Allah, maka perbuatan Allah ialah makhluk. Ini sebagai toleransi saja, karena hidayah Allah kepada hamba adalah menjadi sebabnya iman, bukan sebagian daripada iman. Sedangkan yang ditanyakan adalah jiwa iman, bukan iman dan sebabnya. Dan Allah lah yang Maha Mengetahui. Rahmat dan keselamatan semoga tetap atas junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Iman itu bersifat suci

Iman itu bersifat suci. Sebab dengan iman itulah segala amal dapat sah. Sedangkan kufur ialah dengan sifat hadas atau najis. Allah berfirman dalam surat At Taubah ayat 28:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.”

Maksudnya: i’tikad mereka najis bukan tubuhnya, jadi jiwa mereka itu dianggap kotor karene mempersekutukan Allah. sehingga seluruh amal yang dilakukannya menjadi rusak. Tetapi kalau ia masuk islam, maka ia akan mendapatkan pahala karena ketaatan yang dilakukan. Ketaatan yang tidak memerlukan niat seperti sedekah, menyambung hubungan keluarga, memerdekakan budak,. Ketaatannya dihukumi sah sejak ia masuk islam.

Allah berfirman dalam surat Al Maidah ayat 5:

“Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum islam) maka hapuslah amalnya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”

Maksudnya orang yang murtad dari keimanan, maka amal saleh yang dilakukan sebelum murtad menjadi rusak seluruhnya sehingga tidak mendapat pahala, sekalipun kembali lagi kepada islam. dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi jika matinya kafir.

Ayat tersebut juga memberikan pengertian, bahwa siapa yang mengkufuri kalimat tauhid “Asyhadu allaa ilaaha illallaah”, maka amal kebaikannya benar-benar rusak. Jika ia masuk islam sebelum mati, maka pahala amalnya yang rusak bukan amalnya. Jadi tidak wajib mengulangi haji yang sudah dilakukan. Begitu pula shalat yang telah dilakukan sebelum murtad.

Apakah shalat, zakat, mencintai malaikat, kitab dan rasul termasuk iman?

Apabila ada yang bertanya tentang shalat lima waktu, puasa ramadhan, zakat harta dan badan, mencintai malaikat dan kitab-kitab samawi yang diturunkan Allah kepada sebagian para rasul-Nya, mencintai para rasul dan nabi, serta takdir yang baik dan buruk semua dari Allah, apakah termasuk iman yang hakiki dan pokok atau bukan?

Maka jawabannya ialah tidak, bahwa semua itu bukan termasuk hakikat dan pokok iman, tetapi merupakan cabang iman. Sebab iman itu merupakan perkataan tauhid.

Syarat sah iman ialah mencintai Allah, malaikat-malaikat-Nya, para Nabi-Nya, dan para kekasih-Nya, takut pada siksa Allah, mengharapkan rahmat-Nya, dan mengagungkan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, membenci musuh-musuh Allah yaitu orang-orang kafir.

Adapun shalat, puasa, haji, zakat adalah menjadi syarat sempurnanya iman menurut pendapat ulama ahlus sunnah.

Jadi, orang yang meninggalkan shalat, zakat dan yang lain sedangkan ia mengakui dan membenarkan kalau hal itu diwajibkan atas dirinya, atau meninggalkan salah satunya sedang ia mengi’tikadkan wajibnya, maka ia disebut orang mukmin yang sempurna dalam hal berlakunya hukum-hukum bagi orang mukmin di dunia dan akhirat. Sebab pada akhirnya akan masuk surga, sekalipun masuk neraka kalau tidak mendapat syafa’at dari salah seorang yang diizinkan memberi syafa’at atau mendapat ampunan Allah.

Dan orang mukmin itu disebut mukmin yang kurang, dari segi lemahnya iman. Sebab ia meninggalkan perintah-perintah Allah. jika ia meninggalkan perintah-perintah itu karena kejam terhadap peraturan agama, atau merupakan kewajibannya, maka dia seorang kafir berdasarkan ijma’ ulama.

Demikian pula jika ia meninggalkan salah satu dari empat perintah wajib di atas secara kejam. Sebab perintah itu berdasarkan dalil syara’.

Urusan agama itu ada 4, yaitu:

  1. Benarnya i’tikad, maksudnya seseorang harus beritikad dengan i’tikad yang benar, bersih dari keragu-raguan dan kesamaran yang dapat menyesatkan orang yang menuruti hawan nafsunya.
  2. Benarnya tujuan, maksudnya punya niat yang benar. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu dapat sah tergantung dengan niatnya.”
  3. Menepati janji.
  4. Menjauhi batasan-batasan Allah dengan menjauhi segala macam kemaksiatan.