Contoh Soal Essay Al-Qur’an dan Hadis adalah pedoman Hidupku Beserta Jawaban

Hai kawan-kawan, di bawah ini akan disajikan Contoh Soal Essay Al-Qur’an dan Hadis adalah pedoman Hidupku Beserta Jawaban. Semoga saja Contoh Soal Essay Al-Qur’an dan Hadis adalah pedoman Hidupku Beserta Jawaban ini memberikan manfaat yang banyak untuk kita semua.

Soal No. 1). Jelaskan yang dimaksud dengan Ijtihad!

Jawaban:
Ijtihad usaha yang sungguh-sungguh dengan mengerahkan segala kemampuan nalar untuk menyelidiki dan menetapkan hukum suatu perkara berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Suatu contoh adalah mengapa meminum minuman berakohol diharamkan?

Soal No. 2). Apa sumber utama Ajaran Islam

Jawaban:
Al-Qur’an dan Hadis

Soal No. 3). Apa yang dimaksud Hadis?

Jawaban:
Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur’an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an.

Soal No. 4). Sebutkan dan jelaskan macam-macam hukum taklifi!

Jawaban: Menurut bahasa hukum taklifi adalah hukumpemberian beban , menurut istilah adalah ketetapan allah swt yang menuntut mukalaf (baligh dan berakal sehat) untuk melakukan atau meniggalkan suatu perbuatan.

hukum taklifi dibagi menjadi 5 yaitu:
a. Wajib
b. Sunnah
c. Haram
d. Makruh
e. Mubah

Soal No.5). Jelaskan yang dimaksud dengan Al-Qur’an menurut Istilah!

Jawaban:
Menurut istilah Al-Qur’an Kalam Allah yang merupakan Mukjizat yang di turunkan Kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril dan di turunkannya secara Mutawattir.

Soal No. 6). Sebutkan bentuk-bentuk Ijtihad!

Jawaban: Bentuk ijtihad dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut:
a. Ijma’: Ijma’ adalah kesepakatan para ulama mujtahid dalam memutuskan suatu perkara atau hukum. Ijma’ dilakukan untuk merumuskan suatu hukum yang tidak disebutkan secara khusus dalam kitab Al-Quran dan sunnah.
b. Qiyas: Qiyas adalah mempersamakan hukum suatu masalah yang belum ada kedudukan hukumnya dengan masalah lama yang pernah karena ada alasan yang sama.
c. Maslahah Mursalah: Maslahah Mursalah adalah cara dalam menetapkan hukum yang berdasarkan atas pertimbangan kegunaan dan manfaatnya.

Soal No. 7). Tuliskan Q.S Al-Isra, 17:9 beserta artinya!

Jawaban:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,

Soal No. 8). Apakah yang dimaksud Sunnah Fikliah?

Jawaban:
Sunah fi’liyah: perbuatan nabi yg berdasarkan tuntutan rabbani untuk ditiru & diteladani yg kemudian dinukilkan oleh para sahabat.

Soal No. 9). Jelaskan hukum melakukan Ijtihad!

Jawaban:
Ijtihad dalam Islam adalah mengerahkan kemampuan untuk mengetahui hukum syar’i dari dalil-dalil syari’atnya. Hukumnya wajib atas setiap orang yang mampu melakukannya karena Allah telah berfirman,
“Artinya : Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [An-Nahl : 43, Al-Anbiya’ :

Soal No. 10). Sebutkan keistimewaan Al-Qur’an!

Jawaban:
a. Al Qur’an diturunkan oleh Allah dan langsung dipelihara oleh-Nya.
b. Kalam Al Quran bebas dari campur tangan manusia, apalagi setan.
c. Bersifat pembenar dari kitab-kitab sebelumnya.
d. Bersifat nasakh atau penghapus ketentuan dari kitab-kitab sebelumnya.
e. Diturunkan dalam bahasa Arab dan berulang-ulang.
f. Berlaku untuk seluruh umat manusia.

10 Soal Essay dan Jawaban Meraih Kasih Allah Dengan Ihsan

Hai teman-teman, di bawah ini akan disajikan 10 Soal Essay dan Jawaban Meraih Kasih Allah Dengan Ihsan. Mudah-mudahan 10 Soal Essay dan Jawaban Meraih Kasih Allah Dengan Ihsan ini memberikan manfaat yang banyak.

Soal No. 1). Jelaskan pengertian Ihsan menurut Istilah?

Jawaban:
Menurut istilah ihsan adalah menyembah allah seolah olah melihatnya,apabila tidak dapat maka berkeyakinan bahwa allah maha melihat.

Soal No. 2). Sebutkan salah satu dalil yang menyuruh untuk berbuat Ihsan!

Jawaban:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Q.S Al-Baqarah 83).

Soal No. 3). Bagaimanakah kita berperilaku Ihsan kepada Allah Swt?

Jawaban:
Ihsan kepada Allah adalah ketika anda menyembah atau bersujud kepada Allah seolah-olah anda melihat-NYA, dan jika anda tak mampu membayangkan-NYA, maka anda yakin jika Allah selalu melihat segala sesuatu yang anda perbuat.

Tingkatan ihsan ini merupakan tingkatan yang paling tinggi karena sikap ihsan tersebut berawal dari sikap membutuhkan, mengharapkan serta merindukan Allah. Orang yang telah memiliki sikap ihsan dalam menyembah Allah biasanya selalu merasakan hatinya terang dengan adanya cahaya iman yang melingkupinya.

Soal No. 4). Jelaskan cara berlaku Ihsan terhadap Alam Sekitar!

Jawaban:
– Memanfaatkan secara bertanggung jawab.
– Menjaga kelestariannya
– Tidak merusaknya

Soal No. 5). Berlaku Ihsan kepada Allah Swt. Mengandung dua tingkatan, sebutkan!

Jawaban:
a. Beribadah kepada Allah Swt. Seakan-akan melihatnya.
b. Beribadah dengan penuh keyakinan bahwa Allah Swt, Melihatnya

Soal No. 6). Sebutkan yang termasuk ibadah Mahdah (Ibadah Khusus)!

Jawaban:
Yang dimaksud dengan ibadah mahdhah adalah hubungan manusia dengan Tuhannya, yaitu hubungan yang akrab dan suci antara seorang muslim dengan Allah SWT yang bersifat ritual (peribadatan), Ibadah mahdhah merupakan manifestasi dari rukun islam yang lima. Atau juga sering disebut ibadah yang langsung. Selain itu juga ibadah mahdhah adalah ibadah yang perintah dan larangannya sudah jelas secara zahir dan tidak memerlukan penambahan atau pengurangan.

Jenis ibadah yang termasuk ibadah mahdhah, adalah :
a. Shalat
b. Zakat
c. Puasa
d. Ibadah Haji
e. Umrah

Soal No. 7) Mengapa kita harus berlaku Ihsan kepada sesama ciptaan Allah Swt?

Jawaban:
Perilaku Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah SWT. Sebab, perilaku ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya.

Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah swt. Rasulullah saw. pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.

Soal No. 8). Jelaskan cara berlaku Ihsan terhadap binatang yang akan disembelih!

Jawaban:
– Menyembelih dengan cara baik
– Tidak menyiksa
– Menggunakan Pisau yang tajam

Soal No. 9). Sebutkan Hikmah Berperilaku Ihsan!

Jawaban:
a. Mendapatkan ridho Allah Ta’ala.
b. Mendapatkan balasan (pahala) dari Allah Ta’ala.
c. Disayangi oleh kedua orang tua.
d. Mendapatkan hormat dari orang lain.
e. Dihormati atau dihargai orang-orang sekitar.

Soal No. 10). Jelaskan pengertian Ihsan Menurut Bahasa?

Jawaban:
Menurut bahasa ihsan artinya berbuat baik atau membuat kebaikan.

Cahaya Islam, Iman dan Ihsan

Cahaya itu ada 2 macam, yaitu:

  1. Cahaya hissi, yaitu cahaya yang seperti matahari yang membukakan penglihatan mata., sehingga bisa melihat macam-macam jejak ciptaan Allah.
  2. Cahaya ma’ani, yaitu cahaya yang ditibakan (diberikan) oleh Allah swt didalam hati, sehingga bisa melihat macam-macam perkara ma’nawi. Akhirnya mengerti terhadap adanya Allah dan sifat-sifat-Nya.

Nah cahaya ma’nawi itu ada 3 bagian, yaitu dengan menghitung-hitung kekuatan dan kelemahannya.

  • Maka kalau cahaya islam itu keadaannya lemah seperti cahaya bintang. Dengan adanya cahaya ini bisa terbuka wujudnya Allah, yaitu dari wujudnya ciptaan Allah.
  • Cahaya keimanan, ini lebih terang seperti cahaya bulan. Sehingga dengan adanya cahaya keimanan ini, tidak semata-mata ada perkara yang bergerak atau diam, kecuali tahu qudratnya Allah dan ‘Ilmu-Nya.
  • Cahaya ihsan, yaitu yang bisa membukakan ke kita agar mengerti tentang haqiqatnya dzat Allah. Maka tidak terlihat suatu perkara kecuali melihat terhadap dzat yang menciptakannya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus lima puluh)

Cahaya Islam, Iman dan Ihsan

Allah swt itu sering memberikan (menyimpan) cahaya-cahaya ma’ani di dalam hati, yaitu cahaya keyakinan. Awalnya cahaya itu lemah seperti cahaya bintang, yaitu cahaya keislaman. Lalu menjadi kuat sehingga bercahaya seperti bulan, dana terus-terusan bertambah kuat seiring dengan perjalanan tho’at dan dzikir kepada Allah.

Maka cahaya itu lebih terang seperti matahari, yaitu cahaya ihsan. Nah tempat munculnya khaza inal ghuyub yaitu dari cahaya-cahayanya sifat Allah, dan asror nya dzat Allah.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya ahli tasawuf itu sering menertibkan cahaya. Pertama cahaya islam, lalu cahaya iman. Padahal dalam ilmu fiqih bahwa sebenar-benarnya adanya islam itu adalah buahnya dari keimanan.

Maksudnya setelah mengenal Allah terus ada iman yang ditafsirkan dengan tasdiq yang isinya qabul dan iddi’an, yaitu menyatakan bahwa Allah sebagai Pemimpin (Penguasa), serta menyatakan diri menghamba kepada Allah serta menerima terhadap ajaran-Nya, lalu annutqu bissyahadatain, kemudian shalat (dan rukun islam lainnya).

Alasan mengapa ahli tasawuf mendahulukan islam dulu adalah karena ‘abdinya Allah apabila disibukkan dengan peribadahan yang dhohir, itu sering disebut mendiami di maqamul islam. Lalu ketika sudah pindah dengan memperbanyak amal hati, serta disibukkan dengan membersihkan hati, dengan menghiasi, membersihkan dan menghidupkan ikhlas, maka orang itu sering disebut maqamul iman.

Dan kalau pekerjaannya sudah senang dengan manteng/menguatkan/melekatkan hati kepada Allah, serta memperbanyak tafakur, maka berarti sudah mendiami maqamul ihsan.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus empat puluh sembilan)