Memberi jangka waktu untuk membayar hutang

Imam Bukhari dan Muslim juga telah meriwayatkan dari Hudzaifah r.a. bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Sesungguhnya ada seorang lelaki sebelum kamu, didatangi oleh malaikat untuk mencabut rohnya, lalu ditanya, “Apakah kamu melakukan kebaikan?” Jawabnya, “Tidak tahu.” Dikatakan kepadanya lagi, “Lihatlah.” Jawabnya, “Aku tidak tahu apa-apa, hanya saja aku melakukan jual beli kepada orang banyak di dunia (lalu dihitung), aku biarkan kepada orang-orang yang kaya untuk menangguhkan pembayaran hutangnya dan aku mengampuni kepada orang-orang yang tak punya, lalu Allah memasukkannya ke dalam surga.

Hal yang berkaitan dengan hutang piutang

Sesungguhnya hutang kepada seseorang lalu tidak berkehendak atau tidak mempunyai harapan untuk membayar ia tidak mempunyai cadangan keuangan yang dapat digunakan untuk melunasi hutangnya, sedang orang yang dihutangi tidak mengetahui keadaannya adalah haram.

Penundaan pembayaran hutang orang yang kaya setelah ditagih tanpa ada udzur adalah haram. Bahkan ada segolongan ulama yang menyatakan bahwa orang yang enggan membayar hutangnya setelah diperintah oleh hakim, padahal ia mampu, maka bagi hakim boleh bertindak dengan kekerasan, lalu menikam lambungnya dengan besi agar membayar atau mati.

Orang yang punya hutang sudah jatuh tempo tidak boleh pergi tanpa izin

Haram bagi orang yang mempunyai hutang yang telah sampai jatuh temponya untuk pergi tanpa seizin orang-orang yang dihutangi, dimana masih belum diketahui apakah orang yang dihutangi rela atas kepergiannya itu ataukah tidak. meskipun ia telah meletakkan barang yang digadaikan atau sudah ada jaminannya. Misalnya budak yang pergi tanpa seizin majikannya. Oleh sebab itu tidak boleh mengqashar shalat, menjama’nya, berbuka puasa, mengerjakan salat sunat dalam bepergian, tidak berkewajiban untuk mengerjakan salat jumat, makan bangkai bagi orang yang terpaksa.

Dan bagi orang yang menghutangi boleh melarang orang yang berhutang yang sudah sampai pada jatuh temponya untuk bepergian sehingga membayar hutangnya terlebih dahulu, atau mewakilkan kepada orang lain untuk membayarkan dari hartanya yang ada di tempat orang yang menghutangi. Berbeda dengan hutang yang belum habis jatuh temponya, meskipun temponya pendek.

Sesungguhnya orang yang sudah jelas tidak mampu, tidak mempunyai cadangan untuk membayar hutangnya, tidak boleh dipenjara atau selalu diikutinya. Dan wajib ditangguhkan waktunya sampai kepada keadaan yang memungkinkan untuk membayar hutangnya.

Keutamaan Memberi jangka waktu pembayaran bagi orang yang tidak mampu membayar hutang

Rasulullah saw telah bersabda sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Abbas r.a. sebagai berikut:

Barang siapa yang memberikan jangka waktu pembayaran kepada orang yang tidak mampu atau membebaskan hutangnya sebagian atau seluruhnya, maka Allah yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan memelihara dari panasnya neraka jahanam.

Riwayatnya pula beserta Imam Muslim, bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Barang siapa yang memberikan jangka waktu pembayaran hutang bagi orang yang tidak mampu atau membebaskannya, maka Allah akan memberikan naungan padanya di dalam naungan Allah, pada waktu tidak ada naungan kecuali naungan Allah.

Juga riwayat Imam Ahmad beserta Ibnu Majah, bahwa Rasulullah saw telah bersabda yang artinya sebagai berikut:

Barang siapa yang memberikan jangan waktu pembayaran hutang bagi orang yang tidak mampu, maka pada tiap hari akan mendapat pahala sedekah sebanyak hutangnya sebelum waktu pembayaran tiba. Namun jika waktu pembayarannya telah tiba, dan masih ditangguhkan lagi waktunya maka akan mendapat pahala sedekah dua kali lipat dari banyaknya hutang tersebut untuk setiap harinya.

Imam Ahmad juga telah meriwayatkan bersama Imam Thabrani, bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Pada hari kiamat (nanti) Allah akan memanggil orang yang mempunyai hutang, sehingga ia berdiri di hadapan Allah, lalu dikatakan kepadanya, “Wahai Ibnu Adam, untuk apa kamu mengambil hutang ini? Untuk apa kamu meremehkan hak manusia?” Jawabnya, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa aku mengambilnya, aku tidak memakannya, tidak meminumnya dan tidak kugunakan untuk membeli pakaian. Aku tidak meremehkannya, ada kalanya uang itu terbakar musnah, dicuri orang atau rugi.” Lalu Allah berfirman, “Hambaku berkata benar, Akulah Tuhan yang berhak membayar hutangmu.” Lalu Allah mengambil sesuatu, lalu diletakkannya pada piringan timbangan. Akhirnya kebaikan orang itu bertambah berat dibanding kejelekannya, lalu dimasukkan ke surga berkat karunia dan rahmat-Nya.

Kisah Tentang Keutamaan Membayar Hutang dan Kejujuran

Dalam riwayat yang lain juga telah diterangkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Seorang lelaki dari Bani Israil berhutang kepada salah seorang temannya dari bani Israil sebanyak seribu dinar, lalu temannya berkata, ‘Bawalah beberapa saksi kepadaku.’ Lelaki itu berkata, ‘Sudah cukup Allah sebagai saksiku.’ Temannya itu berkata lagi, ‘Sekarang datangkan kepadaku orang yang bertanggung jawab!’ lelaki itu berkata, ‘Sudah cukup Allah bagiku sebagai penanggung jawab.’

Lalu temannya itu berkata lagi, ‘Sungguh benar perkataanmu,’ llau diberikan uangnya dan lelaki itu berjanji akan dibayar pada waktu tertentu.

Lalu lelaki itu keluar ke laut dan segala apa yang telah direncanakan telah dikerjakannya. Ia mencari kapal untuk datang kepada temannya yang menghutangi dahulu. Karena waktu yang dijanjikannya telah tiba. Namun kali ini ia tidak menjumpai kapal. Akhirnya ia mengambil kayu dan melobanginya, lalu seribu dinar itu dimasukkan ke dalam dan diisi pula dengan surat, kemudian di bawa ke laut seraya berdoa:

Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa aku minta kepada Fulan seribu dinar, lalu ia minta kepadaku seorang penanggungjawab, lalu kukatakan, ‘Sudah cukup Allah sebagai penanggungjawab.’ Maka ia pun rela dengan ucapanku. Lalu ia minta lagi didatangkan seorang saksi, aku tetap berkata, ‘Sudah cukup Allah sebagai saksiku.’ Lalu ia pun rela sebagai saksiku.

Sesungguhnya aku telah berupaya untuk mencari kapal atau sampan, tapi takdir belum datang kepadaku. Sekarang kayu yang berisi uang ini aku titipkan kepada-Mu.

Lalu kayu itu dilemparkan ke laut dan dia kembali pulang. Sungguhpun demikian, ia tetap berupaya mendapatkan kapal yang dapat membawanya ke kota orang yang pernah mengutanginya.

Lalu orang yang menghutangi keluar ke tepi laut, barang kali ada kapal yang nanti bertemu dengan orang yang dititipi uangnya, tiba-tiba ia melihat kayu yang sedang terapung-apung, lalu diambilnya untuk kayu bakar. Ketika kayu itu dipotong, maka keluarlah uang seribu dinar beserta sepucuk surat.

Lalu orang yang dihutangi juga datang membawa seribu dinar seraya berkata, “Sungguh aku telah berupaya sekuat tenaga untuk mendapatkan kapal, tapi aku tidak menjumpai satu kapal pun.’ Lalu orang yang mengutangi berkata, ‘Apakah kamu mengirimkan sesuatu untukku?’ lelaki itu berkata, ‘Aku katakan padamu bahwa aku tidak menjumpai kapal sebelum aku datang kepadamu kali ini.’

Lalu orang yang menghutangi itu berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah membayar hutangmu dengan didatangkan kayu bakar yang berisikan uang seribu dinar. Nah sekarang uangmu ini bawalah kembali dengan mendapat petunjuak dari Allah swt.’

Orang Kaya Yang Sulit Membayar Hutang Layak Dihukum

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim juga telah diterangkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

Penundaan pembayaran bagi orang kaya adalah penganiayaan terhadap orang yang mengutangi. Oleh sebab itu hutang seseorang diantara kamu dipindah kepada orang yang mampu maka ikutilah.

Sementara dalam riwayat Ibnu Hibban dan Hakim diterangkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Penundaan pembayaran hutang orang yang mampu adalah membuat kehormatannya boleh dicaci maki dan boleh diberi hukuman.

Orang Yang Mati Meninggalkan Hutang Akan Membayarnya Dengan Pahalanya

Sementara Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Rasulullah saw bersabda:

Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan mempunyai tanggungan hutang satu dirham atau satu dinar, maka akan dibayar dengan kebaikannya di hari yang tidak ada dinar dan dirham.

Bagaimanakah Bila Orang Mati Syahid Meninggalkan Hutang

Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Qatadah r.a. diterangkan:

Seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku terbunuh di jalan Allah dengan hati sabar, ikhlas untuk maju menghadapi musuh, tidak mundur ke belakang. Apakah Allah akan menghapus dosa-dosaku?”

Maka Rasulullah menjawab, “Ya.”

Lalu lelaki itu berpaling, maka Rasulullah saw memanggilnya seraya berkata, “Ya, diampuni kecuali hutang, demikianlah apa yang dikatakan oleh Jibril kepadaku.” Dan beliau bersabda, “Orang yang mati syahid akan diampuni seluruh dosanya kecuali hutang.”

Dalam riwayat Imam Muslim diterangkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

Seluruh dosa orang yang mati syahid akan diampuni oleh Allah kecuali hutang.”

Keharusan Membayar Hutang Orang Mati

Abu Sa’id Al Khudri r.a. menceritakan, bahwa telah dibawa kepada Nabi saw jenazah untuk dishalatkannya. Maka beliau bertanya, “Apakah temanmu ini mempunyai tanggungan hutang?” para sahabat berkata, “Ya.”

Nabi saw bersabda lagi, “Apakah ia mempunyai harta warisan yang dapat digunakan untuk membayar hutangnya?” Mereka menjawab, “Tidak.”

Maka beliau bersabda, “Dirikanlah shalat untuk temanmu.”

Lalu Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Aku yang akan menanggung hutangnya, wahai Rasulullah.”

Lalu Rasulullah saw maju dan mengerjakan salat jenazah, setelah itu beliau bersabda, “Semoga Allah menyelamatkan dirimu dari api neraka sebagaimana kamu telah membebaskan tanggung jawab saudaramu yang muslim. Seorang hamba yang muslim yang membayar hutang saudaranya maka Allah akan menyelamatkan dirinya dari api neraka pada hari kiamat (nanti).”

Orang Yang Mati Meninggalkan Hutang Akan Terbelenggu Di Kuburan

Rasulullah saw bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Ibnu Majah:

Barang siapa yang hutang uang orang dan benar-benar ingin mengembalikannya, maka Allah akan mempermudah jalan untuk mengembalikannya. Dan barang siapa hutang uang orang dengan tujuan untuk menghabiskannya, maka Allah akan membinasakannya.

Ad Dailami telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda;

Orang yang masih mempunyai tanggungan hutang (lalu meninggal dunia) maka terbelenggu di kuburan, tidak akan dilepas kecuali hutangnya dibayar (oleh ahli warisnya).

Kewajiban Membayar Hutang

Dalam sebuah riwayat Imam Thabrani juga diterangkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Barang siapa yang hutang dengan niat sungguh-sungguh akan membayarnya (lalu sampai mati belum dibayar) maka Allah akan membayarnya nanti di hari kiamat. Dan barang siapa yang hutang dan tidak berniat membayarnya, lalu meninggal dunia, maka Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung pada hari kiamat nanti akan berfirman, “Apakah kamu mempunyai perkiraan bahwa Aku tidak mengambil hak hamba-Ku.”

Akhirnya kebaikan orang yang mempunyai tanggungan hutang itu diambil dan dikumpulkan dalam kebaikan orang yang menghutanginya. Jika orang yang mempunyai tanggungan hutang tidak mempunyai kebaikan maka kejelekan orang yang menghutanginya akan diberikan kepadanya.”

Menurut riwayat Ibnu Ady, Rasulullah saw telah bersabda:

Setiap lelaki yang mengawini perempuan, lalu berniat tidak memberikan maskawinnya, maka ia mati pada hari kematiannya sebagai orang yang berzina. Setiap lelaki yang membeli barang dari orang lain, lalu berniat tidak memberikan uangnya sesuai dengan harga yang telah disepakati, maka pada saat meninggal dunia, ia tercatat sebagai pengkhianat dan tempat orang yang berkhianat adalah di neraka.