Membekukan kesaksian terhadap kasus hukuman had

Kadi diperbolehkan mengajukan tawaran ta’ridh kepada para saksi agar mereka membekukn kesaksian terhadap kasus hukuman had yang menyangkut hak Allah, manakala si kadi melihat adanya maslahat dalam menutupinya. Tetapi jika tidak mengandung maslahat, maka kadi tidak boleh menutup kasus tersebut.

Dapat disimpulkan dari keterangan di atas bahwa kadi tidak boleh mengajukan ta’ridh kepada para saksi, dan mereka pun tidak boleh membekukan kesaksian jika berakibat hilangnya barang yang dicuri atau orang lain akan terkena hukuman had, misalnya had menuduh orang lain berzina.

Pembegal jalan

Seandainya seorang imam mengetahui suatu kaum berbuat menakut-nakuti orang-orang di tengah jalan (melakukan teror), tetapi mereka tidak merampok harta dan tidak pula membunuh jiwa, maka imam wajib menghukum ta’zir mereka dengan memenjarakan, atau hukuman lainnya.

Apabila si pembegal jalan ternyata mrampok harta, tetapi tidak membunuh jiwa, maka tangan kanan dan kaki kirinya dipotong. Jika ia mengulangi perbuatannya, yang dipotong adalah tangan kiri dan kaki kanannya.

Jika ia melakukan pembunuhan, dia wajib dihukum mati, sekalipun orang yang berhak meng-qishash memaafkannya.

Apabila ia membunuh jiwa dan merampok harta sejumlah satu nisab (seperempat dinar atau lebih) hukumannya ialah dibunuh, lalu disalib sesudah dimandikan, dikafani, dan disalatkan; kemudian diharuskan membiarkannya selama tiga hari, setelah itu baru diturunkan.

Menurut suatu pendapat, wajib dibiarkan hingga membusuk dan nanahnya mengalir.

Menurut pendapat yang lain, dia harus disalib terlebih dahulu, tidak lama kemudian diturunkan, lalu baru dihukum mati.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Cara memotong bagian-bagian tubuh pelaku pencurian secara berulang-ulang

Apabila seseorang yang pernah dihukum potong tangan pada tangan kanan kembali melakukan pencurian untuk kedua kalinya, maka kaki kirinya dipotong mulai dari batas pergelangan telapak kaki dan betisnya.

Jika dia kembali mencuri lagi untuk ketiga kalinya, maka tangan kirinya lah yang dipotong dari batas pergelangan tangannya.

Jika dia kembali mencuri lagi untuk yang keempat kalinya, maka kaki kanannya dipotong. Kemudian jika dia masih juga mencuri, maka padanya dikenakan hukuman ta’zir, tidak dihukum mati.

Mengenai riwayat yang menceritakan bahwa Nabi saw pernah membunuh (orang yang mencuri untuk kelima kalinya) sebenarnya telah di mansukh. Sedangkan hukuman mati yang beliau saw jatuhkan mengandung takwil bahwa pelakunya menganggap bahwa perbuatannya itu halal.

Bahkan hadis ini dianggap dhaif oleh Imam Daruquthni dan lain-lainnya. Ibnu Abdul Bar mengatakan bahwa hadis ini berpredikat munkar dan sama sekali tidak ada dasarnya.

Barang siapa yang telah berkali-kali mencuri tanpa terkena hukuman potong tangan, maka hukuman potong tangan yang dikenakan kepadanya hanya sekali saja (yaitu di saat ia tertangkap), menurut pendapat yang dapat dipegang. Untuk itu, sudah cukup baginya dengan dipotong tangan kanannya sebagai had dari semua pencurian yang telah dilakukannya, mengingat penyebabnya hanya satu, sehingga satu sama lainnya saling mengukuhkan.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Mencuri harta wakaf dan harta masjid

Seseorang terkena hukum potong tangan karena mencuri harta wakaf, yakni mencuri harta yang diwakafkan kepada orang lain. juga karena mencuri harta masjid, misalnya daun pintu, tiang penyangga, dan lampu hiasnya.

Akan tetapi, tidak dikenakan hukum potong tangan karena mencuri tikar masjid dan lampu penerangannya, sedangkan si pencuri adalah seorang muslim, mengingat barang-barang tersebut disediakan untuk dimanfaatkan.

Mencuri harta zakat

Tidak terkena hukum potong tangan karena mencuri harta zakat, sedangkan si pencuri adalah orang yang berhak menerimanya karena dia miskin atau status lainnya.

Seandainya seseorang yang tidak mempunyai hak dalam harta zakat itu, seandainya orang kaya, mengambil hart zakat bukan untuk biaya mendamaikan di antara orang-orang yang bersengketa dan bukan pula sebagai mujahid, maka ia terkena hukum potong tangan (bila yang dicuri itu telah mencapai nisab, yaitu seperempat dinar) karena keadaan dirinya tidak mengandung syubhat lagi.

Mencuri harta milik umum

Tidak terkena hukum potong tangan karena mencuri harta milik umum, misalnya harta baitul mal, sekalipun si pencuri adalah orang kaya, karena dia mempunyai hak memiliki dalam harta baitul mal itu. Juga mengingat bahwa harta baitul mal adakalanya dibelanjakan untuk pembangunan masjid dan benteng-benteng pertahanan yang dapat dimanfaatkan oleh kaum muslim, baik yang kaya ataupun yang miskin.

Mencuri harta milik keluarga

Tidak terkena hukuman potong tangan karena mencuri harta milik keluarga, yakni harta orang tua atau harta anak sendiri, dan tidak pula karena mencuri harta tuannya, sebab perbuatan itu mengandung unsur syubhat dari segi hak memberi nafkah secara global.

Menurut pendapat yang paling kuat, hukum potong tangan berlaku bagi salah seorang dari suami istri yang mencuri harta satu sama lain dari tempat penyimpanannya.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Perampokan dan pencurian yang tidak dikenakan hukum potong tangan

Tidak termasuk ke dalam pengertian kata “mencuri’ seandainya seseorang menyambar barang milik orang lain dengan mengandalkan keahliannya dalam meloloskan diri, atau merampok barang milik orang lain dengan mengandalkan kekuatan tubuhnya, maka kedua modus operandi pencurian tersebut tidak dikenakan hukum potong tangan, karena berdasarkan dalil hadis sahih yang menerangkannya. Juga mengingat hal itu dapat dicegah melalui kekuasaan sultan atau dengan cara lain (membela diri, atau mengejar pencopet, dan lain-lain).

Lain halnya dengan pencuri yang mengambil barang milik orang lain secara sembunyi-sembunyi (tanpa diketahui pemiliknya), maka disyariatkan hukum potong tangan agar jera (dan dijadikan sebagai peringatan buat yang lain).

Lain halnya jika barang yang dicuri itu merupakan hasil ghasab (rampokan), maka pencuri tidak dikenakan hukum potong tangan, sekalipun dicuri dari tempat penyimpanan si penggasab dan sekalipun si pencuri sendiri tidak memgetahui bahwa barang yang dicuri itu adalah hasil rampokan.

Dikatakan demikian karena pemilik asal barang tersebut tidak rela terhadap tempat penyimpanan barang si penggasab sebagai penyimpanan barang miliknya (hingga hukumnya dengan barang yang tidak disimpan di tempat yang selayaknya).

Lain pula halnya jika barang tersebut berada di tempat penyimpanan si penggasab. Dalam kasus ini pun tidak ada hukum potong tangan terhadap pencuri karena si penggasab sebenarnya dilarang menyimpan barang di tempat tersebut.

Berbeda halnya jika tempat penyimpanan barang tersebut merupakan tempat sewaan atau tempat yang dipinjamkan kepada orang yang bersangkutan (maka pencurinya dikenakan hukum potong tangan).

Tempat penyimpanan barang yang layak itu berbeda-beda, sesuai dengan berapa jenis harta yang disimpan, situasi (keadaan), dan waktunya.

Tempat penyimpanan pakaian dan uang adalah lemari yang terkunci, sedangkan tempat penyimpanan barang-barang dagangan adalah di toko, kemudian ada penjaganya.

Tempat yang dikategorikan sebagai tempat penyimpanan barang

Tidur di atas barang miliknya sendiri yang terletak di dalam masjid atau di pinggir jalan, atau menjadikan barang miliknya sebagai bantal, hal ini merupakan tempat penyimpanan yang layak bagi barang itu.

Lain halnya jika orang yang bersangkutan meletakkan barang hanya di dekatnya, tanpa pengawasan yang ketat darinya yang dapat mencegah si pencuri, baik dengan kekuatannya ataupun dengan meminta tolong. Atau si pemilik barang membalikkan tubuhnya dari barang miliknya, sekalipun ia terbalik karena ulah si pencuri, maka keadaan seperti ini kurang memenuhi syarat sebagai penyimpanan barang yang layak.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Hukuman had bagi pencuri

Hukuman had pencurian ialah potong tangan.

Seorang imam, sesudah ada tuntutan dari pihak pemilik barang dan terbukti kasus pencurian, wajib memotong sebatas pergelangan tangan kanan orang lelaki atau perempuan berusia balig yang mencuri.

Yang dimaksud dengan istilah mencuri ialah “mengambil uang milik orang lain secara sembunyi-sembunyi, nilainya mencapai seperempat dinar, yakni satu mitsqal mata uang emas murni, sekalipun mata uangnya dihasilkan dari pemalsu mata uang.” Atau seharga dengannya menurut standar mata uang emas murni, sekalipun yang seperempat dinar itu milik sejumlah orang.

Untuk itu, tidak ada hukum potong tangan dalam kasus pencurian seperempat dinar emas apabila berupa emas batangan atau perhiasan yang nilainya tidak menyamai seperempat dinar mata uang dinar.

Uang atau barang yang seperempat dinar tersebut dicuri dari tempat penyimpanannya. Dengan kata lain, tempat penyimpanan tersebut adalah tempat penyimpanan barang atau uang yang ideal menurut tradisi yang berlaku di tempat orang yang bersangkutan.

Tiada hukuman potong tangan bagi pencuri yang memiliki hak syirkah

Tiada hukum potong tangan jika si pencuri memiliki hak syirkah dalam barang yang dicuri itu, dan tidak pula karena mencuri barang milik yang dijaminkan, misalnya barang yang digadaikan.

Seandainya ada dua orang bersekutu (bekerja sama) mencuri sesuatu yang nilainya hanya seperempat dinar, maka tiada seorang pun dari keduanya yang terkena hukuman potong tangan (melainkan hanya hukuman ta’zir saja).

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani