Bolehkah Memuji Diri Sendiri dan Menyebutkan Kebaikan Diri Sendiri

Memuji diri sendiri merupakan sebuah hal yang diperbolehkan, tetapi hal ini dimaksudkan untuk kemaslahatan, bukan untuk pamer dan riya.

Ada beberapa kisah yang menerangkan tentang hal ini, diantaranya akan dijelaskan di bawah ini.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahihain melalui Sa’d ibnu Abu Waqqash r.a yang menceritakan bahwa ketika penduduk Kufah mengadukan tentang dirinya kepada khalifah Umar bin Khatthab r.a, mereka mengatakan bahwa ia tidak dapat melakukan salat dengan baik (karena kalau menjadi imam terlalu lama bacaan Al Qur’annya). Maka Sa’d berkata:

Demi Allah, sesungguhnya aku adalah seorang lelaki dari kalangan bangsa Arab yang mula-mula melempar panah di jalan Allah (menggunakan senjata anak panah dalam jihad), dan sesungguhnya aku selalu berperang bersama Rasulullah saw….. hingga akhir hadis.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Ali karamallaahu wajhah yang mengatakan:

Demi Tuhan yang telah membelah biji-bijian dan menciptakan manusia, sesungguhnya sudah merupakan janji Nabi saw kepadaku bahwa tiada yang mencintaiku kecuali orang mukmin, dan tiada yang membenciku kecuali orang munafik.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahihain melalui Abu Wail yang menceritakan bahwa Abdullah ibnu Mas’ud r.a. berkata dalam khotbahnya yang ditujukan kepada kami:

Demi Allah, sesungguhnya aku telah menerima 70 surat lebih dari mulut Rasulullah saw. Dan sesungguhnya para sahabat Rasulullah saw telah mengetahui bahwa aku termasuk orang yang paling alim tentang kitabullah di antara mereka, tetapi aku bukan termasuk yang paling baik dari mereka. Seandainya aku mengetahui ada seseorang yang lebih alim daripadaku, niscaya aku akan berangkat menuju kepadanya (untuk belajar).

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Ibnu Abbas r.a:

Bahwa ia pernah ditanya mengenai unta dila dihentikan karena kelelahan. Maka ia menjawab, “Engkau telah bertanya kepada ahlinya,” yang dimaksud adalah dirinya, lalu ia melanjutkan hingga akhir hadis.

Hukum Memuji Diri Sendiri dan Menyebutkan Kebaikan Diri Sendiri

Allah swt berfirman dalam surat An Najm ayat 32, “Maka janganlah kalian mengatakan diri kalian suci.”

Menyebut kebaikan diri sendiri itu ada dua macam, yaitu yang tercela dan yang disukai. Yang tercela ialah yang disebutkan dengan tujuan menyombongkan diri, menampakkan ketinggian dan merasa lebih istimewa daripada yang lain, dan lain-lain.

Sedangkan yang terpuji ialah yang mengandung nasehat agama, antara lain sebagai juru amar ma’ruf dan nahi munkar, penasihat, orang yang menyarankan kepada kemaslahatan, pengajar, pendidik, penceramah, juru ingat, juru damai diantara dua pihak, menolak kejahatan dari diri sendiri, dan yang lainnya.

Berdasarkan hal tersebut, seseorang boleh menyebut kebaikan diri sendiri dengan niat semoga ucapannya bisa lebih diterima, dan apa yang dituturkannya bisa lebih dipegang. Atau ia mengatakan, “Apa yang aku katakan ini tidak akan kalian dapati pada orang lain. untuk itu, camkanlah!”, dan lain-lain.

Dalil yang menerangkan hal ini banyak sekali, seperti sabda Nabi saw:

“Aku adalah Nabi, tidak dusta.”

“Aku adalah penghulu anak Adam.”

“Aku adalah orang pertama yang bumi terbelah karenanya (kelak pada hari berbangkit).”

“Aku adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah diantara kalian dan paling bertakwa diantara kalian.”

“Sesungguhnya aku bermalam di sisi Rabbku.”

Allah swt berfirman dalam surat Yusuf ayat 55 yang menceritakan ucapan Nabi Yusuf a.s “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengalaman.”

Nabi Syu’aib a.s. telah berkata yang dikutip oleh firman Allah dalam surat Al Qashash ayat 27, “Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orng-orang yang baik.”

Khalifah Utsman r.a. ketika dikepung mengatakan hal berikut, seperti yang diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari:

Bukankah kalian telah mengetahui bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Barang siapa yang mempersiapkan pasukan ‘usrah, maka baginya surga?,” lalu akulah yang mempersiapkannya. Tidakkah kalian mengetahui bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Barang siapa yang menggali sumur Raumah, maka baginya surga?”, lalu akulah yang menggalinya. Mereka membenarkan apa yang dikatakannya.

Hukum Memberikan Pujian Kepada Orang Lain Dalam Islam

Syariat islam telah menerangkan tentang hukum memuji orang lain, ada yang dari hadis dan ada juga keterangan dari beberapa ulama. Seperti yang akan disebutkan di bawah ini

Di dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda kepada Ali karamallaahu wajhah:

Engkau dariku dan aku darimu.

Tidakkkah engkau rela bila kedudukanmu terhadap diriku sama dengan kedudukan Harun dan Musa?

Di dalam hadis lain Nabi saw bersabda kepada Bilal:

Aku mendengar suara ketukan kedua terompahmu di dalam surga.

Di dalam hadis lainnya Nabi saw bersabda kepada Ubay ibnu Ka’b:

Selamat bahagia dengan ilmu, hai Abdul Mundzir.

Di dalam hadis lainnya lagi Rasulullah saw bersabda kepada Abdullah ibnu Salaam:

Engkau berada pada agama islam hingga engkau meninggal dunia.

Rasulullah saw bersabda kepada seorang Anshar (yang telah menjamu tamunya di malam hari):

Allah swt suka atau takjub dengan perbuatan kamu berdua (suami istri).

Di dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda kepada seorang Anshar:

Kalian termasuk orang yang paling aku cintai.

Nabi saw bersabda kepada Asyaj Abdul Qais:

Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua pekerti yang disukai Allah swt dan Rasul-Nya, yaitu penyantun dan ketenangan.

Menurut Abu Hamid Al Ghazali, bahwa apabila seseorang memberikan sedekah, maka orang yang menerimanya dianjurkan memperhatikan hal berikut: apabila orang yang bersedekah itu termasuk orang yang suka dipuji sedekahnya, lalu disiarkan, maka si penerima dianjurkan menyembunyikan sedekahnya itu; mengingat untuk menunaikah haknya hendaknya si penerima tidak membantunya kepada perbuatan aniaya, sedangkan harapan mendapat pujian merupakan perbuatan aniaya. Jika si penerima mengetahi bahwa si pemberi sedekah bukan termasuk orang yang suka dipuji, bukan pula orang yang ingin dipuji, penerima dianjurkan memujinya dan menampakkan sedekahnya.

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri, niscaya ia tidak termakan oleh pujian manusia.”

Abu Hamid al Ghazali setelah mengatakan hal di atas, kemudian mengatakan bahwa makna-makna yang tersirat ini dianjurkan agar diperhatikan oleh orang yang memelihara kalbunya. Karena semua perbuatan yang dilakukan oleh anggota tubuh tanpa memperhatikan makna-makna tersirat ini akan menjadi bahan tertawaan setan; sebab banyak pengorbanan, tetapi sedikit manfaat yang didapat. Untuk ilmu semacam inilah patut dikatakan “mempelajari salah satu masalahnya lebih utama daripada ibadah setahun,” mengingat dengan ilmu ini ibadah seumur hiduo akan hidup, dan karena tidak mengetahuinya ibadah tersebut akan mati dan kandas.

Hukum Memuji Orang Lain

Banyak sekali keterangan atau dalil dari hadis yang menjelaskan tentang boleh dan tidaknya memuji orang lain. diantaranya adalah seperti yang berikut ini:

Diriwayatkan di dalam kitab Shahihain melalui Abu Bakrah r.a. yang menceritakan:

Bahwa seorang lelaki disebut di hadapan Nabi saw, lalu lelaki itu disanjung dengan pujian yang baik oleh lelaki lain. maka Nabi saw bersabda, “Celakalah engkau, engkau telah memutuskan leher temanmu, hal ini diucapkan berkali-kali. Jika seseorang diantara kalian diharuskan memuji saudaranya, hendaklah ia mengatakan, ‘Aku menduga demikian dan demikian,’ jika ia melihat keadaan saudaranya memang demikian tetapi yang menilainya adalah Allah, tiada yang dapat membersihkan seseorang di hadapan Allah.”

Nabi saw dalam hadis sahih yang ditujukan kepada Abu Bakar r.a, yaitu:

Bagaimanakah dugaanmu terhadap dua orang, sedangkan yang ketiganya ialah Allah.

Di dalam hadis lain juga ditujukan kepada Abu Bakar r.a. disebutkan:

Engkau bukan termasuk di antara mereka.

Makna yang dimaksud ialah bukan termasuk orang-orang yang memanjangkan kain mereka karena sikap sombong.

Di dalam hadis lain disebutkan:

Hai Abu Bakar, janganlah engkau menangis, sesungguhnya orang yang paling kupercayai dalam bersahabat dan berharta benda adalah engkau. Dan seandainya aku mengambil kekasih dari kalangan umatku, niscaya aku akan mengambil engkau sebagai kekasih.

Aku berharap semoga engkau termasuk di antara mereka.

Maksudnya ialah termasuk diantara orang-orang yang diseru dari semua pintu surga untuk memasukinya.

Di dalam hadis lain disebutkan pula:

Izinkanlah baginya dan sampaikanlah berita gembira masuk surga kepadanya.

Tenanglah engkau, hai Uhud, sesungguhnya di atasmu hanyalah seorang Nabi, orang yang shiddiq (Abu Bakar) dan dua orang syahid (yang kelak akan mati syahid).

Rasulullah saw bersabda:

Aku memasuki surga, lalu aku melihat sebuah gedung, kemudian aku bertanya, “Untuk siapakah ini?” mereka (para malaikat) menjawab, “untuk Umar.” Maka aku bermaksud memasukinya, tetapi aku teringat kepada ghirah (cemburu)mu. Maka Umar berkata, “Demi ayahku dan ibuku, wahai Rasulullah saw, apakah aku cemburu kepadamu.”

Di dalam hadis lain Rasulullah saw bersabda:

Hai Umar, tidak sekali-kali setan bersua denganmu sedang menempuh suatu jalan melainkan ia menempuh jalan lain yang bukan jalanmu.

Bukakanlah bagi Utsman, dan sampaikan berita gembira surga baginya.

Hukum Memuji Orang Lain Dalam Islam

Memuji seseorang dan menyanjungnya dengan menyebutkan sifat-sifatnya yang baik, adakalanya dilakukan di hadapan orang yang dipuji, adakalanya bukan di hadapannya.

Pujian yang dilakukan bukan di hadapan orang yang dipuji tidak dilarang kecuali bila orang yang memuji berlaku melampaui batas dalam pujian hingga terjerumus ke dalam kedustaan. Dalam keadaan seperti itu hukumnya haram karena kedustaannya, bukan karena ia melakukan pujian.

Disunatkan melakukan pujian yang tidak mengandung dusta bila pujian tersebut membawa maslahat dan dan tidak menyebabkan kerusakan yang mengakibatkan orang yang dipuji menjadi terperdaya oleh pujiannya, atau hal lain yang merusak.

Hukum Memuji Seseorang Dihadapannya

Memuji di hadapan orang yang dipuji, hal ini dijelaskan oleh banyak hadis yang mengandung pengertian boleh atau sunat, ada pula hadis-hadis yang mengandung pengertian melarang.

Ulama mengatakan bahwa cara untuk menggabungkan hadis-hadis tersebut dapat tersimpul ke dalam pengertian berikut: apabila orang yang dipuji dihadapannya mempunyai keimaman yang sempurna, keyakinan yang baik, ahli riyadhah jiwa, mempunyai makrifat yang sempurna hingga ia tidak terperdaya dan tidak terfitnah karenanya, serta tidak dipermainkan oleh hawa nafsunya, maka hukumnya tidak haram, tidak pula makruh. Tetapi jika dikhawatirkan akan terjadi sesuatu dari hal-hal tersebut dalam dirinya, maka diharamkan sekali memujinya.

Diantara hadis yang melarang pujian ialah yang diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Al Miqdad r.a:

Ada seorang lelaki memuji khalifah Utsman r.a. Maka Al Miqdad bangkit, lalu duduk bersideku di atas kedua lutut, kemudian ia menaburkan batu kerikil (pasir) pada wajah lelaki itu. Maka khalifah Utsman bertanya, “Mengapa engkau berbuat demikian?”

Al Miqdad menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah saw pernah bersabda, ‘Apabila kalian melihat orang yang memuji, maka taburkanlah debu pada mukanya’.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Musa AL Asy’ari yang menceritakan:

Nabi saw mendengar seorang lelaki memuji lelaki lain dan berlaku berlebihan dalam pujiannya, maka beliau bersabda, “Kalian telah binasa.” Atau “Kalian telah memutuskan punggung lelaki ini.”