Bolehkan Membungkukkan Punggung atau Menundukan Kepala Untuk Menghormati Seseorang

Dimakruhkan membungkukkan punggung dalam keadaan apapun untuk menghormati siapapun. Hal ini berdasarkan hadis melalui Anas r.a. yang menyatakan, “Bolehkah ia membungkukkan badan untuk menghormatinya?” Nabi saw menjawab, “Tidak boleh.”

Hadis ini berpredikat hasan, dan belum pernah ada hadis lain yang menentangnya. Maka tidak ada alasan untuk melanggarnya, karena sesungguhnya ber-iqtida hanyalah kepada Rasulullah saw. Allah swt berfirman dalam surat Al Hasyr ayat 7:

“Dan apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah. Dan apa saja yang dilarang bagi kalian, maka tinggalkanlah.”

Surat An Nuur ayat 63:

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”

Dalam kitabul janaiz disebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan melalui Al Fudhail ibnu Iyadh r.a, yang maknanya tersimpul seperti berikut:

Turutilah jalan-jalan petunjuk dan janganlah kamu keberatan karena orang-orang yang menempuhnya sedikit, dan hati-hatilah kamu terhadap jalan-jalan kesesatan, dan janganlah kamu terbujuk oleh banyaknya orang yang binasa.

Hukum Menghormati Orang Dengan Cara Berdiri

Menghormati orang yang baru masuk dengan cara berdiri, menurut pendapat terpilih hukumnya sunat terhadap orang yang mempunyai keutamaan yang jelas, baik ilmu, kebajikan, kehormatan atau kekuasaannya yang dibarengi dengan memelihara diri dari dosa-dosa, atau ia mempunyai hubungan kekerabatan serta lebih tua, dan lain sebagainya.

Sikap berdiri ini untuk menunjukkah kebajikan dan penghormatan serta memuliakannya, tetapi bukan untuk riya (pamer), bukan pula mengagungkannya. Pendapat ini selalu diamalkan oleh ulama salaf dan ulama khalaf.

Sunah Berjabat Tangan Dengan Wajah Berseri-Seri

Dalam berjabat tangan disunatkan dengan muka yang berseri-seri, mendoakan ampunan untuknya dan doa lainnya.

Diriwayatkan di dalam kitb Shahih Muslim melalui Abu Dzar ra.a. yang menceritakan:

Rasulullah saw telah bersabda kepadaku, “Jangan sekali-kali engkau meremehkan perkara kebajikan barang sedikit pun, sekalipun dalam bentuk engkau bersua dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.”

Berjabatan Tangan Dapat Menghapus Dosa

Diriwayatkan di dalam kitab Ibnu Sinni melalui Al Barra ibnu Azib r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Sesungguhnya dua orang muslim apabila bersua, lalu keduanya berjabat tangan dan saling mengungkapkan rasa keakrabannya dan saling menasihati dengan kebaikan, niscaya bertaburanlah kesalahan keduanya (yakni lenyaplah semua dosa untuknya).

Di dalam riwayat lain disebutkan sebagai berikut:

Apabila dua orang muslim berjumpa, lalu keduanya berjabat tangan dan memuji Allah swt, serta memohon ampun, niscaya Allah swt memberi ampunan kepada keduanya.

Diriwayatkan pula di dalam kitab Ibnu Sinni melalui Anas r.a. dari Nabi saw yang bersabda:

Tidak sekali-kali dua orang hamba yang saling menyukai karena Allah, salah seorang dari keduanya menyambut kedatangan saudaranya, lalu keduanya berjabat tangan dan membaca salawat untuk Nabi saw, melainkan tidaklah keduanya berpisah sebelum dosanya diampuni, baik yang terdahulu maupun yang kemudian.

Diriwayatkan pula di dalam kitab Ibnu Sinni melalui Anas r.a. yang menceritakan:

Rasulullah saw belum pernah menjabat tangan seseorang, lalu melepaskannya, melainkan beliau berdoa, “Allaahumma aatinaa fiddunyaa hasanah, wafil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaa bannaar,” (Ya Allah, berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah diri kami dari siksa neraka).

Ucapan Selain Salam Tidak Perlu Dijawab

Apabila ada orang yang lewat memulai mengucapkan kalimat berikut kepada orang yang dilewatinya, yaitu “Semoga Allah membuat pagi harimu penuh dengan kebaikan,” atau kebahagiaan, atau semoga Allah menguatkanmu, atau semoga Allah tidak membuatmu terasa terasing, atau perkataan lain yang biasa digunakan oleh orang-orang, ucapan itu tidak berhak mendapat jawaban.

Tetapi jika sebelum itu ia mendoakan orang yang dimaksud, hal ini baik, hanya saja sebaiknya tidak dijawab sama sekali guna memberikan peringatan kepadanya karena ia meremehkan salam dan tidak mau mengatakannya, serta sebagai pelajaran baginya, juga bagi yang lain agar selalu memperhatikan memulai dengan salam.

Bolehkan Mengucapkan Salam Kepada Orang Yang Baru Keluar Dari Kamar Mandi

Abu Sa’d Al Mutawalli mengatakan bahwa ucapan selamat yang ditujukan kepada seseorang yang baru keluar dari kamar mandi, seperti ucapan, “Semoga mandimu membawa kebaikan,” tidak ada asalnya.

Tetapi telah diriwayatkan bahwa Ali karamallaahu wajhah pernah mengatakan kepada seorang lelaki yang baru keluar dari kamar mandi, “Semoga engkau suci dan tidak najis.”

Berbeda halnya seandainya seseorang mengatakan kepada orang lain untuk menambah kerukunan dan keakraban serta menarik simpati, “Semoga Allah mengabadikan kenikmatan padamu,: dan ucapan lain yang sejenis berupa doa, hukumnya tidak dilarang.

Hukum Bersalaman atau Berjabat Tangan Dalam Islam

Berjabat tangan di kala berjumpa adalah sunat, dan disepakati oleh semua ulama.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari melalui Qatadah yang menceritakan:

Aku pernah bertanya kepada Anas r.a, “Apakah berjabat tangan dilakukan di kalangan sahabt Nabi saw?” ia menjawab, “Ya.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dalam hadis Ka’b ibnu Malik r.a. tentang kisah tobatnya. Ia menceritakan:

Maka berdirilah Thalhah ibnu Ubaidillah seraya berlari kecil ke arahku, lalu ia menjabat tanganku dan mengucapkan selamat kepadaku.

Diriwayatkan dengan sanad yang sahih di dalam kitab Sunan Abu Daud melalui Anas r.a. yang menceritakan:

Ketika penduduk negeri Yaman tiba, Rasulullah saw bersabda kepada mereka, “Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka adalah orang yang mula-mula datang dengan membawa tradisi berjabat tangan.”

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud, Sunan Turmudzi dan Sunan Ibnu Majah melalui AL Barra r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Tidak sekali-kali dua orang muslim saling bersua, lalu keduanya berjabat tangan, melainkan keduanya diampuni sebelum berpisah.

Diriwayatkan di dalam kitab Imam Turmudzi dan kitab Ibnu Majah melalui Anas r.a. yang menceritakan:

Seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah saw, salah seorang lelaki dari kami bersua dengan saudara atau temannya, apakah ia boleh menundukkan punggung untuk menyambutnya?”

Beliau menjawab, “Tidak boleh.” Lelaki itu bertanya lagi, “Apakah ia boleh memeluk, lalu menciumnya?” Nabi saw menjawab, “Tidak boleh.”

Lelaki itu bertanya lagi, “Bolehkah ia menjabat tangannya?” Nabi saw bersabda, “Ya, boleh.”

Imam Turmudzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.

Diriwayatkan di dalam kitab Muwaththa’ Imam Malik melalui Atha ibnu Abdullah Al Khurrasani yang menceritakan:

Rasulullah saw pernah bersabda kepadaku, “Saling berjabat tanganlah kalian, niscaya rasa dendam akan lenyap; dan saling berhadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling menyukai dan permusuhan akan lenyap.”

Berjabat tangan disunatkan saat berjumpa. Adapun berjabat tangan yang biasa berlaku di kalangan orang-orang sesudah mereka melakukan salat subuh dan asar, hal tersebut tidak ada dalilnya dalam syariat menurut ketentuan ini, tetapi hal tersebut tidak dilarang.

Sesungguhnya hukum asal mushafahah (saling berjabat tangan) itu sunat; dan sikap orang-orang yang biasa melakukan jabat tangan pada saat-saat tertentu, namun tidak melakukannya pada berbagai saat lainnya, hal tersebut tidak bertentangan dengan jabat tangan yang dibenarkan oleh syariat.

Syekh Imam Abu Muhammad ibnu Abdus Salaam di dalam kitabnya yang berjudul Al Qawa’id mengatakan bahwa bid’ah itu terbadi atas lima macam, yaitu bid’ah wajib, bid’ah haram, bid’ah makruh, bid’ah sunat, dan bid’ah yang diperbolehkan. Diantara contoh bid’ah yang diperbolehkan ialah berjabat tangan sesudah salat subuh dan asar.

Dianjurkan agar menghindari berjabat tangan dengan amrad (banci) yang wajahnya menawan, karena memandangnya sudah haram. Setiap orang yang haram dipandang, haram pula memegangnya, bahkan memegangnya lebih diharamkan.

Memandang kepada wanita lain yang bukan mahram diperbolehkan bila orang yang bersangkutan bermaksud mengawininya, juga dalam keadaan jual beli, menerima dan memberi serta keadaan lain yang sejenis, tetapi tidak boleh memegangnya dalam keadaan bagaimanapun juga.