Pemberian atau hibah yang jelas penujuannya adalah milik orang yang dituju

Jika pemberian bersifat mutlak, maka menginterpretasikan pemberian tersebut buat orang-orang yang disebut, yaitu ayah si anak, pelayan orang sufi, dan shahibul walimah karena memandang kriteria kebanyakan yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang menjadi tujuan pemberian tersebut. demikianlah menurut tradisi syara’. Maka tradisi syara’ diprioritaskan atas tradisi lain yang berbeda dengannya.

Lain halnya dengan masalah yang tidak ada campur tangan tradisi syara’ di dalamnya, yang menjadi ketentuan hukum adalah tradisi belaka.

Seandainya seseorang bernazar akan memberikan sejumlah harta kepada wali yang telah meninggal dunia, maka jika pemberian hartanya itu dia maksudkan untuk dimiliki oleh wali tersebut, berarti nazarnya tidak dianggap. Tetapi jika pemberi memberikannya secara mutlak, jika pada kuburan si wali yang bersangkutan diperlukan ada suatu biaya untuk kemaslahatannya, maka pemberian tersebut dibelanjakan untuk kemaslahatannya. Apabila tidak perlu, jika di dekat kuburan si wali tersebut terdapat suatu kaum yang sudah merupakan tradisi menjadi tujuan untuk bernazar kepada wali, maka pemberian itu diberikan kepada mereka.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Haram menerima hadiah yang berdasar pada motivasi balas jasa

Seandainya seseorang memberikan hadiah kepada orang yang menyelamatkan dirinya dari kejahatan orang yang zalim dengan tujuan agar orang tersebut terus aktif menolongnya, maka penolong tidak halal menerima hadiah tersebut. tetapi jika bukan karena motivasi tersebut, maka si penolong halal menerima hadiah itu sekalipun menolong orang tersebut merupakan keharusan baginya.

Hadiah yang dimaksudkan untuk membeli sesuatu haruslah dibelikan

Seandainya seseorang mengatakan, “Ambillah ini dan belikanlah sesuatu buatmu sendiri,” maka ia wajib membeli barang itu selagi tidak dimaksudkan untuk berfoya-foya, atau keadaanorang yang diberi menunjukkan bahwa dia bukan orang yang suka foya-foya.

Hadiah-hadiah yang diberikan kepada seorang perempuan dapat diambil kembali bila lamarannya ditolak

Barang siapa menyerahkan kiriman makanan atau kiriman lainnya kepada wanita yang dilamarnya atau kepada wakil atau kepada walinya dengan maksud untuk mengawini (wanita tersebut), kemudian ternyata sebelum akad nikah pasrahan (lamaran) itu ditolak, maka dia berhak mengambilnya kembali dari orang yang menerimanya.

Hadiah yang tetap menjadi pemberi hadiah

Seandainya seseorang mengirimkan suatu hadiah kepada seseorang, kemudian ternyata orang yang dituju meninggal dunia sebelum hadiah itu sampai kepadanya, maka hadiah tersebut tetap menjadi milik pemberi hadiah.

Jika pemberi hadiah meninggal dunia, maka pengantar hadiah tidak boleh membawanya langsung kepada alamat yang dituju, sebelum mendapat izin dari ahli warisnya.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Mengapa Kedudukan Ibu Lebih Utama Daripada Ayah

Imam Nawawi di dalam kitab Raudhah telah mengutip dari Ad Darini, yaitu jika seseorang hendak bersikap pilih kasih dalam memberi kepada orang tuanya, hendaklah ia lebih mengutamakan ibunya. Dia menetapkan demikian karena berlandaskan kepada apa yang tersebut di dalam hadis, bahwa pihak ibu berhak memperoleh dua pertiga dari bakti anaknya. Bahkan di alam kitab Muslim Imam Nawawi telah mengutip pula dari Al-Mahasibi tentang adanya kesepakatan mengutamakan ibu daripada ayah dalam hal berbakti.

Hadiah-hadiah yang diperoleh dari khitanan

Hadiah-hadiah yang diperoleh di saat khitanan adalah milik ayah. Menurut segolongan ulama merupakan milik anak yang bersangkutan. Berdasarkan hal ini berarti ayah hanya bertugas sebagai penerima.

Pokok permasalahan yang membuat mereka berselisih pendapat ialah bila pemberi memutlakkannya; dengan kata lain, hadiah tidak ditentukan buat salah seorang dari keduanya (ayah atau anak yang dikhitan). Tetapi jika ditentukan buat salah seorang dari keduanya, maka hadiah itu adalah milik orang yang dituju oleh si pemberi hadiah, menurut kesepakatan semua.

Hal seperti ini diberlakukan pula terhadap yang diberikan kepada pelayan seorang sufi. Maka pemberian tersebut hanya untuk pelayanan jika diberikan secara mutlak atau ditujukan buat si pelayan, dan buat ahli sufi bila yang dituju adalah dia.

Apabila pemberian ditujukan kepada mereka berdua (seseorang sufi dan pelayanannya), maka pemberian tersebut dibagi dua di antara mereka.

Dari masalah di atas dapat disimpulkan bahwa suatu tradisi yang berlaku di kalangan sebagian penduduk daerah yang meletakkan cawan di hadapan tuan rumah walimah dengan tujuan agar para undangan menaruh uang dirham pada cawan tersebut. selanjutnya hasil pengumpulannya dibagikan kepada pencukur (bayi dalam akikahnya) atau kepada juru khitan atau kepada selain keduanya. Rincian dari ketentuan tersebut di atas diberlakukan pula terhadap masalah ini.

Jika pemberian tersebut dimaksudkan hanya untuk juru khitan atau beserta tean-teman yang membantunya, maka maksud tersebut harus dilaksanakan. Jika pemberiannya secara mutlak, maka menjadi milik shahibul hajat; dia berhak memberikannya kepada siapa yang ia kehendaki.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dalam masalah ini ketentuan tradisi tidak dapat berlaku. Tetapi jika yang dimaksud adalah berbeda dengan tradisi, masalahnya sudah jelas.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Bolehkah Pilih Kasih Kepada Anak

Di dalam kitab Al Jawahir disebutkan dari Az Zubaili bahwa perempuan belum baligh yang dikawinkan secara paksa dan tidak mengetahui jumlah mas kawinnya, ia dapat dibenarkan melalui sumpahnya.

Al-Ghuzzi mengatakan, “Demikian pula halnya wanita dewasa yang dikawinkan secara paksa, jika keadaannya memang menunjukkan bahwa dirinya benar-benar tidak mengetahui jumlah mas kawinnya.”

Cara membebaskan tanggungan yang tidak diketahui jumlahnya

Cara pembebasan terhadap tanggungan yang tidak diketahui jumlahnya ialah, hendaknya seseorang membebaskan jumlah yang diketahuinya secara global, bahwa jumlah itu tidak kurang dari seluruh piutangnya, misalnya seribu, sedangkan dia ragu apakah piutangnya mencapai seribu atau kurang dari itu.

Seandainya seseorang membebaskan tanggungan sesuatu barang, sedangkan dia berkeyakinan bahwa dirinya tidak mempunyai hak terhadap barang tersebut, lalu tampak jelas baginya bahwa dia mempunyai hak terhadapnya, maka orang yang dibebaskannya tetap terlepas dari tanggungan.

Berbuat pilih kasih dalam pemberian kepada anak-anak

Seseorang makruh berlaku pilih kasih dalam pemberian kepada anak-anaknya hingga ke bawah, sekalipun kepada cucu, sedangkan anak-anaknya masih ada, tanpa membedakan apakah pemberian tersebut adalah hibah atau hadiah atau sedekah atau wakaf. Hal serupa diberlakukan pula dalam masalah memberi kepada orang tua hingga ke atas, tanpa membedakan antara orang tua laki-laki dan lainnya.

Kecuali karena perbedaan keperluan atau perbedaan keutamaan (baru diperbolehkan bersikap pilih kasih dalam memberi), menurut pendapat yang kuat. Sejumlah ulama ada yang mengatakan bahwa sikap pilih kasih dalam memberi ini hukumnya haram.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Pengertian Hibah Menurut Imam Nawawi

Imam Nawawi mengatakan bahwa seandainya seseorang menghibahkan sesuatu dan sudah diterima oleh pihak penerima hibah, kemudian penghibah meninggal dunia, lalu ahli warisnya mendakwakan bahwa saat itu keadaan penghibah sedang sakit, sedangkan penerima hibah dalam keadaan sehat wal afiat, maka pihak penerima hibah dapat dibenarkan.

Seandainya kedua belah pihak masing-masing mengajukan bukti, maka yang didahulukan adalah bukti dari pihak ahli waris, sebab bukti yang ada pada ahli waris memiliki informasi yang lebih.

Piutang yang dihibahkan kepada pengutang sama saja dengan pembebasan utangnya. Karena itu, tidak diperlukan adanya kabul, mengingat pertimbangan segi makna.

Tetapi jika dihibahkan kepada selain pengutang, maka termasuk hibah yang sesungguhnya, jika kedua belah pihak mengetahui jumlahnya. Demikian pendapat yang dinilai sahih oleh sejumlah ulama karena mengikuti nash Imam Syafii.

Membebaskan tanggungan yang tidak diketahui jumlahnya

Tidak sah membebaskan tanggungan yang jumlahnya tidak diketahui (misteri) oleh pihak yang memberi utang atau oleh pihak pengutang. Tetapi sah terhadap sesuatu yang (misteri tetapi) ada imbalannya, misalnya dikatakan, “Jika engkau membebaskan aku (dari tanggunganku), maka engkau kuceraikan.” Terhadap selain masalah tersebut, tidak sah menurut pendapat yang dapat dipegang.

Di dalam qaul qadim disebutkan bahwa sah membebaskan tanggungan terhadap sesuatu yang tidak diketahui secara mutlak.

Seandainya seseorang melakukan suatu pembebasan, kemudian dia mendakwakan bahwa dia tidak mengetahui adanya pembebasan tersebut, maka secara lahiriah perkataannya tidak dapat diterima, melainkan hanya secara batiniah saja.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani