Ketaatan Hati

Beberapa hal yang termasuk ke dalam ketaatan hati diantaranya adalah:

Iman kepada Allah

Hendaknya kita mengetahui bahwa Allah itu Maha Esa, tidak ada duanya dan tidak bodoh, dia Maha Mengetahui, Dia Maha Kuasa dan tidak lemah, Dia Maha Adil.

Yakin, yaitu hatinya mengi’tikadkan agama islam dengan itikad yang benar dan mantap, terlepas dari keragu-raguan disertai mengucapkan dua kalimah syahadat. Inilah hakikat orang mukmin yang dapat ditetapkan keimanannya dan selamat dari kekaldi neraka.

Ikhlas

Yaitu membersihkan panca inderanya lahi dan batin dari budi pekerti tercela. Demikian dikatakan Al ‘Azizi, dan inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi Saw:

“Siapa ikhlas karena Allah empat puluh hari, maka nampaklah sumber hikmah dari hatinya pada lisannya.”

Tawadhu

Yaitu memandang bahwa dirinya lebih utama daripada seseorang, dan tidak menganggap bahwa dirinya punya kelebihan daripada orang lain. tetapi dia merasa kalau dirinya rendah dan hina. Orang yang tawadhu karena keagungan Allah, maka dia akan diluhurkan-Nya. Nabi Saw bersabda:

“Siapa yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah mengangkat derajatnya (di dunia dan akhirat).”

Nabi Saw juga bersabda, “Seutama-utama ibadah adalah merendahkan diri.” Dikatakan pula, “Merendahkan diri itu adalah tangga kemuliaan.”

Memberikan nasehat orang islam

Yaitu menyampaikan ucapan dan amal dengan ikhlas kepada orang-orang islam, dengan mengajarkan agama kepada mereka, bersedekah kepada orang-orang fakir mereka, dan menjauhi menipumereka. Jika engkau menjual dagangan kepada orang lain engkau wajib menjelaskan semua cacatnya, seperti kain yang tertumbuk. Sebab jika kamu merahasiakannya maka kamu adalah orang yang dzalim dan penipu, sedangkan menipu itu haram dalam jual beli dan bekerja. Begitu pula orang yang mengetahui cacat dalam jual beli harus menerangkannya.

Sakha’

Yaitu murah hati dan dermawan. Nabi Saw bersabda, “Pemurah itu dekat dari Allah dan jauh dari siksa-Nya serta dekat dengan aku. Pemurah itu tidak akan masuk neraka dan sayalah temannya, sedangkan orang bakhil akan masuk neraka dan iblislah temannya.”

Hakikat murah hati adalah hendaknya kamu mendermakan kelebihan dari kebutuhanmu dan kamu merasa bahwa derma itu lebih besar nilainya, karena derajat pemurah yang paling tinggi adalah kamu mendermakan harta kepada orang lain sedangkan kamu membutuhkannya.

Husnudzan yaitu baik sangka

Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya berbaik sangka kepada Allah termasuk sebaik-baik ibadah.”

Nabi Saw juga bersabda, “Allah Yang Maha Agung dan Maha Luhur berfirman, ‘Aku dalam prasangkan hamba-Ku pada-Ku. Jika ia berpraswangka baik maka ia baik, dan jika ia berprasangka buruk, maka buruklah ia.”

Mengagungkan syi’ar Allah

Yaitu mempergunakan tanda-tanda agama Allah yang mana agama itu ditegakkan padanya, seperti masjid-masjid, surau, bukit shafa dan Marwah.

Maksiat hati dan Sifat Tercela

Maksiat hati merupakan suatu hal yang sifatnya batiniah (bukan lahiriah), artinya suatu perkara yang muncul dari dalam hati. Banyak sekali perkara yang termasuk kemaksiatan hati, beberapa diantaranya adalah yang seperti di bawah ini.

Meremehkan terhadap apa yang diagungkan Allah berupa keta’atan dan kemaksiatan. Nabi Muhammad bersabda:

Allah Ta’ala menyamarkan tiga perkara dalam tiga perkara: keridhaan-Nya dalam keta’atan kepada-Nya, maka janganlah kamu meremehkan sesuatu dari keta’atan; kemurkaan-Nya dalam maksiat kepada-Nya, maka janganlah kamu meremehkan sesuatu dari kemaksiatan; dan menyamarkan kekasih-Nya pada makhluk-Nya, maka janganlah kamu meremehkan pada salah seorang dari mereka.

Meremehkan kitab suci Al Qur’an, Taurat, Injil dan Zabur. Begitu juga membaca Al Qur’an disertai memukul kendang dan meniup seruling serta membunyikan alat musik lainnya.

Meremehkan ilmu syariat

Seperti ilmu hadis, tafsir, fiqih, dan ilmu alat seperti nahwu, sharaf, balaghah, ma’ani, dan lainnya.

Meremehkan adanya surga dan neraka, pembangkitan dari kubur dan perhitungan amal pada hari kiamat (hisab). Menurut Ibnu Hajar bahwa mengingkari surga dan neraka sekarang ini tidaklah kufur, sebab golongan mu’tazilah mengingkarinya untuk sekarang. Adapun mengingkari adanya surga dan neraka pada hari kiamat adalah kafir, sebab mendustakan nash-nash mutawatir lagi qath’i.

Su’udzan (Berburuk Sangka)

Su’udzan merupakan sebuah perkara yang sangat buruk dan dilarang dalam islam, karena hal ini termasuk ke dalam salah satu penyakit hati (maksiat hati), dan orang yang mempunyai sifat ini berdosa kepada Allah.

Su’udzan itu dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu su’udzan kepada Allah dan su’udzan kepada makhluk.

Su’udzan kepada Allah

Yaitu berburuk sangka kepada Allah, dan hal ini adalah haram seperti ucapan jelek. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sebesar-besar dosa besar adalah buruk sangka terhadap Allah Ta’ala ‘azza wa jalla.”

Seseorang yang berbuat dosa lalu dia mengetahui bahwa Allah Ta’ala telah menetapkannya kepadanya dan mengharapkan ampunan-Nya maka Allah mengampuni dosanya. Sebab orang buruk sangka terhadap Allah mengira bahwa Allah tidak akan mengampuni dosanya.

Su’udzan terhadap makhluk Allah

Yaitu buruk sangka terhadap orang-orang islam yang baik-baik dan ahli berbuat kebaikan. Berbeda dengan buruk sangka terhadap orang fasik, maka tidak berdosa seperti apa yang nampak pada perbuatan mereka. Larangan buruk sangka terhadap sesama mukmin sebagaimana firman Allah dalam surat Al hujurat ayat 12:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…”

Bakhil terhadap apa yang diwajibkan oleh Allah

Sebagai makhluk Allah, kita harus selalu berusaha melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Janganlah menjadi orang yang bakhil terhadap suatu perkara yang sudah diwajibkan Allah.

Bakhil terhadap apa yang diwajibkan oleh Allah yaitu menahan hatinya untuk melaksanakan kewajiban seperti zakat dan yang lain serta enggan menolong memberikan bantuan.

Allah berfirman dalam surat Al Ma’un ayat 7, “Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”

Surat Al Imran ayat 180:

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Nabi Saw juga bersabda, “Dua perkara tidak akan berkumpul di dalam hati seorang mukmin, yaitu bakhil dan khianat.”

Nabi bersabda, “Empat golongan manusia tidak akan memperoleh bau surga sekalipun baunya terjangkau jarak lima ratus tahun, yaitu: orang bakhil, orang yang menyebut-nyebut pemberian, orang yang biasa minum arak, dan orang yang durhaka terhadap kedua orang tuanya.”

Menurut Al Faqih bahwa ada tiga golongan manusia yang doanya tidak akan dikabulkan, yaitu: orang makan yang haram, orang yang banyak menggunjing orang lain, dan orang yang di dalam hatinya terdapat kebakhilan atau dendam atau dengki terhadap orang-orang islam.

Macam-Macam Penyakit Pada Hati

Penyakit hati merupakan suatu penyakit yang sifatnya batiniah (bukan lahiriah), artinya penyakit yang muncul dari dalam hati. Banyak sekali beberapa jenis penyakit hati, beberapa diantaranya adalah yang seperti di bawah ini.

Riya dan Pamer

Riya artinya seseorang yang melakukan amal kebaikan karena manusia bukan karena Allah. dia menuntut dalam hatinya agar amal kebaikannya itu dilihat oleh manusia, supaya mendapat sanjungan.

Riya itu ada dua macam, yaitu yang jelas dan samar. Riya’ jelas tuntutan itu ada pada ibadah dan kebaikannya, sedangkan riya’ samar tuntutan itu bukan dalam ibadah dan bukan kebaikannya, tetapi ia menginginkan agar para manusia itu menampakkan ibadahnya.

ujub dalam ketaatan kepada Allah

yaitu mengagumi amalnya, dengan memandang ibadahnya keluar dari dirinya sendiri tidak merasa dari karunia Allah. seperti seorang ahli ibadah mengagumi ibadahnya, orang alim mengagumi ilmunya, dan orang yang ta’at mengagumi keta’atannya.

Dalam As Suluk ila mulkil Muluk, ujub adalah kesombongan (kebanggaan) yang diperoleh dalam batin dengan khayalan yang sempurna dari amal atau ilmu.

Dendam terhadap hamba Allah

Yaitu merasa ingin membalas secara berlebih-lebihan yang terpendam dalam hati untuk melampiaskan kemarahannya pada orang lain. perbuatan itu keluar dari kedengkian, permusuhan dan memutus hubungan serta mendiamkan sesama.

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Tidak boleh bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih tiga hari, maka siapa mendiamkan lebih dari tiga hari lalu dia mati niscaya masuk neraka.”

Rasulullah Saw juga bersabda:

Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling menipu, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi dan janganlah seorang di antara kalian menjual di atas jualan yang lain, dan hendaklah kamu semua menjadi hamba Allah yang bersaudara.