Pengertian Hasud

Hasud artinya dengki, yaitu membenci kenikmatan Allah yang diberikan kepada saudaranya muslim dan merasa keberatan jatuhnya kenikmatan itu serta mengharapkan agar kenikmatan itu segera lenyap (hilang) dari saudaranya muslim. Maka jika ia tidak merasa benci terhadap kenikmatan yang ada pada saudaranya dan tidak mengharapkan hilangnya kenikmatan, tetapi ia punya keinginan agar dirinya dapat memperoleh seperti saudaranya, maka hal ini disebut iri hati dan tidak tercela.

Nabi Saw bersabda, “Orang mukmin itu iri hati (ingin seperti saudaranya), sedangkan orang munafik itu dengki.”

Firman Allah dalam surat An Nisa ayat 32, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.”

Maksudnya ialah melarang mengharapkan berpindahnya kenikmatan itu dari saudaranya agar pindah pada dirinya.

Sengaja melakukan maksiat kepada Allah

Apabila kesengajaan maksiat itu termasuk maksiat hati maka kesengajaan membiasakan ketaatan termasuk ketaatan hati.

Dalil tentang iri hati dan hasud serta dengki

Imam Baihaqi meriwayatkan bahwa:

“Sesungguhnya Allah melihat hamba-hamba-Nya pada malam nisfu sya’ban, lalu Allah mengampuni dosa orang-orang yang mohon ampun, memberikan rahmat kepada orang-orang yang memintanya dan menangguhkan pengampunan dosa bagi orang-orang yang dengki dan dibiarkan sebagaimana sikap yang dimilikinya.”

Menurut riwayat Ibnu Zanjaweh:

“Amal perbuatan anak cucu Adam dihadapkan kepada Allah pada setiap hari senin dan kamis, lalu Allah memberikan rahmat kepada orang-orang yang minta rahmat dan mengampuni dosa orang-orang yang mohon ampunan. Kemudian Allah membiarkan orang-orang yang dengki.”

Dalam riwayat lain diterangkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda yang artinya sebagai berikut:

“Perbuatan baik itu dapat menjaga dari mati mendadak (mati yang jelek).

Dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa sebagian dari iman (orang yang alim) ada yang bertugas untuk memberi fatwa kepada sebagian amir (walikota atau gubernur), lalu berkata, “Berhati-hatilah kamu jangan sampai berbuat sombong, karena sesungguhnya sombong itu adalah permulaan dosa yang dilakukan oleh iblis kepada Allah, lalu membaca ayat, ‘Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, bersujudlah kepada Adam!’ lalu mereka bersujud kecuali iblis.” Berhati-hatilah kamu jangan sampai berbuat tamak, karena sesungguhnya perbuatan tamak itu menjadi sebab Nabi Adam dikeluarkan dari surga. Dimana Allah telah menempatkannya di surga yang luasnya tujuh langit dan bumi. Allah berfirman, “Makanlah apa saja yang ada di dalamnya, kecuali satu buah dari satu pohon.” Lantaran ketamakan Adam, ia pun memakannya. Akhirnya dikeluarkan oleh Allah dari surga. Kemudian penasehat Amir itu membaca ayat, “Kemudian Allah berfirman, ‘Turunlah kalian berdua dari surga’.”

Berhati-hatilah kamu jangan sampai memiliki sifat iri hati, karena perangai itu yang mendorong anak Adam membunuh saudara kandungnya, kemudian membaca ayat, “Bacalah kepada mereka kisah dua anak Adam dengan benar. Di saat keduanya berkorban, lalu diterima oleh Allah salah satunya dan yang lain tidak. lalu yang tidak diterima berkata, “Sungguh aku akan membunuhmu,” lalu saudaranya berkata, “Allah akan menerima korban dari orang-orang yang bertakwa.”

Menurut sebagian ulama yang lain sebab Qabil membunuh saudaranya sendiri adalah dikarenakan istri Habil lebih cantik daripada istri Qabil, akhirnya muncul sifat hasud sehingga berakhir dengan pembunuhan.

Dalil tentang bahayanya Hasud dan dengki serta iri hati

Allah swt berfirman dalam Al Qur’an sebagai berikut, “Apakah mereka iri hati kepada manusia atas apa yang diberikan oleh Allah daripada karunia-Nya kepada mereka.”

Rasulullah saw juga telah bersabda sebagaimana telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah sebagai berikut:

“Iri hati itu dapat memakan pahala kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

Ad Dailami juga meriwayatkan:

“Iri hati itu dapat merusak keimanan sebagaimana jadam merusak madu.”

Sementara Imam Thabrani meriwayatkannya sebagai berikut:

“Tidak termasuk umatku orang yang mempunyai kepribadian iri hati, suka memfitnah, melakukan perdukunan, dan aku tidak termasuk dari golongannya.”

Sedang Imam Hakim dan Ad Dailami meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

“Sesungguhnya iblis berkata kepada anak buahnya, “Isilah hati anak cucu Adam dengan sifat hasud dan zalim, karena sesungguhnya dua perangai itu sudah menyamai di sisi Allah dengan syirik.”

Imam Ahmad dan Turmudzi juga telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda yang artinya:

“Telah merasuk kepadamu umat-umat dahulu sebelum kamu, yaitu iri hati dan permusuhan. Padahal masing-masing daripadanya adalah pencukur, pencukur agama bukan pencukur rambut. Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam kekuasaan-Nya. Kamu tidak akan masuk ke dalam surga sehingga kamu betul-betul beriman, dan kamu tidak dianggap beriman sehingga kamu saling mencintai. Maukahkamu aku beritahu tentang sesuatu yang jika kamu lakukan, niscaya akan terbina kasih sayang, yaitu sebarkan ucapan salam di kalangan kamu (jika bertemu).”

Kisah tentang bahayanya sifat hasud

Ada seorang yang shalih yang selain duduk di dekat raja untuk memberikan fatwa-fatwa yang sangat berguna bagi dirinya (raja) lalu berkata, “Berbuatlah kebaikan kepada orang-orang yang berakhlak mulia, karena orang yang berbuat jahat akan binasa oleh kejahatannya itu sendiri.” Akhirnya ada orang bodoh yang dengki kepada penasehat raja itu, karena akrab dan intimnya dengan sang raja. Lalu ia berusaha dengan berbagai cara agar dapat membunuh penasehat raja itu, lalu ia berkata kepada raja, “Sesungguhnya penasehatmu itu telah menganggap bahwa dirimu berbau busuk, sebagai buktinya jika kamu berdekatan dengannya, maka ia akan menutup hidungnya agar tidak menghirup baumu yang busuk itu.” Raja mendengar hasutan itu lalu berkata, “Sudah pulanglah, aku akan mengecek kebenaran keteranganmu ini.”

Akhirnya orang yang hasud itu memanggil penasehat raja dan diajak makan di rumahnya, lalu diberinya makanan yang banyak bawang putihnya. Lalu penasehat raja itupun keluar dari rumah orang yang hasud dan langsung pergi ke rumah raja sebagaimana biasanya. Lalu berkata, “Berbuat kebaikan kepada orang-orang yang berakhlak baik,” sebagaimana nasehat sebelumnya. Lalu raja berkata kepadanya, “Mendekatlah kamu kepadaku.” Dia lalu mendekat pada raja sambil menutup mulutnya agar raja tidak mencium bau bawang putih yang telah dimakannya. Maka raja berkata dalam hatinya, “Aku tidak mempunyai perkiraan sesuatupun kecuali orang yang membawa berita kemarin adalah benar perkataannya.”

Biasanya raja tidak pernah menulis dengan tulisannya sendiri, kecuali untuk mmeberikan hadiah. Akhirnya raja itu menulis surat kepada sebagian pegawainya yang berisikan, “Jika pembawa surat ini datang kepadamu, maka sembelihlah, dan kupaslah kulitnya, lalu isilah kulit itu dengan jerami dan kirimlah seorang utusan untuk membawanya kepadaku.”

Akhirnya orang shalih yang menjadi penasehat raja itu keluar bertemu dengan orang yang hasud yang telah melaporkannya kepada raja kemarin, lalu berkata, “Surat siapakah ini?” Jawabnya, “Ini surat dari raja yang memberikan hadiah kepadaku.” Lalu orang yang hasud itu berkata, “Berikan surat itu kepadaku.” Jawabnya, “Ya, surat ini kuberikan kepadamu.”

Lalu orang yang hasud itu mengambil surat tersebut dari penasihat raja, dan langsung pergi ke pegawai raja yang dituju. Pegawai raja itu berkata, “Isi suratmu itu agar aku menyembelihmu dan kulitmu dikupas.” Maka orang yang hasud itu berkata, “Sesungguhnya surat ini bukan untukku, berhati-hatilah kamu dalam memutuskan persoalanku, terlebih dahulu aku menghadap raja.” Kemudian pegawai raja itu berkata, “Tidak ada tawar menawar bagi surat raja.” Akhirnya orang yang hasud itu disembelih, lalu dikupas kulitnya dna dikirimkan pada raja setelah diisi dengan jerami.

Kemudian penasehat raja kembali kepada raja sebagaimana biasanya dan berkata sebagaimana biasanya pula. Maka raja tercengang dibuatnya, lalu bertanya, “Bagaimana tentang surat kemarin?” Jawabnya, “Si Fulan bertemu denganku lalu meminta agar surat itu diberikan kepadanya, akupun mengabulkan permintaannya.”

Kemudian raja berkata, “Sesungguhnya Fulan itu yang telah memberitahu kepadaku bahwa kamu pernah berkata kepadanya bahwa aku berbau busuk.” Maka penasehat raja itu berkata, “Aku tidak pernah berkata begitu.” Lalu raja berkata lagi, “Lalu mengapa kamu meletakkan tanganmu di hidung dan mulutmu ketika berbicara kepadaku?”. Maka penasehat raja itu menjelaskan duduk persoalannya, “Ketika itu aku baru saja dijamu oleh si Fulan makanan yang banyak mengandung bawang putihnya, sehingga mulutku berbau tidak sedap, karena itu terpaksa aku menutup hidung dan mulutku supaya paduka tidak terganggu.” Lalu raja berkata, “Benar ajaran nasehatmu sekarang dan kembalilah ke tempatmu, sungguh orang yang berbuat kejahatan pasti akan menemui balasannya sendiri.”

Kisah tentang bahayanya sifat hasud

Ada seorang yang shalih yang selain duduk di dekat raja untuk memberikan fatwa-fatwa yang sangat berguna bagi dirinya (raja) lalu berkata, “Berbuatlah kebaikan kepada orang-orang yang berakhlak mulia, karena orang yang berbuat jahat akan binasa oleh kejahatannya itu sendiri.” Akhirnya ada orang bodoh yang dengki kepada penasehat raja itu, karena akrab dan intimnya dengan sang raja. Lalu ia berusaha dengan berbagai cara agar dapat membunuh penasehat raja itu, lalu ia berkata kepada raja, “Sesungguhnya penasehatmu itu telah menganggap bahwa dirimu berbau busuk, sebagai buktinya jika kamu berdekatan dengannya, maka ia akan menutup hidungnya agar tidak menghirup baumu yang busuk itu.” Raja mendengar hasutan itu lalu berkata, “Sudah pulanglah, aku akan mengecek kebenaran keteranganmu ini.”

Akhirnya orang yang hasud itu memanggil penasehat raja dan diajak makan di rumahnya, lalu diberinya makanan yang banyak bawang putihnya. Lalu penasehat raja itupun keluar dari rumah orang yang hasud dan langsung pergi ke rumah raja sebagaimana biasanya. Lalu berkata, “Berbuat kebaikan kepada orang-orang yang berakhlak baik,” sebagaimana nasehat sebelumnya. Lalu raja berkata kepadanya, “Mendekatlah kamu kepadaku.” Dia lalu mendekat pada raja sambil menutup mulutnya agar raja tidak mencium bau bawang putih yang telah dimakannya. Maka raja berkata dalam hatinya, “Aku tidak mempunyai perkiraan sesuatupun kecuali orang yang membawa berita kemarin adalah benar perkataannya.”

Biasanya raja tidak pernah menulis dengan tulisannya sendiri, kecuali untuk mmeberikan hadiah. Akhirnya raja itu menulis surat kepada sebagian pegawainya yang berisikan, “Jika pembawa surat ini datang kepadamu, maka sembelihlah, dan kupaslah kulitnya, lalu isilah kulit itu dengan jerami dan kirimlah seorang utusan untuk membawanya kepadaku.”

Akhirnya orang shalih yang menjadi penasehat raja itu keluar bertemu dengan orang yang hasud yang telah melaporkannya kepada raja kemarin, lalu berkata, “Surat siapakah ini?” Jawabnya, “Ini surat dari raja yang memberikan hadiah kepadaku.” Lalu orang yang hasud itu berkata, “Berikan surat itu kepadaku.” Jawabnya, “Ya, surat ini kuberikan kepadamu.”

Lalu orang yang hasud itu mengambil surat tersebut dari penasihat raja, dan langsung pergi ke pegawai raja yang dituju. Pegawai raja itu berkata, “Isi suratmu itu agar aku menyembelihmu dan kulitmu dikupas.” Maka orang yang hasud itu berkata, “Sesungguhnya surat ini bukan untukku, berhati-hatilah kamu dalam memutuskan persoalanku, terlebih dahulu aku menghadap raja.” Kemudian pegawai raja itu berkata, “Tidak ada tawar menawar bagi surat raja.” Akhirnya orang yang hasud itu disembelih, lalu dikupas kulitnya dna dikirimkan pada raja setelah diisi dengan jerami.

Kemudian penasehat raja kembali kepada raja sebagaimana biasanya dan berkata sebagaimana biasanya pula. Maka raja tercengang dibuatnya, lalu bertanya, “Bagaimana tentang surat kemarin?” Jawabnya, “Si Fulan bertemu denganku lalu meminta agar surat itu diberikan kepadanya, akupun mengabulkan permintaannya.”

Kemudian raja berkata, “Sesungguhnya Fulan itu yang telah memberitahu kepadaku bahwa kamu pernah berkata kepadanya bahwa aku berbau busuk.” Maka penasehat raja itu berkata, “Aku tidak pernah berkata begitu.” Lalu raja berkata lagi, “Lalu mengapa kamu meletakkan tanganmu di hidung dan mulutmu ketika berbicara kepadaku?”. Maka penasehat raja itu menjelaskan duduk persoalannya, “Ketika itu aku baru saja dijamu oleh si Fulan makanan yang banyak mengandung bawang putihnya, sehingga mulutku berbau tidak sedap, karena itu terpaksa aku menutup hidung dan mulutku supaya paduka tidak terganggu.” Lalu raja berkata, “Benar ajaran nasehatmu sekarang dan kembalilah ke tempatmu, sungguh orang yang berbuat kejahatan pasti akan menemui balasannya sendiri.”