Keutamaan Berbuat Baik Kepada Budak Belian (Hamba Sahaya)

Berbuat baik kepada sesama manusia sangatlah penting dan sangat dianjurkan oleh islam. Berbuat baik itu tidak memandang status sosial, jabatan, kekayaan dan lain sebagainya. termasuk juga dalam hal ini untuk berbuat baik kepada hamba sahaya. Walaupun secara status sosial mereka hanyalah budak, tetapi mereka juga manusia dan merupakan hamba Allah.

Rasulullah banyak sekali menganjurkan umatnya untuk berbuat baik kepada hamba sahaya, diantaranya adalah seperti yang diriwayatkan sebagai berikut:

Diceritakan bahwa ada beberapa orang datang bertamu kepada Salman Al Farisi yang pada waktu itu sedang menjabat sebagai gubernur Madain, dan ketika itu mereka melihat Alman membuat adonan roti sendiri untuk keluarganya.

Lalu mereka berkata, ‘Mengapa kamu tidak memerintah hamba sahayamu untuk membuat adonan roti?” Jawabnya, “Aku telah mengutus budak perempuanku untuk pergi menyelesaikan suatu tugas, dan aku tidak mau memberinya tugas lagi.”

Telah diceritakan bahwa suatu hari Umar bin Abdul Aziz berkata kepada budak perempuannya, “Kipasilah aku hingga aku dapat tidur.” Maka budak perempuan itu pun mengipasinya hingga ia tertidur, dan budak perempuan itu juga ikut tertidur.

Ketika Umar bin Abdul Aziz terbangun, lalu melihat budak perempuannya sedang tidur, maka cepat-cepat ia mengambil kipas angin dan langsung mengipasi budak itu. Dan ketika budak itu terbangun dan melihat Umar bin Abdul Aziz yang mengipasinya, maka ia berteriak. Tapi Umar bin Abdul Aziz dengan tenang berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia biasa seperti kamu, aku juga merasa panas sebagaimana yang kamu rasakan. Oleh sebab itu aku suka mengipasimu sebagaimana kamu juga mau mengipasiku.”

 

Keutamaan dan Anjuran Berbuat Baik Kepada Hamba Sahaya

Berbuat baik kepada sesama manusia sangatlah penting dan sangat dianjurkan oleh islam. Berbuat baik itu tidak memandang status sosial, jabatan, kekayaan dan lain sebagainya. termasuk juga dalam hal ini untuk berbuat baik kepada hamba sahaya. Walaupun secara status sosial mereka hanyalah budak, tetapi mereka juga manusia dan merupakan hamba Allah.

Rasulullah banyak sekali menganjurkan umatnya untuk berbuat baik kepada hamba sahaya, diantaranya adalah seperti yang diriwayatkan sebagai berikut:

Ibnu Hibban dan Baihaqi telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Tugas pelayanmu yang kamu ringankan adalah pahala yang di timbangan amal perbuatan nanti di hari kiamat.

Imam Bukhari dan Muslim juga elah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Barang siapa yang memerdekakan budaknya yang muslim, maka Allah akan membebaskan setiap anggota tubuhnya dari api neraka sebagai ganti anggota tubuh budak yang telah dimerdekakan, sehingga farjinya dibebaskan dari api neraka sebagai ganti dari faji budak yang dimerdekakan di dunia.

Imam Abu Daud dan Ibnu Majah telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Tiga macam orang yang tidak akan diterima oleh Allah ibadah shalatnya, yaitu:

  1. Orang yang menjadi imam suatu kaum, sedang mereka sama benci padanya.
  2. Orang yang mendirikan shalat di luar waktunya.
  3. Orang yang memperbudak orang yang merdeka.

Dalam sebuah riwayat juga diterangkan bahwa seorang perempuan datang kepada Rasulullah saw, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berkata kepada budak perempuanku, ‘wahai pelacur’.”

Rasulullah saw menjawab, “Apakah kamu melihatnya sendiri ia berbuat demikian?” Jawabnya, “Tidak.”

Rasulullah bersabda, “Ingat, sesungguhnya budak perempuanmu itu akan menuntutmu di hari kiamat (nanti).”

Lalu perempuan itu pergi kepada budak perempuannya, lalu diberinya cambuk seraya berkata, “Wahai budakku, cambuklah aku.” Tetapi ia tidak mau melakukannya.

Kemudian majikan perempuan itu pergi kepada Rasulullah saw untuk membritahukan  kepadanya bahwa budak itu telah dimerdekakan. Lalu Rasulullah saw bersabda, “Semoga tindakanmu untuk memerdekakan budak itu akan menjadi pelebur dosa atas tuduhanmu kepadanya.”

Larangan Menyiksa dan Berbuat Buruk Kepada Hamba Sahaya (Budak)

Islam mengajarkan kepada umatnya agar tidak berbuat tidak baik kepada sesamanya. Termasuk juga terhadap hamba sahaya (budak). Rasulullah saw telah memberikan pelajaran dalam berbagai kesempatan untuk berbuat baik kepada hamba sahaya, seperti dalam hadis di bawah ini:

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui Siti Aisyah r.a:

Sesungguhnya seorang lelaki duduk di hadapan Rasulullah saw, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa hamba sahaya yang suka berkata dusta kepadaku, suka berkhianat dan durhaka terhadap peraturanku. Aku mencaci dan memukul mereka, lalu bagaimanakah aku nanti dengan mereka?”

Rasulullah saw bersabda, “Jika hari kiamat telah tiba, maka pengkhianatan, kedurhakaan dan pendustaan mereka kepadamu akan dihisab, begitu juga dengan hukumanmu kepada mereka. Jika siksaanmu kepada mereka sebanding dengan dosa-dosa kesalahan mereka kepadamu, maka seimbang (kamu tidak dihisab dan mereka pun tidak dihisab, kamu tidak beruntung dan kamu tidak rugi). Jika hukumanmu kepada mereka itu lebih ringan daripada kesalahan mereka, maka merupakan keanugerahan dan kemurahanmu, tetapi jika hukumanmu kepada mereka itu lebih berat daripada kesalahan mereka, maka kamu akan dituntut atas kelebihan hukumanmu itu.”

Maka orang itu berdiri menepi sambil menangis. Lalu Rasulullah saw bersabda, “Apakah kamu tidak membaca firman Allah “Wa nadha’ul mawaaziinal qistha liyaumil qiyaamati falaa tuzhlamu nafsun syai-aa, wa in kaana mitsqaala habbatin min khardalin ataina bihaa, wa kafaa binaa haasibiin (Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat timbangan.)” Surat Al Anbiya ayat 47

lalu lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, tidak ada jalan bagiku untuk menghadapi budak-budakku kecuali aku harus berpisah dengan mereka, aku menyaksikan padamu bahwa mereka sekarang telah aku merdekakan.”

Semoga uraian singkat di atas dapat bermanfaat bagi kita semua, baik di dunia maupun di akhirat. Serta semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah swt dan di masukkan ke dalam surga.

Larangan Menyiksa dan Berbuat Buruk Kepada Hamba Sahaya Dalam Islam

Setiap orang, khususnya umat muslim harus berbuat baik kepada sesama manusia. Termasuk dalam hal ini adalah terhadap hamba sahaya (budak).

Banyak sekali dalil yang menerangkan keharusan untuk berbuat baik kepada hamba sahaya. Beberapa diantaranya akan diuraikan berikut ini:

Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Mas’ud Al Badri radhiyallaahu ‘anhu:

Aku pernah memukul budakku dengan cambuk, lalu aku mendengar suara di belakangku, “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud.” Tapi aku tidak memahami isi suara itu, lantaran kemarahan (yang merisaukan hatiku). Ketika suara itu mendekat kepadaku, ternyata yang datang ialah Rasulullah saw, beliau bersabda, “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud, sesungguhnya Allah lebih berkuasa daripada kekuasaanmu kepada budak ini.” Lalu aku berkata, “Aku tidak akan memukul budak lagi untuk selamanya.”

Dalam riwayat lain juga diterangkan:

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sekarang budak itu aku merdekakan karena Allah Yang Maha Tinggi.” Lalu Rasulullah saw bersabda, “Ingat seandainya kamu tidak berbuat demikian, maka kamu akan dihanguskan oleh neraka (akan dibakar dalam api neraka.)”

Imam Thabrani telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Barang siapa yang memukul hamba sahayanya dengan penganiayaan (bukan karena kesalahan atau alasan lain), maka akan dituntut pada hari kiamat nanti.

Imam Abu Dawud dan Turmudzi telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Wahai Rasulullah, berapa kali aku harus mengampuni kesalahan hamba sahayaku?” beliau menjawab, “Tujuh puluh kali untuk tiap harinya.”

Hak Hamba Sahaya Dalam Islam

Setiap orang, khususnya umat muslim harus berbuat baik kepada sesama manusia. Termasuk dalam hal ini adalah terhadap hamba sahaya (budak).

Banyak sekali dalil yang menerangkan keharusan untuk berbuat baik kepada hamba sahaya. Beberapa diantaranya akan diuraikan berikut ini:

Rasulullah saw telah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Bakr radhiyallaahu ‘anhu sebagai berikut:

Tidak akan masuk surga orang yang berperangai jahat (berbuat dzalim kepada budaknya). Para sahabat bertanya, “Bukanlah engkau telah memberitahu kepada kami bahwa umat ini adalah umat yang kebanyakan terdiri dari orang-orang yang dikuasai dan orang-orang yatim, jika dibandingkan dengan keadaan umat yang terdahulu?”

Nabi saw bersabda, “Ya, oleh sebab itu hormatilah mereka sebagaimana kamu menghormat kepada anak-anakmu dan berilah makan mereka dari jenis makanan yang kamu makan.”

Para sahabat bertanya, “Adakah sesuatu dari harta benda dunia yang bermanfaat bagi kami?” beliau menjawab, “Kuda yang kamu ikut untuk berjihad fisabilillah, budak yang melayanimu dengan baik. Lalu jika ia mau melakukan shalat, maka berarti ia saudaramu.”

Imam Abu Dawud telah meriwayatkan dari Ali radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Akhir kalimat yang diucapkan oleh Nabi saw (ketika menjelang wafatnya) adalah peliharalah shalat, peliharalah shalat, bertakwalah kepada Allah dalam memelihara hamba sahayamu.

Di dalam riwayat lain juga diterangkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Adalah Nabi saw bersabda di waktu sakit yang membuatnya wafat, peliharalah shalat, dirikanlah shalat dan perhatikanlah kepada hamba sahaya yang menjadi milikmu. Beliau senantiasa mengulang-ulang perkataannya itu hingga suaranya habis.

Imam Ahmad dan Thabrani juga telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Sesungguhnya Rasulullah saw pernah bersabda ketika mengerjakan haji wada’. “Berilah makan kepada hamba-hamba sahayamu dari makanan yang kau makan sendiri. Berilah pakaian dari pakaian yang kamu kenakan sendiri. Jika mereka datang dengan mengerjakan dosa yang kamu tidak dapat mengampuninya, maka juallah wahai hamba Allah, dan jangan kamu menyiksa mereka.

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Sudah cukup seseorang mendapat dosa, jika ia tidak memberi makan kepada hamba sahaya yang dalam kekuasaannya.