Pembagian Jatah Bermalam atau Giliran Istri

Rasulullah saw bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Nasa’i yang bersumber dari Ibnu Umar r.a. sebagai berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat keadilan adalah berada di sisi Allah, nanti pada hari kiamat. Mereka berada di atas mimbar dari cahaya di sisi kanan Allah yang maha pengasih. Dan kedua sisi Allah itu adalah kanan, mereka adalah orang yang berbuat adil dalam menjatuhkan hukum, berlaku adil terhadap keluarga atau istrinya dan jabatan yang dipangku.

Imam Thabrani juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi telah menetapkan pada diri kaum perempuan sifat cemburu, dan jihad pada kaum lelaki. Oleh sebab itu, barang siapa yang bersaba terhadap perilaku kaum perempuan dengan penuh keimanan dan untuk mencari ridha Allah, maka ia akan mendapat pahala sebagaimana orang yang mati syahid.

Sedang Imam Turmudzi dan Hakim meriwayatkan sebuah hadis Nabi saw sebagai berikut:

Barang siapa yang mempunyai dua istri, lalu tidak berlaku adil diantara keduanya, maka nanti pada hari kiamat akan datang (di sisi Allah) dalam keadaan tubuhnya miring sebelah.

Imam Nasa’i telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Barang siapa yang mempunyai dua istri, dimana sang suami condong kepada salah satunya dan meninggalkan yang lain, maka nanti pada hari kiamat akan datang di sisi Allah, sedang separuh tubuhnya miring.

Maksud condong disini ialah tindakan secara lahiriah yang dapat diperlihatkan dan diusahakan oleh manusia, tidak mengenal perasaan kasih sayang dalam hati karena hal itu diluar kekuasaan manusia.

Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah saw memberi bagian bermalam diantara istri-istrinya, lalu bertindak secara adil diantara mereka, lalu berdoa sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ هٰذَاقِسْمِى فِيْمَااَمْلِكُ فَلاَتَلُمْنِى فِيْمَاتَمْلِكُ وَلاَاَمْلِكُ

Wahai Tuhanku, ini adalah bagianku yang aku kuasai, oleh sebab itu janganlah Engkau menyalahkan aku tentang kecondongan hati yang Engkau kuasai dan aku tidak mampu menguasainya.

Demikianlah penjelasan dari kami tentang hal yang berkaitan dengan pembagian bermalam di antar istri. Semoga uraian singkat di atas dapat bermanfaat bagi kita semua.

Pahala Bagi Orang Yang Bersabar Atas Keburukan Akhlak Suami Atau Istrinya

Dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

Barang siapa yang tahan menyabari kejahatan akhlak istrinya, maka Allah akan memberikan pahala kepadanya sebagaimana pahala yang diberikan kepada Nabi Ayub a.a. atas bala yang telah menimpanya.

Dan barang siapa yang sabar terhadap akhlak jahat sang suami, maka Allah akan memberikan kepadanya pahala yang dialami Asiyah yang bersabar atas akhlak jelek Fir’aun.

Kisah Hikmah Orang Yang Sabar Terhadap Keburukan Perilaku Istrinya

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ada seorang lelaki yang datang menghadap kepada Umar bin Khatthab r.a. untuk mengadukan akhlak istrinya, lalu lelaki itu berdiri di hadapan pintu Umar r.a. untuk menanti keluarnya Umar. Namun dalam penantian itu, lelaki itu mendengar istri Umar sedang memaki-maki kepadanya. Sungguh demikian Umar tetap berdiam diri, tidak memberikan jawaban kepadanya.

Melihat kenyataan yang dialami oleh keluarga Umar ini, lalu lelaki itu kembali pulang seraya berkata di dalam hatinya, “Jika keadaan yang sedemikian ini dialami oleh Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, apalagi keadaanku.”

Lalu Umar keluar melihat lelaki yang datang kali ini lalu kembali pulang, lalu Umar memanggilnya seraya berkata, “Apakah keperluanmu kali ini?” Jawabnya, “Wahai Amirul Mukminin, aku datang untuk mengadukan akhlak istriku yang jelek, di samping ia selalu mencercaku, tapi sekarang aku mendengar istrimu juga berbuat yang sedemikian akhirnya aku memutuskan untuk pulang kembali. Aku berkata dalam hatiku, ‘Jika keadaan yang kualami ini juga dialami oleh Amirul Mukminin bersama istrinya, maka apalagi dengan diriku’.”

Lalu Umar berkata, “Wahai saudaraku, sesungguhnya tabah, sabar terhadap istriku, lantaran ia telah melakukan hak yang semestinya wajib kulaksanakan sendiri, ia juga telah memasakkan makananku, membuatkan roti untukku, mencuci pakaianku, menyusui anakku. Padahal pekerjaan yang demkian itu tidak menjadi tanggung jawabnya. Sungguhpun demikian, hatiku menjadi tenang, tidak ingin terjerumus ke dalam keharaman lantaran istriku berada di sampingku, maka sudah barang tentu aku harus bersabar terhadap perilakunya.”

Lalu lelaki itupun berkata, “Demikian juga dengan aku, sekarang harus bersabar terhadap kejahatan akhlak istriku, wahai Amirul Mukminin, karena perlakuannya yang sedemikian itu juga tidak selamanya, tapi hanya untuk selingan saja dalam sementara waktu.”

Kisah Hikmah Mengenai Kewajiban Istri Terhadap Suami

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari sahabat Anas r.a. bahwa salah satu keluarga dari sahabat Anshar mempunyai seekor unta yang biasa dipergunakan untuk membawa air dari sumur.

Pada suatu hari unta itu tidak mau menuruti perintah majikannya sehingga punggungnya tidak mau diberi sesuatu.

Maka mereka pergi menyampaikan kejadian itu kepada Rasulullah saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mempunyai seekor unta yang biasa kami pergunakan untuk mengambil dari sumur, tiba-tiba sekarang unta itu sulit kami kuasai. Dia tidak membiarkan punggungnya dibebani sesuatu, padahal tanaman kami sudah kering begitu juga pohon kurma membutuhkan siraman.”

Lalu Rasulullah saw berdiri dan berkata kepada para sahabat, “Berdirilah kalian, “ lalu mereka berdiri dan masuk ke kebun sahabat Anshar itu bersama Rasulullah, sedang pada waktu itu unta yang mogok tadi berada di salah satu sudut kebun.

Lalu Rasulullah saw berjalan menuju untanya. Orang-orang sahabat Anshar sama berkata, “Wahai Rasulullah,

Hak Suami Yang Wajib Dilakukan Istri

Dalam sebuah riwayat Ath Thalayisi diterangkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Hak suami yang harus dilakukan oleh istri, hendaklah istri jika suami menginginkan dirinya, meskipun istri berada di atas pelana kuda.

Dan tidak diperkenankan berpuasa meskipun hanya satu hari, kecuali telah mendapat izin dari suami selain puasa fardhu. Jika istri masih tetap melakukannya, maka berdosa dan puasanya tidak diterima di sisi Allah.

Dan tidak diperkenankan memberikan sesuatu meskipun hanya sedikit dari rumah suami kecuali telah mendapat izin dari suaminya. Jika istri masih tetap melakukannya, maka suami mendapat pahala dan istri mendapat dosa.

Dan tidak diperkenankan keluar rumah kecuali telah mendapat izin suaminya. Jika masih tetap melanggar, maka akan dikutuk oleh Allah dan para malaikat, sehingga istri bertaubat atau kembali puang kepada suami, sekalipun sang suami orang yang dzalim.

Imam Thabrani juga telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Seorang perempuan tidak akan dapat memenuhi hak Allah sebelum memenuhi hak suaminya secara keseluruhan, seandainya sang suami meminta padanya diatas pelana kuda, maka sang istri tidak diperkenankan menolak suami untuk menggauli dirinya.

Imam Hakim telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telh bersabda sebagai berikut:

Sesungguhnya seorang wanita datang kepada Rasulullah saw seraya berkata, “Sesungguhnya anak pamanku datang melamarku, oleh sebab itu beritahukanlah kepadaku apakah hak suami yang harus dilakukan oleh istrinya, jika merupakan suatu tugas yang aku mampu, maka aku akan kawin dengannya.”

Maka Nabi saw bersabda, “Sebagian dari hak suami yang harus dikerjakan istri jika dua lobang hidung suami mengalirkan darah atau nanah, lalu istri menjilat dengan lidahnya maka masih belum dapat dikatakan menunaikan haknys secara sempurna.

Seandainya layak bagi manusia untuk bersujud kepada manusia lain, maka aku akan memerintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya, jika sang suami masuk ke dalam kamarnya sebab Allah tela memberikan kelebihan kepada sang suami atas sang istri.”

Lalu wanita tadi berkata, “Demi Tuhan yang mengutusmu dengan haq, aku tidak akan kawin selama aku masih hidup di dunia.”

Hukuman Bagi Suami Yang Tidak Mau Membayar Maskawin

Dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Setiap lelaki yang mengawini wanita dengan maskawin sedikit atau banyak, namun dalam hati lelaki tersebut tidak ingin memberikan hak wanita itu (maskawin) kepadanya, maka berarti lelaki itu menipunya. Jika lelaki itu meninggal dunia dalam keadaan belum diberikan maskawinnya, ia akan berteman dengan Allah pada hari kiamat nanti dalam keadaan berzina kepadanya.

Anjuran Untuk Berbuat Baik Kepada Istri dan Keluarga

Dalam riwayat lain Imam Turmudzi juga menerangkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik budi pekertinya dan paling lemah lembut dengan istrinya. Dan sebaik-baik kamu adalah yang paling berbuat baik dengan istrinya.

Maisarah dan Arrafi’i telah berkata, “Sesungguhnya seorang lelaki jika melihat istrinya dan sang istrinya juga turut memandangnya, maka Allah akan memandang mereka dengan penuh kasih sayang. jika sang suami memegang tapak tangan sang istri, maka dosa mereka berjatuhan dari sela-sela jari mereka.”

Dilarang Menceritakan Rahasia Suami dan Istri Kepada Orang Lain

Rasulullah saw telah menegaskan dalam sabdanya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud dari Abu Sa’id Al Khudri sebagai berikut:

Sesungguhnya sejelek-jelek derajat manusia pada hari kiamat (nanti) adalah seorang lelaki yang memberitahukan rahasianya kepada istrinya dan sang istrinya juga memberitahukan rahasianya kepadanya, kemudian salah satu diantara mereka menyebarkan rahasia tersebut kepada orang lain.

Haram Hukumnya Menceritakan Persetubuhan Suami Istri Kepada Orang Lain

Imam Ahmad juga telah meriwayatkan dari Asma’ bin Yazid r.a. berkata, “Sesungguhnya aku pernah berada di majelis Rasulullah saw dan disitu terdapat pula beberapa orang lelaki dan perempuan, lalu beliau bersabda yang artinya sebagai berikut:

Barangkali seorang lelaki mengatakan apa yang telah dikerjakan dengan istrinya, dan seorang perempuan juga apa yang dikerjakan bersama suaminya, lalu orang-orang sama membisu tidak berkata sedikit pun, lalu aku menjawab, “Benar, demi Allah wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka sering berbuat sedemikian, baik yang laki-laki maupun yang perempuan.”

Maka Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kamu melakukannya, sesungguhnya perumpamaan perbuatan tersebut sebagaimana setan lelaki yang bertemu dengan setan perempuan (di tengah jalan) lalu bersetubuh dan orang-orang senang melihatnya.”

Riwayatnya pula beserta Imam Baihaqi dari Abul Hakim r.a. berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda yang artinya sebagai berikut:

Membanggakna banyak bersetubuh (dengan istri) itu haram.

Sesungguhnya seorang lelaki menyebarkan rahasia istrinya dan sang istri menyebarkan rahasia suaminya, masing-masing menceritakan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua di waktu berjima’ atau yang lainnya hukumnya haram, demikian menurut ijma’ ulama.

Hak Istri Yang Wajib Ditunaikan Suami

Allah swt berfirman di dalam Al Qur’an, “Dan pergauilah istri-istrimu itu dengan cara yang baik.”

Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 228, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf.”

Ibnu Abbas juga telah berkata, “Sesungguhnya aku berhias diri adalah untuk menggembirakan istriku sebagaimana ia telah berlaku demikian kepadaku, lantaran ayat tersebut di atas.”

Dalam riwayat Imam Turmudzi dan Ibnu Majah telah diterangkan bahwa ketika dalam haji wada’ Rasulullah saw telah bersabda:

Ingatlah, berilah wasilah kebaikan kepada istri-istrimu, karena sesungguhnya mereka di didimu hanyalah sebagai tawanan perang, kamu tidak menguasai sedikitpun kepada mereka kecuali hanya itu, kecuali jika mereka telah mengerjakan kekejian yang nyata.

Jika mereka mengerjakan yang sedemikian, maka jangan tidur bersama mereka dalam satu ranjang, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika mereka telah patuh kepadamu, maka kamu jangan mencari jalan untuk mengganggu mereka lagi.

Ingatlah, sesungguhnya kamu mempunyai tugas yang harus dikerjakan oleh istri-istrimu, dan istri-istrimu juga mempunyai hak yang harus kamu lakukan untuk mereka. Untuk hakmu yang harus dilakukan oleh mereka, hendaklah mereka tidak mengizinkan tubuhnya dijamah oleh lelaki yang tidak kamu sukai, dan tidak memperbolehkan memasukkan orang lain yang tidak kamu sukai ke rumahmu.

Ingatlah, hak mereka harus kamu lakukan, hendaklah kamu memberikan pakaian dan makanan yang layak.

Imam Thabrani dan Hakim telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

Hak istri harus dilakukan oleh sang suami, hendaknya memberikan makan jika sang suami makan, memberinya pakaian jika sang suami berpakaian, tidak boleh memukul wajah, dan tidak boleh menjelek-jelekkannya, dan tidak boleh memboikotnya kecuali di dalam rumah.