Hak Suami Yang Wajib Dilakukan Istri

Lelaki itu menguasai atau membawahi istrinya dalam mendidiknya disebabkan perkara yang sudah melebihkan Allah dengan itu perkara ke laki-laki terhadap istri-istrinya, serta sudah menafkahi si laki-laki kepada istrinya dimulai dari membayar mas kawin ketika menikah.

Kelebihan lelaki dari perempuan itu dalam beberapa hal yaitu dalam hakikatnya dan dalam hukum syara’ nya. Dalam hakikatnya yaitu ‘akal dan ilmunya laki-laki lebih banyak daripada istri dan hatinya lelaki dari pekerjaan yang berat lebih sabar, kekuatan lelaki juga lebih dari kekuatan istri, begitu juga dalam hal kecerdasan (banyaknya ‘ulama laki-laki), diwajibkannya berjihad, adzan, shola jumat, i’tikaf, menjadi saksi, qishos dan nikah, warisan, memikul diyat, wali nikah, yang mempunyai tolaq, ruju’, hitungan istri, nasab, serta membayar mas kawin, menafkahi, dan lainnya. Istri yang sholih adalah yang to’at kepada Allah swt dan turut ke suaminya dan apabila tidak ada suaminya maka istri itu selalu menjaga dirinya (harta suaminya dan farji nya dan rahasia suaminya).

Pendapat dari hadist Rasulullah saw tentang hak suami

Kalau lelaki takut istrinya akan nusyuz, istrinya takabur, maka si suami harus menasihati istri/mengingatkan/menakut-nakuti akan siksa Allah di akhirat, dan mengharuskannya takwa dan berlaku yang seharusnya kepada suami. Dengan adanya nusyuz maka akan menggugurkan nafkah dan gilir (apabila poligami). Dengan dinasehati mudah-mudahanbertaubat dari nusyuz nya.

Disunatkan menasihati istri dengan hadist yang diriwayatkan Imam Bukhori Muslim, dari perkataan Nabi Muhammad saw yang keterima oleh Imam Abi Huroiroh “dimana-mana ada istri yang menjauhi tempat tidur suaminya, maka akan dilaknat istri itu, dan akan dijauhi oleh seluruh malaikat sampai shubuh”. Dan hadist Imam Tirmidzi dari perkataan Nabi Mjuhammad saw “apabila ada istri yang malamnya suaminya ridho terhadap dia, maka akan masuk surga kalau si istri meninggal paginya.” Kalau suami akan ngambek ke istri, jangan dengan omongan tetapi jauhilah tempat tidurnya.

Jangan memukul tanpa alasan, kecuali dengan memukul itu memberikan faedah asal jangan membuat repot/parah, jangan memukul wajah, anggota badan yang membuat celaka. Dengan kata lain memukulnya itu untuk memberi pelajaran, tapi utamanya jangan memukul (memaafkan). Berbeda dengan wali nya anak, lebih utama memukul jangan memaafakan, karena memukul anak akan dapat mendidik anak tersebut untuk kemaslahatan  si anak itu. Sedangkan memukul istri adalah untuk kemaslahatan si suami, begitu juga menjauhi sitri dari tempat tidurnya apabila benar-benar si istri melakukan nusyuz.

Setelah sering melakukan nusyuz nya bari si suami boleh memukulnya. Tapi menurut Imam Nawawi boleh memukul si istri walaupun nusyuz nya tidak sering asalkan dengan memukul itu memberikan faedah. Kalau istri ketahuan nusyuznya dengan terlihat ciri-cirinya, seperti dalam perkataan yang biasanya halus sekarang jadi kasar, kalau dipanggil biasanya menghampri sekarang jadi tidak, dll, nah apabila demikian dididik saja dengan dijauhi dari tempat tidurnya, jangan dipukul.

Hak suami dari istri

Apabila si istri sudah sadar, maka suami jangan mencari calon untuk memukulnya (mengungkit-ngungkit yang lalu) yang mengakibatkan bertengkar lagi (bahkan memukul). Walhasil apa saja perkara yang sudah terjadi lupakan saja, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. “maka sebenar-benarnya orang yang taubat dari dosa, seperti orang yang tidak punya dosa saja”.

Menurut Rasulullah “laki-laki yang sabar terhadap kejelekan akhlaq/budi pekerti istrinya, maka Allah akan memberikan pahala kepada laki-laki itu seperti pahala yang diberikan kepada Nabi Ayyub as.” Serta perkataan Rasulullah “Istri yang sabar terhadap kejelekan akhlaq/budi pekerti suaminya, maka Allah akan memberikan ganjaran/pahala kepada istri itu seperti ganjaran/pahala yang diberikan kepada orang yang meninggal dalam perang sabilillah”. Dan menurut Nabi Muhammad saw “siapa saja istri yang dholim kepada suaminya serta sering meminta sesuatu yang suaminya tidak mampu, serta menyakiti suaminya, maka akan mela’nat kepada istri malaikat rohmat dan malaikat tukang nyiksa”. Rasulullah juga berkata “siapa saja istri yang sabar terhadap suami yang sering menyakitinya, maka Allah akan ke si istri seperti ganjaran yang diberikan kepada Siti Maryam putra Ki ‘Imron.”

Rasulullah pernah berkata “siapa saja istri yang diridhoi suaminya. Maka apabila si istri meninggal dalam keadaan suaminya ridho terhadap dirinya, si istri akan masuk surga, serta orang-orang yang duluan yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.”

Rasulullah saw pernah bersabda :”dimana-mana ada istri yang melakukan sholat lima waktu, puasa di bulan romadhon, kecuali ketika haid dan nifas, serta menjaga farji nya dari disetubuhi oleh laki-laki lain, turut kepada suaminya terhadap perkara yang bukan ma’siyat kepada Allah swt, maka nanti di akherat akan dibilangin, segeralah masuk ke surga dari pintu manapun yang engkau suka. Dibilangin seperti itu karena untuk memuliakan terhadap si istri”

Sudah diterangkan dalam hadist.ada seorang istri yang menghadap Rasulullah, setelah bertemu kemudian si istri berkata “Ya Rasulullah saya datang karena disuruh oleh istri-istri yang lain untuk menanyakan tentang bagian jihad. Jihad kan diwajibkan hanya kepada kaum lelaki saja, tidak diwajibkan kepada perempuan. Nah kalau laki-laki ketika berjihad mendapatkan luka (bekasnya) akan diberi ganjaran yang luar biasa, apabila meningggal ketika berperang akan dipandang oleh Allah tetap hidup. Serta sudah diriwayatkan bahwa sebenar-benarnya Allah melihat Rohmat bagi orang yang meninggal syahid, dan disuruh meminta kepada Allah apa maunya, maka berkata yang mati syahid itu, bagaimana kami meminta kepada Allah, kan kami digelar kan di surga kemanapun maunya tidak dicegah, dan apa saja yang kami mau tidak dilarang.

Tatkala yang mati syahid merasa tidak dilarang untuk meminta apapun, maka dia meminta agar ruhnya dikembalikan lagi ke jasadnya dan diturunkan lagi ke bumi agar bisa berperang lagi menegakkan agama Allah. Kenapa seperti itu karena saking  nikmatnya surga bagi orang yang syahid. Menurut Rasulullah yang diriwayatkan oleh Sayyidina ‘Abdulloh putra Sayyidina ‘Abbas ruhnya orang yang mati syahid itu ada di burung surga yang berwarna hijau, berdatangan burung ini ke sungai dan beterbangan di pepohonan surga dan makan buah-buahan surga.

Lalu masuk ke qonadil-qonadil yang digantungkan di iuh-iuhan (teduh-teduhan) ‘aras. Sedangkan kaum istri sering berbakti kepada suami dan membantu keperluan lelaki, maka apa untuk kaum perempuan  agar mendapatkan ganjaran jihad, ganjaran bekas luka, ganjaran mati syahid.”. menjawab Rasulullah “hai perempuan, sampaikanlah kepada perempuan yang lainnya bahwa sebenar-benarnya berbakti kepada suami sembari mengaku ke haq nya itu ngebandingin  ganjarannya jihad yang yang diwajibkan kepada kaum lelaki.

Namun sedikit sekali kaum istri yang berbuat to’at/berbakti ke suaminya sembari ngaku ke haq nya.. tegasnya haqnya istri harus berbakti ke suaminya. Karena Allah sudah berfirman di Surat Annisa tetap bagi lelaki bagian ganjaran dari pekerjaannya yaitu dari jihad, tetap juga bagi istri bagian ganjarannya dari pekerjaannya yaitu dari menjaga farji nya dan bakti ke suaminya. Jadi kesimpulannya laki-laki dan perempuan ganjarannya di akhirat nati sama. Unggul itu hanya karena laki-laki melebihi perempuan ketika masih hidup di alam dunia.

Menurut Sayyidina ‘Ali ada 3 tingkat yang jelek adanya di lelaki, tetapi bagus apabila adanya di istri. Yang pertama pelit, kedua tinggi hati(sombong), dan ketiganya takut. Apabila ada istri yang pelit, maka berarti dia menjaga hartanya dan harta suaminya. Apabila si istri merasa besar, maka tentu mencegah si istri itu dari berkata kepada orang-orang dengan perkataan yang lemah/halus, yang membuat was was. Dan apabila si istri penakut maka tentu dia akan takut terhadap semua perkara, dan tidak akan berani keluar dari rumahnya, takut kepada suaminya. Sudah berkata Rasulullah “istri yang jelek ke suaminya yaitu bawaan yang berat yang dipikul/dibawa oleh aki-aki yang sudah pikun. Sedangkan istri yang sholihah itu seperti makuta yang ditetesin  emas yang menggembirakan dilihat oleh suaminya”

Perempuan harus mengetahui bahwa sebenar-benarnya wanita yang sudah memiliki suami adalah seperti ‘amat yang dimiliki oleh suaminya. Oleh sebab itu si istri tidak boleh mengolah/membelanjakan ke perkara apapun dari harta suaminya kecuali dengan idzin si suami tersebut.

Wajib bagi istri melanggengkan malu oleh suaminya, menurunkan pandangannya dihadapan suami, turut terhadap perintah suami, diam mendengarkan omongan suami, berdiri di depan pintu ketika suaminya datang dan berangkat dari rumah, memperlihatkan cinta ketika suaminya berdekatan dengan dirinya, memperlihatkan kegembiraan ketika suami melihatnya, memasrahkan badannya ketika tidur bareng, memakai wewangian, membersihkan mulut, memakai minyak kasturi. Istri harus dandan ketika suaminya ada di rumah, dan tidak dandan  ketika suaminya tidak ada, istri tidak boleh khianat (memasukkan laki-laki lain ke kamarnya), jangan khianat terhadap harta suami.

Menurut Rasulullah “tidak halal bagi istri memberikan makanan yang ada di rumah suaminya kecuali dengan idzin suaminya”, kecuali makanan yang basah-basah yang gampang basinya/rusaknya. Maka kalau memberikan makanan si istri dari ridho suami, maka ganjaran buat istri dan ganjaran buat suaminya. Apabila istri memberikannya tanpa idzin suami, maka ganjaran untuk suaminya, dan dosa bagi si istri. Istri harus menghormati/memulyakan suami dan saudaranya, walaupun dengan bahasa yang baik. Si istri juga harus memandang banyak bawaan suami yang sedikit dan menerimanya dengan syukur.

Istri juga jangan menolak apabila suaminya ingin bersetubuh walaupun si istri sedang berada di punggung unta, kecuali sedang haid atau nifas, atau sudah susut haid dan nifasnya tetapi belum adus./mandi. Menurut Sayyidina ‘Abdulloh putra Sayyidina ‘Abbas bahwa Rasulullah pernah berkata “apabila seorang istri dimana-mana malamnya dipakai sholat sunat, siangnya puasa, kemudian pada suatu waktu suaminya mengajak jima’ lalu si istri datangnya telat 1 jam memenuhi ajakan suaminya, maka si istri di hari kiamat akan digusur dan rantai, dibelenggu dan disatukan dengan setan disimpan di dasar neraka.”

Haram bagi lelaki men jima’ istrinya dihadapan orang lain (baik laki-laki ataupun perempuan). Disunatkan juga sebelum berjima’ membaca Bismillah dulu, surat Al Ikhlas, dan takbir, tapi kalau dzikir jangan. Sunat juga membaca Bismillahil ‘aliyyil ‘adhiimi Allaahummaj ‘alinnutfata dzurriyatan toyyibatan inkunta qoddarta antakhruja dzaalika min sulbii.

Sudah berkata Rasulullah :”apabila salah seorang diantara kalian akan men jima’ istri, sebelum mulai berdoa seperti ini Allaahumma jannibnissaetoona wa jannibissaetoon maa rozaqtanaa”

Apabila dengan jima’ itu menghasilkan anak, maka tidak akan nga madhorot kan setan ke anak tersebut, dan ketika sudah dekat keluar air mani, maka baca dengan hati dan jangan berobah bibirnya yaitu Alhamdulillahilladzii kholaqo minal maai basaron faja’alahu nasaban wasohron wakaana robbuka qodiiron.

Begitu juga disunatkan ketika ber jima’ belok dari arah qiblat (jangan menghadap qiblat), karena memulyakan qiblat. Disunatkan juga ketika ber nima’ menutupin badan dua-duanya dengan selimut.

Istri tidak boleh puasa tanpa idzin suaminya, kecuali di hari ‘arofah dan hari ‘aasuuro. Apabila istri puasa sunat yang bukan hari ‘arofah dan ‘asyuro, maka yang ada buat istri tersebut hanya lapar dan dahaga saja, ganjarannya tidak ada karena tidak diterima. Tapi kalau di hari ‘arofah dan ‘asyuro tidak apa-apa walaupun tanpa idzin suami. Istri juga tidak boleh keluar rumah tanpa idzin suami, kalau melakukan hal tersebut, maka si istri akan di laknat oleh seluruh malaikat yang ada di langit dan di bumi, begitu juga malaikat rohmat dan malaikat tukang nyiksa sampai baliknya si istri ke rumah atau sampai taubat si istri kepada Allah dan kepada suaminya.

Dimana-mana istri keluar dari rumah dengan idzin suami untuk belanja atau menengok orang sakit, harus calon melewati calonan yang sepi dan memakai baju yang biasa. Artinya jangan dandan, untuk menghindari fitnah. Walhasil si istri harus mencari/melakukan perkara (tingkah laku/perkataan) yang menjadi penyebab suaminya ridho., dan menjauhi perkara yang membuat suaminya marah.

Sudah diriwayatkan dari Rasulullah Muhammad saw bahwa beliau berkata akan memintakan maaf seluruh burung yang ada di awang-awang dan semua ikan yang ada di air serta seluruh malaikat yang ada di langit untuk istri yang turut kepada suaminya (bukan perintah haram), selagi si istri itu tetap dalam ridho suami.

Kisah hikmah suami istri

Hikayat : di kota Baghdad ada seorang lelaki yang nikah dengan anak pamannya, dan berjanji tidak akan menikah lagi dengan perempuan lain (poligami), pekerjaan laki-laki itu berdagang. Pada suatu waktu ada seorang perempuan yang datang ke warungnya, dan berkata bahwa dia ingin dinikahi oleh si lelaki. Kemudian si lelaki menjelaskan bahwa dia sudah berjanji kepada istrinya tidak akan melakukan poligami, si perempuan itu berkata bahwa rela digilir seminggu sekali (6 hari di yang tua dan 1 hari di yang muda), kemudian menikahlah mereka kira-kira 8 bulan. Istri yang tua tidak menyukai karena dalam seminggu sekali dimalam hari suaminya hilang, lalu menyuruh jariyahnya untuk mengikuti suaminya (kemana berangkatnya dan dimana adanya).

Lalu diikutilah si suami oleh jariyah itu, sampai ke suatu rumah, dan masuklah si suami ke rumah tersebut, lalu jariyah itu bertanya kepada tetangganya rumah siapa, menurut tetangga itu bahwa mereka sudah menikah sekitar delapan bulan yang lalu. Kemudian jariyah pulang dan menceritakan kepada majikannya. Menurut majikannya itu/istri tua kepada jariyahnya agar tidak menceritakan hal tersebut kepada orang lain.

Tidak begitu lama si suami meninggal, maka terus istri tua menyuruh jariyah membawakan uang sebanyak 500 dinar untuk diberikan kepada istri muda sambil mengatakan semoga Allah membesarkan ganjaran kamu di si anu bahwa si anu sudah meninggal, meninggalkan harta 8000 dinar, yang 7000 dinar untuk anak-anaknya, yang 1000 dinar lagi bagian istri muda dan tua. Setelah mendengar perkataan jariyah, istri muda kemudian menulis surat dan diberikan kepada jariyah untuk disampaikan kepada istri tua. Ketika dibuka surat itu isinya ngalubarkan mas kawinnya dan tidak mengambil  si istri muda itu apapun. Nah begitulah istri yang sholihah.

Siapa saja istri yang nyulayaan (meniadakan) kepada suaminya, maka istri itu bakal dilaknat oleh Allah dan malaikat dan oleh seluruh orang. Menurut Sayyidina ‘Ali bahwa dia pernah mendengar Rasulullah berkata kalau ada istri menjadikan salah satu tangannya ke sate, tangan yang satunya lagi ke nasi, terus disodorkan kesuaminya, tetapi si suami itu tidak ridho kepada istri, maka di hari kiamat nanti istri itu akan disatukan dengan golongan Yahudi dan Nasrani. Menurut ‘Abdulloh bin Mas’ud ra bahwa dia pernah mendengar Rasulullah berkata siapa saja istri yang diajak oleh suaminya ke kasur, lalu di nanti-nanti oleh istrinya sampai suaminya tidur, maka istri itu dilaknat.

Siapa saja istri yang cemberut didepan suaminya, maka si istri ada dalam kemarahan Allah sampai si istri tersenyum kembali dan meminta ridho suaminya. Kata ‘Abdurrahman bun ‘Auf bahwa Rasululllah pernah berkata siapa saja istri yang cemberut didepan suaminya, maka ketika bangun dari kuburan nanti mukanya akan hitam legam.

Siapa saja istri yang istri yang keluar rumah tanpa idzin suaminya, maka akan dilaknat oleh seluruh malaikat sampai dengan kembali lagi si istri ke rumah. Menurut Sayyidina Utsman ra bahwa dia pernah mendengar Rasulullah berkata tidak semata-mata keluar istri dari rumah tanpa idzin suami, maka akan melaknat ke istri tersebut setiap perkara yang diterangi oleh matahari, sampai dengan ikan yang ada di laut.

Siti ‘Aisah pernah berkata apabila setiap istri tahu kewajiban terhadap suaminya, maka akan diusap telapak kaki suaminya dari debu yang menempel dengan halusnya muka istri. Siti ‘Aisah juga berkata bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah siapa yang paling besar haq nya ke istri, Rasul menjawab suaminya, kemudian Siti ‘Aisah bertanya lagi siapa orang yang paling besar haq ke lelaki, kemudian Rasul menjawab ibunya.

Pernah berkata Rasulullah saw bahwa ada 3 golongan orang yang tidak akan diterima oleh Allah sholatnya, tidak akan diangkat kebaikannya ke langit. Yang pertama ‘abid yang kabur dari majikannya sampai dengan balik lagi itu ‘abid ke majikannya tersebut. Yang kedua istri yang dibenci oleh suaminya sampai dengan ridho si suami kepada istrinya. Ketiga orang yang mabuk sampai dengan sadar kembali.

Rasulullah berkata dimana istri berkata kepada suaminya bahwa dia tidak melihat/tidak merasa suaminya memberi kebaikan, maka akan dilebur semua amalnya yang bagus saat itu juga. Kata sayyidina Tolhah pernah mendengar Rasul berkata siapa saja istri yang mengatakan kepada suaminya bahwa dia tidak pernah mendapatkan kebaikan sama sekali, Allah akan memutus rohmat-Nya kepada istri itu di hari kiamat.

Rasulullah Muhammad saw sudah berkata siapa saja istri yang meminta tolaq kepada suaminya, padahal dia tidak butuh terhadap tolaq tersebut, maka diharamkan si istri membaui wewangian surga, tegasnya haram bagi si istri masuk surganya. Tetapi kalau sangat membutuhkan tolaq, seperti yang dikatakan Imam Ibnu Ruslan yaitu si istri takut tidak bisa mencalonkan hukum Allah dalam perkara yang wajib.

Misalnya tidak bisa bagus nyampuran, karena bencinya si istri kepada suami, nah kalau begitu tidak diharamkan. Berkata Sayyidina Abu Bakar ra bahwa dia pernah mendengar Rasulullah bersabda dimana-mana istri berkata kepada suaminya harus men tolaq kepada dirinya, maka di hari kiamat nanti dia akan datang dengan muka/wajah tanpa daging, dan keluar lidahnya dari pundaknya, sambil digusur ke keraknya neraka jahannam, walaupun si istri siangnya dipakai puasa dan malamnya dipakai tahajjud dan dawam.

Sudah berkata Rasulullah Muhammad saw sebenar-benarnya Allah tidak akan melihat kepada istri yang tidak pernah bersyukur/berterima kasih kepada suaminya. Abi Huroiroh berkata bahwa dia pernah mendengar Rasulullah bersabda kalau sebenar-benarnya seorang istri mempunyai harta seperti harta Nabi Sulaiman as, kemudian si suami makan harta itu, lalu si istri menanyakan dimana harta saya kepada suaminya, maka melebur Allah terhadap amal istri yang 40 tahun.

Rasulullah berkata yang pertama kali ditanya/diperiksa dari istri di hari kiamat yaitu dalam masalah sholat dan masalah suaminya. Rasul pernah bertanya kepada perempuan bersuami bagaimana kamu terhadap suamimu, si perempuan menjawab tidak gegabah dalam meladeni suami kecuali yang apes atau tidak kuat dalam meladeninya. Maka Rasul berkata bagaimana saja istri terhadap suami, karena suami itu surga dan neraka nya istri. Artinya kalau istri berbakti surga balasannya, dan kalau durhaka kepada suami neraka balasannya.

Wanita calon penghuni surga dan neraka

Menurut Nabi Muhammad saw ada 4 golongan dari istri itu calon surga dan 4 golongan calon neraka. 4 rupa istri yang jadi calon surga yaitu 1). Istri yang menjaga dari keharaman dan selalu to’at kepada Allah serta turut kepada suaminya. 2). Istri yang banyak anaknya dan sabar dalam mengurusnya serta qona’ah, tegasnya merasa cukup dengan yang sedikit hasil usaha suami. 3). Istri yang punya rasa malu (malu terhadap Allah dan manusia), dimana idak ada suaminya, dia bisa menjaga diri dan harta suaminya, ketika ada suami, dia menahan lisannya (tidak banyak ngomong). 4). Istri yang ditinggal mati suaminya dan anaknya banyak serta masih kecil, dan mengurus anak-anaknya tersebut dengan kebaikan serta tidak menikah lagi.

Berkata Sa’id putra Waqos bahwa dia pernah mendengar Rasul bersabda apabila seorang istri tidak gembira dari suaminya karena rupek/kesulitan suaminya, maka bakal melaknat Allah ke istri dan melaknat seluruh malaikat. Salman Al Farisi juga pernah mendengar Rasulullah berkatatidak semata-mata melihat istri yang punya suami ke laki-laki lain dengan syahwat, maka di hari kiamat dua matanya akan di paku. Abu Ayyub Al Anshori juga pernah mendengar Nabi Muhammad berkata Allah swt sudah membuat dilangit dunia 70.000 malaikat, yang mana yang 70.000 itu melaknat setiap istri yang cedera ke suaminya dalam hartanya, dan di hari kiamat bakal disatukan dengan tukang sihir dan dukun, walaupun si istri menghabiskan umurnya dengan meladeni suaminya.

Mu’awiyah juga pernah mendengar Rasulullah berkata siapa saja istri yang mengambil harta suaminya tanpa idzin, maka ke istri tersebut dosa 70.000 maling. Rasulullah berkata Allah swt telah mengharamkan ke bani Adam masuk ke surga sebelum dirinya (Nabi Muhammad) selain, sebenar-benarnya melihat dari sebelah kanan ada wanita yang menyusul ke pintu surga. Nabi Muhammad bertanya perkara apa yang menyebabkan si istri itu dapat menyusul dirinya, dan diceritakan oleh malaikat, hei Nabi Muhammad diaadalah seorang istri yang bagus rupanya, bagus budi pekertinya, yang tetap memelihara anak yatim dengan sabar mengurusnya sampai dewasa. Oleh sebab itu Allah swt menerima si istri ngurus dan mendidik anak-anak tersebut.

Menurut Rasulullah Muhammad saw istri yang menjadi calon penghuni neraka yaitu 1). Istri yang jelek bibirnya/lidahnya, kalau si suami tidak ada di rumah, si istri itu tidak bisa menjaga dirinya (melayani lelaki lain), sedangkan kalau ada suami di rumah maka istri itu sering menyakiti suami dengan lisannya (omongan). 2). Istri yang suka meminta kepada suaminya sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh si suami, sampai si suami merasa berat dan bingung ngurus istrinya. 3). Istri yang tidak menutupi badannya dari lelaki lain, dan sering keluar rumah dengan berdandan serta tanpa idzin suami. 4). Istri yang himah dan cita-citanya hanya makan, minum, tidur.

Dia tidak seneng sholat, tidak suka to’at ibadah ke Allah, tidak turut ke suami. Kalau ada perempuan yang memiliki sifat seperti diatas, maka termasuk perempuan yang dilaknat dan jadi calon penghuni neraka, kecuali kalau taubat. Sudah berkata Sayyidina ‘Umar bahwa Rasulullah pernah bersabda siapa saja perempuan yang mengeraskan suaranya kepada suaminya, maka dia akan dilaknat oleh setiap perkara yang diterang oleh matahari.

Menurut Abu Dzar yang pernah mendengar Rasulullah berkata kalau ada seorang istri yang ibadahnya seperti ibadah ahli langit dan ahli bumi, lalu membuat bingung suaminya tentang masalah nafkah, maka akan datang pada hari kiamat dengan di dibelenggu tangannya sampai ke pundak, dua kakinya dibelenggu/dirantai, tutup-tutupnya dibukakan, mukanya membengkak, dan digantungin istri itu oleh malaikat yang keras dan bengis. Lalu si istri digusur dan dimasukkan ke neraka. Rasulullah berkata siapa saja istri yang membuka pakaian di bukan rumahnya (membuka badannya untuk lelaki lain), maka Allah akan membakar badan istri itu.

Pada suatu waktu datang seorang istri kepada Nabi Muhammad, lalu dia berkata bahwa ada lelaki yang melamar dirinya dan menanyakan apa saja yang harus dilakukan seorang istri kepada suaminya. Lalu menurut Rasulullah apabila ada yang mengalir dari hidung suaminya darah dan nanah, lalu si istri membersihkan dengan menjilatinya, maka hal itu tidak cukup untuk memenuhi kewajiban istri terhadap suami. Menurut Rasul juga apabila diperbolehkan manusia sujud terhadap manusia lainnya, maka akan diperintahkan istri sujud kepada suaminya. Kalau suami datang kepada istrinya kemudian si istri mengatakan tidak akan menikah lagi selagi masih di dunia, menurut Rasulullah mending menikah lagi, karena menikah (punya suami) lebih utama daripada sendirian.

Imam Thobroni pernah meriwayatkan bahwa sebenar-benarnya istri belum memenuhi terhadap haq nya Allah swt apabila belum memenuhi haq suaminya. Kesimpulannya apabila haq Allah sudah dipenuhi oleh istri, sedangkan kepada suaminya belum, maka seolah-olah haq Allah belum sempurna dipenuhinya. Sayyidina ‘Abdulloh putra Sayyidina ‘Abbas berkata pernah ada seorang perempuan yang datang kepada Rasulullah dan mengatakan bahwa dia perempuan sendirian dan ingin menikah.

Dan menanyakan perkara apa yang haq ke suaminya yang harus dilakukan oleh istrinya. Menurut Rasulullah 1). Setengah dari haq suami yang harus ke istrinya kalau suami menginginkan istrinya, sedangkan si istri sedang ada di punggung unta, maka tidak boleh mencegah si istri kepada keinginan suaminya. 2). Setengah dari haq suami yang harus ke istri, jangan memberikan makanan yang ada di rumah kepada orang lain tanpa idzin suaminya, kalau tetap melakukannya dosa buat istri dan pahala buat suami. 3). Setengan dari haq suami yang harus ke istrinya, si istri tidak boleh puasa sunat tanpa idzi suami, kalau tetap melakukannya maka yang didapat si istri hanya lapar dan dahaga saja, tidak akan diterima puasanya oleh Allah. Kalau istri keluar rumah tanpa idzin suami, maka dia dilaknat oleh malaikat sampai dia kembali lagi ke rumah atau sampai dengan taubat istri kepada suaminya.

Menurut Sayyidina ‘Ali bahwa suatu waktu dia bersama Siti Fatimah masuk ke rumah Rasulullah, ternyata Rasul sedang menangis tersedu-sedu. Sayyidina Ali kemudian berkata kepada Rasul apa yang menyebabkan beliau menangis. Rasulullah menjawab bahwa dia ingat ketika di isro’ kan, beliau diperlihatkan oleh Allah neraka, dan banyak istri/perempuan dari umatnya yang disiksa dengan macam-macam siksaan. 1). Melihat istri yang digantung rambutnya dan otaknya mendidih 2). Melihat istri yang digantung lidahnya, dan wedang neraka dikucurkan ke tenggorokannya. 3). Melihat istri yang kakinya diparekoskeun/dipelintir/dipatahkan sampai dengan susu-susunya sambil diborgol terus tangannya ditaliin sampai emun-emunan nya, lalu Allah swt mengutus ular-ular untuk menyiksa istri itu. 4). Melihat istri se golongan yang disiksa dengan digantung susu-susunya/payudaranya. 5). Melihat istri yang kepalanya seperti kepala bagong, badannya seperti badan himar, yang tetap ke istri itu sejuta macam siksa. 6). Melihat istri yang wajahnya seperti anjing, masuk api dari mulutnya dan keluar dari duburnya, sedangkan para malaikat memukulnya dengan gada dari neraka.

Setelah Rasulullah menyebutkan satu persatu siksaan wanita di neraka kepada ‘Ali, kemudian Siti Fatimah menghampiri Rasulullah dan menanyakan perkara apa saja yang dilakukan oleh para wanita itu sehingga mendapatkan siksa yang berat. Rasulullah menjawab bahwa perempuan yang rambutnya digantung adalah perempuan yang ketika di dunia tidak menutupi kepalanya dari lelaki lain yang bukan mahramnya (suka memperlihatkan ‘auratnya). Perempuan yang lidahnya digantung adalah istri yang sering menyakiti suami dengan omongannya.

Kalau wanita yang disiksa dengan digantung dua payudaranya adalah perempuan yang ketika di alam dunia nya sering memasukkan laki-laki lain ke kasurnya apabila suaminya tidak ada. Sedangkan istri yang diborgol kedua kakinya, diparekos keun sampai emun-emunan nya dan Allah menyuruh ular dan langgir untuk menyiksanya adalah perempuan yang ketika di dunia nya sering tak peduli terhadap kewajiban dari Allah, dan si istri tidak adus setelah junub dan haidnya. Istri yang disiksa kepalanya jadi bagong dan badannya jadi himar adalah istri yang ketika di alam dunia pekerjaannya tukang ngadu domba, tukang bohong. Istri yang di siksa dengan dirupakan anjing serta api neraka masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya adalah yang ketika di alam dunia nya nga gonggorokan (berbuat tidak baik) dan hasud kepada suami dan tetangganya.

Kesimpulannya perkara istri terhadap suami adalah seperti anak terhadap ibu bapaknya. Jadi wajib to’at /turut si anak terhadap ibu bapaknya dan wajib meminta ridho kepada keduanya. Begitu juga wajib seorang istri turut dan meminta ridho suaminya. Sebaliknya tidak wajib turut dan meminta ridho suami kepada istrinya.

Menurut Abi Huroiroh menceritakan pada suatu hari Rasulullah datang kepada Siti Fatimah yang cantik luar biasa (mudah-mudahan Allah ridho terhadap Siti Fatimah). Terlihatlah Siti Fatimah sedang menggiling gandum sambil menangis, kemudian Rasulullah bertanya perkara apa yang membuatnya menangis, karena pasti ada penyebabnya. Siti Fatimah menjawab bahwa yang membuatnya menangis adalah beratnya penggilingan dan sibuknya pekerjaan di rumah.

Lalu mendekatlah dan duduk Rasulullah disamping anaknya, setelah itu Siti Fatimah berkata lagi kepada Rasul agar beliau berkenan ngomong ke suaminya (Sayyidina ‘Ali) supaya memberinya jariyah yang dapat membantu pekerjaannya di rumah. Setelah mendengar perkataan anaknya lalu Rasulullah berdiri dan jalan menuju penggilingan gandum, lalu mengambil gandum dengan tangannya yang diberkahi serta dimulyakan, lalu gandum itu disimpan dipenggilingan sambil mengucap Bismillaahirrohmaanirrohiim, kemudian penggilingan itu muter dengan sendirinya karena Allah swt, setelah itu Rasul mengambil gandum yang sudah bersih dan diberikan kepada Siti Fatimah, sedangkan penggilingan tetap muter dengan sendirinya sambil membaca tasbih dengan bahasa yang rupa-rupa, sehingga sampai selesai gandum digiling semuanya.

Setelah selesai semua Rasulullah berkata ke penggilingan supaya berhenti, maka berhentilah penggilingan dengan idzin Allah. Lalu penggilingan bicara dengan irodat nya Allah memakali bahasa ‘Arab yang fasih yang intinya apabila Rasulullah menyuruh menggiling gandum yang ada di masriq dan maghrib (semua gandum yang ada di dunia), maka penggilingan itu akan menyanggupinya, karena penggilingan itu pernah mendengar ayat Allah di Al Quran yang artinya “Hai ingatlah seluaruh manusia yang beriman harus menjaga dirinya dan keluarganya dari neraka”, menyalanya neraka itu oleh orang-orang kafir dan yang bandel dan oleh batu sesembahannya yang tetap di neraka itu malaikat-malaikat yang keras dan bengis, dan tidak pernah meniadakan/selalu menaati perintah Allah swt.

Kemudian batu penggilingan itu berkata lagi bahwa dia takut sekali karena dia juga terbuat dari batu, kemudian Rasul berkata bahwa batu itu harus bahagia karena akan menjadi gedong nya Siti Fatimah di surga, akhirnya batu itu tersenyum bahagia. Lalu Rasulullah berkata lagi kepada Siti Fatimah bahwa penggilingan itu sebenarnya mau menggiling dengan sendirinya tetapi apabila Siti Fatimah mau menggiling sendiri (manual) maka Allah akan mencatat macam-macam kebaikan dan melebur macam-macam keburukan serta bakal mengangkat beberapa derajat. Kemudian Rasulullah juga berkata bahwa siapa saja istri yang menggiling gandum untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah swt menuliskan dari 1 biji itu 1 kebaikan, serta melebur dari 1 kejelekan dan mengangkat Allah kepada istri itu 1 pangkat derajat. Itu dari 1 biji bayangkan saja apabila ada beberapa liter.

Apabila seorang istri berkeringat karena menggiling gandum, maka Allah akan menjadikan 7 benteng antara si istri dengan api neraka. Siapa saja istri yang meminyaki/menyisir rambut anak-anaknya, mencuci baju-bajunya, Allah akan menuliskan kebaikan seperti ganjaran memberi makan 1000 orang yang lapar dan ganjaran yang memberi pakaian 1000 orang telanjang.

Siapa saja istri yang mencegah kebutuhan tetangganya, maka Allah akan mencegah/tidak memberi kepada istri itu minuman dari telaga di hari kiamat. Dari semua hal diatas, yang lebih utama adalah ridho suami kepada istrinya, dan ganjarannya lebih besar dari ganjaran-ganjaran diatas.

Kalau suami tidak ridho kepada istri Rasulullah juga tidak akan memperhatikan. Karena sebenar-benarnya ridho suami itu adalah ada dalam ridho Allah swt. Jadi kesimpulannya apabila suami ridho terhadap istrinya maka Allah juga akan ridho, tetapi kalau suami benci kepada istrinya, maka Allah juga tidak akan ridho.

Apabila perempuan hamil dari suaminya, selagi janin masih di kandungan malaikat tidak henti-hentinya membacakan istighfar untuk istri itu sampai melahirkan. Dan Allah menuliskan di tiap-tiap hari seribu kebaikan, dan melebur 1000 kejelekan. Lalu ketika melahirkan/merasakan sakitnya melahirkan Allah akan menuliskan Allah untuk dia seperti ganjaran orang yang perang sabilillah. Ketika anak/bayi  itu keluar maka keluar juga seluruh dosanya si istri/ibu seperti ketika dia dilahirkan dulu ke alam dunia oleh orang tuanya.

Kalau istri melayani suaminya dengan benar, bakal keluar seluruh dosanya dari si istri, seperti tidak ada dosa waktu dulu dilahirkan oleh ibunya. Kalau meninggal ketika melahirkan, dia tidak mempunyai dosa sedikit pun. Ketika sudah di dalam kubur dia akan melihat taman-taman seperti tamannya surga, dan Allah akan memberi ganjaran kepada dia ganjaran seribu orang naik haji dan seribu orang yang ‘Umroh, dan akan membacakan istighfar 1000 malaikat kepada istri itu sampai hari kiamat.

Siapa saja istri yang berbakti (melayani) suaminya dalam sehari semalam dengan ikhlas dan ridho hati dan niat yang benar, seluruh dosa si istri akan dimaafkan oleh Allah swt, dan Allah akan memberikan pakaian dengan dandanan yang hijau-hijau. Dan akan menuliskan Allah bagi istri itu dari satu-satu bulu yang ada di badan istri seribu kebaikan serta akan memberikan ganjaran seratus orang naik haji dan ‘umroh.

Siapa saja istri yang memberikan senyum (memperlihatkan kebahagiaan) kepada suaminya, maka Allah akan melihat istri itu dengan rohmat. Siapa saja istri yang menghamparkan kasur buat suaminya dengan ridho hati, kecuali ada pa udzuran, Allah akan mengampuni dosa si istri yang pertama dan terakhir.

Siapa saja istri yang meminyaki rambut atau janggut suaminya, memotong kuku suaminya, maka Allah akan memberikan minuman yang bersih, yang wangi, yang belum diambil oleh tangan orang dan minuman sungai surga. Dan bakal dientengkan sakaratul mautnya, dan akan melihat dikuburannya setengah dari tamannya surga, bakal bisa melewati jembatan shirotol mustaqim dengan selamat.

Sayyidina ‘Abdulloh putra Ki Mas’ud pernah mendengar Rasulullah berkata siapa saja istri yang mencuci pakaian suaminya, maka menuliskan Allah untuk si istri seribu kebaikan dan melebur seribu kejelekan, dan ditinggikan derajatnya sampai 1000 derajat, akan memintakan ampunan untuk dia setiap perkara yang diterangi matahari.

Menurut Siti ‘Aisah suara nenun nya istri sama dengan suaranya takbir ketika perang sabilillah, dan siapa saja yang memakaikan pakaian hasil tenunan dia kepada suaminya, maka dari 1 pakaian itu akan mendapatkan seratus ribu kebaikan.

Rasulullah pernah berkata siapa saja yang membeli pakaian/makanan untuk anak istrinya, dan membawa dengan tangannya untuk dibawa kepada anak istrinya, maka Allah akan melebur dosa 70 tahun.

Menurut Rasulullah siapa saja yang berbahagia memiliki putra istri, sama dengan nangis karena takut kepada Allah. Sedangkan orang yang nangis karena takut kepada Allah, maka mengharamkan Allah ke orang itu masuk ke dalam neraka.

Rasulullah bersabda rumah yang ada anak perempuan, maka dimana-mana harinya Allah nurunkan rohmat ke rumah itu 12 rohmat, dan tidak henti-hentinya berkunjung/ziarah ke rumah itu para malaikat, serta menuliskan para malaikat disuruh Allah untuk orang tuanya si anak perempuan, dalam sehari semalamnya ibadah 70 tahun.

 

Diambil dari kitab ‘Uquudullujaen karangan Syeikh Muhammad Bin Umar Nawawi

Hak Istri Yang Wajib Dilakukan Oleh Suami

Suami harus menjaga istrinya dari kejelekan dan tetap harus dalam rel kebaikan. Tegasnya harus ‘adil dalam menggilir, harus bagus dalam memberi nafkah, harus bagus dalam bahasa. Dalam hal istri ada haq yang wajib dilakukan suami, begitu juga ada yang wajib dikerjakan istri untuk suaminya.

Sayyidina abdullah anaknya sayyidina ‘abbas ; “sebenar-benarnya saya senang sekali ngedandanin istri saya, begitu juga istri saya juga senang nge dandanin badan saya”. Namun tetap suami harus memayungi istrinya dalam beberapa hal. Seperti wajibnya nurut istri terhadap suami, karena sudah memasrahkan kepada istrinya mas kawinnya, serta dalam hal nafkah untuk kemaslahatan istrinya.

Sudah diriwayatkan oleh rasulullah saw, ketika beliau naik haji yang terakhir, di hari jum’at setelah Rasul memuji Allah swt dan setelah memberi nasihat kepada orang-orang yang hadir, “hai kaum kami, harus ingat terhadap perkara yang dibebankan kepada kalian dalam urusan istri-istri, tegasnya kalian harus menerima wasiat kami dalam masalah istri, serta harus menyayangi kalian terhadap istri, serta harus memayungi kalian terhadap istri-istri kalian dengan kebaikan. Dan harus wasiat kalian kepada istri-istri kalian, karena wasiat lebih penting dari dho’if nya istri.

Dan membutuhkannya istri terhadap suami yang mengurusnya. Membimbing terhadap urusan istri, maka pastinya istri-istri itu seolah-olah tawanan kalian semua hai lelaki. Maka sebenar-benarnya laki-laki itu membawa istri yang merupakan amanat Allah swt. Oleh sebab itu tidak memiliki istri-istri dari suami-suami terhadap suatu perkara kecuali dari kebaikan. Kalau istri berbuat kejelekan/nusyuz yang jelas, maka boleh kalian lelaki menjauhi istri dari tempatnya tidurnya, tegasnya jangan tidur seranjang dengan istri. Menjauhi istri itu tanpa batas waktu selagi masih nusyuz, karena menjauhi istri ini untuk kemaslahatan istri.

Jadi selagi si istri belum sadar/belum maslahat, maka tetap harus menjauhi dari tempat tidurnya, walaupun sampai setahun. Tetapi kalau istri sudah sadar/berbuat kemaslahatan, maka tidak boleh kalian kaum lelaki menjauhi tempat tidur istri kalian. Apabila si istri tetap saja nusyuz, walaupun sudah dijauhi tidurnya, maka kalian kaum lelaki boleh memukul, asal memukulnya jangan yang membuat potong/patah tulang atau yang membuat kulit jelek, tegasnya memukulnya jangan yang kenceng.

Kalau dengan dijauhi tidur istrinya sadar/berhenti nusyuznya, turut terhadap perintah suami, maka tidak boleh kepada kalian kaum lelaki mencari jalan untuk memukul istri kalian. Jadi walhasil harus menjadikan kalian semua terhadap perkara yang ada di kesalahan istri, dimana sudah baik lagi, nah kesalahan itu seolah-olah tidak ada kesalahan saja. Karena ada keterangan dimana-mana orang taubat dari dosanya, nah setelah taubat seolah-olah tidak punya dosa.”

Suami Istri

Harus ingat sebenar-benarnya tetap ada haq yang wajib dilakukan oleh istri-istri, begitu juga tetap istri-istri ada haq yang wajib dilakukan oleh kaum lelaki. Hak lelaki yang wajib dilakukan oleh istri adalah tidak boleh memasukkan orang lain ke kasur suami (orang yang tidak disukai suami), begitu juga tidak boleh memasukkan seseorang yang tidak disukai suami kedalam rumah. Sedangkan hak istri yang wajib dilakukan suami adalah memberi istri pakaian yang bagus dan memberi makanan istri dengan makanan yang enak.

Hadits mengenai kewajiban suami terhadap istri

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam ibnu Majah, sudah berkata Rasulullah saw :”haq istri yang wajib terhadap suaminya, bahwa harus mmberi makanan makanan suami kepada istrinya, kalau makan makanan si suami. Contohnya kalau suami makan di restoran dengan daging, maka si suami harus membelikan daging itu untuk istrinya di rumah. Serta harus membelikan pakaian suami untuk istrinya, dimana-mana suami membeli pakaian untuk dirinya sendiri. Suami juga tidak boleh memukul istri di wajahnya kalau si istri nusyuz. Suami tidak boleh berkata yang jelek kepada istrinya dengan kata-kata yang tidak bagus terdengarnya……”

Sudah diriwayatkan dalam hadist Imam Thobroni, berkata Rasulullah :”siapa saja laki-laki yang menikahi seorang istri terus ditentukan mas kawinnya (besar/kecil), lalu didalam hatinya laki-laki tidak akan membayar mas kawin tersebut, kemudian si laki-laki itu meningggal sebelum mas kawinnya dibayar kepada si istri, maka akan datang si suami di hari kiamat nanti kepada Allah seperti orang yang berzina, tegasnya yang berdosa. Oleh sebab itu hai kaum lelaki kalau kalian sudah menentukan mas kawin, maka harus kalian semua membayarnya.

Nabi Muhammad saw sudah berkata : “sebenar-benarnya paling sempurna iman seseorang yaitu orang yang paling bagus budi pekertinya dan yang paling menyayangi ke ahlinya (istrinya)”, serta sudah berkata Rasulullah saw “yang paling bagus dari kalian semua adalah yang paling bagus terhadap istrinya”.

Sudah diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw : siapa saja orang yang sabar terhadap kejelekan akhlaq/budi pekerti istrinya, nah orang tersebut akan diberi ganjaran oleh Allah seperti ganjaran yang diberikan oleh Allah terhadap Nabi Ayyub as. Mengganjar kesabaran dan menahan hina.

Karena Allah swt telah mencoba terhadap nabi Ayyub dengan 4 macam cobaan.

  1. Dihancurkan harta bendanya
  2. Diambil nyawa semua anak-anaknya
  3. Dirusak badannya
  4. Dijauhi oleh orang-orang kecuali istrinya.

Tetapi nabi Ayyub tetap sabar, tidak berkeluh kesah. Kisahnya seperti ini, nabi Ayyub diberi pangkat oleh Allah nabi dan Rosul, lalu diberi kekayaan oleh Allah ribuan unta,  sapi, domba, khimar, gajah, serta mempunyai 500 wuluku dipegangnya oleh 500 ‘abis sambil dikawinkan dengan 500 amat kepunyaannya. Kemudian mempunyai putra yang diberi olehnya harta semuanya. Nabi Ayyub mempunyai 3 golongan kamrot yang iman semuanya ke nabi Ayyub.

Diceritakan pada saat itu iblis masih belum dihalangi dari langit, jadi iblis tersebut bisa hilir mudik ke langit. Suatu waktu iblis mendengar para malaikat membaca sholawat dan memuji nabi Ayyub, maka timbul hasud si iblis terhadap nabi Ayyub, kemudian iblis menghadap Allah, dan berkata “Ya Allah saya melihat hamba-Mu nabi Ayyub banyak bersyukur dan memuji Allah, begitu juga dalam to’at ibadahnya, tapi kalau oleh saya di beri kejelekan, maka bakal berhenti syukur dan to’atnya kepada Allah”. Maka menjawab Allah ke iblis “berangkatlah kamu, maka menguasakan kecuali kepadamu untuk merusak harta nabi Ayyub”.

Maka berangkatlah iblis, lalu mengumpulkan golongan ‘iprit, setan, jin, menurut iblis “aku sudah diberi kekuasaan oleh Allah untuk merusak harta nabi Ayyub”, maka terus memerintah iblis ke golongan ‘iprit supaya membakar dan menghancurkan seluruh unta nabi Ayyub berikut penggembalanya. Setelah itu iblis datang kepada nabi Ayyub, ternyata nabi Ayyub sedang tegak sholat. Kata Iblis “hai Ayyub kamu sholat saja, tuh lihat unta dan penggembalanya habis terbakar”, nabi Ayyub menjawab “Alhamdulillah, harta adalah pemberian Allah, kemudian Allah mengambilnya kembali, ya tidak apa-apa”.

Kemudian iblis menghadap kembali kepada Allah ingin merusak domba Nabi Ayyub, Allah berkata “berangkatlah kamu, Aku memberi kuasa kepadamu untuk merusak domba nabi Ayyub”. Lalu iblis merusak dan menghancurkan domba-domba nabi Ayyub, terus datang kembali iblis kepada nabi Ayyub. Kata iblis “sudah menghancurkan angin terhadap tanaman kamu dan domba-domba kamu”, maka berkata nabi Ayyub “Alhamdulillah”, tegasnya memuji nabi Ayyub terhadap Allah swt. Iblis berkata kepada Allah “semoga Allah memberi kuasa kepada saya untuk merusak anak cucu nabi Ayyub”, kemudian Allah menjawab “berangkatlah kamu, Aku telah menguasakan kepadamu untuk merusak anak cucu nabi Ayyub”, maka berangkatlah iblis kepada anak cucu nabi Ayyub, kemudian meruntuhkan bangunan anak cucu nabi Ayyub, maka meninggal lah anak cucu nabi Ayyub tersebut. Kemudian datanglah iblis kepada Nabi Ayyub memberi kabar tersebut, maka membaca istighfar nabi Ayyub nya.

Lalu iblis menghadap lagi kepada Allah, “semoga Allah memberikan restu kepadaku untuk merusak jasad nabi Ayyub” maka berkata Allah kepada iblis “menguasakan Aku hanya kepadamu untuk merusak jasad nabi Ayyub, kecuali yang tidak bisa dirusak itu hatinya nabi Ayyub, lisannya dan ‘akalnya”. Maka berangkatlah iblis kepada Nabi Ayyub, ternyata nabi sedang sujud. Datanglah iblis dari sebelah depan nabi Ayyub, terus meniup iblis ke nabi ayyub di 2 lubang hidungnya, maka jadi menyala dari tiupan itu badannya nabi Ayyub, kemudian menjadi gatal badannya nabi Ayyub, lalu digaruk dengan kuku-kukunya sampai copot kukunya nabi Ayyub.

Terus menggaruk nabi Ayyub dengan yang kasar, terus pakai genteng, akhirnya batu, tidak berhenti nabi Ayyub menggaruk dengan batu sehingga rontok daging jasad nabi Ayyub. Maka dikeluarkanlah nabi Ayyub dari kampungnya, dan dibuatkan saung di hutan yang jauh dari manapun, serta semua orang menjauh kecuali istrinya nabi Ayyub yang bernama Siti Rohmah. Siti Rohmah tetap berbakti kepada nabi, begitupun juga nabi Ayyub tetap sabar.

Kisah Siti Asiyah Istri Fir’aun

Siapa saja istri yang sabar terhadap jeleknya akhlaq/budi pekerti suaminya, akan diberi ganjaran oleh Allah seperti ganjarannya yang diberikan kepada Siti Asiyah, istrinya Fir’aun.

Kisahnya seperti ini : waktu nabi Musa mengalahkan tukang sihir Fir’aun, maka Siti Asiyah iman kepada nabi Musa. Ketika mengetahui istrinya seperti itu kemudian Fir’aun menyiksanya dengan cara memaku dua tangan dan dua kakinya ke bumi, juga diborgol/diikat seluruh anggota badannya dan disimpan di tempat panas, setelah yang menyiksanya pulang, maka datanglah para malaikat, meneduhkan (memberi teduh) dengan awan, lalu Siti Asiyah berdoa kepada Allah robbi ibni lii ‘indaka baetan filjannati, artinya Hai Pangeran ku semoga Engkau  mendirikan gedung untukku di surga.

Kemudian diperlihatkanlah oleh Allah kepada Siti Asiyah gedung di surga yang terbuat dari marmer putih, lalu diambil nyawa/ruh Siti Asiyah. Kemudian memerintah Fir’aun kepada algojonya untuk membawa batu besar dan ditimpakan ke tubuh Siti Asiyah. Maka berdatanganlah orang-orang dengan membawa batu besar, lalu ditimpukkan ke badan Siti Asiyah, namun Siti Asiyah sudah meninggal, jadi tidak merasakannya.

Kisah Hikmah Suami Sholeh Menghadapi istri durhaka

Sudah berkata Sayyid ‘Abdullah Al Haddad yang mempunyai toriqoh yang masyhur dan mempunyai rahasia yang banyak. Menurut istilah kampung/daerah kalau keturunan Rasulullah jenis kelaminnya laki-laki sering disebut Habib, kalau perempuan sering disebut Habibah. Tetapi kalau menurut ‘ulama kalau laki-laki disebut Sayyid, dan kalau perempuan disebut Sayyidah. Menurutnya laki-laki yang sempurna dalam agamanya adalah laki-laki yang murah di haq pribadinya, contohnya seperti kalau dandan sekedarnya, tetapi tidak murah/murahan di haq Allah swt misalnya sholat. Ngambek ke orang lain kalau sholat di tinggalkan atau tidak diutamakan. Sedangkan laki-laki yang kurang agamanya yaitu laki-laki yang tidak murah di haq pribadinya, dan murah di haq Allah swt.

Hikayah : ada orang sholih mempunyai saudara /sahabat orang sholih, nah orang sholih ini sering zarah/berkunjung kepada sahabatnya itu setahun sekali. Pada satu waktu, datanglah orang sholih kepada sahabatnya, maka ketika datang kerumahnya setelah mengucap salam, terus mengetuk pintu, ketika diibuka pintu, kata istri sahabatnya “siapa kamu?’ menjawab orang itu “saya saudara suamimu di agama Allah, kemana saudaraku/suami kamu?” menjawab wanita itu “suamiku sedang tidak ada, dia sedang mengambil kayu bakar di gunung”, ingin sekali Allah tidak ngebalikkin lagi suaminya, kemudian istri itu menjelek-jelekkan suaminya.

Setelah itu datanglah suaminya dengan membawa kayu bakar yang tersimpan di punggung maung (yang madep/menghadap ke orang sholih). Lalu diambillah kayu bakar yang ada di punggung maung sambil berkata “berangkatlah kamu, semoga Allah memberi keberkahan kepadamu”. Lalu tuan rumah itu mempersilahkan tamunya masuk, setelah beberapa lama termasuk sudah makan, tamu itu pamitan pulang. Di sepanjang perjalanan dia berpikir, kaget terhadap saudaranya yang sabar  walaupun dimarahi oleh istrinya tetap tidak menjawab apa-apa. Setahun kemudian dia berkunjung kembali kepada saudaranya.

Setelah sampai di rumah dia mengetuk pintu sambil salam, kata yang didalam rumah “siapa kamu” tamu menjawab “saudara suamimu, maksudnya akan sillaturrohim”, maka berkata si istri “bahagia sekali dapat suamiku punya saudara” kemudian istri itu mem bagus –bagus kan suaminya, dan menyuruh tamunya untuk menunggu suaminya yang sedang mengambil kayu bakar.

Tidak begitu lama datanglah suaminya dengan membawa kayu bakar diatsa pundaknya, lalu dia mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah lalu menjamunya dan mengobrol. Sebelum pulang tamunya bertanya perihal istrinya yang dulu dan masalah ikatan kayu bakar yang dibawa oleh maung, maka tuan rumah menjawab, kemudian tuan rumah berkata bahwa istrinya yang perkataannya jelek sudah meninggal. Saya tetap sabar walaupun akhlaq istri jelek, maka dari itu Allah menaklukkan maung atas kesabaran saya itu. Setelah itu saya menikah dengan istri yang sholeh yang menyenangkan dan membahagiakan saya, dan sekarang saya harus menanggung sendiri ikatan kayu bakar.

Faidah : suami boleh memukul istri apabila istrinya tidak mau diajak tidur, keluar dari rumah tanpa idzin, karena memukul anak kecil sampai nangis, istrinya memarahi orang lain, menyobek baju suami, memegang dagu suami, berkata yang jelek kepada suaminya, misalnya ya khimar atau ya baliid, hai bodoh, berkata kurang ajar walaupun suaminya marah dulu, atau mengobrol dengan laki-laki lain, mengobrol dengan suaminya tetapi kenceng dengan maksud supaya didengar orang lain, dll.

Memukul suami ke istri ketika meninggalkan sholat ada 2 qoul. Qoul yang pertama boleh memukulnya apabila meninggalkan sholat walupun sudah disuruh oleh suaminya. Suami harus memerintah istri kepada kebaikan, dan menyayanginya.

Allah akan memberi rohmat kepada suami/laki-laki yang berkata kepada keluarganya perhatikanlah sholat 5 waktu, laksanakanlah puasa di bulan romadhon, bayarlah zakat ketika mencapai nishob, sayangilah fakir miskin dan anak yatim, dan sering memberi ke tetangga, mudah-mudahan dengan berbuat seperti itu Allah mengumpulkan kita semua di surga.

Begitu juga Suami harus memberi nafkah sesuai dengan kemampuannya, dan sabar ketika istrinya berbuat tidak baik kepadanya, harus juga sayang dan membalikkan kepada jalan kebaikan kalau istrinya kurang ‘akalnya/kurang agamanya.

Apabila Allah tidak menutupi aib nya kaum istri, niscaya istri harganya seperti segenggam dari tanah. Suami juga harus memberi pelajaran yang dibutuhkan istri dalam bab agama, misalnya hukum-hukum bersuci (ilmu adus dari haid dan junub, wudhu, dll).

Perkara yang ada hubungannya dengan haid dengan menjelaskan hubungannya dengan sholat. Misalkan apabila berhentinya darah haid sebelum maghrib kira-kira 1 rokaat sholat ashar, maka wajib bagi istri untuk meng qodho sholat dhuhur dan ashar. Kalau susutnya darah haid sebelum waktu shubuh, kira-kira 1 rokaatnya sholat ‘isya, maka wajib istri meng qodho sholat maghrib dan ‘isya. Nah hal-hal seperti itu sangat sedikit sekali perempuan yang memperhatikan dan menjaganya.

Suami wajib memberi pelajaran istrinya dalam masalah ibadah, tegasnya yang fardhu dan sunatnya (ilmu sholat fardhu dan ilmu sholat sunat), puasa, zakat, haji. Apabila suami mampu mendidik istrinya, maka tidak boleh istrinya ini keluar untuk belajar kepada orang lain. Tetapi kalau suaminya tidak bisa, maka boleh si istri belajar kepada orang lain dengan idzin atau restu suaminya.

Semua orang yang beriman harus ingat serta menjaga diri dan keluarganya dari neraka yaitu dengan melakukan ibadah, tetapi tidak akan diterima kalau tanpa ilmu. Jadi kesimplannya setiap orang harus mau menuntut ilmu supaya benar ibadahnya. Sebab kalau ibadahnya benar akan dapat menjaga diri dari neraka.

Menurut sayyid ‘Abdulloh anaknya sayyidina ‘Abbas bahwa orang-orang harus memberi pelajaran kepada istrinya, anak cucunya dan yang lainnya  tentang syariat agama islam. Dan mendidik akhlaq dan budi pekerti yang bagus. Sebenar-benarnya yang paling berat siksanya di hari kiamat itu adalah orang yang membiarkan ahlinya (keluarganya) bodoh dalam masalah agama.

Menurut sayyid ‘Abdulloh anak sayyidina ‘Umar ra,  Rasulullah berkata : “kalian semua adalah yang menggembala, tegasnya yang diamanatin harus menjaga dan membereskan yang diamanatkannya, nah diakhirat nanti akan ditanya tentang yang digembalanya/yang diamanatkannya. Kalau terpenuhi tentang gembalaanya/amanatnya maka akan mendapatkan ganjaran yang sempurna. Kalau tidak terpenuhi maka gembalaannya atau yang diamahinya akan menagih haq nya di akherat nanti.

Imam/pimpinan/pejabat atau wakilnya yang ngurus rakyat, dia akan ditanya nanti tentang dipenuhi haq rakyatnya atau tidak. Begitu juga kepala keluarga sebagai imam istri dan anak cucunya akan ditanya tentang tentang gembalaannya (yang diasuhnya), apakah memenuhi haqnya atau tidak (ke istri dan anak cucunya), tegasnya dalam memberi pakaian, nafkah dan kebutuhan batin istrinya dengan bagus atau tidak.

Istri juga yang menggembala di rumah suaminya, apakah dia memenuhi tanggung jawabnya atau tidak (bagus dalam mengurus kehidupan rumah tangga), memberi nasihat ke suaminya, sayang ke suaminya, menjaga diri ketika tidak ada suaminya, menjaga harta suaminya, mengurus anak-anaknya.

Serta kalau pembantu adalah yang mengasuh/menggembala harta majikannya, apakah memenuhi haq nya atau tidak, dengan kata lain mampu menjaga harta itu atau tidak. Apabila orang sendiri, dia akan ditanya  apakah dia melaksanakan yang diperintahkan Allah dan menjauhi laranngan Allah atau tidak.

Kaum lelaki harus takut kepada Allah dalam masalah istri, karena sebenarnya istri adalah amanat dari Allah kepada laki-laki, maka apabila tidak mau memerintah sholat kepada istri dan tidak memberikan pelajaran tentang agama, maka nyata cedera orang ini kepada Allah dan kepada Rasulullah. Dan sudah berwasiat Rasulullah ketika akan meningggal tentang 3 hal yaitu yang pertama sholat 5 waktu, yang kedua ‘abid, ‘amat yang dimiliki, dan jangan memperlakukan hewan  (menyuruh) yang tidak kuat untuk dilakukan oleh hewan tersebut.

Dan yang ketiga adalah istri, karena seolah-olah istri itu adalah tawanan bagi suaminya (sudah mengambil amanat dari Allah swt), maka harus menghalalkan terhadap farji nya istri dengan kalimat Allah. Rasulullah juga bersabda : tidak semata-mata menghadap seseorang kepada Allah dengan membawa dosa yang lebih besar daripada membiarkan ahlinya (keluarganya) tetap dalam kebodohan di bidang agama. jadi kesimpulannya adalah yang paling besar dosanya adalah orang yang membiarkan keluarganya bodoh. Yang paling pertama menempel di laki-laki pada hari kiamat adalah istri dan anak-anaknya.

Maka bakal berkata istri dan anak-anaknya kepada Allah, bahwa dia dan anak-anaknya meminta haq dari suaminya, bahwa suaminya tidak memberikan pelajaran agama serta memberi nafkah dari jalan haram, kemudian suami itu dipukul dan digusur ke neraka.

 

Diambil dari kitab ‘Uquudullujaen karangan Syeikh Muhammad Bin Umar Nawawi

Inilah Hak-Hak Suami Istri Menurut Islam

Setelah membaca Bismillah, alhamdulillah, sholawat dan salamnya, penulis kitab menyatakan bahwa ada 1 risalah yang sangat penting, yang menjadikan hati berbunga. Menyusun penulis ke risalah ini dengan 4 pasal/4 bagian dan 1 khotimah/penutup masalah, tegasnya untuk menyempurnakan perkara yang dimaksud. Pasal/bagian itu adalah ;

Pertama, macam-macam hak istri yang wajib dilakukan oleh suami. Kewajiban suami terhadapi istrinya adalah bagus dalam nyampuran (nafkah batin) dan membiayai kebutuhan istrinya dengan layak, yaitu memberi makanan, pakaian. Begitu juga wajib suami membayar mas kawin yang sudah ditentukan.

Apabila suami punya istri 2, 3, atau 4 maka wajib si suami itu berlaku ‘adil. Suami juga berkewajiban mendidik istrinya dalam sisi ibadah (fardhu dan sunat, walupun bukan sunat muakkad). Selain itu juga suami harus memberi tahu istrinya tentang perkara haid, nifas, dan juga wajib memberi tahu kepada istrinya tentang wajibnya to’at istri kepada suami dalam hal yang bukan ma’siat kepada Allah swt.

Kedua, hak suami yang wajib dilakukan istri. Kewajiban istri terhadap suami yaitu ; turut istri kepada suami yang bukan ma’siat, harus bagus nyampuran istri kepada suami. Istri wajib memasrahkan seluruh badannya kepada suami ketika tidur. Istri juga tetap harus diam di rumah, istri juga harus menjaga dirinya dari memasukkan laki-laki lain ke kasur suaminya/rumahnya.

Ketiga, istri juga wajib memakai penghalang/hijab dari terlihat oleh orang lain, walupun yang terlihatnya itu wajah dan telapak tangan, karena saling melihatnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram haram hukumnya, walaupun tidak ada syahwat. Istri tidak boleh meminta kepada suaminya diatas keperluannya, walaupun si istri tahu bahwa suaminya tersebut mampu. Istri juga harus mencegah dari mengambil perkara yang didaptkan dari usaha haram. Begitu juga istri tidak boleh berbohong ketika haid dan tidak haidnya.

Keempat, keutamaan istri sholat di dalam rumah dibandingkan dengan sholat di mesjid bareng dengan Nabi Muhammad saw. Karena menurut Rasulullah saw : “yang paling deket-deketnya istri dari rahmat Allah yaitu apabila istri ada didalam rumah”.sholat istri dihalaman rumah lebih utama daripada sholat istri didalam mesjid, sholat istri didalam rumah lebih utama daripada dihalaman rumah, dan sholat istri didalam kamarnya lebih utama daripada sholat istri ditengah rumah. Yang membuat utamanya adalah tutup (terhalangnya)

Kelima, haramnya lelaki melihat istri yang bukan mahramnya, begitu juga sebaliknya. Begitu juga laki-laki yang baru baligh, dihukuman seperti orang dewasa saja, maka wajib bagi walinya untuk mengingatkannya.

 

Diambil dari kitab ‘Uquudullujaen karangan Syeikh Muhammad Bin Umar Nawawi

Pembagian Jatah Bermalam atau Giliran Istri

Rasulullah saw bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Nasa’i yang bersumber dari Ibnu Umar r.a. sebagai berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat keadilan adalah berada di sisi Allah, nanti pada hari kiamat. Mereka berada di atas mimbar dari cahaya di sisi kanan Allah yang maha pengasih. Dan kedua sisi Allah itu adalah kanan, mereka adalah orang yang berbuat adil dalam menjatuhkan hukum, berlaku adil terhadap keluarga atau istrinya dan jabatan yang dipangku.

Imam Thabrani juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi telah menetapkan pada diri kaum perempuan sifat cemburu, dan jihad pada kaum lelaki. Oleh sebab itu, barang siapa yang bersaba terhadap perilaku kaum perempuan dengan penuh keimanan dan untuk mencari ridha Allah, maka ia akan mendapat pahala sebagaimana orang yang mati syahid.

Sedang Imam Turmudzi dan Hakim meriwayatkan sebuah hadis Nabi saw sebagai berikut:

Barang siapa yang mempunyai dua istri, lalu tidak berlaku adil diantara keduanya, maka nanti pada hari kiamat akan datang (di sisi Allah) dalam keadaan tubuhnya miring sebelah.

Imam Nasa’i telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Barang siapa yang mempunyai dua istri, dimana sang suami condong kepada salah satunya dan meninggalkan yang lain, maka nanti pada hari kiamat akan datang di sisi Allah, sedang separuh tubuhnya miring.

Maksud condong disini ialah tindakan secara lahiriah yang dapat diperlihatkan dan diusahakan oleh manusia, tidak mengenal perasaan kasih sayang dalam hati karena hal itu diluar kekuasaan manusia.

Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah saw memberi bagian bermalam diantara istri-istrinya, lalu bertindak secara adil diantara mereka, lalu berdoa sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ هٰذَاقِسْمِى فِيْمَااَمْلِكُ فَلاَتَلُمْنِى فِيْمَاتَمْلِكُ وَلاَاَمْلِكُ

Wahai Tuhanku, ini adalah bagianku yang aku kuasai, oleh sebab itu janganlah Engkau menyalahkan aku tentang kecondongan hati yang Engkau kuasai dan aku tidak mampu menguasainya.

Demikianlah penjelasan dari kami tentang hal yang berkaitan dengan pembagian bermalam di antar istri. Semoga uraian singkat di atas dapat bermanfaat bagi kita semua.

Pahala Bagi Orang Yang Bersabar Atas Keburukan Akhlak Suami Atau Istrinya

Dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

Barang siapa yang tahan menyabari kejahatan akhlak istrinya, maka Allah akan memberikan pahala kepadanya sebagaimana pahala yang diberikan kepada Nabi Ayub a.a. atas bala yang telah menimpanya.

Dan barang siapa yang sabar terhadap akhlak jahat sang suami, maka Allah akan memberikan kepadanya pahala yang dialami Asiyah yang bersabar atas akhlak jelek Fir’aun.

Kisah Hikmah Orang Yang Sabar Terhadap Keburukan Perilaku Istrinya

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ada seorang lelaki yang datang menghadap kepada Umar bin Khatthab r.a. untuk mengadukan akhlak istrinya, lalu lelaki itu berdiri di hadapan pintu Umar r.a. untuk menanti keluarnya Umar. Namun dalam penantian itu, lelaki itu mendengar istri Umar sedang memaki-maki kepadanya. Sungguh demikian Umar tetap berdiam diri, tidak memberikan jawaban kepadanya.

Melihat kenyataan yang dialami oleh keluarga Umar ini, lalu lelaki itu kembali pulang seraya berkata di dalam hatinya, “Jika keadaan yang sedemikian ini dialami oleh Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, apalagi keadaanku.”

Lalu Umar keluar melihat lelaki yang datang kali ini lalu kembali pulang, lalu Umar memanggilnya seraya berkata, “Apakah keperluanmu kali ini?” Jawabnya, “Wahai Amirul Mukminin, aku datang untuk mengadukan akhlak istriku yang jelek, di samping ia selalu mencercaku, tapi sekarang aku mendengar istrimu juga berbuat yang sedemikian akhirnya aku memutuskan untuk pulang kembali. Aku berkata dalam hatiku, ‘Jika keadaan yang kualami ini juga dialami oleh Amirul Mukminin bersama istrinya, maka apalagi dengan diriku’.”

Lalu Umar berkata, “Wahai saudaraku, sesungguhnya tabah, sabar terhadap istriku, lantaran ia telah melakukan hak yang semestinya wajib kulaksanakan sendiri, ia juga telah memasakkan makananku, membuatkan roti untukku, mencuci pakaianku, menyusui anakku. Padahal pekerjaan yang demkian itu tidak menjadi tanggung jawabnya. Sungguhpun demikian, hatiku menjadi tenang, tidak ingin terjerumus ke dalam keharaman lantaran istriku berada di sampingku, maka sudah barang tentu aku harus bersabar terhadap perilakunya.”

Lalu lelaki itupun berkata, “Demikian juga dengan aku, sekarang harus bersabar terhadap kejahatan akhlak istriku, wahai Amirul Mukminin, karena perlakuannya yang sedemikian itu juga tidak selamanya, tapi hanya untuk selingan saja dalam sementara waktu.”