Larangan ketika mengerjakan ibadah haji

Ada beberapa larangan yang tidak boleh dikerjakan oleh orang yang sedang dalam ihram haji atau umrah, larangan itu ada yang khusus bagi lelaki saja, atau perempuan saja, dan ada yang terlarang bagi keduanya.

Larangan tersebut diantaranya adalah:

  1. Haram bagi lelaki yang ihram sebelum tahallul awal, yaitu sebelum melakukan dua dari tiga pekerjaan berupa: melontar jumrah Aqabah, mencukur dan thawaf menutup kepala atau sebagian kepala.
  2. Haram atas wanita yang ihram sebelum tahallaul awal, menutup muka atau sebagiannya. Berdasarkan hadis riyawat Al Bukhari dari Ibnu Umar, bahwa Nabi Saw bersabda, “Janganlah perempuan yang ihram memakai tutup muka, dan janganlah memakai sarung tangan.”
  3. Terlarang menghilangkan kuku tangan atau kaki, kecuali yang pecah sedangkan dia tertimpa kesakitan maka boleh dihilangkan (dipotong) dan wajib membayar fidyah.
  4. Terlarang menghilangkan rambut atau bulu badan baik dari kepala maupun yang lain dari dirinya sekalipun sedikit dengan mencabut atau membakar atau cara lain menghilangkan.
  5. Terlarang meminyaki rambut kepalanya atau jenggotnya sekalipun tidak karum.
  6. Terlarang mengenakan harum-haruman pada pakaiannya dan badannya serta yang dipakai dan makanan dengan cara dipercikkan maupun dioleskan atau dibawa, dengan minyak wangi misik atau anbar. Juga haram menggosokkan sabun wangi pada badannya atau benda wangi lain pada pakaian.
  7. Haram melakukan akad nikah atau menikahkan, dan tidak sah akadnya baik orang yang akad itu menjadi wali atau suami atau wakil wali atau wakil suami sebagai wakil dalam akad pernikahan. berdasarkan hadis riwayat Muslim berita dari Utsman bin ‘Affan, bahwa Nabi Saw bersabda, “Orang yang sedang ihram tidak boleh kawin dan tidak boleh pula mengawinkan (menjadi wali atau wakil) dan tidak boleh pula meminang.” Juga haram akad nikah ketika orang yang akad itu halal sedangkan si istri masih dalam keadaan ihram haji atau umrah atau keduanya.
  8. Harak bersetubuh secara ijma’, sekalipun pada dubur binatang dan sekalipun dengan aling-aling serta tidak mengeluarkan sperma. Juga terlarang menyenggamai istri-istri sendiri sekalipun halal karena hal itu menjurus pada maksiat. Terlarang pula melakukan pendahuluan-pendahuluan persenggamaan, seperti mencium, memandang dan menyentuh dengan dorongan syahwat sekalipun dengan landasan dan tidak keluar sperma, tetapi tidak wajib membayar dam jika memang tidak bersentuhan sekalipun keluar sperma. Persenggamaan bukan hanya terlarang, tetapi memfasidkan, membatalkan umrah apabila terjadi sebelum selesai dari semua pekerjaan umrah dan merusak haji apabila terjadi sebelum mengerjakan penghafal pertama. Haram juga bersenang-senang mengeluarkan sperma dengan tangannya tetapi hanya wajib membayar fidyah.
  9. Haram merusak dan mengganggu seluruh binatang darat yang halal dimakan kecuali darurat. Juga haram merusak telur-telur dari binatang darat, sebagaimana terlarang memperjualbelikan dan memerah susunya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 96, “Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram.”

Hukum meninggalkan rukun dan wajib haji

Barang siapa yang meninggalkan satu rukun saja dari rukun-rukun haji atau umrah, maka tidak sah hajinya dan umrahnya, dia juga tidak boleh keluar dari ihramnya hingga melakukan rukun yang ditinggal serta tidak dapat diganti dengan dam atau lainnya.

Adapun tiga rukun itu tak akan habis selama dia masih hidup, yaitu thawaf, sa’i dan bercukur. Sebab masa (waktu) untuk melakukan tiga rukun ini lama yaitu sepanjang umurnya sampai akhir hayat. Tetapi mengakhirkan tiga rukun dari hari Nahar itu hukumnya makruh. Lebih berat lagi mengakhirkannya dari hari-hari tasyrik, kemudian dari keluarnya seorang itu dari Makkah. Dan bercukur itu tidak ditentukan di Mina dan Al Haram, tetapi boleh di suatu negara dan lainnya.

Siapa saja yang meninggalkan salah satu kewajiban dari wajib-wajib haji atau umrah hingga terlambat melakukan perbuatan yang diharamkan sebab ihram maka sah hajinya atau umrahnya dan dia wajib membayar dam. Baik meninggalkannya itu karena uzur seperti lupa atau bukan. Sedangkan dia berdosa jika meninggalkannya tanpa uzur seperti sengaja meninggalkan. Tetapi meninggalkan bermalam di Muzdalifah dan Mina itu apabila uzur maka tidak wajib membayar dam, seperti orang yang mendatangi Arafah pada malam hari Nahar karena disibukkan melakukan wukuf hingga terbit fajar, atau dia dalam keadaan sakit yang sulit untuk mendatangi sesudah separoh malam atau takut musuh. Maka kewajiban bermalam itu menjadi gugur dan tidak wajib membayar dam.

Dan siapa yang meninggalkan satu sunah dari sunah-sunah haji atau umrah, maka dia tidak berkewajiban membayar dam dan tidak berdosa, tetapi tidak memperoleh keutamaanm dan kesempurnaan serta kehilangan pahala yang besar. Sebab sunah itu suatu yang diberi pahala apabila dikerjakan dan tidak akan disiksa bagi yang meninggalkannya, dan kesunahan yang ditinggalkan itu tidak perlu diganti dengan membayar dam.

Sunah-Sunah Haji

Sunah haji adalah semua perbuatan selain rukun dan wajib haji. Artinya suatu perkara yang apabila dilakukan, maka aka mendapatkan pahala, dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa atau dengan kata lain sah ibadah hajinya.

Sunah minum air zamzam

Sunah meminum ari zamzam, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, air zamzam itu mengandung berkah, ia adalah makanan (minuman) yang mengenyangkan dan obat bagi penyakit.

Bahwasanya Rasulullah Saw meminum air zamzam dan bahwasanya beliau bersabda, “Ia penuh berkah, ia adalah makanan yang mengenyangi dan obat bagi penyakit.” Dan sesungguhnya Jibril mencuci hati Rasulullah pada malam Isra’ adalah dengan air zamzam.

Kesunahan meminum air zamzam itu apabila seseorang telah selesai mengerjakan thawaf dan telah shalat dua rakaat di maqam. Dalam meminumnya ia disunahkan meniatkan penyembuhan dan lain-lain dengan tujuan kebaikan dunia dan akhirat.

Diriwayatkan Thabrani dan Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas, Nabi Saw bersabda:

“Sebaik-baik air di muka bumi ialah aiz zamzam, ia merupakan makanan yang mengenyangi dan terhadap suatu penyakit mengobati.”

Kemudian hadis yang mengemukakan tatacara meminumnya dengan meniatkan mencari kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana sabda Nabi Saw:

“Air zamzam itu tergantung kepada niat buat apa ia diminum.”

Dan disunahkan duduk menghadap kiblat ketika hendak meminumnya. Menurut Al Fasyani, jika kita meminum air zamzam untuk memohon ampunan, hendaknya kita menghadap kiblat kemudian membaca asma Allah Ta’ala (Basmalah) kemudian berdoa:

اَللّٰهُمَّ بَلَغَنِىْ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ مَاءُزَمْزَمَ لِمَاشُرِبَ لَهُ وَاَنَااَشْرَبُهُ لِتَغْفِرَلِىْ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِىْ

Allaahumma ballaghanii ‘an rasuulillaahi shallallaahu ‘alaihi wasallama, annahu  qaala maa-uu zamzama limaa syuriba lahu wa anaa asrabuhu litaghfiralii, Allaahummagh firlii.

“Ya Allah, telah sampai kepadaku dari Rasulullah Saw bahwasanya beliau bersabda, ‘Air zamzam itu tergantung kepada niat buat apa ia diminum,’ dan aku meminumnya semoga Engkau berkenan mengampuni aku ya Allah, ampunilah aku.”

Demikian juga bila kita meminumnya untuk obat dari penyakit atau lainnya.

Air zamzam itu mengandung khasiat yang banyak berbagai macam nama, di antaranya ialah zamzam (diamlah), ini berkenaan asal usulnya yaitu ketika Siti Hajar naik ke Marwah bersama putranya ditimpa haus, tiba-tiba kedengaran olehnya suara “Diamlah!”

Nama yang lain ialah Hamzah Jibril (hasil galian Jibril), juga disebut Suqya Ismail (penyediaan Allah buat minuman Ismail), lalu disebut Barakah, Sayidah, Nafi’ah, ‘Aunah, Busyra, Shafiyah, Barrah, ‘Ishmah, Salimah, Maimunah, Mubarakah, Kafiyah, ‘Afiyah, Maghdziyah, Thahirah.

Diterima pula dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Air telaga zamzam itu tergantung kepada apa yang dituju dengan meminmnya. Jika kamu meminumnya agar disembuhkan, maka akan disembuhkan oleh Allah. jika meminumnya itu supaya dikenyangkan oleh Allah, maka akan dikenyangkan oleh Allah, dan jika kamu meminumnya agar hausmu dilenyapkan, maka akan dilenyapkan oleh Allah! dan ia adalah hasil galian Jibril, dan penyediaan Allah buat minuman Ismail.

Selain meminum air zamzam, sunah haji yang lainnya ialah:

  1. Sunah haji ifrad, yaitu ihram untuk haji saja dahulu dari miqatnya terus menyelesaikan pekerjaan haji, lalu ihram untuk umrah terus mengerjakan segala urusannya.
  2. Membaca talbiyah dengan suara keras bagi lelaki, sedangkan wanita dengan ucapan sekedar telinganya sendiri.
  3. Bedoa sesudah membaca talbiyah.
  4. Membaca dzikir sewaktu thawaf.
  5. Shalat dua rakaat sesudah thawaf.
  6. Masuk ke Ka’bah.

 

Wajib-Wajib Haji

Ada beberapa hal yang termasuk ke dalam wajib haji, yaitu:

Ihram dari Miqat

Mmiqat adalah tempat yang ditentukan dalam masa tertentu. Maka ada “Miqat Zamani” dan “Miqat Makani”. Miqat Zamani ialah batas waktu sahnya diselenggarakan pekerjaan-pekerjaan haji. Sedangkan Miqat Makani ialah batas tempat memulai ihram bagi orang yang hendak mengerjakan haji atau umrah. Ia tidak boleh melewati tempat tersebut tanpa ihram lebih dulu.

Bermalam di Muzdalifah

Yaitu bermalam di tanah Muzdalifah pada malam hari Nahar setelah berwukuf fi Arafah, dan sudah termasuk bermalam meskipun sebentar dari separo malam yang kedua dari malam hari Nahar.

Bermalam pada malam-malam hari Tasyrik di Mina

Bermalam di Mina pada malam-malam hari Tasyriq yaitu tanggal 11, 12, 13 Zulhijjah. Tetapi boleh melakukannya nafar awal yaitu berangkat pada hari kedua tasyriq sebelum terbenamnya matahari dengan memenuhi syarat.

Melempar Jumrah Aqabah

Yaitu 3 jumrah, pertama, kedua dan ketiga (jumrah aqabah). Setiap jumrah dilontar dengan tujuh batu kecil setiap hari tasyrik tanggal 11, 12, 13 zulhijjah. Bagi orang yang berdiam di Arafah waktunya mulai tengah malam hari Nahar sampai hari-hari tasyrik. Waktu-waktunya dibagi 3:

  1. Waktu fadhilah, yaitu sesudah naiknya matahari satu tombak sampai tergelincir.
  2. Waktu ikhtiar, yaitu mulai sesudah tergelincir sampai akhir hari Nahar.
  3. Waktu Jawaz, yaitu mulai sesudah akhir hari Nahar sampai akhir hari Tasyriq.

Thawaf Wada’

Thawaf perpisahan atau selamat tinggal, karena orang yang berhaji akan berpisah dengan Baitullah hendak keluar dari Makkah dan meninggalkannya. Siapa yang meninggalkannya maka ia wajib membayar dam, dan siapa keluar tanpa wada’ dan kembali lagi sebelum batas perjalanan yang diperbolehkan qashar lalu ia thawaf maka gugurlah dam itu sedangkan sesudahnya maka tidak gugur. Bagi wanita haid dan nifas tidak diwajibkan, namun apabila ia telah suci sebelum memisahkan Mekkah maka ia wajib kembali berthawaf sedangkan jika ia suci sesudahnya maka tidak wajib.

Syarat Sa’i

Sa’i merupakan salah satu dari rukun ibadah haji, dan yang termasuk ke dalam syarat sa’i adalah sebagai berikut:

  1. Hendaklah dilakukan setelah thawaf.
  2. Hendaklah tujuh kali putaran.
  3. Dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah, karena Nabi Saw memulai dari Shafa dan mengakhiri di Marwah berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim