Batas minimal dan maksimal Haid

Haid

Batas minimal haid adalah sehari semalam, kebiasannya enam hari enam malam, dan batas maksimalnya adalah lima belas malam.

Hal ini berdasarkan:

  1. Imam Nawawi berpendapat bahwa untuk menetapkan lama waktu hadi ialah dikembalikan kepada kebiasaan/kenyataan, karena batas waktu ini tidak ditetapkan dalam hukum syara’. Sedangkan kenyataan telah membuktikan bahwa masa haid sekurang-kurangnya adalah sehari semalam, dengan demikian maka penetapan masa haid adalah berdasarkan istiqro/penelitian.
  2. Pada umumnya haid itu berlangsung selama enam hari enam malam atau 7 hari 7 malam. Ketetapan ini berdasarkan istiqro san sabda Rasulullah kepada Siti Hamzah bin Jahsy, “Kamu memasuki masa haid enam hari atau tujuh hari dalam ilmu Allah, kemudian mandilah.”
  3. Masa paling lama seseorang haid ialah 15 hari 15 malam, ini berdasarkan istiqro Imam Syafi’i.

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa batas minimal masa haid itu adalah 3 hari dan batas maksimalnya 10 hari. Mereka mengambil dalil dari hadis riwayat Wasilah bin Aqsho dan hadis riwayat Abu Umamah. Tetapi ulama-ulama ahli hadis menetapkan bahwa hadis itu ialah dho’if (lemah), tidak dapat dijadikan hujah.

Batas minimal waktu suci antara dua kali haid adalah lima belas hari, pada umumnya 24 atau 23 hari, dan tidak ada batas minimal.

Ketetapan ini berdasarkan istiqro Imam Syafi’i.

Batas minimal masa nifas

Yaitu sekali pancaran darah, biasanya terjadi selama 40 hari, dan batas maksimalnya adalah 60 hari. Sandaran hukumnya ialah dikembalikan kepada kebiasaan yang ditetapkan melalui kebiasaan yang ditetapkan melalui jalan istiqro. Selain ditetapkan dengan istiqro juga ditetapkan berdasarkan hadis Abu Dawud dan Turmudzi.

Dari Ummu Salamah, ia berkata, “Wanita-wanita di jaman Rasulullah, mereka menunggu masa nifas selama 40 hari.”

Larangan bagi perempuan yang sedang haid

Ada beberapa perkara yang haram dilakukan oleh perempuan yang sedang haid, yaitu:

Shalat

Hal ini berdasarkan hadis dari Siti Aisyah, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Apabila datang haid kepadamu maka tinggalkanlah shalat.”

Thawaf

Hal ini berdasarkan hadis Siti Aisyah, bahwa Rasulullah berkata kepadanya, “Kerjakanlah apa yang dikerjakan oleh orang yang menunaikan ibadah haji selain thawaf di Baitullah hingga kamu suci.”

Menyentuh Al Qur’an

Membawa Al Qur’an

Diam di mesjid

Membaca Al Qur’an

Rasulullah bersabda, “Bukankah perempuan itu kalau dia haid tidak shalat dan tidak puasa?” Mereka menjawab, “Ya.”

Siti Aisyah berkata, “Saya haid di depan Rasulullah kemudian bersuci, kemudian saya diperintah untuk mengqodo puasa tetapi tidak diperintah untuk mengqodo shalat.”

Haram di talaq

Allah berfirman dalam surat At Thalaq ayat 1, “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu.”

Imam Nawawi al Bantani menafsirkan ayat ini bahwa apabila seseorang hendak menceraikan istrinya, maka ceraikanlah dalam keadaan menghadap iddah, yaitu tatkala suci.

Dari Salim sesungguhnya Abdullah bin Umar memberitahu padanya bahwa ia menceraikan istrinya dalam keadaan haid, kemudian Sayyidina Umar bin Khaththab menceritakan hal itu kepada Rasulullah, beliau marah dan memerintahkan agar ia merujuk dan menahan sampai dia (istrinya) suci lagi, “apabila ia hendak menceraikannya maka ceraikanlah dia dalam keadaan suci sebelum ia menjatuhkannya, dan iddah yang diperintah oleh Allah.”

Lewat ke dalam mesjid

Lewat ke dalam mesjid kalau takut ia mengotorinya, yang menjadi elat adalah karena menjaga mesjid dari najis.

Mengotori mesjid dengan najis hukumnya haram, sebagaimana diterangkan dalam hadis Anas.

Sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya mesjid itu tidak pantas untuk air kencing dan kotoran (najis), karena mesjid itu hanya untuk berdzikir dan membaca Al Qur’an.”

Bersenang-senang (istimta) antara pusar (plasenta) dengan lutut

Hal ini berdasarkan firman Allah, “Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid.”

Rasulullah bersabda, “Perbuatlah segala sesuatu (terhadap perempuan yang sedang haid) kecuali jima.”

Dari Umar bin Khaththab, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang apa yang halal bagi seorang suami terhadap istrinya tatkala ia (istri) sedang haid?” Nabi menjawab, “Apa yang ada di atas kain”