Pendakwaan sama halnya dengan kesaksian

Masalah pendakwaan sama halnya dengan masalah kesaksian, yaitu tidak cukup hanya dengan menyebutkan pembelian, tanpa menyebut bahwa barang itu adalah milik si penjual jika si penjual tidak memegangnya; atau tanpa menyebutkan hak memegang, jika memang si penjual yang memegangnya, lalu ternyata barang tersebut diambil darinya secara zalim.

Semua ahli waris mendakwakan sejumlah harta

Seandainya semua ahli waris atau sebagiannya mendakwakan sejumlah harta, baik berupa barang atau oiutang atau jasa milik orang yang diwarisi oleh mereka yang telah meninggal dunia, lalu mereka mengemukakan seorang saksi untuk itu, sedangkan sebagian yang lain ada yang bersumpah selain dari saksi tersebut yang isinya menyatakan bahwa semuanya adalah milik orang yang diwarisinya, maka orang yang bersumpah diperbolehkan mengambil harta peninggalan itu sebesar bagiannya, sedangkan ahli waris lainnya belum boleh mengikuti jejaknya.

Demikian itu karena hujah yang lengkap hanyalah yang dikemukakannya (yakni saksi dan sumpah), sedangkan yang lainnya baru dapat memperoleh bagiannya setelah mengikuti jejaknya, yakni mengemukakan sumpah, mengingat sumpah yang dilakukan oleh seseorang itu hasilnya tidak dapat diberikan kepada orang lain.

Seandainya sebagian dari ahli waris si mayat ada yang masih bayi atau tidak ada di tempat, maka ia disumpah bila telah balig atau bila tiba bagi yang tidak ada di tempat, kemudian baru boleh mengambil bagiannya tanpa mengulangi dakwaan dan kesaksian lagi.

Boleh mengambil harta tanpa seizin hakim

Seandainya seseorang mengakui berutang kepada si mayat, lalu salah seorang ahli waris si mayat ada yang mengambilnya sesuai bagiannya, sekalipun tanpa gugatan dan tanpa izin dari pihak hakim, maka ahli waris lainnya diperbolehkan sama-sama memiliki bagian yang telah diambilnya (sesuai dengan bagiannya masing-masing).

Seandainya salah seorang dari kalangan ahli waris yang bersekutu dalam pemanfatan sebuah rumah tinggal warisan mengambil uang sewa sebesar bagiannya, menurut ulama ahli waris lain tidak boleh bersekutu dengannya dalam memiliki bagian yang terambil itu.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Perkara yang memerlukan kesaksian wajib diadakan saksi

Kesaksian bukan hanya diperbolehkan, bahkan wajib diadakan jika perkaranya memerlukan kesaksian untuk membuktikan keberlangsungan hak pemilikan sampai sekarang terhadap benda yang diakui, sebagai kelengkapan bukti hasil warisan atau pembelian atau lainnya yang telah ada. Diberlakukannya kesaksian ini untuk memperkuat bukti pemilikan yang telah ada, karena pada asalnya barang tersebut adalah miliknya.

Jika kesaksian tidak dilakukan (sebagai pengesahan), niscaya akan sulit mengadakan kesaksian atas hak-hak milik yang diperoleh sejak dahulu jika jarak tenggangnya terlalu lama.

Perbolehan melakkan hal tersebut jika saksi dalam kesaksiannya masih belum menjelaskan bahwa dia bersandar kepada bukti pemilikan yang telah ada. Jika dia tetap tidak menjelaskan, maka kesaksiannya tidak didengar, menurut kebanyakan ulama.

Pengakuan orang ketiga menentukan pemilikan

Seandainya dua orang saling mendakwakan sebuah barang yang ada di tangan orang ketiga, lalu orang ketiga mengakui bahwa barang tersebut milik salah seorang dari keduanya, maka barang tersebut diserahkan kepada orang yang diakuinya, dan bagi pihak lain diperbolehkan menyumpah orang ketiga.

Jika keduanya saling mengakui sesuatu yang ada di tangan orang ketiga, lalu masing-masing pihak mengemukakan bukti yang mempersaksikan bahwa dia telah membelinya dari orang ketiga itu dan telah menyerahkan pembayarannya, lalu terbukti penanggalan keduanya berbeda, maka barang tersebut diserahkan kepada yang paling lama penanggalannya di antara keduanya. dikatakan demikian karena padanya terdapat informasi yang lebih meyakinkan.

Jika penanggalan keduanya tidak berbeda, umpamanya hak pemilikan keduanya tanpa penangaalan, atau salah satu saja (yang ada penanggalan), atau penanggalan keduanya sama, maka kesaksian kedua belah pihak dibatalkan karena mustahil hal itu terjadi.

Tetapi jika orang yang ketiga mengakui bahwa barang itu adalah milik mereka berdua atau milik salah seorang, masalahnya sudah jelas.

Orang ketiga tidak mengikrarkan pengakuan

Jika orang ketig tidak mengemukakan ikrar (pengakuan), maka masing-masing berhak menyumpah dengan sekali sumpah, kemudian keduanya mengambil kembali uang yang telah dibayarkan kepadanya, mengingat pembelian mereka dan pembayarannya telah terbukti.

Seandainya ketika barang yang dijual telah berada di tangan si terdakwa, masing-masing dari kedua belah pihak mengatakan, “Aku telah menjualnya kepadamu dengan harga sekian, barang itu asalnya milikku.” Jika tidak ada pengakuan seperti itu, maka dakwaan (keduanya) tidak dapat diterima, kemudian terdakwan mengingkarinya dan keduanya mengemukakan bukti-bukti untuk memperkuat apa yang telah dikatakannya, lalu keduanya menuntut pengembalian uang masing-masing darinya. Tetapi jika dalam pembuktian terdapat penanggalan yang sama, maka bukti yang diajukan oleh keduanya tidak dianggap (gugur).

Jika penanggalan keduanya berbeda, maka si terdakwa diharuskan membayar dua harga.

Jika seseorang mengatakan, “Aku sewakan paviliun ini kepadamu dengan harga sepuluh ribu,” misalnya, lalu si terdakwa mengatakan, “Tidak, bahkan engkau menyewakan kepadaku seluruh rumah ini dengan harga sepuluh ribu.” Lalu keduanya mengemukakan bukti masing-masing, maka bukti keduanya digugurkan. Selanjutnya kedua belah pihak diambil sumpahnya, kemudian transaksi dibatalkan.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Kesaksian yang tidak bertentangan dengan pengakuan dapat diterima

Seandainya seseorang mengaku telah membeli sebuah barang, kemudian kesaksiannya membuktikan bahwa barang tersebut merupakan milik mutlak (tanpa menyebutkan penyebabnya), maka kesaksian itu diterima karena yang menjadi subjek sama dan tidak ada pertentangan (antara pengakuan dan kesaksian), menurut pendapat yang paling sahih.

Demikian pula halnya seandainya seseorang mengaku memiliki secara mutlak, sedangkan kesaksiannya menyebutkan pula penyebab pemilikan; hal ini tidak membahayakan. Tetapi bila si pendakwa menyebutkan penyebabnya, sedangkan para saksi menyebutkan penyebab yang lain, maka adanya kontradiksi antara pengakuan dan kesaksian akan membahayakan pengakuan (pengakuannya ditolak).

Menjual rumah yang telah diwakafkan

Seandainya seseorang menjual rumah, kemudian muncul bukti yang mempersaksikan secara spontan bahwa orang tua si penjual telah mewakafkan untuk dia, kemudian untuk anak-anaknya, maka rumah itu harus dicabut dari tangan si pembeli, sedangkan si pembeli meminta kembali uangnya kepada si penjual. Kemudian si penjual mendapat jaminan dari hasil keuntungan pengelolaan rumah itu selama hidupnya jika dia mempercayai para saksi tersebut. tetapi jika dia tidak mempercayai, maka hasilnya turut terwakafkan.

Seandainya si penjual bersikeras tidak mau mempercayai para saksi itu sampai mati, hasil pengelolaan rumah tersebut diberikan kepada kerabat terdekat si pemberi wakaf. Demikian pendapat Imam Rafi’i, sama dengan pendapat Al Qaffal.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Barang yang dibeli dirampas oleh pihak lain

Seandainya seseorang membeli sebuah barang, lalu barang itu dirampas oleh pihak lain berdasarkan bukti yang ada padanya, tetapi bukan atas dasar pengakuan si pembeli. Maka si pembeli diperbolehkan meminta kembali kepada si penjual sejumlah uang yang telah dikeluarkannya untuk barang tersebut, tetapi dengan syarat hendaknya si pembeli tidak mempercayai dan tidak pula mengemukakan bukti yang menunjukkan bahwa dia telah membelinya dari si pendakwa. Si pembeli boleh meminta kembali uangnya, sekalipun perkaranya telah diputuskan.

Lain halnya jika si penggugat mengambil barang itu dari tangan si pembeli berdasarkan pengakuan dari pihak si pembeli sendiri atau melalui sumpah yang dikemukakan oleh si penggugat setelah si pembeli menolak tidak mau bersumpah, karena sikapnya itu dianggap sebagai suatu kecerobohan.

Pengakuan yang tidak menghambat untuk menarik kembali uang pembelian

Seandainya seseorang membeli seorang budak yang ia yakini sebagai budak belian, tetapi setelah itu si budak yang dimaksud mengakui dirinya sebagai orang yang merdeka sejak semula (dilahirkan), lalu diputuskan bahwa budak itu memang orang yang merdeka, maka si pembeli mengambil kembali uangnya yang senilai dengan harga budak tersebut dari penjualnya. Mengenai pengakuan si pembeli yang meyakini bahwa yang dibeli itu adalah budak, tidak menghambatnya untuk dapat menarik kembali uangnya dari si penjual karena penilaiannya itu berdasarkan lahiriah saja.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Pembuktian melalui persaksian tetap dan bebasnya utang

Memang dibenarkan seandainya salah satu pihak membuktikan melalui persaksiannya akan tetapnya utang, sedangkan persaksian pihak yang lain membuktikan pembebasan, maka yang dimenangkan adalah bukti yang menyatakan bebas utang. Karena sesungguhnya pembuktian yang membebaskan hanya dilakukan sesudah adanya kewajiban membayar utang, sedangkan yang menjadi pokok permasalahan ialah tidak adanya utang yang berbilang (ganda).

Seandainya suatu bukti menyatakan utang seribu rupiah, sedangkan pihak lain menyatakan utang dua ribu rupiah, maka yang wajib dibayar ialah dua ribu rupiah.

Seandainya seseorang dapat membuktikan pengakuan bahwa si Zaid berutang kepadanya, sedangkan pihak Zaid pun membuktikan pula pengakuan yang menyatakan bahwa dia tidak berutang sepeser pun kepadanya, maka pengakuan si Zaid ini tidak mempunyai kekuatan hukum, mengingat adakalanya sesudah itu Zaid berutang lagi kepadanya.

Bukti tanpa menyebutkan pemilikan dan penanggalan

Seandainya seseorang mengajukan suatu bukti yang menyatakan pemilikan seekor ternak atau sebuah pohon tanpa terlebih dahulu menyebut pemilikan dan penanggalannya, ia tidak berhak mendapat buah yang muncul dan anak ternak yang baru lahir di saat kesaksian dikemukakan. Tetapi dia dapat memiliki kandungan selanjutnya dan buah pada musim berikutnya sejak kesaksian dilakukan, mengikut kepada induk ternak dan pohon yang membuahkannya (yang kini telah menjadi miliknya secara mutlak).

Apabila pembuktian menyebutkan perihal pemilikan yang mendahului terjadinya hal-hal tersebut, yakni berbuahnya pohon dan beranaknya ternak, maka dia berhak memilikinya.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani