Larangan berbisik berduaan bila ada orang ketiga

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang saling berbisik, sedangkan yang lainnya tidak, sebelum kalian bercampur dengan orang banyak, karena hal itu akan membuatnya (orang ketiga) menjadi bersedih hati.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Ibnu Umar yang menceritakan bahwa Rasulullah bersabda:

Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang (dari kalian) saling berbisik, sedangkan orang yang ketiga tidak diajak.

Diriwayatkan pula di dalam kitab Sunan Abu Daud, dan ditambahkan bahwa Abu Shaleh, perawi yang menerima hadis ini dari Ibnu Umar, telah mengatakan, “Aku bertanya kepada Ibnu Umar, ‘bagaimana kalau empat orang?’ ia menjawab, ‘tidak mudharat kepadamu’.”

Kafarat Ghibah dan cara bertaubat dari dosa ghibah

Setiap orang yang berbuat maksiat diharuskan bersegera bertobat. Dalam melakukan tobat terhadap hak Allah, disyaratkan 3 hal, yaitu:

  1. Menghentikan perbuatan maksiat dengan seketika.
  2. Menyesali perbuatannya.
  3. Berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Dalam melakukan tobat terhadap hak manusia disyaratkan pula ketiga hal tersebut diatas ditambah dengan yang keempatnya, yaitu mengembalikan hak kepada yang punyanya dan meminta maaf serta membebaskan diri darinya. Orang yang melakukan ghibah diwajibkan bertobat dengan mengerjakan keempat hal tersebut, karena ghibah merupakan hak Adami, dan pelakunya harus meminta maaf kepada orang yang dijadikan objek ghibahnya.

apakah pelakunya cukup hanya mengatakan, “aku telah mengumpatmu, maka maafkanlah diriku,” ataukah harus menjelaskan apa yang diumpatnya secara rinci?” menurut pendapat dari kalangan mazhab Syafii ada dua pendapat”

  1. Disyaratkan menjelaskannya. Jika seseorang membersihkan diri dari ghibah tanpa menerangkannya, hukumnya tidak sah; perihalnya sama dengan masalah membersihkan diri dari harta yang tidak diketahui.
  2. Tidak disyaratkan. Mengingat hal ini termasuk hal yang dapat ditoleransi, maka tidak disyaratkan mengetahuinya. Berbeda halnya dengan masalah harta.

Pendapat pertama adalah yang paling kuat, mengingat manusia itu adakalanya memaafkan pada suatu jenis ghibah, sedangkan pada jenis lain tidak mau memaafkannya. Apabila orang yang dijadikan objek ghibah tidak ada di tempat atau sudah mati, maka sulit untuk meminta maaf kepadanya. Tetapi menurut ulama, pelakunya dianjurkan banyak memohon ampun buatnya dan mendoakannya serta banyak melakukan amal kebaikan.

Orang yang diumpat disunatkan memaafkan pelakunya. Tetapi hal itu tidak wajib, mengingat hal it hanya sekedar sukarela dan kebaikan dari yang bersangkutan, masalah sepenuhnya diserahkan kepada pilihannya. Akan tetapi, disunatkan secara kukuh hendaknya ia memaafkan agar saudaranya yang muslim terbebas dari malapetaka maksiat ini, sedangkan ia sendiri akan memperoleh pahala yang besar dari Allah swt karena ia mau memaafkan; juga memperoleh kecintaan dari Allah.

Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran ayat 134, “Dan orang-orang yng menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Cara untuk menghibur diri agar mau memaafkan adalah hendaknya mengingatkan diri sendiri bahwa hal ini telah terjadi dan tidak dapat dihapus lagi, maka tidak layaklah menyia-nyiakan ksempatan memperoleh pahala ini dan membebaskan saudara semuslim.

Allah swt berfirman dalam surat Asy Syuura ayat 43, “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”

Surat Al A’raf ayat 199, “Jadilah engkau pemaaf.”

Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

Allah selalu menolong hamba, selagi si hamba tetap menolong saudaranya.

Imam Syafii mengatakan, “Barang siapa yang dimintai maaf, lalu tidak mau memaafkan, maka dia adalah setan.”

Ulama terdahulu telah membuat syair berikut ini,

Dikatakan kepadaku bahwa si Fulan telah berbuat hal buruk terhadapmu. Sedangkan kedudukan seorang pemuda itu aib bila dihina. Tetapi aku katakan, “Dia telah datang kepadaku dan meminta maaf, diyat dosa itu bagi kami ialah meminta maaf.”

Hadis yang mengatakan, “Apakah seseorang diantara kalian tidak mampu menjadi orang seperti Abu Dhamdam? Dia apabila keluar dari rumahnya mengatakan, ‘sesungguhnya aku menyedekahkan kehormatanku atas semua orang’.”

Makna yang dimaksud ialah, “Aku tidak akan menuntut balas terhadap orang yang menganiaya diriku, baik di dunia maupun di akhirat.” Hal ini bermanfaat untuk menggugurkan perbuatan aniaya yang dilakukan sebelum adanya pembebasan. Adapun yang terjadi sesudahnya, maka diharuskan pembebasan yang baru.

Ghibah dalam hati

Buruk sangka diharamkan, sama dengan ucapan. Sebagaimana diharamkan berbicara kepada orang lain mengenai keburukan seseorang, diharamkan pula membicarakan hal itu pada dirimu sendiri dan berburuk sangka terhadapnya.

Allah swt berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 12, “Jauhilah kebanyakan dari prasangka.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda:

Hati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka merupakan pembicara yang paling dusta.

Makna yang dimaksud ialah berburuk sangka dan meyakinkan hati akan hal tersebut serta menilai buruk kepada orang lain. adapun dugaan dan bisikan hati, apabila orang yang bersangkutan tidak tetap pada perasaan yang buruk itu, maka dimaafkan menurut kesepakatan ulama, karena tidak ada pilihan baginya untuk mengelak dan tidak ada jalan untuk melepaskan diri. Demikian makna yang dimaksud, sesuai dengan apa yang telah ditetapkan di dalam hadis Rasulullah saw:

Sesungguhnya Allah telah memaafkan terhadap umatku apa yang dibisikkan oleh jiwa (hati)nya selagi tidak dibicarakan atau dikerjakan.

Menurut para ulama, yang dimaksud dengan bisikan hati itu ialah yang bersifat tidak menetap. Mereka mengatakan, “Sama saja apakah bisikan itu dalam bentuk ghibah atau kufur ataupun lainnya. barang siapa yang terbersit rasa kufur dalam hatinya, tetapi hanya sekedar bisikan hati tanpa sengaja memikirkannya, kemudian seketika itu juga ia membuang jauh hal tersebut, maka ia tidak kafir dan tidak berdosa.”

Dalam sebuah hadis sahih dikatakan:

“Wahai Rasulullah, seseorang diantara kami merasakan dalam hatinya sesuatu yang merasa berat bila diucapkan.” Nabi Muhammad menjawab, “Yang demikian itu merupakan iman yang jelas.”

Penyebab yang membuat hal ini dimaafkan yaitu sulit untuk menghindarinya. Yang dapat dilakukan hanyalah membuang jauh keberlangsungan perasaan itu. Karena itu, maka keberlangsungan bisikan hati tersebut diharamkan. Untuk itu, bilamana di dalam hati kita terbersit perasaan ghibah ini dan lainnya yang termasuk maksiat, kita diwajibkan membuangnya jauh-jauh dengan cara berpaling darinya dan mengingat hal-hal yang dapat melupakannya.

Imam Abu Hamid Al Ghazali mengatakan, “Apabila di dalam hatimu terbersit buruk sangka, hal itu termasuk bisikan setan yang dihembuskan padamu. Karena itu, dianjurkan agar engkau mendustakannya, mengingat setan adalah makhluk yang paling fasik.”

Allah swt berfirman dalam Al Qur’an:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.

Karena itu, tidak boleh membenarkan iblis. Apabila ada suatu pertanda yang menunjukkan kepada kerusakan, tetapi kemungkinan berbeda dengan kenyataan, maka tidak boleh berburuk sangka. Termasuk pertanda buruk sangka ialah hatimu berbeda terhadapnya, lain dengan sebelumnya; sehingga membuat hatimu antipati terhadapnya, merasa keberatan dan tidak memperhatikannya lagi, serta tidak menghormatinya, bahkan hanya memandang keburukannya saja.

Karena sesungguhnya setan itu adakalanya mendekat di hati seseorang dengan membawa bisikan keburukan-keburukan orang lain, lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya prasangka ini merupakan kecerdasan, kepintaran dan kesensitifanmu.”

Sesungguhnya orang mukmin memandang dengan nur Allah, tetapi pada kenyataannya dia hanya berbicara melalui bujukan setan dan kegelapannya. Sekalipun hal itu diceritakan oleh orang yang adil, janganlah engkau mempercayainya; jangan pula mendustakannya, agar engkau tidak berburuk sangka terhadap salah seorang dari keduanya.

Bila terbersit di dalam hati kita buruk sangka terhadap seorang muslim, tambahkanlah perhatian dan penghormatan kita kepadanya, karena sesungguhnya hal itu membuat setan benci dan dapat mengusirnya dari kita sehingga tidak berani lagi membisikkan hal yang serupa karena khawatir kita akan berbalik mendoakannya.

Apabila kita mengetahui kekeliruan seorang muslim dengan suatu hujah yang tidak diragukan lagi, maka nasihatilah dia secara tersembunyi. Jangan sekali-kali kita terbujuk rayuan setan yang akibatnya dia akan mendorong kita untuk mengumpatnya. Apabila kita menasihatinya, janganlah menasihati dalam keadaan gembira karena berhasi memperlihatkan kekurangannya, lalu ia akan memandang kita dengan pandangan penuh hormat, sedangkan kita memandangnya dengan pandangan yang meremehkan; melainkan berniatlah untuk membebaskannya dari dosa ketika kita sedang sedih, sebagaimana kita sedih bila diri kita mengalami kekurangan. Dianjurkan agar kita mempunyai perasaan bahwa bila dia meninggalkan kekurangan itu tanpa nasihat dari kita lebih disukai daripada ia meninggalkannya berkat nasihat kita

Islam melarang untuk ghibah atau menggunjing

Perintah untuk membantah dan membatalkan gunjingan

Apabila mendengar seorang muslim dipergunjingkan, kita dianjurkan agar menyanggah dan memperingatkan orang yang mempergunjingkannya itu. Apabila orang yang bersangkutan tidak mau berhenti dari gunjingannya, hendaknya ia memperingatkan dengan tangannya; jika tidak mampun dengan tangan dan lisannya, hendaknya ia meninggalkan majelis itu.

Diriwayatkan di dalam kitab Imam Turmudzi melalui Abu Darda yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad bersabda:

Barang siapa yang membela kehormatan saudaranya, maka Allah akan memalingkan wajahnya dari neraka kelak di hari kiamat.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dalam sebuah hadis Itban yang cukup panjang lagi terkenal. Ia menyebutkan:

Nabi Muhammad berdiri untuk melakukan salat, tetapi mereka (para sahabat) bertanya, “kemanakah Malik ibnu Dukssyum?” seorang lelaki menjawab, “Dia adalah orang munafik yang tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka Nabi bersabda, “Jangan engkau katakan demikian. Tidakkah engkau lihat bahwa dia telah mengucapkan kalimat Tidak ada Tuhan selain Allah? dengan kalimat tersebut dia menghendaki keridhaan Allah.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Al Hasan Al Bashri:

Aidz ibnu Amr, salah seorang sahabat Rasulullah berkunjung ke rumah Ubaidillah ibnu Ziad, lalu ia berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘sesungguhnya sejahat-jahat penggembala ialah penggembala yang zalim terhadap hewannya. Maka hati-hatilah kamu, jangan termasuk diantara mereka.”

Lalu Ubaidillah berkata kepadanya, “Silakan duduk, sesungguhnya engkau termasuk sisa-sisa sahabat Nabi Muhammad.”

Aidz mengatakan, “Apakah mereka mempunyai sisa-sisa? Bukankah sisa-sisa itu bukanlah hanya terdapat pada orang-orang sesudah mereka dan pada selain mereka.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Ka’b ibnu Malik dalam hadisnya yang panjang mengenai kisah tobatnya. Ia menceritakan:

Nabi Muhammad dalam keadaan duduk diantara kaum di medan perang Tabuk, “Apakah yang dilakukan oleh Ka’b ibnu Malik?” seorang lelaki dari Bani Salimah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia tertahan oleh kedua baju burdahnya dan senang memandang kepada kedua sisi bajunya.” Maka Mu’adz ibnu Jabal menyanggahnya, :”Seburuk-buruk ucapan adalah apa yang engkau katakan. Demi Allah, wahai Rasulullah, tiada yang kami ketahui mengenainya melainkan dalam keadaan baik-baik saja.” Rasulullah saw diam.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud melalui Jabir ibnu Abdullah dan Abu Thalhah. Keduanya menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda:

Tidak sekali-kali seseorang menghina orang lain yang muslim di suatu tempat, menginjak-injak kehormatannya, dan menjatuhkan harga dirinya di tempat itu, melainkan Allah akan membalas menghinanya di suatu tempat, padahal di tempat itu ia memerlukan pertolongan-Nya. Tidak sekali-kali seseorang menolong orang muslim di suatu tempat, yang kehormatannya dijatuhkan dan harga dirinya diinjak-injak di tempat itu, melainkan Allah akan membalas menolongnya di suatu tempat yang ia sangat memerlukan pertolongan-Nya.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud melalui Mu’adz ibnu Anas yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda:

Barang siapa yang membela seorang mukmin dari orang munafik, aku menduga bahwa beliau bersabda, Allah akan mengutus malaikat untuk melindungi dagingnya dari neraka jahanam kelak di hari kiamat. Dan barang siapa menuduh seorang muslim dengan suatu tuduhan dengan maksud memburuk-burukkannya, Allah akan menahannya diatas jembatan neraka jahanam hingga ia mencabut kembali apa yang telah dikatakannya itu.

Dalil yang menerangkan buruknya membicarakan aib orang lain atau ghibah

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan sebagai berikut:

“Barang siapa yang mendengar saudaranya yang muslim disebut kejelekannya di hadapannya, lalu tidak menolongnya, padahal ia mampu untuk melakukannya, maka Allah akan merendahkannya ketika hidup di dunia maupun di akhirat.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir r.a. berkata yang artinya sebagai berikut:

“Ketika kami bersama Nabi saw, lau ada bau busuk melambung ke angkasa. Lalu Nabi saw bertanya,’Tahukah kamu bau busuk apakah itu? Ini adalah bau busuk orang-orang yang mengumpat (menggunjing) orang-orang mukmin’.”

Riwayat dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda:

Pada malam Nabi saw di isra’kan beliau melihat ke dalam neraka, tahu-tahu ada kaum yang asyik memakan bangkai, lalu Nabi saw bertanya, “Siapakah mereka itu, wahai Jibril?” malaikat Jibril menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging orang (membicarakan aib orang di dunia)”

Menurut Al Hasan r.a. “Demi Allah, sesungguhnya ghibah (membicarakan aib orang lain) itu lebih berbahaya terhadap agama (iman) seorang mukmin, melebihi dari bahayanya kanker terhadap badan.”

Menurut Ibnu Abbas r.a. “Jika kamu akan membicarakan aib temanmu, maka ingatlah terlebih dahulu akan aibmu sendiri.”

Dalam sebuah riwayat juga diterangkan bahwa sebagian ulama berkata, “Pada hari kiamat nanti) ada orang yang menerima catatan amal perbuatannya, dan tidak terdapat sedikitpun amal kebaikannya, lalu berkata ‘Dimanakah shalat, puasa, dan amal perbuatanku yang baik?’ lalu malaikat menjawab, ‘Seluruh amal perbuatanmu telah lenyap, lantaran kamu sering membicarakan aib orang lain’.”

Ada orang yang berkata kepada Hasan al Bashri “Sesungguhnya si Fulan telah mengumpatmu.” Lalu beliau mengirimkan talam yang diisi dengan manisan seraya berkata, “Aku tahu bahwa kamu telah memberikan hadiah kebaikanmu kepadaku. Oleh sebab itu aku membalasmu dengan manisan ini.”