Berkhianat Terhadap Harta Ghanimah (Rampasan Perang)

Yang dimaksud dengan khianat terhadap harta rampasan perang adalah salah seorang dari prajurit yang mengambilnya dengan cara terlarang sebelum diadakan pembagian yang adil. Larangan ini mutlak, baik bagi amir (pemimpin) maupun bagi tentara biasa. Biasanya harta rampasan perang ini diambil seperlima terlebih dahulu untuk Rasulullah, baru selanjutnya dibagi kepada prajurit menurut ajaran islam.

Khianat terhadap harta rampasan ini hukumnya haram meskipun yang diambilnya hanya sedikit, bahkan ada yang menyatakan bahwa khianat terhadap harta rampasan itu termasuk dosa besar.

Dua keterangan penting:

Pertama, jika ada harta rampasan yang diperoleh oleh salah seorang prajurit, jika tidak ada bagian khusus dan tidak dibagi secara hukum islam, maka bagian khusus diberikan kepada yang berhak, yaitu untuk kemaslahatan kaum muslimin.

Dan untuk harta rampasan yang tersisa tidak boleh dimanfaatkan sehingga telah diketahui bahwa orang-orang yang merampas juga telah mendapat bagian yang semestinya. Dan jika ada kesulitan untuk memberikan kepada orang-orang yang berhak, maka harus diserahkan kepada hakim yang adil atau orang alim yang dapat dipercaya dan yang mengetahui tentang pentasarrufannya agar diberikan kepada yang berhak.

Kedua, sebagian ulama berkata sebagaimana diharamkan berkhianat terhadap harta rampasan maka diharamkan pula berkhianat terhadap harta kaum muslimin, harta baitul mal, harta zakat. Sedang khianat dalam masalah zakat tidak ada perbedaan antara yang berkhianat itu orang yang berhak menerima atau tidak. karena orang yang berhak menerima zakat tidak diperbolehkan langsung mengambilnya.

Pemberian harta zakat itu masih diperlukan niat dari orang yang mengeluarkan zakat. Jika orang yang berhak mengeluarkan zakat sudah memisahkan antara harta zakat dan hartanya sendiri, dan sudah berniat, maka bagi orang yang berhak menerimanya tidak diperbolehkan langsung mengambilnya tanpa seizin atau diberikan oleh orang yang berhak mengeluarkan zakat. Jika orang yang berhak mengeluarkan zakat masih belum memberikan kepada orang yang berhak, maka harta zakat itu tidak dapat dimiliki oleh orang yang berhak menerimanya.

Dengan keterangan ini sudah jelas bagi orang yang berhak menerima harta zakat tidak boleh sekaligus mengambil harta zakat sebelum diberi oleh orang yang berhak mengeluarkan zakat.

Aturan Islam Tentang Harta Rampasan Perang (Ghanimah)

Hukum ikut berjihad tetapi menginginkan harta rampasan perang

Berjihad merupakan sebuah hal yang sangat dianjurkan oleh Allah swt, terlebih lagi mengingat pahalanya yang sangat lur biasa, yaitu akan dimasukkan ke surga oleh Allah. tetapi bagaimana jika orang yang berjihad itu menginginkan harta rampasan perang. Di bawah ini ada beberapa hadis yang menerangkannya.

Riwayat Imam Abu dawud, bahwa Rasulullah saw bersabda:

Barang siapa yang merahasiakan orang yang mengambil harta rampasan dengan cara yang terlarang, maka hukumnya sama dengan orang yang mengambil.

Imam thabrani juga telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Jika umatku tidak khianat terhadap harta rampasan maka tidak akan ada musuh yang dapat mengalahkan mereka untuk selamanya.

Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Bu Dzar, diterangkan bahwa ia bertanya kepada Habib bin Maslamah, “Apakah musuhmu dapat bertahan selama orang memerah susu kambing?” jawabnya, “Ya, bahkan mereka dapat bertahan sampai waktu memerah tiga kambing yang deras susunya.” Abu Dzar berkata, “Jika demikian, berarti kamu telah berkhianat terhadap harta rampasan, demi Tuhan yang menguasai Ka’bah. Lalu Abu Dzar menyatakan dengan sumpah, bahwa khianat terhadap harta rampasan itu dapat menyebabkan musuhmu dapat bertahan diri.”

Imam Ahmad dan Nasa’i telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

Barang siapa yang berperang dan tidak mempunyai niat kecuali untuk mendapatkan seutas tali, maka ia akan mendapatkan apa yang menjadi niatnya saja (tidak mendapat pahala jihad fisabilillah, karena amal perbuatannya tidak diterima di sisi Allah).

Imam Abu Dawud telah meriwayatkan dari Abu Hurairah sebagai berikut:

Sesungguhnya seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, seorang lelaki berkehendak untuk berjihad di jalan Allah, namun ia juga menghendaki harta benda duniawi.” Lalu Nabi saw bersabda, “Orang itu tidak mendapat pahala.

Lalu orang-orang merasa berat atas pernyataan Rasulullah itu. Lalu mereka bertanya kepada lelaki tadi, “Ulangi lagi perkataanmu kepada Rasulullah, barang kali kamu tidak dapat memahamkan pada Rasulullah.”

Lalu lelaki itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, seorang lelaki berkehendak untuk berjihan di jalan Allah, namun ia juga ingin mencari harta benda dunia?”

Nabi saw bersabda lagi, “Orang itu tidak akan mendapat pahala.”

Orang-orang masih memerintahkan kepada lelaki itu untuk mengulangi lagi, lalu ia berkata kepada Rasulullah saw untuk yang ketiga kalinya, namun beliau tetap menjawab, “Ia tidak akan endapat pahala.”

Culas (Curang) Dalam Pembagian Harta Rampasan Perang

Khianat (curang)  dalam pembagian harta rampasan perang

Umat muslim dilarang untuk berbuat khianat atau curang kepada orang lain. termasuk juga dalam hal ini adalah mengenai pembagian harta rampasan perang (ghanimah). Beberapa keterangan akan dijelaskan di bawah ini:

Allah swt telah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 161:

  1. tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.

Rasulullah sw juga telah bersabda:

Kembalikan jarum dan benang yang kamu ambil dari jalan mengkhianati harta rampsan perang. Barang siapa yang mengambil jarum dan benang dengan cara khianat pada harta rampasan, maka ia akan dipaksa untuk mendatangkannya pada hari kiamat (nanti), namun ia tidak akan mampu mengerjakannya.

Dalam sebuah riwayat Imam Abu Daud dan Hakim telah diterangkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Jika kamu menjumpai seorang lelaki mengambil harta rampasan perang dengan khianat, maka bakarlah barangnya dan pukullah orangnya.

Sementara dalam riwayat Imam Thabrani bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Seorang mukmin yang telah sempurna imannya, tidak akan melakukan pengkhianatan terhadap harta rampasan.

Sedang menurut riwayat Imam Muslim yang berasal dari Umar juga telah diterangkan:

Ketika terjadi perang Khaibar, ada beberapa sahabat Rasulullah saw yang mati terbunuh, lalu para sahabat yang lain berkata, “Fulan adalah syahid, dan fulan juga syahid, sehingga mereka menyebut nama seorang lelaki, lalu berkata, ‘fulan juga syahid’.”

Lalu Rasulullah saw bersabda, “Tidak, sesungguhnya kamu melihatnya berada di dalam neraka lantaran telah mengambil kemul (mantel) dari rampasan perang dengan khianat.”

Kemudian beliau bersabda lagi, “Wahai Umar bin Khaththab, pergilah dan berserulah, ‘tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang sempurna imannya (diulangnya sampai tiga kali).”

Lalu aku keluar seraya berseru, “Ingat, sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang beriman (diulanginya sampai 3 kali).”

Menurut riwayat Imam Abu Dawud dan Turmudzi bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Rasulullah saw pernah diberi sprei dari kulit yang diambilkan dari harta rampasan perang yang belum dibagi, lalu dikatakan kepadanya, “Wahai Rasulullah, hamparan ini untukmu, kamu dapat bernaung di bawahnya dari terik sinar matahari.” Maka Nabi saw bersabda, “Apakah kamu menginginkan Nabimu bernaung di bawah naungan api dari neraka pada hari kiamat (nanti).”

Cara menanggulangi ghanimah yang belum di-takhmis atau dibagi menjadi lima bagian

Cara menanggulangi masalah ghanimah yang jatuh ke tangan seseorang, padahal ghanimahnya belum di-takhmis, maka si penerima harus mengembalikannya kepada orang yang diketahui berhak memilikinya.

Jika keadaannya tidak demikian, maka ghanimah tersebut harus diserahkan kepada kadi atau hakim. Perihalnya sama dengan harta yang hilang, yakni seperti barang yang diharapkan masih ada pemiliknya. Jika tidak diharapkan masih ada pemiliknya, maka ghanimah tersebut menjadi milik baitul mal. Orang yang berhak mendapat bagian dari baitul mal diperbolehkan mengambilnya. Demikian pendapat yang dapat dipegang.

Berangkat dari pengertia di atas, dapat ikatakan bahwa barang siapa mempunyai hak pada baitul mal, lalu baitul mal diberi sejumlah harta hasil ghanimah, maka dia boleh mengambilnya, sekalipun orang-orang yang berhak lainnya teraniaya olehnya.

Akan tetapi, memang sikap wara’ (menjauhi perkara yang meragukan) lebih utama bagi orang yang hendak menikahi budak perempuan (menggundik); hendaklah dia membeli budak perempuan yang dimaksud dengan transaksi yang baru dari petugas baitul mal. Mengingat kebanyakan para tawanan masih belum di-takhmis (dibagi menjadi lima bagian) dan tiada harapan untuk mengetahui pemilik asal yang sesungguhnya (karena dihasilkan dari tawanan perang), maka budak tersebut jelas menjadi milik baitul mal.

Demikianlah penjelasan tentang cara membereskan ghanimah yang belum di-takhmis. Semoga uraian singkat di atas dapat bermanfaat bagi kita semua, baik di dunia maupun di akhirat, amin.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani