Larangan Berbuat Aniaya

Dari Jabir, dia berkata, “Takutlah kepada perbuatan aniaya, karena perbuatan aniaya itu adalah kegelapan-kegelapan di hari kiamat.”

Penyebab orang masuk neraka

Dari Ibnu Abbas, dari Nabi Muhammad, beliau bersabda, “Ada enam orang yang masuk neraka disebabkan oleh 6 hal pula, yaitu:

  1. Para penguasa disebabkan dzalim.
  2. Orang Arab sebab kefanatikan.
  3. Penduduk desa sebab bodoh.
  4. Kepala-kepala daerah sebab sombong.
  5. Para pedagang sebab khianat.
  6. Para ulama sebab dengki.

Kemuliaan Umat Nabi Muhammad yang tidak dimiliki Nabi Adam

Disebutkan bahwa Nabi Adam berkata, “Sesungguhnya Allah swt memberikan empat kemuliaan kepada ummat Muhammad saw, yang aku sendiri tidak dapat mendapatkannya:

  1. Bahwa taubatku diterima harus di Mekah, sedang umat Muhammad bertaubat di mana saja dan Allah akan menerima taubat mereka.
  2. Sesungguhnya aku pada mulanya berpakaian, tetapi setelah aku berbuat maksiat Allah menjadikan aku telanjang. Sedang umat Muhammad berbuat durhaka dalam keadaan telanjang, tetapi kemudian Allah memberi mereka berpakaian.
  3. Ketika aku berbuat durhaka, maka Allah memisahkan aku dengan istriku. Sedang umat Muhammad berbuat durhaka kepada Allah dan Allah tidak memisahkan mereka dengan istri-istrinya.
  4. Aku berbuat durhaka kepada Allah di surga, lalu Allah mengusirku dari sana. Sedang umat Muhammad berbuat durhaka di luar surga, lalu Allah memasukkan mereka ke dalamnya apabila mereka bertaubat.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Celaan Bagi Perbuatan Durhaka dan Dzalim

Allah berfirman dalam surat Ar Ruum ayat 41, “Telah terlihat kerusakan di darat maupun di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan yang telah mereka kerjakan.”

Pada awalnya bumi ini adalah hijau dan mengagumkan. Anak cucu Adam tidak pernah datang pada sebuah pohon kecuali dapat menemukan buah di atas pohon itu. Semua air laut adalah tawar, srigala tidak pernah mengincar lembu dan singa pun tidak pernah mengincar kambing.

Tetapi setelah Qabil membunuh Habil maka berkerutlah bumi menjadi tidak rata lagi, pohon-pohon pun menjadi berduri,  bumi ini menjadi hitamdan air laut berubah asin dan bahkan terasa pahit. Hingga dikatakan bahwa terlihat kerusakan di daratan sebab pembunuhan Qabil terhadap saudaranya yaitu Habil, dan di laut sebab Julanda yaitu seorang raja kafir yang selalu merampas perahu orang.

Akibat perbuatan maksiat (yang meninggalkan shalat), maka terlihatlah kerusakan di darat maupun di laut. Bahkan dijelaskan pula bahwa apabila dalam suatu perkampungan di dalamnya terdapat orang-orang yang meninggalkan shalat, akan turun pada perkampungan itu setiap harinya 70 macam laknat.

Apabila ada yang bertanya, “Apa hikmahnya mengenai turunnya laknat pada penghuni perkampungan secara umum dan tidak turun secara khusus pada orang yang meninggalkan shalat saja?”

Maka jawabannya ialah, “Karena mereka telah melihat orang yang meninggalkan shalat itu dan tidak mau mencegahnya. Karena itu Allah meratakan pada mereka dengan adzab dari sisi-Nya, sebagaimana diterangkan dalam hadis:

‘Orang yang diam dari kebenaran adalah ibarat setan yang bisu.’

Nabi Muhammad bersabda, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, dan janganlah seorang dari kamu menganiaya seorang mukmin. Tidaklah seorang menganiaya seorang mukmin kecuali Allah akan menyiksanya di hari kiamat.”

Pernah ditanyakan, “Dosa apakah yang lebih dikhawatirkan dapat menghilangkan iman?” Nabi saw menjawab, “Meninggalkan syukur atas iman, meninggalkan kekhawatiran terhadap akhir hidupnya dan menganiaya hamba-hamba Allah.”

Telah datang dalam hadist Qudsi, “Hai anak cucu Adam, kematian akan membuka seluruh rahasiamu, kiamat akan membacakan semua beritamu, catatan amal akan merusak segala rahasiamu. Maka apabila engkau berbuat dosa janganlah engkau memandang kecilnya dosa itu. Tetapi pandanglah siapa yang engkau durhakai itu?

Apabila engkau dianugerahi sebuah rezki sedikit maka janganlah engkau memandang sedikitnya rezeki itu. Tetapi pandanglah siapa yang orang yang telah menganugerahkan rezeki itu kepadamu.

Janganlah engkau memandang remeh sebuah dosa yang kecil, karena engkau tidak mengetahui dosa manakah yang lebih Aku murkai atas engkau.

Janganlah engkau merasa aman dari tipu daya-Ku, karena tipu daya-Ku itu lebih samar daripada perjalanan seekor semut di atas batu pada malam gelap.

Hai anak cucu Adam, apakah engkau mendurhakai Aku, lalu engkau mengingat-Ku dan berhenti dari perbuatan durhaka itu? Apakah engkau telah menunaikan amanat pada orang yang telah memberikan amanat kepadamu? Apakah engkau telah berbuat baik kepada orang yang telah berbuat jahat kepadamu? Apakah engkau telah memaafkan orang yang telah menganiaya engkau? Apakah engkau telah berbicara pada orang yang telah mendiamkan engkau? Apakah engkau menyambung hubungan orang yang telah memutusmu? Apakah engkau berbuat kebenaran kepada orang yang berkhianat kepadamu? Apakah engkau telah bertanya kepada para ulama mengenai perihal agamamu?

Sesungguhnya Aku tidak memandang kepada bentukmu, tetapi Aku memandang kepada hati-hatimu dan niatmu dan Aku ridha dengan semua hal yang tersebut itu dari kamu.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

 

Kisah Bahayanya Berbuat Aniaya (Dzalim)

Perbuatan dzalim atau aniaya merupakan perbuatan tercela dan dilarang oleh Allah. selain itu, doa orang yang teraniaya akan dikabulkan Allah. di bawah ini adalah kisah mengenai penganiayaan yang dilakukan penguasa kepada rakyatnya.

Diceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seseorang yang bernama Ad. Dia memiliki dua orang anak laki-laki, yang bernama Syidad dan Syadid. Keduanya menguasai dunia dengan paksa, tetapi kemudian Syadid meninggal dan Syidad berkuasa sendirian di bumi ini. Dia telah banyak membaca kitab, dan didengarlah tentang adanya surga. Ia berkata, “Aku akan membuat di dunia ini seperti surga di muka  bumi ini.” Dia meminta pertimbangan para raja dan berkata, “Aku ingin membangun surga yang disebut-sebut Allah, sifat-sifatnya dalam kitab Allah itu.”

Mereka berkata, “segala urusan terserah padamu, karena dunia seluruhnya berada dalam keputusanmu.”

Maka Syidad memerintahkan supaya mengumpulkan emas dan perak dari dunia timur sampai dunia barat. Kemudian mereka mengumpulkan tukang-tukang bangunan, dan mereka memilih 300 ahli bangunan itu, yang setiap orang menguasai seribu anak buah.

Mereka berkeliling selama 10 tahun dan menemukan sebuah daerah yang bagus. Disana tumbuh beberapa macam pohon. Mulailah mereka membangu surga seluas satu pos persegi (satu pos tiga mil), batu batanya terdiri dari bahan emas dan ada yang terdiri dari perak.

Setelah sempurna pembangunannya maka mereka mengalirkan sungai-sungai di dalamnya, menanam pohon-pohon disana yang batangnya terdiri dari perak dan cabang-cabangnya dari emas, membangun gedung-gedung dari mutiara yaqud merah dan batu marmer putih, menggantungkan intan permata dan mutiara yaqud di atas dahan-dahannya, serta menaburkan mutiara dan lu’lu’ ke dalam sungai-sungai serta menaburkan misik, ambar di atas sungai-sungai dan pohon-pohon.

Setelah selesai pembangunnnya mereka mengirim utusan untuk melaporkan kepada Syidad bahwa pembangunan surga sudah selesai. Maka berangkat Syidad dengan diiringi penduduk dalam kerajaannya.

Dalam mencari bahan untuk pembangunan surga, raja-raja dan punggawa kerajaan merampas emas dan perak dari rakyat dengan cara dzalim. Sehingga tidak tersisa sedikit pun emas dan perk kecuali kadar dua dirham yang berada di leher seorang anak kecil yang yatim. Tetapi mereka pun tetap merampasnya dari anak tersebut.

Anak itu mengangkat wajahnya ke langit dan berkata, “Ya Tuhanku, Engkau lebih mengetahui apa yang telah dikerjakan orang dzalim ini dengan hamba-hamba-Mu perempuan dan laki-laki. Maka tolonglah kami wahai Tuhan Yang Maha Penolong orang-orang yang memohon pertolongan.”

Maka para malaikat di langit mengaminkan doa anak kecil itu. Lalu Allah mengurus malaikat Jibril. Ketika Syidad berada sehari semalam perjalanan dari surga buatan itu berteriaklah Jibril dari langit dan binasalah mereka semua sebelum berhasil masuk ke surga itu. Tidak tersisa seorang kaya pun, atau seorang fakir atau seorang raja dari mereka disebabkan doa anak kecil yang dianiaya.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Macam-macam Perbuatan Aniaya

Menurut sebagian ahli ma’rifat, perbuatan aniaya itu ada 3 macam, yaitu:

  1. Penganiayaan yang akan diampuni Allah apabila Dia menghendaki.
  2. Penganiayaan yang tidak akan diampuni Allah.
  3. Penganiayaan yang akan dibayarkan oleh Allah

Penganiayaan yang diampuni Allah adalah penganiayaan yang terjadi antara manusia dengan Allah, seperti meninggalkan shalat, puasa, zakat dan haji dan mengerjakan hal-hal yang haram.

Penganiayaan yang tidak akan diampuni Allah adalah syirik. Sebagaimana firman Allah dalam surat An Nisaa ayat 48, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni jika disekutukan, dan Dia akan mengampuni dosa selain itu bagi orang yang dikehendaki-Nya.”

Dalam ayat tersebut terdapat petunjuk bahwa pemilik dosa besar apabila meninggal dengan tanpa bertaubat, maka dia dalam kekhawatiran kehendak Allah. jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya serta memasukkannya ke surga berkat kemurahan-Nya. Tetapi jika Allah menghendaki, Dia akan menyiksanya di neraka, lalu kemudian memsaukkannya ke surga berkat rahmat dan kebaikan-Nya. Karena Allah telah menjanjikan ampunan bagi dosa selain syirik. Kalau syirik itu akan abadi d neraka.

Penganiayaan yang akan diadakan pembayaran oleh Allah. jadi penganiayaan di antara hamba dengan sesamanya, seperti menggunjing, adu domba, membuat issu (gosip), membunuh jiwa tanpa hak, makan harta haram, memukul, mencaci maki dan hak-hak hamba yang lain.

Oleh karena itu, hindarkanlah diri kita dari berbuat aniaya, mengingat bahaya yang ditimbulkan dari perbuatan aniaya tersebut.

Janganlah berjalan di depan pintu para sultan (penguasa), karena hal itu bila tanpa ada keperluan yang sifatnya darurat merupakan sebuah kedzaliman dan tindakan durhaka. Karena berjalan kesana adalah merendahkan diri dan memuliakan mereka. Sedangkan Allah telah memerintahkan supaya berpaling dari mereka.

Allah berfirman, “Maka berpalinglah engkau dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak menginginkan kecuali kehidupan dunia saja.”

Berjalan kesana berarti memperbanyak golongan mereka dan membantu mereka dalam perbuatan dzalimnya. Jika kesana perlu mendapatkan harta mereka, maka berjalannya haram.

Nabi Muhammad bersabda, “Barangsiapa yang merendahkan diri kepada orang kaya karena kekayaannya hilanglah dua pertiga agamanya.”

Ini adalah mengenai orang kaya yang shalih, lalu bagaimana pula dengan orang kaya yang dzalim. Nabi Muhammad berkata demikian karena seseorang ini terdiri dari hati, lidah dan tubuhnya. Ketika dia merendahkan diri kepada orang kaya dengan tubuh dan lidahnya hilanglah dua pertiga agamanya. Tetapi kalau menyakini keutamaan orang kaya itu dengan hatinya juga seperti telah merendahkan diri dengan tubuh dan lidahnya hilanglah seluruh agamanya.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Perbuatan Aniaya Yang Membahayakan

Mengenai keadaan orang-orang yang berbuat dzalim (aniaya) dijelaskan dalam hadis di bawah ini:

dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad dalam hadis yang diriwayatkan beliau dari Tuhannya, Dia berfirman, “Hai hamba-hambaku, sesungguhnya Aku mengharamkan perbuatan aniaya pada Dzat-Ku sendiri dan pada hamba-hamba-Ku, maka janganlah kamu saling berbuat aniaya.”

Arti dari hadis ini adalah ‘Aku Maha Suci dan Maha Tinggi dari perbuatan aniaya.”

Nabi Muhammad bersabda, “Berhati-hatilah terhadap perbuatan aniaya, karena perbuatan aniaya itu adalah kegelapan-kegelapan di hari kiamat. dan berhati-hatilah terhadap kekikiran, karena kekikiran itu telah mencelakakan orang-orang sebelum kamu. Kekikiran telah mendorong mereka untuk menumpahkan darah mereka dan menghalalkan haram-haram mereka.”

Hadis tersebut memiliki pengertian bahwa perbuatan aniaya memang merupakan kegelapan bagi yang melakukannya. Dia tidak dapat melihat jalan di hari kiamat, dimana nur orang-orang mukmin berjalan di depan mereka dan di kanan mereka.

Kegelapan disini juga dapat diartikan sebagai kesulitan-kesulitan. Sedang sabda Nabi, ‘karena kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelummu,’ maksudnya adalah kebinasaan di dunia dan akhirat.

Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang di sampingnya terdapat sebuah penganiayaan milik saudaranya, baik berupa harga diri atau sesuatu yang lain, maka hendaklah dia minta halalnya pada hari ini sebelum tidak lagi ditemukan dinar dan dirham ( di akhirat). Jika dia memiliki sebuah amal shalih diambillah sebagian amal shalihnya menurut kadar penganiayaan. Dan jika dia tidak memiliki kebaikan maka diambillah kejahatan kawannya itu dan dipikulkan di atas pundaknya.”

Bila ada yang bertanya bahwa hal ini berlawanan dengan firman Allah dalam surat Al An’aam ayat 164, “Dan seorang yang berdosa tidaklah memikul dosa orang lain.”

Jawabannya ialah orang yang berbuat aniaya pada hakekatnya dibalas dengan kadar perbuatan aniayanya. Adapun diambil sebagian kejahatan orang yang dianiaya, adalah untuk meringankannya dan untuk lebih membuktikan keadilan. Jadi arti ayat tersebut adalah bahwa seseorang yang berkata pada yang lain, “Aku tanggung dosamu.” Tidaklah disiksa sebab dosa itu akhirat.

Menurut Al Faqih bahwa tidak ada suatu dosa yang lebih besar daripada perbuatan aniaya. Karena dosa itu apabila ada di antara engkau dengan Allah, maka Allah Maha Pemurah untuk mengampunimu. Tetapi jika dosa itu ada di antara engkau dengan sesama hamba, maka tidak ada upaya lain kecuali membuat ridha hati musuh. Karena itu seharusnya orang yang telah berbuat aniaya segera bertaubat dari perbuatan aniaya dan minta halal kepada orang yang telah dianiaya di dunia. Jika dia tidak bisa seharusnya dia memohonkan ampunan untuk orang yang dianiaya itu dan mendoakannya, karena dengan demikian diharapkan dia akan menghalalkannya.

Dari Maimun bin Mihran, sesungguhnya seorang laki-laki apabila telah menganiaya seseorang, dia mengharapkan untuk minta halal kepadanya tetapi tidak ada kesempatan lagi dan tidak bisa, lalu dia memohonkan ampun untuknya sesudah setiap shalat maka keluarlah dia dari penganiayaannya.

Sumber: Durrotun Nasihin