Macam-Macam Dosa Besar

Setiap manusia diharuskan untuk selalu taat kepada Allah dengan melaksanakan segala yang diperintahkan, seperti shalat, puasa, zakat, dan lain-lain, serta menjauhi dan tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah, seperti minuk khamer, berjudi, dan lain sebagainya.

Setiap perbuatan dilarang oleh Allah, maka tidak boleh dilaksanakan karena itu merupakan dosa. Bahkan ada beberapa perbuatan yang termasuk dalam kategori dosa besar, diantranya ialah:

  1. Menyekutukan Allah.
  2. Membunuh jiwa tanpa hak.
  3. Minum khamer
  4. Berzina
  5. Menggauli sesama lelaki melalui dubur (homoseks).
  6. Menuduh zina pada laki-laki baik-baik atau perempuan baik-baik.
  7. Durhaka kepada kedua orang tua yang muslim baik dengan perkataan atau perbuatan.
  8. Lari dari medan perang melawan satu atau dua orang.
  9. Makan harta anak yatim secara aniaya.
  10. Kesaksian palsu
  11. Makan riba
  12. Makan di siang bulan ramadhan tanpa udzur dan disengaja.
  13. Memutus hubungan famili.
  14. Sumpah palsu
  15. Makan harta orang lain dengan aniaya.
  16. Mengurangi takaran dan timbangan.
  17. Mendahulukan shalat sebelum masuk waktunya.
  18. Memukul seorang muslim tanpa hak.
  19. Memaki Nabi Muhammad
  20. Berdusta atas Nabi Muhammad dengan sengaja.
  21. Menyembunyikan kesaksian tanpa ada udzur.
  22. Menerima suap.
  23. Membunuh diri atau memotong sebuah anggota tubuhnya sendiri.
  24. Tiada kecemburuan terhadap istri.
  25. Mengadukan sesuatu antara suami istri dengan maksud merusak.
  26. Melaporkan kepada orang yang akan berbuat aniaya.
  27. Sihir
  28. Membangkang zakat
  29. Memerintahkan munkar.
  30. Malarang ma’ruf.
  31. Mempergunjingkan orang-orang ahli ilmu
  32. Membakar hewan dengan api
  33. Pembangkangan perempuan terhadap suaminya tanpa ada sebab

Penyebab berbagai dosa/kesalahan yang ada di dalam kitab taurat

Rasulullah saw bersabda: Allah swt sudah mewahyukan kepada Nabi Musa bin ‘Imron di dalam kitab Taurat, bahwa biangnya (penyebab) berbagai kesalahan/dosa ada tiga.

Takabur, Hasud, Terpersosok Kepada Dunia, Perut Kenyang, Tidur, senang terhadap pujian dan keagungan

Kesatu, merasa besar (sombong/takabur). Nabi Muhammad sudah bersabda, “Takabur itu menolak terhadap perkara yang haq dan menghinakan ke orang-orang. Dan siapa saja yang melihat terhdap dirinya dengan penglihatan mengagungkan, dan melihat orang lain dengan penglihatan menghinakan , maka dia merupaka setengah dari orang yang takabur.”

Kedua, hasud. Sayyidina Mu’awiyyah berkata, ‘Tidak ada di dalam perkara buruk yang lebih adil daripada hasud. Hasud tersebut sering membunuh kepada yang memiliki sifat tersebut (hasud), sebelum sampai hasud tersebut kepada yang dihasudnya.’

Ketiga, tergiur/terjerumus/lebih mementingkan dunia. Imam Malik bin Dinar rahimahullah berkata, ‘Dimana-mana sudah sakit badannya manusia/seseorang, maka tidak ada manfaatnya makanan bagi badan tersebut, serta ridak manfaat minuman, tidak nikmat tidur, dan tidak ada kesenangan. Begitu juga hati, dimana sudah suka terhadap dunia, maka tidak ada manfaatnya bagi hati petunjuk.’

Setelah tiga sifat diatas, kemudian timbul enam sifat lagi. Sehingga jumlahnya menjadi sembilan. Yang enam tersebut, adalah sebagai berikut:

  • Perut yang kenyang.
  • tidur
  • Senang-senang (hilangnya kemasyaqatan).
  • Suka terhadap berbagai harta. Menurut Sayyidi Syeikh ‘Abdullah al Haddad Quddisa Sirruhu, bahwa sudah seharusnya kalian mengeluarkan rasa suka terhadap dinar/emas, dan dirham/uang dari hati kalian, sehingga timbul dari pandangan kalian seolah-olah dirham dan dinar tersebut seperti batu dan tanah.
  • Suka terhadap pujian. Dan kalian harus mengeluarkan diri dari sifat suka terhadap kedudukan/jabatan/pujian menurut orang-orang di dalam hati kalian, sehingga dalam pandangan kalian pujian itu sama saja dengan celaan.
  • Suka terhadap keagungan. Kalian harus mengeluarkan sifat ini dari hati kalian, sehingga di dalam pandangan kalian sama saja antara orang-orang yang menghadap kalian dengan yang membelakangi kalian. Karena sebenar-benarnya suka terhadap keagungan menurut manusia/orang-orang itu lebih madharat kepada yang punyanya (orang yang suka keagungan) daripada suka terhadap harta. Nah, suka terhadap keagungan dan harta itu menunjukkan sukanya terhadap perkara dunia. Asal muasal suka terhadap keagungan yaitu suka di agung-agung. Maka sifat agung itu merupakan setengan dari sifat-sifat Allah swt. sedangkan asal muasal suka terhadap harta adalah bersenang-senang dengan mengikuti syahwat, nah ini merupakan setengah dari sifat hewan.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Larangan Mengerjakan Perkara Batil dan Harus Menjaga Anggota Badan Dari Berbuat Dosa

Allah swt sudah mewahyukan kepada seorang Nabi, yang merupakan sebagiannya Nabi dari kaum Bani Israil ‘alaihimus salam. Allah yang Maha Agung dan Maha Gagah berkata:

“Diamnya kamu dari perkara yang batil, yaitu perkara yang tidak ada gunanya sedikit pun, dikarenakan Aku Yang Agung, itu seperti puasa, maksudnya ganjarannya dari diam seperti ganjaran puasa. Sedangkan apabila kamu menjaga anggota badan yang sering bekerja, seperti kedua tangan dan dua kaki dari perkara yang diharamkan, dikarenakan Aku Yang Agung, itu seperti shalat. Artinya ganjarannya seperti ganjaran shalat. Serta terputus kamu, maksudnya memutuskan thoma’ dari makhluk adalah shadaqah, maksudnya adalah ganjarannya seperti ganjaran shadaqah. Dan kalau kamu mencegah dari perkara yang dibenci kaum muslimin dikarenakan Aku Yang Agung, itu adalah jihad, maksudnya ganjarannya kafful adzaa seperti ganjarannya jihad.”

Ketika kita diam atau tidak mengerjakan perkara yang tidak berguna bagi diri kita, maka itu ganjarannya seperti ganjaran (pahala) puasa. Perkara yang dimaksud disini adalah perkara yang batil dan sudah dilarang oleh Allah, seperti membicarakan orang lain (ghibah), berbuat buruk (dhalim) kepada orang lain,berkumpul dengan orang-orang fasik, dan lain sebagainya.

Kemudian apabila kita bisa menjaga anggota badan kita dari perkara yang diharamkan oleh Allah, maka ganjarannya seperti ganjaran (pahala) shalat. Misalnya menjaga tangan kita agar tidak mencuri barang orang lain, menjaga kaki kita dari menuju ke tempat pelacuran dan perjudian, dan lain sebagainya.

Kita jangan menjadi orang yang thoma’, atau bergantung dan mengharapkan sesuatu dari manusia (makhluq). karena hal ini merupakan perkara yang buruk. Apabila kita bisa bersikap seperti ini, maka ganjarannya itu sama seperti ganjarannya shadaqah.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Janganlah Malas Beribadah, Besar Kepala, Sibuk Dengan Dunia, dan Melakukan Dosa

Keterangan yang diterima dari Ba’dul hukama rahimahullaahu ta’aala:

Empat perkara buruk, yang disebut buruk disini adalah yang sering melekat celaan di dunia dan siksaan di akhirat, serta yang empat lagi lebih buruk.

Yang pertama adalah dosa, maksudnya dosa dari anak muda jelek, tetapi dosa dari orang yang sudah tua lebih jelek.

Yang kedua adalah disibukkan dengan dunia atau harta yang membuatnya bahagia, dari orang yang bodoh buruk, tetapi dari orang yang ‘alim atau orang yang berilmu lebih buruk. Seperti yang diterangkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Dailami, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa saja orang yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah zuhudnya dalam perkara dunia, maka tidak bertambah orang itu dari Allah swt kecuali bertambah jauh dari rahmat Allah.’

Yang ketiga adalah malas dalam melaksanakan tho’at kepada Allah, artinya memufaqatan terhadap perintah Allah swt, dari semua orang itu buruk, serta dari para ulama atau santri (orang-orang yang mencari ilmu) lebih buruk.

Dan yang keempat adalah besar kepala (sombong), dari orang kaya buruk, tetapi apabila dari orang faqir itu lebih buruk.

Dosa merupakan suatu hal atau perkara yang harus dihindari oleh semua orang, karena dosa adalah suatu hal yang buruk dan akan berakibat buruk baik di dunia maupun di akhirat. Setiap dosa yang dilakukan akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat.

Kita janganlah menjadi orang yang terperdaya oleh dunia, karena dunia itu sifatnya fana’ atau tidak abadi. Semuanya pasti akan berakhir.

Janganlah malas dalam beribadah kepada Allah, karena kita harus yakin bahwa dalam setiap ibadah atau tho’at yang kita lakukan, pasti akan membawa manfaat dan faedah bagi kita, baik itu di dunia maupun di akhirat.

Sombong atau besar kepala adalah sesuatu yang jelek, jangankan Allah swt, manusia juga tidak menyukai orang yang sombong.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Inilah Akibat Yang Ditimbulkan Dari Melakukan Dosa Kecil

Keterangan yang diterima dari sebagian hukama, yaitu sebagian auliya bahwa kita jangan menghitung-hitung (menyebut) hina terhadap dosa-dosa kecil. Artinya jangan menghitung (menganggap) kecil terhadap dosa kecil, sebab dosa kecil itu akan membuat cabang atau memunculkan dosa-dosa besar. Dan kadang juga terbukti ketidaksenangan (kebencian) Allah pada dosa-dosa kecil.

Jadi ketika kita melakukan dosa-dosa kecil, kita jangan terlena dan menganggapnya biasa saja dan berkata: “Ah, tenang aja, kan dosa kecil ini.”

Nah hal ini kalau dibiarkan terus menerus akan menyebabkan kita terbiasa melakukan dosa, dan secara psikologis akan dianggap hal yang biasa saja. Ada peribahasa yang mengatakan kesalahan yang dilakukan secara berulang-ulang akan dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Oleh karena itu, ketika kita sudah terlanjur melakukan dosa kecil maka kita harus cepat-cepat memperbaikinya, bertaubat atas apa yang sudah dilakukan (bertaubat dari dosa), menyesal atas dosa yang telah dilakukan, meminta ampun kepada Allah, serta berjanji tidak akan melakukan lagi.

Semua perkara walaupun sedikit atau kecil, tetapi apabila dikumpulkan akan menjadi besar. Bayangkan saja apabila kita selama hidup kita terus-terusan melakukan dosa kecil, tanpa bertaubat dan tanpa perbaikan, maka hasilnya dosa kita itu akan banyak.

Lebih jauhnya lagi adalah ketika kita belum bertaubat sebelum ajal menjemput, dan dosa-dosa kecil itu masih menempel di diri kita, maka kita nantinya termasuk ke dalam orang yang merugi. Karena semuanya akan di hisab oleh Allah swt.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar