Bahaya Sifat Dengki

Dengki itu sangat berbahaya, dan kita harus mengetahui bahaya-bahaya atau akibat yang ditimbulkan dari sifat dengki ini. Ada 8 macam hal atau bencana yang diakibatkan oleh sifat dengki, yaitu:

Dengki merusak perbuatan taatnya kepada Allah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Hati-hatilah terhadap dengki, karena dengki itu menghancurkan kebaikan seperti halnya api melahap kayu dan rumput.” Atau malah menyebabkan kekafiran.

Dengki mendorong seseorang untuk melakukan maksiat.

Orang yang dengki tidak akan lepas dari menggunjing, berbohong, memaki dan bergembira karena musibah orang lain menurut kebiasaannya.

Dengki menyebabkan terhalang atau tidak mendapatkan syafaat.

Nabi Muhammad bersabda, “Tidaklah termasuk golonganku orang yang mempunyai kedengkian, tidak pula orang yang memiliki sifat adu domba dan tidak pula orang yang ahli perdukunan (nujum), dan akupun tidak termasuk golongannya.”

Kemudian beliau membaca surat Al Ahzab ayat 58, “Orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan dengan apa yang tidak pernah mereka kerjakan, maka benar-benar mereka memikul bebannya dan dosa yang nyata.”

Orang yang dengki akan masuk neraka

Nabi Muhammad bersabda, bahwa ada enam orang yang akan masuk neraka disebabkan oleh enam hal pula.” Kemudian ditanyakan kepada beliau, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” beliau bersabda:

  1. Penguasa-penguasa karena berbuat dzalim.
  2. Orang Arab karena kefanatikan.
  3. Kepala-kepala kampung karena sombong.
  4. Pedagang-pedagang karena khianat.
  5. Orang-orang desa karena kebodohan (tidak mengenal aturan agama).
  6. Ulama-ulama karena kedengkian.

Dengki menyebabkan seseorang mengerjakan sesuatu yang membahayakan orang lain

Oleh karena itu Allah swt memerintahkan agar kia memohon perlindungan dari kejahatan orang yang dengki, sebagaimana Dia memrintahkan kepada kita untuk memohon perlindungan dari kejahatan setan yang terkutuk. Allah berfirman dalam surat Al Falaq ayat 5, “Dan dari kejahatan orang yang dengki ketika dia dengki.”

Nabi Muhammad bersabda, “Gunakanlah sebagai sarana untuk memnuhi hajatmu dengan bersembunyi. Karena setiap orang yang mendapat nikmat akan mengundang kedengkian.

Bersusah payah dan prihatin tanpa ada faedahnya bahkan berdosa dan durhaka

Menurut Ibnu Simmak, “Aku tidak pernah melihat ada orang yang berbuat aniaya lebih mirip dengan orang yang dianiaya daripada orang dengki, karena dia selalu bersusah payah, pikirannya bingung dan kesusahan yang melekat.”

Dengki menyebabkan hati buta

Hatinya buta hingga hampir-hampir tidak mengenal lagi hukum-hukum Allah. Sufyan berkata, “Janganlah engkau menjadi orang yang dengki, tentu engkau akan menjadi orang yang cepat daya tangkapnya.”

Dengki menyebabkan kegagalan dan kehinaan

Maksudnya adalah hampir-hampir tidak pernah berhasil keinginannya, karena itulah ada pepatah yang mengatakan orang yang dengki tidak akan menjadi mulia.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Sifat Dengki

Makhluk pertama yang dengki di langit ialah Iblis alaihil la’nat, maka berlaku padanya apa yang berlaku. Sedang orang pertama yang dengki di bumi adalah Qabil, karena dia telah dengki terhadap saudaranya Habil, maka berlakulah padanya apa yang berlaku. Cukuplah sebagai nasihat, contoh, dan peringatan keadaan Iblis dan Qabil bagi orang yang berakal.

Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya nikmat-nikmat Allah ada musuhnya.” Ditanyakan, “Siapakah musuh-musuh itu ya Rasulullah?” beliau bersabda, “yaitu orang-orang yang dengki pada manusia atas karunia yang diberikan Allah kepada mereka.”

Para ulama mengatakan bahwa pangkal dari segala kesalaha ada tiga hal, yaitu: dengki, rakus dan sombong.

Adapun sombong, maka asal mulanya adalah Iblis, dimana dia sombong dan membangkang untuk hormat kepada Adam, maka dikutuklah dia. Adapun rakus, maka asal mulanya adalah Nabi Adam, dimana dikatakan kepadanya, “Semua surga ini diperbolehkan kecuali pohon ini.” Tetapi kerakusan mendorongnya untuk makan pohon itu, lalu diusirlah dia dari surga. Sedangkan dengki asal mulanya adalah Qabil dimana dia membunuh saudaranya sendiri yaitu Habil, lalu jadilah dia kafir karena dengkinya itu.”

Menurut AL Faqih Abul Laits bahwa tiga orang tidak akan dikabulkan doanya, yaitu: pemakan haram, orang yang suka menggunjing, orang yang di hatinya terdapat dendam atau dengki kepada orang-orang islam.”

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kemarahan (kejengkelan) itu dari setan, sedang setan itu diciptakan dari api. Sesungughnya api itu hanya akan padam dengan air. Maka apabila seorang dari kamu marah hendaklah dia berwudhu.”

Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya pada kamu itu terdapat orang yang lekas marah dan lekas pula redam, dan pada kamu terdapat orang yang lekas marah dan lambat redamnya. Lalu yang terbaik di antara kamu adalah orang yang lambat kemarahannya dan cepat redamnya, sedang yang paling jahat di antara kamu adalah orang yang lekas marah dan lambat redamnya.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Peristiwan Pembunuhan Habil oleh Qabil

Disebutkan dalam beberapa hadis, bahwa Hawwa’ dengan Nabi Adam telah melahirkan dari setiap kandungan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Semua anak yang dilahirkannya ada 40 orang dalam dua puluh kali kandungan.

Yang pertama adalah Qabil dan saudara perempuannya yaitu Iqlima, dan yang terakhir adalah Abdul Mughits dan saudara perempuan kembarnya yaitu Amatul Mughits. Kemudian Allah memberkati semua keturunan Nabi Adam itu.

Ibnu Abbs berkata, “Nabi Adam belum wafat sehingga sudah mempunyai anak dan cucu sebanyak empat puluh ribu.” Para ulama berbeda pendapat mengenai kelahiran Qabil dan Habil. Sebagian ulama berkata, “Nabi Adam menggauli Hawwa’ setelah mereka diturunkan ke bumi setelah seratus tahun berselang. Lalu dia melahirkan Qabil dan saudara perempuan kembarnya uaitu Iqlima dalam satu kandungan. Kemudian Habil dan saudara kembarnya Layudza dalam satu kandungan berikutnya.”

Ibnu Jurai berkata, “Ketika Qabil ingin membunuh Habil dia tidak mengetahui bagaimana caranya dia harus membunuhnya? Maka Iblis menjelma kepadanya, Iblis telah menangkap seekor burung lalu meletakkan kepalanya di atas sebuah batu dan menjatuhkan batu yang lain pada kepala burung itu. Semua itu disaksikan oleh Qabil, maka dengan begitu Iblis mengajarkan kepadanya bagaimana cara membunuh. Lalu Qabil mengerjakan seperti itu.”

Ada yang mengatakan bahwa saat itu Habil sedang tidur.

Tempat pembunuhan Habil

Para ulama berbeda pendapat mengenai tempat dimana terjadi pembunuhan itu. Ibnu Abbas berkata, “Di atas gunung Tsur.” Ada yang mengatakan “Di jalan mendaki gunung Hira.” Ada yang mengatakan di Bashrah, di tempat masjid agung.

Setelah Qabil membunuh Habil, dia menjadi menyesal dan meras kebingungan dengan mayat Habil. Digendongnya Habil di atas pundaknya selama setahun atau bahkan lebih. Dan karena dia belajar dari burung gagak maka warnanya menjadi hitam dan ayahnya berlepas diri darinya. Karena telah diriwayatkan bahwa ketika dia selesai membunuhnya, berubahlah tubuhnya menjadi hitam.

Bertanyalah Nabi Adam kepadanya tentang saudaranya, dia menjawab, “Aku tidak diserahi dia.” Nabi Adam berkata, “Pasti engkau telah membunuhnya. Karena itu menjadi hitam tubuhmu.” Lalu Nabi Adam berlepas diri darinya. Setelah itu Nabi Adam hidup selama seratus tahun dengan tidak pernah tertawa dan tidak berhasil apu yang dikerjakannya karena pembunuhan terhadap Habil itu.

Melarikan diri ke Aden

Disebutkan bahwa setelah pembunuhan itu Qabil melarikan diri ke Aden, suatu daerah di Yaman. Lalu Iblis berkata kepadanya, “Qurban persembahan Habil dimakan api karena dia menyembah api. Maka kerjakanlah seperti apa yang dikerjakan Habil.”

Lalu Qabil mulai menyembah api. Dialah orang yang pertama yang membuat alat musik dan tenggelam dalam maksiat, minum khamer, menyembah berhala, zina dan perbuatan keji yang lain. sehingga Allah menenggelamkan mereka dengan air bah di masa Nabi Nuh. Dan barang siapa yang mengerjakan perbuatan-perbuatan keji seperti itu akan dihimpun bersama Qabil dan keturunannya kelak di hari kiamat.

Disebutkan di dalam hadis bahwa tidak akan dibunuh seseorang dengan dzalim kecuali Qabil ikut memikul dosanya, yakni tuntutan darahnya, karena dialah orang pertama yang memberi contoh pembunuhan.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

 

Sejarah Sifat Dengki

Sifat dengki merupakan sifat yang sangat buruk sekali dan dilarang di dalam ajaran islam. Kedengkian yang berada di dalam hati seseorang bisa menggerogoti amal kebaikan yang telah dilakukan.

Sifat dengki ini berawal dari anak Nabi Adam, yaitu Qabil, dan kisahnya diceritakan di dalam Al Qur’an dan ditafsirkan oleh para ulama.

Allah berfirman dalam surat Al Maa’idah ayat 27, “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Kemudian Allah juga berfirman dalam surat Al Maa’idah ayat 32, “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain[a], atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya[b]. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu[c] sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.

[a] Yakni: membunuh orang bukan karena qishaash.

[b] Hukum ini bukanlah mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seseorang itu adalah sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya.

[c] Ialah: sesudah kedatangan Rasul membawa keterangan yang nyata.

Dengki

Disebutkan bahwa Habil telah bermaksud mengorbankan domba terbaik di antara kambing-kambing miliknya, dan menyimpan dalam hatinya bahwa qurban itu diniatkan agar mendapat ridha Allah. Sedangkan Qabil mengurbankan gandum yang paling rendah di antara gandum yang menjadi miliknya.

Lalu mereka meletakkan kedua korban mereka di atas gunung. Kemudian Nabi Adam berdoa dan turunlah api dari langit serta makan qurban dari Habil dan tidak makan qurban dari Qabil. Maka marahlah Qabil kepada Habil dan menyembunyikan kedengkian di dalam hatinya kepada saudaranya itu sampai Nabi Adam pergi ke Mekah untuk berziarah ke Baitullah dan meninggalkan mereka.

Datanglah Qabil menghampiri Habil yang sedang menggembalakan kambing-kambingnya. Berkatalah Qabil, “Sungguh aku benar-benar akan membunuhmu.” Habil bertanya, “Mengapa engkau membunuhku?” Qabil berkata lagi, “Karena Allah telah menerima qurbanmu dan menolak kurbanku. Dan engkau mau menikahi saudara kembarku yang cantik dan aku harus menikah dengan saudara kembarmu yang tercela. Orang-orang akan memperbincangkan bahwa engkau lebih baik daripada aku dan anak-anakmu akan membanggakan dirinya pada anak-anakku.”

Dijelaskan di dalam Tafsir Al Khazin, Muhammad bin Ishaq berkata bersumber dari penjelasan orang-orang yang alim mengenai kitab-kitab terdahulu bahwa sesungguhnya Nabi Adam telah menggauli Hawwa’ di surga sebelum melakukan kesalahan. Maka Hawwa’ mengandung Qabil dan saudara kembarnya perempuan, dengan tidak mengalami ngidam dan kepayahan, dan tidak merasakan sakitnya melahirkan serta tidak meneteskan darah waktu melahirkan.

Setelah Nabi Adam turun ke bumi dan menggauli Hawwa’ lalu mengandung Habil dan saudara perempuan kembarnya. Dirasakannya ngidam, payah, sakit saat melahirkan dan mengeluarkan darah. Hukum waktu itu seorang laki-laki boleh mengawinkan puterinya dengan saudaranya yang manapun selain saudara laki-laki kembarnya yang lahir bersamanya.

Setelah Habil dan Qabil dewasa, di antara mereka terdapat selisih dua tahun, maka Allah memerintahkan Nabi Adam untuk mengawinkan Qabil dengan Layudza dan mengawinkan Habil dengan Iqlima saudara kembar Qabil.

Iqlima adalah lebih cantik daripada Layudza (saudara kembar Habil). Nabi Adam menyampaikan perintah itu, maka puaslah Habil tetapi Qabil menjadi jengkel. Qabil berkata, “Dia saudara kembarku dan aku lebih berhak dengannya karena kami putera-putera surga. Sedang mereka (Habil dan Layudza) adalah putera-putera bumi……..”

 

Sumber: Durrotun Nasihin