Kisah mengenai orang yang cinta kepada Allah dan Nabi Muhammad

Mencintai Allah dan Nabi Muhammad merupakan sebuah perkara yang harus dipunyai oleh setiap orang. Karena hal ini merupakan salah satu pertanda bahwa seseorang mempunyai keimanan di dalam dirinya.

Taat kepada Allah merupakan sebab dapat berkawan dengan para Nabi, para Wali dan orang shalih.

Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad, lalu bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana jawabmu mengenai seseorang yang mencintai satu golongan? Apakah dia dapat bertemu dengan mereka?” Nabi Muhammad menjawab, “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya.”

Jadi barang siapa yang cinta kepada Allah tentu dia akan memperbanyak menyebut atau mengingat-Nya. Dan buahnya adalah Allah akan mengingatnya pula dengan rahmat dan ampunannya, memasukkannya ke dalam surga bersama dengan para Nabi-Nya dan Wali-Nya, dan memuliakannya dengan dapat melihat keindahan-Nya.

Dan barang siapa yang cinta kepada Nabi Muhammad tentu dia akan banyak membaca shalawat kepadanya. Sedang buahnya adalah mendapat syafaat dan berkawan dengan beliua di surga.

Diriwayatkan dari Sa’id, dari Nabi Muhammad, beliau bersabda, “Tidaklah duduk sekelompok manusia dalam satu majelis dan mereka tidak membaca shalawat di dalamnya, kecuali akan terjadi penyesalan pada mereka walaupun mereka dapat masuk surga karena mereka melihat pahalanya.”

Dari Dzun-Nun Al Mishri, dia berkata, “Aku pernah melihat seorang laki-laki sedang duduk di udara dengan bersila. Dia sedang membaca ‘Allah’. aku bertanya, ‘Siapakah engkau ini?’ laki-laki itu menjawab, ‘Aku adalah seorang hamba dari hamba-hamba Allah.’ aku bertanya lagi, ‘Dengan apakah engkau memperoleh kemuliaan seperti ini?’ dia berkata, ‘Aku meninggalkan kesenangan untuk kesenangan-Nya, lalu Allah mendudukkan aku di udara.”

Demikian pula diriwayatkan dari Samnun Al Majnun, bahwa dia dikenal sebagai orang yang cinta kepada Allah. orang-orang menyebutnya Samnun Al Majnun, orang-orang khusus menamakan Samnun Al Muhib (cinta Allah), sedang dia sendiri menyebutkan dirinya Samnun Al Kadzdzab (pembohong).

Suatu hari dia naik ke atas mimbar untuk memberi nasehat kepada orang banyak. Tetapi mereka tidak mau menggubris kata-katanya. Semua orang bubar meninggalkannya dan dia hanya berbicara menghadapi lampu-lampu masjid. Samnun berkata kepada lampu-lampu itu, “Dengarkan hai lampu-lampu sebuah berita yang menakjubkan dari lidah Samnun. Orang-orang melihat bahwa lampu-lampu itu menggelepar-gelepar dan terputus lalu berjatuhan karena pengaruh kata-kata Samnun.

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Cinta kepada Allah

Setiap manusia haruslah mencintai Allah, mencintai-Nya melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri, kepada keluarga, sahabat, dan materi. Allah lah yang menciptakan manusia, dunia dan segala isinya.

Bila seseorang mencintai Allah, maka dia akan rela melakukan segala sesuatu untuk yang dicintainya (Allah). Dengan demikian dia akan selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dikisahkan bahwa Samnun telah mengawini seorang perempuan di akhir umurnya dan perempuan itu melahirkan seorang anak perempuan. Ketika anak itu berusia tiga tahun dia sangat menyayangi anaknya.

Dia bermimpi dalam tidurnya seakan-akan kiamat telah tiba. Bendera-bendera smeua Nabi dan Wali telah dipasang dan di belakang mereka terdapat sebuah bendera yang tinggi dan cahayanya memenuhi angkasa. Dia bertanya mengenai bendera itu dan dijawab banhwa bendera itu adalah bendera orang-orang yang cinta kepada Allah ang murni.

Samnun melihat bahwa dirinya berada di antara mereka. Tetapi datanglah malaikat dan mengeluarkannya dari rombingan itu. Samnun berkata, “Aku adalah orang cinta keoada Allah, sedang ini adalah bendera orang-orang yang cinta kepada Allah, lalu mengapa engkau mengeluarkan aku?”

Malaikat itu menjawab, “Ya, engkau memang termasuk orang-orang yang cinta kepada Allah. tetapi setelah kecintaanmu kepada anakmu bercokol di hatimu maka kami menghapus namamu dari orang-orang yang cinta kepada Allah.”

Maka menangislah Samnus dan berdoa dalam tidurnya serta berkata, “Ya Tuhanku, jika anak itu merupakan penghalang bagiku dari-Mu, hindarkanlah dia daripadaku, agar aku dapat dekat dengan-Mu berkat belas kasih-Mu dan kemurahan-Mu.”

Allah

Seketika itu dia mendengar suara berteriak, “Aduh celaka”, terbangunlah dia dan bertanya, “Ada apa teriakan itu?” Orang-orang berkata, “Anak perempuanmu terjatuh dari rumah atas, dan meninggallah dia.”

Samnun berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menyingkirkan penghalang dari diriku.”

Dikisahkan juga bahwa pada dahulu kala Sa’dun Al Majnun menulis lafadh “Allah” pada telapak tangannya. Kemudian Saris Saqthi bertanya kepadanya, “Apa yang engkau perbuat itu, hai Sa’dun?” Dia menjawab, “Aku mencintai Allah dan aku telah menulis Asma Tuhanku di hatiku, sehingga yang lain tidak dapat bertempat disana. Akupun telah menulisnya pada lidahku sehingga dia tidak akan menyebut yang lain. dan sekarang aku menulisnya pada telapak tanganku agar aku dapat melihatnya dengan kedua mataku, sehingga pandanganku hanya tenggelam padanya.”

Menjemput Rahmat Allah dan Surga Dengan Ibadah dan Cinta Kepada Allah

Surga merupakan sebuah tempat yang sangat diidamkan oleh setiap umat manusia, baik itu umat muslim ataupun non muslim. Surga merupakan balasan dari Allah bagi orang-orang yang selama hidupnya di dunia bertakwa kepada-Nya, melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Kenikmatan yang diberikan Allah kepada manusia yang melakukan amal kebaikan

Ketahuilah bahwa manusia itu mempunyai tiga hal dari bentuk kebaikannya, yaitu:

  1. amalan hatinya, yaitu membenarkan, ini tidak dapat dilihat dan tidak dapat didengar, tetapi dapat diketahui.
  2. Amalan lidahnya, amal ini dapat didengar.
  3. Amalan semua anggotanya yang lain, amal ini hanya dapat dilihat.

Jika seorang hamba telah menggunakan semua anggota badan itu untuk mengerjakan amal shaleh, maka Allah menyediakan untuk amalnya yang dapat didengar kenikmatan yang tidak pernah didengar oleh telinga, untuk amal yang dapat dilihat kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan untuk amalan hatinya kenikmatan yang tidak pernah terlintas di hati manusia.

Karena itulah hendaknya seorang hamba melestarikan taat kepada Allah, sebab Allah tidak akan mengurangi sedikitpun dari pahala kebaikan bahkan memberi surga dan derajat yang tinggi.

Diriwayatkan dari Hatim Az Zahid, dia berkata, “Barang siapa yang mengaku cinta kepada Tuhannya tanpa disertai wara’ maka dia seorang pembohong. Barang siapa yang mengaku masuk surga tanpa disertai menginfakkan hartanya, maka dia adalah pembohong. Barang siapa yang mengaku cinta kepada Nabi Muhammad tanpa disertai mengikuti sunnahnya, maka dia adalah seorang pembohong.. dan barang siapa yang mengaku suka mendapatkan derajat yang tinggi tanpa mau berkawan dengan orang-orang fakir dan miskin, maka dia adalah pembohong.”

Kisah mengenai orang yang cinta kepada Allah dan melakukan amal shalih

Dikisahkan dari Hasan Al Bashri, dia pernah melihat Bahram bangsa Ajam pada suatu hari sedang menggali kuburan. Dia mengambil tengkorak-tengkorak orang mati dan menusukkan tongkat pada lubang telinga tengkorak yang diambilnya. Jika tengkorak itu dapat menembus lubang telinga hingga ke lubang telinga yang lain, maka dia membuang tengkorak itu. Jika tongkat itu tidak dapat menembusnya sama sekali, maka diapun membuangnya.

Tetapi jika tongkat itu berhenti pada otak tengkorak itu dia menciuminya lalu menguburnya kembali. Kemudian Hasan Al Bashri bertanya kepadanya mengenai hal tersebut, dan dijawab oleh orang tersebut, “Kepala yang bisa ditembus tongkat ini mulai dari lubang telinga yang satu kelubang telinga yang lain, maka dahulunya dia mendengar nasehat dan pembicaraan haq. Tetapi keduanya masuk ke dalam satu telinga dan keluar dari telinga yang lain dan tidak menetap dalam otaknya serta tidak mau mengambil keduanya. Jadi tidak ada kebaikan pada kepala itu.

Sedang kepala yang tidak dapat ditembus tongkat sama sekali, maka dahulunya dia yang tidak mau mendengarkan nasehat dan pembicaraan haq karena sibuk dengan kemauan nafsu dan kesenangannya. Jadi tidak ada pula kebaikan pada kepala itu.

Adapun kepala yang hanya bisa ditembus tongkat itu sampai otaknya, maka dahulunya mau mengambil nasehat dan pembicaraan haq dan juga menetap di otaknya. Dialah yang diterima di sisi Allah. karena itulah aku menciumnya dan menguburkannya kembali.”

Keutamaan Mencintai Allah dan Nabi Muhammad

Cinta kepada Allah merupakan sebuah bentuk ketauhidan seseorang. Meyakini bahwa Allah itu Esa (Ahad), dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Dia Maha Kuasa. Sedangkan nabi Muhammad merupakan Rasulullah, dan merupakan penutup para Nabi.

Kita harus mencintai Allah dan Nabi Muhammad, karena hal ini merupakan esensi dari keimanan seseorang.

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki dari Qudha’ah menghadap Nabi Muhammad, lalu berkata, “Ya Rasulullah, terangkanlah kepadaku, jika aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwa engkau adalah Rasul Allah, aku mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa ramadhan dan beribadah malam-malam ramadhan dan menunaikan zakat. Maka termasuk golongan manakah aku ini?”

Nabi Muhammad bersabda kepadanya, “Barang siapa yang mati dalam cara ini maka dia akan bersama para Nabi, pada shiddiqin dan para orang mati syahid di hari kiamat begini” beliau menegakkan jarinya, “selama dia tidak mendurhakai kedua orang tuanya.” Karena orang yang mendurhakai orang tuanya adalah dijauhkan dari rahmat Allah.

Dari Aisyah, dari Nabi Muhammad, beliau bersabda, “Apabila Allah menghendaki untuk memasukkan orang-orang mukmin ke dalam surga, maka Allah mengutus malaikat kepada mereka. Malaikat itu membawa hadiah dan pakaian-pakaian dari surga. Ketika mereka sudah mau masuk berkatalah malaikat-malaikat kepada mereka, “Berhentilah, aku membawa hadiah dari Tuhan sekalian alam.”

Mereka bertanya, “Apakah hadiah itu?” Malaikat menjawab, “Hadiah itu adalah berupa sepuluh buah cincin, dan tertulis pada cincin itu:

  1. Keselamatan pada kamu, beruntunglah kamu. Maka masuklah kamu ke dalam surga untuk selama-lamanya. (Az Zumar ayat 73)
  2. Masuklah kamu ke dalam surga dengan selamat dan aman. (Al Hijr ayat 46)
  3. Aku telah menghilangkan kesedihan dan kesusahan dari kamu.
  4. Kami berikan kepadamu pakaian-pakaian indah.
  5. Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang bermata jeli (Ad Dukhan ayat 54, Ath Thur ayat 20)
  6. Sesungguhnya Aku akan memberi balasan kepada mereka hari ini sebab kesabaran mereka. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang beruntung. (Al Mu’minuun ayat 111)
  7. Kamu sekarang menjadi muda remaja dan tidak akan pernah tua untuk selama-lamanya.
  8. Kamu sekarang telah menjadi aman dan tidak akan pernah merasa takut untuk selamanya.
  9. Kawanmu adalah para Nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang shalih.
  10. Kamu berdekatan dengan Tuhan Yang Maha Pengasih Pemilik Arasy Yang Maha Pemurah lagi Maha Agung.

Maka mereka masuk ke dalam surga dengan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesusahan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami adalah Maha Pengampun lagi maha Pemberi pahala berlipat ganda.”

Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang berpegang pada sunnahku ketika rusaknya ummatku, maka baginya pahala seratus orang mati syahid.”

Nabi Muhammad bersabda, “Agama islam ini telah muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka beruntung sekali bagi orang-orang yang terasing dan memperbaiki sunnahku yang dirusak oleh manusia sepeninggalku.”

Keutamaan Cinta Kepada Allah dan Rasul

Setiap umat manusia haruslah mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan terhadap dirinya sendiri, karena cinta kepada Allah dan kepada Rasul memiliki banyak sekali keutamaan, seperti yang dijelaskan dalam beberapa dalil dari Al Qur’an dan Hadis di bawah ini.

Allah berfirman dalam surat An Nisaa’ ayat 69, “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul, maka mereka akan bersama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu pada Nabi, par shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Sebaik-baik teman adalah mereka itu.”

Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang membaca shalawat kepadaku 10 kali ketika pagi dan 10 kali ketika sore, maka Allah akan menyelamatkannya dari terkejut di hari kiamat, dan dia akan bersama dengan orang-orang yang diberi kenikmatan oleh Allah yaitu para Nabi dan para shiddiqin.”

Firman Allah ‘Wash-shaalihiina’ yaitu mereka yang menggunakan umurnya untuk kepentingan ibadah kepada Allah, dan hartanya untuk mencari ridha Allah.

Menurut Anas bin Malik, ayat ini turun sehubungan dengan Tsauban budak yang telah dimerdekakan Rasulullah dan tidak tahan berpisah lama dengan beliau. Dia datang kepada Nabi pada suatu hari, dengan wajah pucat dan badan yang kurus serta terlihat kesedihan di wajahnya.

Rasulullah bertanya kepada Tsauban tentang keadaannya, lalu dijawabnya, “Ya Rasulullah, bukannya aku ini sakit, hanya saja aku sangat gelisah jika tidak melihat engkau, hingga aku dapat bertemu engkau. Lalu aku teringat akhirat, dan aku khawatir jika aku tidak dapat melihat engku disana. Karena aku tahu bahwa engkau akan diangkat tinggi bersama para Nabi. Jika aku dimasukkan ke surga tentu aku berada di suatu tempat di bawah tempatmu, dan jika aku tidak dimasukkan ke surga maka aku tidak akan melihatmu untuk selama-lamanya. Bagaimanakan keadaanku di akhirat nanti?”

Maka turunlah ayat “Wa man yuthi’illaaha war rasuula……”

Dari Siti Aisyah, dia berkata, “Barang siapa yang mencintai Allah tentu akan memperbanyak berdzikir kepada-Nya (menyebut dengan lidah atau mengingat dengan hatinya), sedang buahnya adalah Allah akan mengingatnya dengan rahmat dan ampunan, memasukkannya ke dalam surga bersama para Nabi dan wali, dan memuliakannya dengan melihat keindahan-Nya. Dan barang siapa yang mencintai Nabi Muhammad tentu akan memperbanyak bacaan shalawat kepada beliau, sedang buah cinta itu adalah mendapatkan syafaatnya dan menemaninya di surga.”

Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang mencintai sunnahku maka dia telah mencintaiku, dan barang siapa yang mencintaiku maka dia akan menemaniku di surga.”

Barang siapa yang menginginkan dapat melihat Nabi Muhammad, hendaklah dia mencintai beliau dengan penuh kecintaan. Sedang tanda cinta adalah mengikuti sunnahnya yang agung dan memperbanyak bacaan shalawat kepadanya. Karena Nabi Muhammad telah bersabda, “Barang siapa yang mencintai sesuatu tentu akan memperbanyak dalam menyebut (mengingat)nya.”