Inilah Orang Yang Mendapatkan Cahaya Dari Allah

Ada kaum yang cahaya-cahayanya mendahului dzikirnya, ada kaum yang dzikirnya mendahului cahayanya, dan ada kaum yang sama antara dzikir dan cahayanya.

Dan ada kaum yang tidak ada dzikirnya dan tidak ada cahayanya, maksudnya hatinya tidak eling (ingat) kepada Allah, gelap oleh kotoran hawa nafsu. Mudah-mudahan Allah menjaga dan menjauhkan kita dari hal seperti ini.

Yang pertama orang yang eling/ingat kepada Allah, serta ingatnya itu untuk mendapatkan cahaya dari Allah didalam hatinya, maka keadaannya eling/ingat kepada-Nya.

Yang kedua orang yang ingat/eling karena merasa hatinya sudah bercahaya, maka keadaannya juga eling/ingat kepada Allah.

Yang ketiga adalah yang sama antara dzikir dan cahayanya, yaitu orang yang dengan ingatnya kepada Allah jadi mendapatkan petunjuk, mendapatkan cahaya dari Allah. dan dengan mendapatkan cahaya jadi bertambah eling/ingatnya kepada Allah.

Tingkahnya orang yang mendapatkan cahaya dan dari ingat kepada Allah swt. Nah ini ada 4 golongan, yaitu:

  1. Orang yang mendapatkan cahaya dari Allah, terus eling/ingat kepada-Nya. Seperti yang difirmankan Allah swt: “yakhtassu birohmatihi maa yasyaa u”, Allah langsung memberikan keistimewaan dengan mendatangkan rahmat-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya, yaitu dengan memberikan cahaya.
  2. Orang yang berdzikir kepada Allah swt, lalu mendapatkan cahaya. Yaitu yang difirmankan Allah: “walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa”.
  3. Yang bersamaan antara dzikir dan cahayanya, yaitu dengan dzikirnya mendapatkan cahaya, dan dengan cahayanya terus jadi eling.
  4. Orang yang tidak eling dan tidak bercahaya didalam hatinya, yaitu orang fasik, tukang ghaflah.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus empat puluh empat)