Bohong yang diperbolehkan

Berbohong itu terkadang diperbolehkan, bahkan bisa jadi diwajibkan. Pada intinya setiap tujuan terpuji yang dapat dicapai dengan berkata benar atau bohong, maka dalam hal ini haram untuk berkata bohong.

Tetapi jika tidak dapat dicapai kecuali hanya dengan berbohong, maka disini diperbolehkan untuk berbohong jika tujuan itu memang diperbolehkan menurut syara’.

Bisa saja bohong itu wajib, jika tujuan yang akan diperolehnya termasuk diwajibkan. Misalnya melihat seorang muslim yang sedang bersembunyi dari ancaman orang dzalim yang akan membunuhnya atau menyiksanya. Jadi, bohong disini wajib, karena memelihara darah seorang muslim adalah merupakan kewajiban. Begitu juga jika seorang dzalim bertanya tentang barang titipan yang akan diambilnya. Maka bagi orang yang dititipi wajib berbohong. Bahkan jika disuruh bersumpah juga diperbolehkan melaksanakannya, namun hendaknya menggunakan tauriyah (menggunakan kalimat yang mengandung dua arti, yaitu kalimat yang diartikan pendengar begini, tetapi maksud kita begitu). Jika tidak menggunakan tauriyah, maka terkena kafarat.

Bahkan menurut sebagian ulama, bersumpah dalam hal ini tidak saja diperbolehkan melainkan diharuskan.

Jadi, selama tujuan peperangan tidak tercapai atau mendamaikan orang-orang yang lagi bermusuhan belum bisa teratasi atau mengambil hati orang yang dilukai atau menyenangkan hati sang istri belum diperolehnya, maka boleh berkata bohong.

Imam Ghazali berpendapat yang baik hendaknya menggunkan tauriyah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam An Nakho’i, “Jika ada orang yang mengetahui sesuatu yang kamu katakan, maka katakan kepadanya ‘Allaahu a’lam man fa’altu min dzaalika min syai’. Kalimat tersebut mempunyai dua arti:

  1. Allah mengetahui bahwa aku tidak berbuat demikian.
  2. Allah mengetahui apa yang aku perbuat tentang masalah tersebut.

Biasanya pendengar memahami arti yang pertama. Padahal yang dimaksudkan adalah arti yang kedua. Yang demikian ini boleh dilakukan jika keadaan memang memaksa. Jika tidak ada sesuatu yang diperlukan, maka hukumnya makruh. Boleh jadi dikatakan haram jika untuk memperoleh tujuan yang tidak dibenarkan oleh agama atau menolak hak yang diwajibkan.

Imam Syafi’i juga telah berkata, “termasuk bohong yang samar, jika seseorang meriwayatkan kabar dari orang yang belum diketahui identitasnya, apakah ia selalu berkata benar atau suka berbohong.”

Dalil yang berkaitan dengan buruknya perkataan bohong

Imam Turmudzi dan Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Jika pada seorang hamba berdusta sekali, maka malaikat menjauh daripadanya sejauh satu mil lantaran tidak tahan bau busuk kebohongan yang telah dilakukannya.”

Imam Hakim juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Cukup bagi seseorang untuk berkata bohong jika ia selalu menceritakan apa yang didengar. Dan cukup bagi seseorang untuk disebut batil, jika berkata, ‘Aku mengambil hakku sendiri dan tidak akan ada yang aku tinggalkan’.”

Imam Ahmad dan Abusy Syaikh juga telah meriwayatkannya sebagai berikut:

“Awas! Jangan sampai kamu berbohong, karena sesungguhnya bohong itu menjauhkan keimanan.”

Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan:

“Ancaman berat bagi orang yang bercerita lalu berbohong untuk mentertawakan orang-orang, maka ancaman berat baginya dan ancaman berat baginya.”

Rasulullah saw bersabda:

“Lima perkara yang tidak dapat ditebus dosanya yaitu syirik (mempersekutukan Allah dengan yang lain), membunuh orang tanpa ada hak hukum, kebohongan seorang mukmin, lari dari peperangan, sumpah palsu untuk mengambil hak orang lain tanpa dasar hukum.”

Sementara menurut riwayat Imam Bukhari bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang mengaku bermimpi padahal tidak mimpi, maka akan dibebani tugas untuk mengikat dua biji sair (gandum) dan ia tidak akan mampu mengerjakannya. Dan barang siapa yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum yang tidak mau didengar olehnya, maka pada hari kiamat kedua telinganya akan diisi dengan cairan timah yang dituangkan padanya.”

Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang berkata keapda anak kecil, ‘Marilah kesini, ambillah ini untukmu’ kemudian tidak memberinya sesuatu maka termasuk suatu kebohongan.

Ibnu Hibban juga meriwayatkan sebuah hadis yang bersumber dari Aisyah r.a. berkata, “Tidak ada suatu akhlak yang paling dibenci oleh Rasulullah daripada berkata boohng. Jika beliau melihat seseorang mempunyai sifat bohong, maka ia akan membencinya, dan tidak akan pudar kebencian itu sehingga orang tersebut bertaubat.”

Keburukan berkata Bohong

Allah swt telah berfirman, “Ingatlah bahwa kutukan Allah kepada orang-orang yang berbohong.”

Rasulullah saw juga telah menegaskan di dalam sabdanya sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim serta 4 ahli hadis sebagai berikut:

“Barang siapa yang membuat kebohongan kepadaku dengan sengaja, maka hendaklah menyiapkan tempat duduknya dari api neraka.”

Riwayat Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Hendaklah kamu senantiasa berkata benar, karena sesungguhnya berkata benar itu menunjukkan kepada kebaikan. Dan kebaikan itu dapat menunjukkan jalan ke surga. Seorang lelaki senantiasa berkata benar dan bersungguh-sungguh berupaya untuk berkata benar, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang suka berkata benar (shiddiq). Dan janganlah sampai kamu berbohong, karena sesungguhnya berkata bohong itu menuntun kepada kedurhakaan. Dan kedurhakaan itu menuntun kepada kedurhakaan. Dan kedurhakaan itu menuntun kepada jalan menuju neraka. Seorang hamba tak henti-hentinya berkata bohong, dan suka berkata bohong, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pembohong.”

Rasulullah saw bersabda:

“Empat macam perkara, barang siapa yang dapat memilih seluruhnya dalam kepribadiannya, maka ia adalah termasuk munafiq sejati. Dan barang siapa yang memiliki salah satu daripadanya, maka ia memiliki satu kepribadian munafiq sehingga ditanggalkannya. Jika berbicara bohong, jika berjanji mengingkarinya, jika mengadakan persetujuan terhadap suatu perkara cedera, dan jika berdebat berkata jelek (durhaka).”