Cara Menjadi Orang Bijaksana Menurut Islam

Menurut Syeikh Wahab bin Munabbih rahimahullah, bahwa ditulis di dalam kitab Taurat ada beberapa nasihat, diantaranya adalah:

  • Siapa saja orang yang menginginkan jadi orang yang hakim (bijaksana), maka dia harus bukti menjadi orang yang alim. Nabi Muhammad saw bersabda, “Siapa saja orang yang pada pagi-pagi dan sore-sore mengajari ilmu, maka dia ada di surga.” HR Abu Nu’aim

Doa ini adalah yang sering dibaca ketika berdiri setelah mengaji dari Syeikh ‘Ali al Maghribi Quddisa sirruhu, Allaahumma innii astaudi’uka maa qara’tuhu fardudhu ilayya ‘inda haajatii ilaihi, Ya Allah aku menitipkan kepada-Mu perkara (ilmu), yang sudah aku baca perkaa tersebut, semoga Engkau membalikkan perkara tersebut kepadaku ketika aku membutuhkan perkara itu.

  • Siapa saja yang ingin selamat dari orang-orang (keburukannya), maka tidak boleh membicarakan orang lain kecuali kebaaikannya. Serta harus mengambil i’tibar (pelajaran) seseorang bahwa dari bahan apakah badannya diciptakan. Manusia itu diciptakakan awalnya dari nuthfah (air mani) yang jijik. Dan badannya manusia diciptakan itu adalah untuk beribadah dan tha’at kepada Allah.

Nabi Muhammad saw bersabda, “Harus takut kalian kepada api orang mukmin, jangan membakar api tersebut kepadamu, walaupun terpeleset/mengerjakan dosa orang-orang mukmin pada tiap-tiap hari 7 balikan. Karena sebenar-benarnya tangan kanannya ada dalam kekuasaan Allah, dimana Allah mengehendaki untuk membangunkan kembali dari keterpelesetan manusia (‘abdi), maka Allah akan melakukannya.” HR Imam Hakim

  • Siapa saja orang yang menginginkan kemulyaan, artinya keluhuran di dunia dan di akhirat. Maka dia harus mendahulukan akhirat dan mengakhirkan dunia, serta melanggengkan ibadah pada semua waktu sesuai dengan kemampuannya.
  • Siapa saja orang yang menginginkan surga firdaus (surga yang paling luhur) dan kenikmatan yang tidak akan rusak (kenikmatan surga), maka jangan menyia-nyiakan umurnya dengan merusak dan berbuat maksiyat.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar