Hukum Bersiwak dan Bermanfaat Memudahkan Keluarnya Roh Ketika Sakaratul Maut

Bersiwak (menggosok) seluruh gigi bagian luar dan dalam (dilakukan) berdasarkan hadis sahih berikut ini:

Seandainya aku tidak menyusahkan umatku, pasti aku akan mewajibkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan wudhu.

Ada orang yang mengatakan bahwa bersiwak itu memudahkan keluarnya roh. Berdasarkan keterangan ini, sebagian ulama sangat mengutamakan bersiwak bagi orang yang sakit, dan sebaiknya ketika akan bersiwak berniat sunat agar mendapat pahala. Sunat pula menelan ludah pada permulaan siwak, tetapi tidak perlu mengisapnya (menelan ludah siwak dapat terhindar dari penyakit kusta, dan lain-lain).

Disunatkan menyela-nyela gigi dari sisa makanan, baik sebelum bersiwak ataupun sesudahnya, tetapi bersiwak lebih utama (daripada menyela-nyela gigi). Berbeda dengan pendapat orang yang beranggapan sebaliknya.

Tidaklah makruh memakai siwak orang lain bila mendapat izin atau dimaklumi ridhanya. Jika tidak, hukumnya haram, seperti halnya mengambil milik orang lain. (tidaklah makruh) memakai siwak milik orang lain selama tidak bertentangan dengan adat. Bagi orang yang berpuasa, makruh bersiwak sesudah matahari condong ke barat, jika mulutnya tidak menebarkan aroma yang kurang sedap, misalnya karena kurang tidur.

Dari penjelasan diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa bersiwak itu banyak manfaatnya. Dengan demikian, kita harus membiasakan diri kita untuk melakukannya (bersiwak), karena apabila kita sudah terbiasa maka tidak akan terasa berat ketika melakukannya. Yakinlah, bahwa setiap perkara yang dianjurkan oleh Allah swt dan Rasulullah saw pasti akan membawa kebaikan di dunia dan di akhirat.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Keutamaan Bersiwak Sebelum Shalat dan Membaca Al Quran

Bersiwak (menggosok) seluruh gigi bagian luar dan dalam (dilakukan) berdasarkan hadis sahih berikut ini:

Seandainya aku tidak menyusahkan umatku, pasti aku akan mewajibkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan wudhu.

Bersiwak dapat menggunakan setiap benda yang kasar sekalipun, misalnya dengan sobekan kain atau sikat. Menggunakan kayu gaharu lebih baik daripada yang lainnya, terutama kayu yang berbau wangi. Tetapi yang lebih afdhal adalah menggunakan kayu arak (kayu untuk bersugi). Tidak sah dengan jari, walaupun kasar. Hal ini berbeda dengan pendapat Imam Nawawi, yang boleh menggunakan jari.

Bersiwak dilakukan setiap kali akan wudhu, shalat fardhu atau sunah walaupun bersalam pada setiap dua rakaat, dan ketika wudhu, meskipun antara wudhu dengan shalat itu tidak terpisah oleh sesuatu pemisah (yang agak lama) dan sekira tidak dikhawatirkan mulutnya terkena najis (sebab bersiwak itu). Maka bersiwak sangat diperlukan, termasuk bagi orang yang tidak bergigi (ompong).

Yang demikian itu, berdasarkan hadis al Humaidi dengan sanad yang baik, sesuai dengan sabda Nabi saw,”Dua rakaat dengan siwak lebih afdhal daripada 70 rakaat tanpa siwak.”

Jika terlupa pada awal shalat, susullah (bersiwak) pada tengah-tengahnya dengan pekerjaan yang sedikit (yaitu sekali atau dua kali, jangan tiga kali), seperti halnya bersorban.

Bersiwak pun hukumnya sunat muakkad, yaiu ketika akan membaca Al Quran, hadis dan ilmu syar’i. Demikian pula dikala mulut kurang sedap atau berubah rasa, misalnya karena tidur atau memakan makanan yang berbau, juga pada waktu gigi berubah, misalnya menguning, sesudah bangun atau hendak tidur, ketika akan masuk mesjid atau rumah, sesudah sahur dan ketika sekarat, dalilnya sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Shahihain (dari Siti Aisyah r.a bahwasanya ketika NAbi saw akan wafat, beliau bersiwak dahulu)

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Inilah 14 Manfaat dan Keutamaan Bersiwak

Disunatkan membaca Bismillah ketika mulai membaca Al Quran walaupun memulainya di tengah-tengah surat, di dalam maupun di luar shalat. Demikian pula ketika akan mandi, tayamum, dan menyembelih binatang. Disunatkan membaca Bismillah disertai niat mengerjakan sunat wudhu ketika membasuh kedua telapak tangan sampai ke pergelangan, walaupun diketahui bahwa kedua telapak tangannya bersih. Begitu pula apabila berwudhu dengan air dari kendi, sebab hal itu mengikuti sunnah NAbi saw.

Barang siapa yang baru bangun dari tidur, janganlah memasukkan tangannya ke dalam bejana, sehingga dicuci dahulu tiga kali, sebab ia tidak mengetahui bagaimana tangannya ketika ia tidur.

Bersiwak (menggosok) seluruh gigi bagian luar dan dalam (dilakukan) berdasarkan hadis sahih berikut ini:

Seandainya aku tidak menyusahkan umatku, pasti aku akan mewajibkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan wudhu.

Perlu diketahui:

  1. Bersiwak sebaiknya menggunakan akar kayu gaharu yang harum baunya, tetapi boleh juga menggunakan sikat atau kain kasar.
  2. Faedah bersiwak diantaranya adalah:
  • Mendapatkan ridha Allah.
  • Membersihkan gigi dari kotoran, walaupun sedang berpuasa.
  • Membersihkan mulut dari bau busuk dan kotoran lainnya.
  • Meluruskan punggung.
  • Menguatkan gusi.
  • Memperlambat keluarnya uban
  • Mencerdaskan otak
  • Melipatgandakan pahala ibadah.
  • Memudahkan sekarat
  • Memudahkan mengingat syahadat ketika sekarat.
  • Malaikat Izrail datang ketika sekarat dengan rupa yang baik.
  • Terhindar dari penyakit kusta
  • Terhindar dari sakit kepala
  • Menyehatkan mata.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani

Inilah 10 Keutamaan Bersiwak atau Membersihkan Mulut (Nyusur)

Rasulullah saw bersabda: Kalian harus nyusur (membersihkan mulut/bersiwak) pada setiap waktu dan pada setiap tingkah perbuatan. Karena sebenar-benarnya dalam nyusur tersebut ada sepuluh macam tingkah yang dipuji.

  • Nyusur tersebut membersihkan mulut dan menghilangkan bau yang tidak sedap
  • Allah akan memberi ganjaran atau pahala.
  • Setan akan marah atau tidak menyukai orang yang melakukannya.
  • Allah dan malaikat hafadhah akan mencintai orang yang melakukan nyusmur. Yaitu malaikat yang menjaga si ‘abdi/manusia dengan menuliskan berbagai amalnya dan yang lainnya.
  • Akan menguatkan gusi.
  • Akan membersihkan dahak.
  • Menjadikan wangi nafasnya.
  • Memadamkan mirrah. Yaitu campuran dari sebagian macam-macam campuran badan, seperti shafra’, soda, dan darah, serta dahak. Dan dalam riwayat lain nyusur tersebut membersihkan ma’iddah.
  • Nyusur tersebut sering membuat penglihatan tambah jelas. Artinya menghilangkan gelapnya penglihatan.
  • Nyusur itu sering menghilangkan bau mulut.

Nyusur itu merupakan setengan dari sunnah, maksudnya perjalanan Nabi Muhammad saw. Sudah terbukti bahwa Nabi Muhammad tetap atau selalu melakukan nyusur. Kemudian beliau berkata, “Sekali shalat dengan memakai nyusur itu lebih utama daripada tujuh puluh kali shalat dengan tidak pakai nyusur.” Hadist ini tidak menjadi dalil keutamaan nyusur melebihi shalat berjamaah yang dua puluh tujuh derajat. Karena sebenar-benarnya satu derajat dari yang dua puluh tujuh derajat terkadang membandingi terhadap yang banyak dari tujuh puluh derajat shalat yang memakai nyusur.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar