Arti Anak Bagi Orang Muslim dan Cara Mendidiknya

Anak bagi seorang muslim ibarat tabungan pensiun bagi seorang pegawai. Seorang pegawai yang memiliki tabungan pensiun, maka bila kelak ia sudah tidak lagi mampu bekerja, ia tetap mendapat gaji dari tabungan pensiun sesuai dengan perjanjian semula. Begitu juga dengan anak, apabila orang tua yang muslim itu berhasil mendidik, membesarkan anaknya menjadi orang yang shaleh, mengarahkannya kepada jalan kebaikan, membinanya sehingga menjadi penegak agama, maka sekali pun nanti kedua orang tuanya sudah tidak bisa beramal shaleh lagi (mati), ia akan tetap mendapat limpahan pahala dari Allah, disebabkan amal shaleh anaknya.

Perhatikan hadist di bawah ini : “Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak yang di dapat oleh yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

“Jika anak Adam mati terputuslah segala amalnya, kecuali tiga yaitu : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak sholeh yang mendo’akan orang tuanya.” (Al Hadist)

Seorang muslim menanam saham pada anaknya dengan cara mengajarkan ilmu yang bermanfaat pada anaknya, membiasakan anak untuk mau mendoakan kedua orang tuanya.

Karena itu wajib bagi setiap orang tua muslim untuk mengarahkan anak-anaknya menjadi muslim yang baik, yang mencintai agamanya dan siap berkorban untuk ketinggian agama. Jika tidak, anak-anaknya itulah yang akan menjadi musuh di hari kiamat, dimana anak tersebut akan menuntut kepada Allah : “Ya Allah, mereka tidak mengenalkan aku kepada agama-Mu. Ya Allah, mereka tak mengajari aku, bagaimana untuk menjadi hamba-Mu yang baik”. Ya Allah…Ya Allah…bertumpuklah dosa di pundak kita, terseretlah kita ke neraka karenanya. Dalam membina anak menjadi muslim generasi tauhid, diperlukan beberapa tahap pembinaan, disertai do’a orang tuanya.

Pembinaan Anak Ketika Anak Dalam Kandungan

  • Pendidikan anak bermula dari sebelum ayah dan ibu menikah. Karena itu dalam memilih jodoh perlu benar mengikuti petunjuk yang diajarkan syariat islam.
  • Pergaulan suami isteri harus mengikuti adab-adab yang diajarkan islam.
  • Ketika anak dalam kandungan, ibu hendaklah bersungguh-sungguh menahan diri dari memakan barang yang syubhat (yang tak jelas halal dan haramnya). Lebih-lebih lagi dari yang haram, terutama selepas empat bulan.
  • Jangan sekali-kali sang ayah berani menafkahi isterinya dari hasil yang haram.
  • Ibu dan bapak hendaklah kuat beribadah, berzikir, serta membaca Al Qur’an.

Ketika Anak Dilahirkan

  • Anak yang lahir hendaklah disambut dengan tangan yang suci, dalam suasana yang penuh keislaman.
  • Beri anak tersebut ASI, sempurnakan susuan sampai dua tahun, kecuali atas kerelaan suami isteri (lewat persetujuan), maka tidak dosa apabila disusukan kurang dari dua tahun. Tapi jika sang suami tetap ingin agar anaknya disusui secara sempurna (dua tahun), sedang isterinya enggan, isteri memikul dosa. Jika isteri tidak mampu menyusui anaknya (karena air susu tak mau keluar, atau sebab yang lain), maka bolehlah anaknya itu disusukan pada yang lain. Itu pun ibu susunya mesti dipilih orang yang shalihah serta kuat agamanya. Susu yang bersih memberi keberkatan kepada anak, dan orang yang menyusui yang baik akhlaknya, akan berpengaruh kepada si anak. Dalam hal ini, kedua orang tua wajib mentaati undang-undang Allah yang termaktub dalam surat Al Baqarah ayat 233.
  • Sunat dicukur sampai tak bersisa (gundul), serta memberi sedekah perak atau emas seberat timbangan rambut itu pada hari ketujuh kelahirannya. Juga sunat mengaqiqahkan anak pada hari itu juga. Aqiqah adalah menyembelih kambing dan digunakan sesuai dengan keinginan syara. Untuk anak laki-laki dua ekor, dan anak perempuan satu ekor.
  • Pada hari ketujuh anak diberi nama yang bagus menurut pandangan islam, seperti Muhammad, Ibrahim, Fatimah, dll. Menamai anak dengan nama barat kafir atau nama yang tak ada hubungannya dengan islam adalah sesuatu yang tercela.
  • Rasulullah bersabda : “Diantara kewajiban ayah kepada anaknya adalah mendidiknya baik-baik (sesuai dengan islam), dan memberi nama yang baik”.
  • Hendaklah anak-anak kecil itu dibiasakan telinganya mendengar kalimah-kalimah suci.

Pendidikan Anak

• Hendaklah anak-anak diajari akhlak dan budi pekerti yang baik.
• Latihlah ia supaya kuat berperasaan malu. Ketika mulai berakal, latihlah ia supaya malu jika melakukan pekerjaan yang tidak disukai Allah.
• Apabila anak itu menampakkan pekerjaan yang baik dan perbuatan terpuji, hendaklah ia dimuliakan dan diberi hadiah yang menggembirakan di hadapan orang banyak, supaya mengekalkan perbuatan baik tersebut.
• Kalau anak terlahir dari keluarga miskin, hendaklah diajari sifat qanaah (menerima apa adanya) dan sifat hemat. Ajarkan padanya bahwa mengambil harta orang lain adalah sifat tercela, hina dan rendah derajatnya. Seperti yang tercantum dalam HR. Bukhori : “Jika diberi dirham, atau perhiasan, permadani atau pakaian (rizki). Jika diberi diam (tidak bersyukur), jika tidak diberi tidak rela (ngomel), tidak menerima qada dan qadar”.
• Larang anak-anak dari membiasakan diri bersumpah.
• Ibu bapaknya hendaklah mendoakan anak dengan do’a yang baik-baik, jangan memaki atau menyumpah mereka. Rasulullah bersabda : “Do’a ibu itu lebih cepat dikabulkannya”. Seorang bertanya : “kenapa Rasulullah ?”, jawab nabi : “Sebab ibu lebih menyayangi anak dari pada bapak, sedang do’a penyayang tidak akan sia-sia.” Ada seorang yang datang kepada Abdullah bin Mubarak, ia itu mengeluh atas perlakuan anaknya yang tak berbakti kepadanya. Abdullah bertanya : “Pernahkah anda mendo’akan celaka untuk anakmu ?” Jawab orang itu: “Ada” Abdullah berkata : “Engkaulah yang merusakkannya”.
• Orang tua hendaknya selalu menasehati anak agar menaati kedua orang tuanya. Sabda Nabi : “Dirahmati Allah seorang bapak yang membimbing anak untuk berbakti kepadanya.”
• Anak hendaknya diawasi baik-baik, laranglah dia dari bergaul dengan anak-anak yang jelek akhlaknya.
• Hindarkan anak dari bergaul dengan anak-anak yang terbiasa hidup mewah dan bersenang-senang serta tidak kuat agamanya.
• Didik anak untuk memuliakan kawan bermainnya.
• Ajari anak untuk duduk menurut sunnah.
• Dilatih anak-anak untuk berdiri apabila didatangi oleh orang yang lebih tua. Apabila dalam sebuah majelis para orang tua berdiri, hendaklah si anak pun ikut berdiri.
• Jangan dibiasakan anak-anak melakukan suatu pekerjaan secara sembunyi-sembunyi, karena ini akan melatih dia berbuat keburukan.

Pakaian dan Perhiasan

• Jangan biasakan anak-anak kepada perhiasan dan hidup bersenang-senang serta mewah. Sebab jika dibiasakan, nanti setelah besar ia akan menghabiskan hidupnya untuk mengejar kemewahan.

Rasul bersabda : “Barang siapa yang meninggalkan pakaian mewah karena tawadhu kepada Allah sedang ia dapat membelinya, Allah akan memanggilnya di hari kiamat di hadapan sekalian manusia, disuruh memilih pakaian iman yang dikehendakinya untuk dipakai.” Abu Said Al Khudri berkata : Rasulullah duduk di atas mimbar dan kami duduk disekitarnya, kemudian Nabi bersabda : “Sesungguhnya diantara yang saya khawatirkan atas kamu sepeninggalku nanti adalah terbuka lebarnya kemewahan dan keindahan dunia ini pada kamu.” (HR. Bukhori Muslim).

Rasulullah juga bersabda : “Tiap-tiap umat mempunyai cobaan dan ujian sendiri-sendiri, dan fitnah ujian pada umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi)

• Anak laki-laki sebaiknya dicela jika memakai pakaian berwarna-warni atau sutera. Lelaki sepatutnya malu memakai pakaian seperti itu, karena lebih pantas untuk wanita.
• Tanamkan nilai-nilai hidup Usroh (berkeluarga) dan bermasyarakat. Ajari mereka supaya tidak mementingkan diri sendiri.
• Latih anak-anak supaya ridho dengan hidangan yang tersedia, tanpa mengomel, merengut dan merajuk.

Makan dan Minum

  • Ajari anak-anak untuk makan menurut sunnah dan adab islam.
  • Ajari agar menyuap dan mengambil makanan dengan cara yang benar menurut islam, biasakan makan dengan tangan kanan.
  • Biasakan dia berdo’a sebelum dan sesudah makan.
  • Jangan anak bersegera / terburu-buru untuk makan, sebelum orang lain bersedia.
  • Jangan memperhatikan wajah orang yang sedang makan.
  • Sebaiknya makanan dikunyah hancur-hancur, jangan berpaling diantara kunyahan.
  • Jangan mengotorkan tangan dan pakaian dengan makanan itu.
  • Sekali-kali biasakanlah makan tanpa lauk-pauk, supaya ia tidak menganggap lauk-pauk sebagai sesuatu yang mesti ada (belajar qanaah).
  • Ingatkan anak-anak agar jangan banyak makan, karena itu sifat tercela seperti binatang. Anak-anak yang banyak makan hendaklah dicela di hadapan anak-anak lain, sebaliknya anak-anak yang sedikit makannya serta menjaga adab-adab makan dipuji secara wajar dan dimuliakan. Orang yang sedikit makannya akan mudah menerima ilmu.
  • Ajari anak-anak agar mendahulukan orang lain dalam hidangan makanan.
  • Didik dia agar selalu berpuas hati dengan makanan yang ada dan tidak cerewet.
  • Beri makan anak-anak makanan yang halal, tidak syubhat, apalagi haram. Karena kesucian makanan mempengaruhi roh dan jasad manusia. Seperti yang dikatakan Nabi bahwa setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram, tidak ada tempat kembalinya yang cocok kecuali neraka.
  • Jangan tidurkan anak di tilam yang empuk, supaya segala anggota badannya menjadi keras dan kuat tubuhnya serta tidak gemuk. Rayu anak agar sabar dengan tilam yang keras itu. Aisyah berkata : “Adalah kasur tempat tidur Nabi saw, dari kulit berisi sabut.” (HR. Bukhori)
  • Pisahkan tempat tidur anak perempuan dengan anak laki-laki. Dari Umar bin Suhaib dari ayahnya dari neneknya berkata Rasulullah : “Pisahkan anak laki-laki dari anak perempuan dalam tempat tidur mereka.”
  • Pisahkan tempat tidur anak-anak dengan orang tuanya, jika anak tersebut sudah berakal (mengerti pergaulan suami isteri).

Kesehatan dan Gerak Badan

  • Pada waktu siang, galakkan anak-anak berjalan, bergerak badan, dan jangan terlalu banyak tidur, supaya tidak terbiasa malas.
  • Setelah belajar / mengaji, galakkan anak-anak agar bermain-main selepas lelah. Tapi jangan dibiasakan terburu-buru bermain.
  • Anak-anak jangan dipaksa untuk belajar saja dan dilarang bermain, karena itu akan mematikan hatinya, menumpulkan otaknya, sebab akan membosankan hidupnya.
  • Jaga anak-anak dari berbagai macam penyebab penyakit.
  • Tahan anak-anak dari tabiat suka tidur di siang hari, karena ini membawa kemalasan, tapi jangan ditahan dari tidur di malam hari.
  • Biasakan anak-anak memakai alas kaki ketika berjalan.
  • Biasakan agar tangan anak selalu bersih.
  • Didik anak agar suka menggosok gigi.
  • Larang anak-anak dari bermain di hadapan orang tua, guru atau orang yang lebih tua. Didik anak agar menghormati mereka dengan pandangan penuh takzim.

Memiliki Harta

  • Hendaklah anak-anak dididik untuk tidak terlalu mencintai harta.
  • Anak-anak jangan diajari untuk berbangga diri dengan apa yang ada pada dirinya, seperti pakaian, alat permainan, dll. Biasakan agar dia bersifat tawadhu (rendah hati).
  • Kalau anak orang kaya, hendaklah diajarkan suatu doktrin bahwa kemuliaan itu terletak pada sifat suka memberi, bukan mengambil barang / hak orang lain. Mengambil hak orang lain adalah perbuatan tercela.
  • Jangan mengikuti kemauan anak-anak dalam kesenangan dan bermewah-mewah.

Menghukum Anak

  • Jika sekali-kali anak melakukan kesalahan, selama itu tidak berakibat fatal menurut syara, hal itu bisa dimaafkan.
  • Anak-anak yang melakukan kesalahan, janganlah dicaci. Agar ia tak biasa mendengar kata-kata cacian. Terlalu sering dicaci akan membuat mereka berani melakukan kesalahan lagi (nekad).
  • Bapak jangan selalu memarahi dan membuat malu anaknya.
  • Jika pertama kali anak berbuat salah, hendaklah dinasehati secara umum di hadapan anak-anak yang lain (tanpa menyebut namanya). Jika cara ini tak berkesan di hati anak, hendaklah dinasehati secara empat mata.
  • Jika dalam keadaan terpaksa kita memukul anak, janganlah dengan pukulan yang membahayakan, tetapi harus dengan niat mendidik. Sebaliknya, si anak harus dilatih tabah menahan sakit, sebagai seseorang yang berani. Sehingga kalau kelak di kemudian hari dia membela islam dalam perang, dia tidak akan mengeluh
  • Utamakan mendidik dan mengajar anak dengan lemah lembut, hindari sekecil mungkin tindak kekerasan pada mereka.
  • Ajari anak beradab islam, seperti sabda Nabi : “Pemberian paling utama seorang ayah kepada anaknya adalah mengajar adab (sopan santun)

Hiburan Anak-Anak

  • Ibu bapak hendaknya menggembirakan dan menghibur anak dengan cara yang diatur syariat islam. Sabda Nabi : “Surga ialah sebuah kampung tempat kesenangan, tiada masuk kedalamnya melainkan orang yang suka membuat anak-anak gembira.” Lalu sabda yang lainnya : “Barang siapa yang menggembirakan anak-anak, derajatnya sama dengan (pahala) orang yang menangis karena takut kepada Allah.” Sedangkan pahala orang yang menangis karena takut kepada Allah adalah diharamkan oleh Allah api neraka menyentuh tubuhnya.
  • Ibu bapak hendaknya selalu mencium anak-anaknya untuk menggembirakan mereka. Rasulullah bersabda : “Ciumilah anakmu, karena pahala setiap ciuman itu dibalas dengan satu derajat surga. Jarak antara dua derajat itu adalah 500 tahun.”
  • Berilah anak-anak buah tangan / hadiah. Dari Anas Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang keluar pergi ke pasar muslimin dan membeli keperluan, jika ia kembali ke rumah ia bawakan oleh-oleh dan diminta oleh anak perempuannya, niscaya ia memperoleh pandangan rahmat dari Allah, lagi tidak disiksa.”
  • Dilarang menghibur anak dengan perkara-perkara yang merusak akhlaknya, seperti lagu-lagu, bacaan khayalan, acara TV yang tidak mendidik, dll.
  • Anak-anak dilarang untuk mengidolakan artis, tapi sebaiknya para pahlawan islam.

Ibadah

  • Jika anak telah dapat membedakan tangan kanan dan tangan kiri, hendaklah ia dididik shalat dan shaum serta bersuci.
  • Apabila sudah berumur tujuh tahun, anak sudah harus mengerti dan mengerjakan shalat. Jika sudah 10 tahun belum mau shalat, pukullah ia dengan pukulan yang tidak membahayakan, pisahkan pula tempat tidur anak-laki-laki dan anak perempuan.

Pendidikan Khusus anak

  • Anak-anak harus diajari menulis, membaca serta memahami Al Qur’an.
  • Selalu dikisahkan kepada anak tentang sejarah perjuangan Rosul-Rosul Allah, para sahabat, dan orang-orang sholeh jaman dulu, agar pada hati anak tertanam kecintaan kepada mereka.
  • Sebaiknya anak-anak dijauhkan dari membaca, mendengar kisah dan lagu-lagu yang menggambarkan percintaan, kisah khayalan, komik, kartun, yang tidak berlandaskan syariat. Karena itu akan menumbuhkan benih-benih kerusakan dalam dirinya.
  • Seharusnya ditanamkan sedini mungkin kepada anak-anak terutama tentang ilmu agama, cerita atau kisah-kisah para Nabi, dll. Hal tersebut sangat baik, daripada cerita-cerita kartun dan komik yang kurang mendidik.
  • Anak semestinya dididik secara bertahap dari mulai syariat ilmu agama, hikmah, cerita tentang mati, surga dan neraka, padang mahsyar, hisab, dll.
  • Anak dididik di madrasah, ia diajarkan membaca Al Qur’an, akhlak, perjuangan aspek keimanan. Sedangkan pendidikan umumnya di sekolah.

Pendapat dari Hadist mengenai anak

Sabda Rasulullah saw : “Muliakanlah anak-anakmu dengan mengajarkan adab dan ilmu agama kepada mereka. Barang siapa memuliakan anak-anaknya, Allah akan memuliakannya di surga, terutama ibu.” Bahkan ada satu hadist yang menyatakan : “Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu”. Hal ini menunjukan betapa tingginya derajat kaum ibu, namun hal ini juga adalah sebuah isyarat bahwa tanggung jawab yang besar harus dipikul oleh seorang ibu dalam mendidik dan menjadikan anaknya agar masuk sorga kelak.

Seorang anak masuk sorga atau neraka, hal itu akan sangat tergantung dari pendidikan ibunya. Mampukah ia mendidik anaknya dengan baik atau tidak, menjadikan anak shaleh, beriman dan bertakwa kepada Allah. Serta mengamalkan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari, misalkan shalat.

Rasulullah bersabda :”Ibu itu adalah tiang negara, apabila si ibu itu baik maka baiklah negara ini, tetapi sebaliknya apabila ibu itu rusak maka akan binasalah negara ini.”
Apabila pada setiap keluarga ibunya sudah mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak yang shaleh, beriman dan bertakwa kepada Allah swt, sehingga mampu mengamalkan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari. Maka akan terciptalah masyarakat yang madani (Mawaddah Warahmah), yang kemudian akan tercapailah negara yang Baldatun Thoyyibatun Warabbun Gaffur yang kita cita-citakan.

Kita tahu bahwa sebuah negara terdiri dari kumpulan masyarakat, dan masyarakat terdiri dari kumpulan keluarga. Demikian juga akhlak dan perilaku, khususnya tentang kaum ibu yang diterangkan diatas. Dia harus mampu menciptakan suasana keluarga yang sejuk, tenteram dan damai, sakinah mawaddah warahmah. Sehingga akan tercipta lingkungan masyarakat yang kondusif, serta pada akhirnya tercipta negara yang Baldatun Thoyyibatun Warabbun Gaffur itu tadi.

Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang diberi rizki oleh Allah (berupa anak-anak), maka wajib baginya mengajar anak itu dengan baik adab dan akhlaknya. Semoga dengan itu ia kelak akan memperoleh kemewahan rezeki dengan syafaatnya.” (syariatnya karena anak-anaknya yang shaleh itu).

“Barang siapa yang meninggalkan (mati) anak dalam keadaan jahil (bodoh), tidak mengerti syariat (peraturan dari Allah). Maka tiap-tiap dosa yang dilakukan oleh anaknya (akibat kebodohannya itu), akan ikut menanggung juga ibu bapaknya.” Maka bimbinglah anak dan istrimu ke jalan agama yang benar supaya kelak menjadi anak dan istrimu di sorga.

“Barang siapa meninggalkan anaknya dalam keadaan shaleh, yang telah dibekali ilmu agama dan adab (oleh orang tuanya), maka kedua orang tuanya itu juga akan mendapatkan pahala atas amal yang dikerjakan oleh anaknya itu, tanpa mengurangi sedikit pun pahala buat si anak itu. Tapi barang siapa yang meninggalkan anaknya dalam keadaan fasik (rusak agamanya), adalah orang tuanya pula yang ikut memikul dosa si anak itu karena jahil (bodoh), tanpa dikurangi dosanya sedikit pun dari si anak.” Maksudnya orang tua berdosa dan anaknya pun tenggelam dalam luapan nanah dan darah, disebabkan dosanya itu.

Dirangkum oleh Ustadz M. Aas Satibi (pondok pesantren Pulosari Leuwigoong Kab. Garut) dari berbagai macam kitab fikih

Cara Meraih Pahala dari Fitnah Harta dan Anak

”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)

Terdapat dua ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebut harta dan anak sebagai fitnah, yaitu surah Al-Anfal ayat 28 dan surah At-Taghabun ayat 15, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Perbedaannya: pada surah Al-Anfal, Allah menggunakan redaksi pemberitahuan “ketahuilah”, sedangkan pada surah At-Taghabun menggunakan redaksi penegasan “sesungguhnya”.

Namun ungkapan yang mengakhiri kedua ayat tersebut sama, yaitu “di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Sehingga bisa dipahami bahwa fitnah harta dan anak bisa menjerumuskan ke dalam kemaksiatan, namun di sisi lain justru bisa menjadi peluang meraih pahala yang besar dari Allah swt. Dan makna yang kedua itulah yang dikehendaki oleh Allah, sehingga Allah mengingatkannya di akhir ayat yang berbicara tentang fitnah anak dan harta “dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Fitnah dalam kedua ayat ini bukan dalam arti Bahasa Indonesia, yaitu setiap perkataan yang bermaksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik atau merugikan kehormatannya. Tetapi fitnah yang dimaksud dalam konteks harta dan anak seperti yang dikemukakan oleh Asy-Syaukani adalah bahwa keduanya dapat menjadi sebab seseorang terjerumus dalam banyak dosa dan kemaksiatan, demikian juga dapat menjadi sebab mendapatkan pahala yang besar. Inilah yang dimaksud dengan ujian yang Allah uji pada harta dan anak seseorang.

Fitnah di sini juga dalam arti bisa menyibukkan atau memalingkan dan menjadi penghalang seseorang dari mengingat dan mengerjakan amal taat kepada Allah, seperti yang digambarkan oleh Allah tentang orang-orang munafik sehingga Dia menghindarkan orang-orang beriman dari kecenderungan ini dalam firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Munafiqun: 9). Rasulullah saw juga menyebut kedua kemungkinan ini dalam hadits Aisyah ra ketika beliau memeluk seorang bayi, ”Sungguh mereka (anak-anak) dapat menjadikan seseorang kikir dan pengecut, dan mereka juga adalah termasuk dari haruman Allah swt”.

Fitnah anak dalam arti bisa mengganggu dan menghentikan aktivitas seseorang pernah dirasakan juga oleh Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Daud dari Abu Buraidah bahwa ketika Rasulullah saw sedang menyampaikan khutbahnya kepada kami, tiba-tiba lewatlah kedua cucunya Hasan dan Husein mengenakan baju merah sambil berlari dan saling kejar mengejar. Begitu melihat kedua cucunya, Rasulullah kontan turun dari mimbar dan mengangkat keduanya seraya mengatakan, ”Maha Benar Allah dengan firman-Nya, ”Sesungguhnya harta dan anak-anak kamu adalah fitnah”. Aku tidak sabar melihat keduanya sampai aku menghentikan ceramahku dan mengangkat keduanya”.

Dalam konteks ini, Ibnu Mas’ud mengajarkan satu doa yang tepat tentang harta dan anak. Beliau mengungkapkan, ”Janganlah kalian berdoa, dengan doa ini, ”Ya Allah, lindungilah kami dari fitnah”. Karena setiap kalian ketika pulang ke rumah akan mendapati harta, anak dan keluarganya bisa mengandungi fitnah, tetapi katakanlah, ”ya Allah aku berlindung kepada engkau dari fitnah yang menyesatkan”.

Secara korelatif tentang fitnah harta dan anak dalam surah At-Taghabun, Imam Ar-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir menyebutkan, karena anak dan harta merupakan fitnah, maka Allah memerintahkan kita agar senantiasa bertaqwa dan taat kepada Allah setelah menyebutkan hakikat fitnah keduanya, ”Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (At-Taghabun: 16).

Apalagi pada ayat sebelumnya, Allah menegaskan akan kemungkinan sebagian keluarga berbalik menjadi musuh bagi seseorang, ”Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghabun: 14)

Sedangkan tentang fitnah harta dan anak dalam surah Al-Anfal, Sayyid Quthb menyebutkan korelasinya dengan tema amanah ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (Al-Anfal: 27), bahwa harta dan anak merupakan objek ujian dan cobaan Allah swt yang dapat saja menghalang seseorang menunaikan amanah Allah dan Rasul-Nya dengan baik. Padahal kehidupan yang mulia adalah kehidupan yang menuntut pengorbanan dan menuntut seseorang agar mampu menunaikan segala amanah kehidupan yang diembannya.

Maka melalui ayat ini Allah swt ingin memberi peringatan kepada semua khalifah-Nya agar fitnah harta dan anak tidak melemahkannya dalam mengemban amanah kehidupan dan perjuangan agar meraih kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Dan inilah titik lemah manusia di depan harta dan anak-anaknya. Sehingga peringatan Allah akan besarnya fitnah harta dan anak diiringi dengan kabar gembira akan pahala dan keutamaan yang akan diraih melalui sarana harta dan anak.

Lebih jauh, korelasi ayat di atas dapat ditemukan dalam beberapa ayat yang lain. Al-Qurthubi misalnya, menemukan korelasinya dengan surah Al-Kahfi: 46 yang bermaksud, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”, bahwa harta kekayaan dan anak wajar menjadi perhiasan dunia yang menetramkan pemiliknya karena pada harta ada keindahan dan manfaat, sedangkan pada anak ada kekuatan dan dukungan. Namun demikian kedudukan keduanya sebagai perhiasan dunia hanyalah bersifat sementara dan bisa menggiurkan serta menjerumuskan.

Maka sangat tepat jika ayat “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (At-Taghabun: 15) dan ayat “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”.(Al-Munafiqun: 9) menjadi pengingat jika kemudian terjadi harta dan anak justru menjauhkan pemiliknya dari Allah swt.

Berbeda dengan At-Thabari, ia memahami korelasi kontradiktif ayat ini dengan surah Ali Imran ayat 38, “Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Menurut Ath-Thabari, secara tekstual ayat ini bisa dipahami bertentangan dengan ayat yang memberi peringatan akan kemungkinan bahaya dan fitnah yang ditimbulkan dari harta dan anak. Padahal nabi Zakaria sendiri berdoa agar dikaruniakan keturunan yang banyak.

Maka pemahaman yang cenderung kontradiktif ini diluruskan sendiri oleh Ath-Thabari dengan mengemukakan bahwa anak yang di pohon oleh Zakaria adalah anak keturunan yang shaleh yang bisa memberi manfaat di dunia dan akhirat. Sedangkan yang dikhawatirkan adalah kriteria harta dan anak yang justru melalaikan dari mengingat Allah swt seperti yang Allah tegaskan dalam salah satu firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Munafiqun: 9). Dalam konteks ini, Nabi Muhammad sendiri pernah mendoakan harta dan anak yang banyak kepada sahabat Anas bin Malik ra, “Ya Allah perbanyaklah untuknya harta dan anak, dan berkahilah setiap apa yang Engkau anugerahkan kepadanya”.

Demikian keseimbangan yang diajarkan oleh Allah swt dalam menyikapi fitnah harta dan anak yang menduduki posisi tertinggi dari titik lemah manusia. Harta dan anak memiliki potensi yang sama dalam menghantarkan kepada kebaikan atau menjerumuskan seseorang kepada dosa dan kemaksiatan. Sudah sepantasnya peringatan Allah dalam konteks fitnah harta dan anak senantiasa yang sering kita ingat karena hanya peringatan Allah yang mencerminkan kasih sayang-Nya yang layak untuk diingat, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim:6).

Mengapa Suami Harus Hati-hati Terhadap Anak dan Istri (Bisa Menjadi Musuh)

“Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (At-Taghabun [64]: 14-15)

Ayat ini turun berkenaan dengan seorang penduduk Madinah bernama Auf bin Malik al-Asyja’i yang memiliki seorang istri dan anak. Disebutkan, acap kali ia hendak turut berperang bersama kaum Muslim, maka istri dan anak-anaknya “sepakat” menangis seraya meratap, “Hendak kemana kamu meninggalkan kami?” Karena tak tahan melihat kesedihan dan ratapan keluarganya, akhirnya Auf urung berangkat berjihad bersama kaum Muslimin lainnya. Lalu turunlah ayat ini mengingkari perbuatan tersebut.

Dalam riwayat yang lain, mufassir ternama Ibnu Abbas pernah ditanya tentang ayat ini, ia lalu menjawab: “Ayat ini turun kepada orang-orang yang telah memeluk agama Islam dan sangat ingin berhijrah, namun tidak pernah mendapat dukungan dari istri-istri dan anak-anak mereka. Hingga suatu saat mereka berkesempatan hijrah ke kota Madinah. Selain melepas rindu dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam rupanya di Madinah mereka juga mendapati para Sahabat mereka kini telah berubah menjadi para fuqaha (ahli dalam bidang fikih).”

Alhasil, orang-orang tersebut lalu sangat geram kepada keluarga mereka. Menganggap diri mereka telah tertinggal dari berbagai kebaikan akibat terhalang oleh perilaku istri dan anak-anak mereka sendiri. Hingga selanjutnya turunlah potongan ayat berikutnya “…Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Suami, istri, dan anak adalah bagian tak terpisahkan dalam sebuah keluarga. Seperti itulah garis fitrah bagi kehidupan manusia. Pada masing-masing mereka, cinta dan kasih sayang itu lalu tercurah dalam bingkai indah bernama pernikahan. Sebuah ikatan suci yang mampu mempertautkan hati-hati mereka. Namun, di sinilah letak kejelian dan kasih sayang Allah dengan segala keluasan ilmu-Nya. Sejak awal, Allah menyalakan sinyal peringatan dini kepada hamba-Nya untuk berhati-hati dalam urusan tersebut.

Meski berbalut hubbun halal (cinta yang halal), namun potensi yang terkandung pada dorongan syahwat bisa saja lepas kendali. Layaknya seekor kuda yang lepas dari tali kekangnya, hewan tunggangan yang semula jinak dan bersahabat tadi tiba-tiba berubah menjadi liar dan memusuhi tuannya sendiri. Alhasil, semangat yang terbangun dalam keluarga bukan lagi spirit kebersamaan dalam kebaikan dan ketaatan. Namun, ia berubah menjadi sarana berbuat keburukan atau saling menutupi ketika ada bibit kebaikan yang ingin bersemai dalam keluarga tersebut.

Senada hal di atas, al-Qadhi Abu Bakar bin al-Arabi berkata, “Permusuhan yang terjadi di sini bukanlah secara hukum asal karena istri dan anak itu pada hakikatnya adalah karunia dari Allah. Namun, mereka bisa berubah menjadi musuh atau lawan karena adanya perbuatan tertentu yang dilakukan oleh mereka. Padahal, tiadalah perbuatan paling buruk dan dimusuhi oleh Allah, kecuali yang berusaha memalingkan kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya.”

Untuk itu, al-Hasan al-Bashri menyatakan, “Kata min azwajikum bermakna sebagian saja (li at-tab’idh). Sebab, hukum asal suatu pernikahan dalam Islam adalah sunnah. Sebagai sarana dan alat peraga efektif untuk saling menguatkan dalam hal kebaikan dan ketaatan di antara sesama mereka.”

Imam Ibnu Katsir lalu mengutip sebuah Hadits yang diceritakan oleh Abu Malik al-Asy’ari. Nabi SAW bersabda, ”Bukanlah permusuhan ini yang jika kalian membunuhnya maka kalian lalu merasa mendapatkan kemenangan. Sebagaimana kalian tak juga dapat jaminan masuk surga, jika kalian terbunuh dan dikalahkan dalam permusuhan ini. Sebab, boleh jadi musuh-musuhmu tak lain adalah anak keturunan yang lahir dari rahim tulang rusukmu sendiri.” (Riwayat ath-Thabrani).

Di akhir pemaparannya, Imam al-Qurthubi menyimpulkan, ayat ini mencakup perintah berhati-hati secara umum, baik kepada laki-laki sebagai suami maupun perempuan sebagai istri. Meskipun secara tersurat lebih ditujukan kepada laki-laki sebagai nakhoda utama dalam sebuah keluarga. Namun dalam tataran realitas, tak ada jaminan jika titik permasalahan itu selalu bersumber dari istri dan anak. Sebab, boleh jadi noda permusuhan itu justru bertolak dari sang suami itu sendiri sebagai seorang kepala keluarga.

Rasulullah SAW mengakui hal tersebut sebagaimana dikisahkan oleh Abu Buraidah. Suatu ketika Nabi SAW sedang khutbah di hadapan para Sahabat. Tiba-tiba kedua cucunya al-Hasan dan al-Husain melintas di depan mimbar. Masing-masing memakai baju merah sambil berjalan tertatih-tatih (layaknya anak kecil yang belajar berjalan). Menyaksikan hal itu, Nabi SAW segera turun menggendong keduanya. Nabi SAW lalu berkata seraya tetap memangku keduanya, “Sungguh benar (perkataan) Allah dan rasul-Nya, sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah. Saya melihat kedua anak ini berjalan sambil tertatih-tatih dan saya tak bisa bersabar menyaksikannya. Hingga akhirnya saya sendiri yang memotong pembicaraan saya lalu meraih kedua anak itu.” (Riwayat Imam Ahmad)

Abdullah bin Mas’ud dengan bijak lalu mengajarkan, jika seseorang berdoa kepada Allah, janganlah ia berkata: “Ya Tuhan kami, bebaskanlah kami dari fitnah ini.” Sebab, sesungguhnya tak ada seorang pun yang bisa terlepas dari ujian dan cobaan tersebut. Jika seseorang pulang ke rumah menemui istri, anak, dan hartanya, maka tak lain semua itu mengandung fitnah yang dikhawatirkan. Tak seorang pun bisa terbebas dari kumpulan fitnah ini, sebab sejatinya itu semua adalah kecenderungan yang telah digariskan sejak awal oleh Allah Ta’ala kepada seluruh manusia.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 27-28)

Kemudian, diulang lagi seruan kepada orang-orang yang beriman. Dibisikkan lagi kepada mereka bahwa harta dan anak-anak itu kadang-kadang dapat menjadikan manusia tidak mau memenuhi seruan Allah dan seruan Rasul. Karena, takut terhadap nasib anaknya nanti dan karena bakhil terhadap hartanya.

Kehidupan yang diserukan Rasulullah adalah kehidupan yang mulia, yang sudah tentu ada tugas-tugas yang harus dikerjakan untuk mencapainya, harus ada pengorbnan. Oleh karena itu, Alquran mengobati ambisi ini dengan mengingatkan mereka terhadap fitnah harta dan anak-anak. Karena, harta dan anak-anak merupakan tempat ujian dan cobaan.

Alquran juga mengingatkan mereka agar jangan lemah menghadapi ujian ini, jangan mundur dari perjuangan, dan jangan melepaskan diri dari beban amanat, janji, dan baiat. Alquran menganggap pelepasan diri dari semua ini sebagai pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul. Juga pengkhianatan terhadap amanat-amanat yang dibebanan kepada umat Islam di muka bumi. Yaitu, amanat untuk menjunjung tinggi kalimat Allah dan menetapkan uluhiyyah-Nya saja bagi manusia, dan berpesan kepada manusia untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

Di samping kehati-hatian ini, diingatkan pula mereka terhadap pahala yang besar dari sisi Allah kalau mereka dapat menanggulangi fitnah harta dan anak-anak, yang kadang-kadang menghalangi manusia dari berkorban dan berjihad.

Menghindarkan diri dari tugas-tugas sebagai umat Islam di muka bumi merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul. Persoalan pertama dalam agama Islam ini adalah persoalan ‘Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.’ Tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Persoalan mengesakan Allah terhadap uluhiyyah, dan menerima dengan sepenuh hati akan semua ini menurut apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saja.

Manusia dalam seluruh sejarahnya, tak pernah mengingkari keberadaan Allah sama sekali. Mereka hanya mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan lain, yang kadang-kadang, dan ini hanya sedikit, dalam bidang akidah dan ibadah. Adakalanya, dan ini yang terbanyak, dalam masalah hukum dan kedaulatan. Inilah yang lebih dominan dalam kemusyrikan.

Oleh karena itu, persoalan utama agama Islam ini bukan mengajak manusia untuk mempercayai uluhiyyah Allah. Tetapi, mengajak mereka untuk mengesakan uluhiyyah bagi Allah saja, untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah. Yakni, mengesakan Allah sebagai satu-satunya yang berdaulat mengatur kehidupan mereka di dunia ini. Juga mengakui-Nya sebagai yang berdaulat untuk mengatur alam semesta, sebagai implementasi firman Allah: “Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi.” (QS. Az-Zhukhruf: 84)

Juga mengajak mereka bahwa hanya Rasulullah yang membawa wahyu dari Allah dan menyampaikannya kepada mereka. Dengan demikian, mereka berkewajiban mematuhi segala ajaran yang beliau sampaikan. Inilah persoalan utama agama Islam, sebagai itikad yang harus ditanamkan dan dimantapkan di dalam hati, dan sebagai gerakan yang harus diaplikasikan di dalam kehidupan. Karena itu, menghindarkan diri dari hal ini adalah pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul.

Allah mengingatkan hal ini kepada golongan Islam yang telah beriman kepada-Nya dan telah menyatakan keimanannya ini. Sehingga, mereka mempunyai tugas untuk berjuang guna merealisasikan petunjuknya dalam dunia nyata. Juga supaya bangkit menunaikan tugas jihad ini terhadap jiwa, harta, dan anak-anak.

Allah juga mengingatkan mereka agar jangan mengkhianati amanat yang mereka usung pada hari mereka berbaiat kepada Rasulullah untuk memeluk Islam. Islam itu bukan sekadar ucapan dengan lisan, bukan sekadar retorika dan pengakuan-pengkuan. Islam adalah manhaj kehidupan yang sempurna dan lengkap. Tetapi, untuk menegakkannya selalu menghadapi hambatan-hambatan dan kesulitan-kesulitan.

Islam adalah manhaj untuk membangun realitas kehidupan di atas landasan Laa ilaaha illallah, yang mengembalikan manusia kepada menyembah Tuhan mereka Yang Mahabenar, mengembalikan masyarakat kepada hukum dan syariat-Nya. Mengembalikan para thaghut yang melampaui batas kepada uluhiyyah Allah dan kedaulatan-Nya dari kezaliman dan tindakan melampaui batas.

Juga, mengamankan kebenaran dan keadilan bagi semua manusia, menegakkan keadilan di antara mereka dengan timbangan yang mantap, memakmurkan bumi, dan melaksanakan tugas khilafah di muka bumi dengan menggunakan manhaj Allah. Semua itu merupakan amanat yang barangsiapa tidak menunaikannya berarti telah berkhianat, melanggar perjanjian kepada Allah, dan merusak baiat yang telah diikrarkannya kepada Rasulullah.

Mereka semua perlu berkorban, bersabar, dan tabah. Mereka harus dapat menanggulangi fitnah harta dan anak. Juga melihat pahala yang besar di sisi Allah, yang disimpan untuk hamba-hamba-Nya yang terpercaya mengemban amanat-amanat-Nya, yang sabar, suka mengalah, dan suka berkorban. “Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 28)

Alquran ini berbicara kepada eksistensi manusia. Karena, Sang Pencipta mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi pada manusia ini, mengetahui yang lahir dan yang batin, mengetahui jejak-jejak langkah dan perjalanan hidupnya. Allah mengetahui titik-titik kelemahan pada diri manusia. Dia mengetahui bahwa ambisi terhadap harta dan anak-anak itu merupakan titik kelemahan paling dalam pada diri mereka.

Oleh karena itu, di sini, Dia mengingatkan hakikat pemberian harta dan anak-anak itu. Allah memberikan harta dan anak-anak kepada manusia untuk menguji dn memberi cobaan kepada mereka dengannya.

Harta dan anak termasuk perhiasan dunia yang notabene adalah ujian dan cobaan. Karena, Allah hendak melihat apa yang diperbuat dan dilakukan seorang hamba terhadap harta dan anak ini. Apakah dia mau mensyukurinya dan menunaikan hak-hak nikmat yang diperolehnya itu? Ataukah, malah sibuk dengannya sehingga lupa menunaikan hak-hak Allah? “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (QS. Al-Anbiyaa: 35)

Maka, fitnah atau cobaan itu bukan hanya dengan kesulitan, kesengsaraan dan sejenisnya saja. Tetapi, fitnah itu juga bisa berupa kemakmuran dan kekayaan. Termasuk kemakmuran dan kesenangan itu adalah harta dan anak-anak. “Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan.”

Apabila hati sudah menyadari posisi harta dan anak-anak sebagai ujian dan cobaan, maka kesadaran itu akan membantunya untuk senantiasa berhati-hati, menyadari dan mewaspadai, agar jangan sampai ia tenggelam, lupa, dan terbenam dalam ujian dan fitnah.

Kemudian Allah tidak membiarkan manusia tanpa pertolongan dan bantuan. Karena, manusia itu kadang-kadang merasa lemah, setelah menyadari semua itu, untuk memikul beratnya pengorbanan dan tugas. Khususnya, pada titik kelemahannnya yaitu terhadap harta dan anak-anak.

Maka, Allah memanggil-manggil mereka untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dan lebih kekal. Sehingga, dengan adanya keinginan untuk mendapatkannya, ia menjadi tabah dan kuat menghadapi ujian itu. “Dan bahwa di sisi Allah terdapat pahala yang besar.”

Allah lah yang memberi manusia harta dan anak. Di balik itu, di sisi-Nya terdapat pahala yang besar bagi orang yang dapat menanggulangi fitnah harta dan anak-anak. Dengan demikian, tidak seorang pun yang pantas mengabaikan amanat dan tidak mau berkorban untuk jihad.

Kesadaran inilah yang dapat membantu manusia yang lemah, yang diketahui oleh Sang Maha Pencipta titik-titik kelemahannya. “Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisaa: 28)

Islam adalah manhaj yang lengkap tentang akidah dan pandangan hidup, tarbiyah dan pemberian arahan, masalah kewajiban dan tugas-tugas manusia. Islam adalah manhaj atau aturan Allah Yang Maha Mengetahui, karena Dia Yang Maha Pencipta. “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)

Mengenal Tipe-Tipe Anak dan Istri Menurut Islam

Dalam hal mendidik anak, Al Qur’an memberikan pedoman, petunjuk juga peringatan akan menjadi apa anak yang kita didik dengan benar sesuai petunjuk Allah atau bertentangan dengan syariat Allah

Empat macam tipe anak:

1. Anak sebagai musuh

QS At Taghabuun 64:14, “Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi MUSUH bagimu maka BERHATI-HATILAH kamu terhadap mereka dan jika kamu MEMAAFKAN dan TIDAK MEMARAHI serta MENGAMPUNI maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

2. Anak sebagai Fitnah/Cobaan

Ali Imran 3:14, “Artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

QS Al Anfaal8: 28, “Artinya: Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

QS At Taubah : 9: 85, “Artinya: Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keadaan kafir.”

QS Al Munafiquun 63:9, “Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”

QS At Taghaabun 64: 15, “Artinya: Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar

3. Anak sebagai perhiasan dunia

QS Al Kahfi 18:46, “Harta dan anak-anak adalah PERHIASAN KEHIDUPAN DUNIA tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

4. Anak sebagai penyejuk hati

QS Al Furqan 25:74, “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai PENYENANG HATI , dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Kita sesuai sunnatullah hidup berpasang-pasangan, sebagai pendamping atau pasangan ada tipe yang perlu kita ketahui

Tipe Istri

1. Istri sebagai musuh (lihat tipe anak sebagai musuh)

2. Istri sebagai Ujian/Fitnah

QS At Tahriim 66:10, “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu BERKHIANAT KEPADA SUAMINYA , maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari Allah; dan dikatakan : “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk “.

3. Istri sebagai penyejuk hati (lihat tipe anak sebagai penyejuk hati)

“ Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara isteri-isteri dan anaka-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Menurut riwayat Ibn ‘Abbas r.a. tentang ayat pertama di atas apabila dia ditanya oleh seorang lelaki mengenai ayat ini, kata beliau: Mereka (orang-orang Mu’min yang disebut dalam ayat itu) ialah orang-orang yang telah memeluk Islam dari Makkah. Mereka hendak datang mengunjungi Rasulullah s.a.w., tetapi isteri dan anak-anak mereka enggan mengizinkan untuk ditinggal. Orang-orang mu’min yang tidak jadi berangkat mendapati mereka yang telah mendatangi rasulullah menjad pandai dan faham tentang hukum-hukum agama. Oleh karena itu timbul azam dalam hatinya untuk mendera isteri-isteri dan anak-anaknya.

Tetapi nas al-Qur’an lebih luas liputannya dari peristiwa yang kecil ini dan lebih jauh maksudnya. Peringatan dalam ayat ini sama dengan peringatan dalam ayat selanjutnya mengenai ujian harta benda dan anak. Peringatan yang mengingatkan bahwa di antara para isteri dan anak-anak itu ada yang menjadi musuh menunjukkan satu hakikat yang amat mendalam dalam kehidupan manusia. Peringatan itu menyentuh hubungan-hubungan yang amat halus dalam kehidupan.

Isteri dan anak kadang menjadi sebab yang melalaikan seseorang dari mengingat Allah, dan kadang menjadi pendorong ke arah meninggalkan tanggung jawab keimanan. Manusia melakukan tersebut karena biasanya menghindari kesusahan yang mungkin menimpa anak dan isterinya.

Seorang mukmin mungkin mampu menanggung kesusahan dirinya sendiri tetapi dia tidak sanggup melihat anak isterinya menanggung kesusahan. Inilah yang menyebabkannya menjadi bakhil dan pengecut supaya anak-anak dan isterinya aman dan tenang, supaya mereka hidup senang dan cukup dengan harta benda. Anak dan istri menjadi musuhnya karena merekalah yang menjadi batu penghalang, yang menahannya dari kebaikan dan dari merealisasikan kewujudan insaniyahnya yang tinggi. Mereka juga mungkin menghalanginya dalam menunaikan suatu kewajiban dakwah, karena menghindari kesulitan yang akan menimpa anak dan istrinya, atau karana mereka tidak sejalan dengannya, sedangkan dia tidak berdaya untuk berpisah dan membulatkan tekadanya kepada Allah.

Itulah bentuk-bentuk permusuhan yang berlainan derajatnya, dan semuanya berlaku dalam kehidupan seorang Mu’min di setiap masa. “ Sesungguhnya harta kamu dan anak-anak kamu adalah ujian (kepada kamu), dan di sisi Allah disediakan pahala yang amat besar”

Kata-kata fitnah itu mempunyai dua pengertian:

Pertama, Allah akan menguji kamu dengan harta kekayaan dan anak. Oleh karena itu hendaklah kamu berhati-hati dan waspada supaya kamu selamat menempuh ujian tersebut, dan supaya kamu dapat membulatkan keikhlasan dan kebaktian kamu kepada Allah. Kedua, harta kekayaan dan anak merupakan fitnah kepada kamu. Ia membawa kamu kepada kedurhakaan dan maksiat. Oleh itu, berhati-hatilah dari fitnah ini supaya kamu tidak hanyut dalam arusnya dan supaya fitnah itu tidak menjauhkan kamu dari Allah. Kedua pengertinya fitnah tersebut hampir sama.

Al-Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah ibn Buraydah: Rasulullah s.a.w. sedang berkhutbah, tiba-tiba datang al-Hassan dan al-Hussin r.a. kedua-duanya memakai baju merah. Kedua-duanya berjalan kemudian jatuh, lalu Rasulullah s.a.w. pun turun dari atas mimbar dan mengangkat keduanya dan meletakkan mereka dihadapannya, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya harta kekayaan dan anak-anak kamu itu merupakan fitnah. Aku melihat dua orang anak-anak ini berjalan dan jatuh, menyebabkan aku hilang sabar lalu memotong ucapanku dan mengangkat keduaduanya.” Hadith ini juga diriwayatkan oleh Ahlil-Sunnah dari hadith Ibn Waqid.

Demikianlah keadaan Rasulullah s.a.w. sendiri dengan dua orang cucunya. Pengaruh anak memang begitu besar sekali. Oleh karena itu manusia perlu diberi peringatan oleh Allah yang telah menciptakan hati mereka dan memberikan perasaan-perasaan itu di dalamnya, supaya manusia dapat mengawal hati mereka dari perasaan yang keterlaluan. Manusia harus menyadari bahwa hubungan mereka yang mesra terhadap anak dan isteri kadang bertindak seperti musuh yang menentang mereka. Oleh sebab itulah Allah menunjukkan ganjaran pahala yang tersimpan di sisi-Nya setelah mengingatkan mereka terhadap fitnah harta dan anak, “Di sisi Allah disediakan pahala yang amat besar.”
“ Oleh itu, bertaqwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu, dan dengarlah serta taatlah; dan infakanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa menjaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Kemudian Al-Qur’an menyeru orang-orang yang beriman supaya bertaqwa dan ta’at mengikuti batas kemampuan dan upaya mereka masing-masing. Dalam ungkapan “menurut kesanggupanmu” kelihatan jelas sifat kelembutan dan belas kasih Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Dia mengetahui sejauh mana kemampuan mereka untuk bertaqwa dan menjunjung keta’atan kepada-Nya.

Rasulullah s.a.w telah bersabda: “Apabila aku menyuruh kamu melakukan sesuatu, maka hendaklah kami laksanakannya menurut kesanggupanmu dan apa yang aku larangkan, hendaklah kamu jauhinya.”

Keta’atan menjunjung perintah Allah tidak mempunyai batas karena itu wajib dilaksanakan mengikut daya upaya seseorang. Tetapi tidak ada uzur dalam perkara larangan karena itu wajib dijauhi sepenuhnya.

Kemudian al-Qur’an menyeru mereka supaya mengeluarkan harta untuk kebajikan, karena sebenarnya mereka mengeluarkan harta untuk diri mereka sendiri. Al-Qur’an menunjukkan bahwa sifat kikir dan bakhil merupakan satu bala yang sentiasa mengancam manusia. Orang yang paling bahagia dan beruntung ialah orang yang terselamatkan dan terpelihara dari kekikirannya, dan ni’mat tersebut merupakan limpahan karunia Allah. Allah akan menerima pinjaman itu dan membalasnya dengan balasan yang jauh lebih baik.

“ Jika kamu memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik (ikhlas) niscaya Allah gandakan balasan kepadanya dan mengampuni kamu, dan Allah Maha Mensyukuri dan Maha Penyantun.”

Maha sucilah Allah, alangkah limpah-Nya rahmat kemurahan-Nya, dan alangkah agungnya sifat-sifat-Nya. Dia telah menciptakan manusia kemudian memberikan mereka rezeki, kemudian Dia meminta pinjaman dari mereka dan balasan yang lebih ni’mat dikurniakan kepada mereka, kemudian dia berterima kasih pula kepada mereka dan melayani mereka dengan sabar meski manusia lalai bersyukur kepada-Nya. Alangkah Agungnya Engkau, ya Allah!

Allah mengajar kita dengan sifat-sifat-Nya bagaimana kita harus mengatasi kekurangan dan kelemahan diri kita, dan bagaimana kita harus memandang ke derajat yang lebih tinggi supaya kita melihat Allah dan mencontoh sifat-sifat-Nya, mengikuti kadar kemampuan kita yang kecil dan terbatas ini.

“Maha Mengetahui segala yang ghaib dan segala yang nyata, Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.”
Segala sesuatu berdasarkan ilmu pengetahuan Allah, tunduk kepada kuasa-Nya, diatur dengan bijaksana supaya manusia hidup dengan kesadaran bahawa penglihatan Allah sentiasa memandang mereka, kekuasaan-Nya sentiasa menguasai mereka dan kebijaksanaan-Nya sentiasa mengatur segala sesuatu yang nyata atau yang ghaib.

Dengan tersematnya kefahaman itu dalam hati manusia, cukuplah untuk mendorong manusia bertaqwa kepada Allah,menumpukan keikhlasan kepada-Nya dan menyahuti seruan-Nya.