Amar ma’ruf nahi munkar

Menganjurkan kewajiban-kewajiban dalam syara’, dan juga mencegah dari kemunkaran (amar ma’ruf dan nahi munkar), adalah merupakan tugas dan kewajiban setiap orang mukallaf, merdeka, atau budak, lelaki atau wanita, meskipun ia termasuk orang yang tidak dihiraukan perkataannya.

Terkadang amar ma’ruf nahi munkar itu bisa menjadi fardhu ‘ain, misalnya seseorang bertempat di kalangan masyarakat awam, tidak ada yang mengerti tentang agama kecuali hanya dia, atau tidak ada yang sanggup menghilangkan kemunkaran kecuali hanya dia.

Dan urutan dari mencegah kemunkaran adalah dengan tangan, jika tidak mampu maka cukup dengan lidah. Jika dengan lidah masih tidak mampu maka harus membenci kemunkaran itu dengan hatinya.

Jika terjadi ada dua orang yang satu mampu menghentikan kemunkaran dengan tangannya dan yang satu lagi mampu menghentikan dengan lidahnya, maka bagi yang pertama diwajibkan bertindak sehingga menghentikannya dengan tangannya, bahkan hukumnya fardhu ‘ain. Tetapi jika pengaruh pencegahan itu lebih besar maka diutamakan dengan lidah, karena akan dapat mencegah lahir batin.

Jika terjadi situasi seperti tersebut di atas maka bagi orang yang beramar ma’ruf dengan lidah wajib bertindak sesuatu. Dia harus menghentikan kemunkaran dengan segala cara. Bagi orang yang masih mampu menghentikan kemunkaran dengan tangannya, maka tidak diperbolehkan mengehentikannya dengan lidahnya. Tidak boleh benci kepada kemungkaran dengan hati saja, bagi orang yang mampu menghentikannya dengan lidah. Jika tidak mampu ingkar dengan lidah, tapi masih mampu dengan cara tidak ditemani, berwajah muram atau penglihatan yang tidak menyenangkan, maka harus dilaksanakan. Jadi tidak hanya dengan ingkar di hati saja.

Ingkar dengan hati adalah merupakan kewajiban bagi setiap orang mukallaf, tidak boleh ditinggalkan. Bahkan ada sebagian ulama termasuk Imam Ahmad berpendapat, “Tidak membenci terhadap kemungkaran dengan hati itu dapat menyebabkan kekafiran.”

Keutamaan amar ma’ruf nahi munkar

Riwayat Al Ashbihani sebagai berikut:

Kalimat Laa ilaaha illallaah itu akan selalu berguna bagi orang yang membacanya dan dapat menolak siksaan dan kemurkaan Allah, selama mereka tidak meremehkan terhadap hak kalimat tersebut. para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan meremehkan haknya?’. Beliau menjawab, ‘Jika terjadi kemaksiatan kepada Allah secara terang-terangan, lalu tidak diingkari dan tidak dihentikan.’

Dan riwayatnya pula yang artinya sebagai berikut:

Wahai manusia, perintahkanlah kebajikan dan cegahlah kemunkaran, sebelum kamu memanjatkan doa kepada Allah, lalu Allah tidak mengabulkan permohonanmu. Dan sebelum kamu minta ampun, lalu kamu tidak diberi pengampunan. Sesungguhnya perintah kebajikan dan melarang kemunkaran tidak menolak rizki, tidak mendekatkan ajal. Pendeta-pendeta Yahudi dan Rahib Nasrani ketika meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar, maka dikutuk oleh Allah melalui lidah para nabinya. Kemudian mereka diliputi oleh bencana.

Imam Abu Dawud dan Imam Turmudzi juga telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda yang artinya sebagai berikut:

“Jihad yang paling utama itu adalah menyampaikan kalimat benar di hadapan pemerintah yang menyimpang.”

Abu Razin telah meriwayatkan, “sesungguhnya seorang lelaki akan berpegangan kepada lelaki yang lain nanti pada hari kiamat, padahal ia tidak mengenalnya. Lalu lelaki yang dipegang itu berkata, ‘Mengapa kamu pergi padaku, sedang antara aku dan kamu belum pernah mengenal?’. Lelaki itu berkata, ‘Kamu melihat aku berbuat kesalahan dan kemunkaran, namun kamu tidak melarangku.’

Dalam sebuah riwayat telah diterangkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

Akan didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat nanti, lalu dilemparkan ke dalam api neraka, lalu usus-ususnya pada keluar. Dan ia berputar-putar mengelilingi neraka sebagaimana keledai berputar pada penggilingan. Penduduk neraka berkumpul kepadanya. Mereka betkata, “Wahai Fulan, apa yang menimpamu? Bukankah kamu telah memerintah kami untuk berbuat baik dan melarang berbuat kemunkaran?”. Jawabnya, “Sungguh aku telah memerintah kepadamu kepada kebajikan, tapi aku sendiri tidak pernah mengerjakannya. Dan aku juga telah melarangmu berbuat kemunkaran, tapi aku sendiri malah melanggarnya.”

Sementara Imam Baihaqi meriwayatkan sebagai berikut:

Allah yang Maha Mulia lagi Maha Agung pernah memberi wahyu kepada malaikat Jibril, “Hendaknya kamu membalikkan kota ini dan itu dengan segenap penduduknya.” Lalu malaikat Jibril berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya di kalangan mereka ada hamba-Mu yang tidak pernah berbuat maksiat sekalipun hanya sekejap mata.” Maka Allah berfirman, “Balikkan kota itu dengan dia dan mereka itu atasnya, karena wajahnya tidak pernah memerah lantaran marah terhadap kemunkaran yang telah terjadi meskipun hanya sesaat.”

Dalil dari Al Qur’an dan hadist Nabi saw tentang Amar ma’ruf nahi munkar

Allah swt berfirman dalam surat At Taubah ayat 71, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.”

Imam Ghazali pernah berkata, “Ayat tersebut di atas mengandung pengertian bahwa orang yang tidak mengerjakan amar ma’ruf dan nahi munkar itu tidak termasuk dari golongan orang-orang mukmin.”

Dan Imam Qurthubi berkata, “Allah menjadi amar ma’ruf dan nahi munkar sebagai perbedaan antara orang-orang mukmin yang sejati dengan orang-orang munafik.”

Imam Muslim juga telah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri r.a. berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda sebagai berikut, ‘Barang siapa di antara kamu yang melihat kemunkaran, maka hendaknya melarangnya dengan tenaganya jika tidak mampu dengan tangannya maka cukup dengan lidahnya, dan jika masih tidak mampu maka cukup dengan hatinya (benci terhadap kemunkaran itu). Dan yang demikian itu termasuk iman yang paling lemah’.”

Al Bazzar juga telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

“Islam itu ada delapan bagian, dua kalimat syahadat itu satu bagian, dan shalat satu bagian, dan zakat satu bagian, dan puasa satu bagian, dan haji ke Baitullah satu bagian, dan amar ma’ruf itu satu bagian, dan nahi munkar itu satu bagian, dan jihad di jalan Allah itu satu bagian. Dan sungguh akan kecewa orang yang tidak mendapatkan bagian sama sekali.”

Dalil dari Al Quran dan Hadis Mengenai Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

Allah swt telah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 104:

dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Al A’raaf ayat 199, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf.”

At Taubah ayat 71, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka 9adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar.”

Al Maidah ayat 79, “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Abu sa’id Al Khudri yang menceritakan:

Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa diantara kalian melihat suatu perkara mungkar, hendaklah ia mencegah dengan kekuatannya; apabila ia tidak mampu, hendaklah dengan lisannya. Dan apabila ia tidak mampu juga, dengan hatinya, yang demikian itu (membenci dengan hati) merupakan iman yang paling lemah.”

Diriwayatkan di dalam kitab Imam Turmudzi melalui Hudzaifah yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw pernah bersabda:

Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman (kekuasaan)-Nya, kamu sekalian benar-benar melaksanakan amar ma’ruf dan mengerjakan nahi munkar, atau Allah swt benar-benar dalam waktu yang dekat akan mengirimkan kepada kalian suatu siksaan dari-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, tetapi doa kalian tidak dikabulkan.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu Daud, Sunan Turmudzi, Sunan Nasai dan Sunan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih melalui Abu Bakar ash Shiddiq yang mengatakan:

Hai manusia, sesungguhnya kalian telah membaca ayat berikut, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; tiadalah orang yang sesat itu memberi mudarat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk (Al Maidah;105)”

Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang itu apabila melihat orang yang aniaya, mereka tidak menuntun kedua tangannya ( ke jalan yang benar), maka dalam waktu yang dekat Allah akan menimpakan siksaan-Nya kepada mereka secara umum.”

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan Abu daud, Sunan Turmudzi melalui Abu Sa’id, bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda:

Jihad yang paling utama ialah kalimat yan adil di hadapan sultan yang zalim.

Mengucapkan Tasbih, Tahmid, Takbir dan Tahlil Untuk Mengungkapkan Rasa Takjub dan Kagum

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Hurairah yang menceritakan:

Nabi Muhammad saw menjumpainya di saat ia mempunyai jinabah, lalu ia pergi tanpa sepengetahuan Nabi saw untuk mandi. Maka Nabi Muhammad merasa kehilangan dia. Ketika dia tiba, Nabi Muhammad bertanya, “kemana saja engkau, wahai Abu Hurairah?”

Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau menjumpaiku disaat aku dalam keadaan berjinabah, maka aku tidak suka tidak bila duduk denganmu sebelum aku mandi.” Maka Nabi Muhammad bersabda, “Subhaanallaah (Maha Suci Allah), sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.”

Diriwayatkan melalui Siti Aisyah yang menceritakan:

Bahwa seorang wannita bertanya kepada Nabi Muhammad sw tentang mandi haid, lalu beliau memerintahkannya cara mandi haid melalui sabdanya, “Ambillah secarik kain dengan diberi minyak kesturi, lalu bersucilah dengan memakainya.”

Wanita itu bertanya kembali, “Bagamanakah cara aku bersuci dengannya?” Nabi Muhammad bersabda, “Ya, gunakanlah ia untuk bersuci.” Wanita itu bertanya lagi, “Bagaimanakah caranya?” Nabi menjawab, “Subhaanallah, bersucilah (dengan memakainya).”

Maka aku menarik wanita itu ke dekatku dan aku berkata, “Usapkanlah kepada bekas darah haid.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Anas radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan:

Saudara perempuan Ar Rubayyi, yaitu Ummu Haritsah melukai seseorang, lalu mereka mengadukan perkaranya kepada Nabi Muhammad saw. Maka beliau bersabda, “Qishash, qishash.” Lalu Umar Rabi’ berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau akan melaksanakan hukum qishash terhadap si Fulanah? Demi Allah, dia tidak boleh terkena hukum qishash.”

Maka Nabi Muhammad saw bersabda, “Subhaanallaah, hai Ummur Rubayyi’, hukum qishash merupakan keputusan kitabullah.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Imran ibnul Husain mengenai kisah seorang wanita yang menjadi tahanan. Lalu wanita itu sempat lolos dan menaiki unta Nabi Muhammad saw serta bernazar; jika Allah menyelamatkan dirinya, niscaya dia akan menyembelih unta tersebut. wanita itu tiba, lalu kisahnya diceritakan kepada Rasulullah saw, maka beliau bersabda:

Subhaanallaah, (Maha Suci Allah), alangkah buruknya pembalasannya.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim melalui Abu Musa Al Asy’ari dalam hadis meminta izin untuk bersua dengan khalifah Umar. Didalam akhir hadis disebutkan:

Hai Ibnul Khaththab, jangan sekali-kali engkau menyiksa sahabat Rasulullah saw. Umar berkata, “Subhaanallaah, sesungguhnya aku hanya mendengar sesuatu, lalu aku ingin menelitinya.”

Diriwayatkan di dalam kitab Shahihain mengenai hadis Abdullah ibnu Salaam:

“Sesungguhnya engkau termasuk ahli surga.” Ia menjawab, “Subhaanallaah, tidaklah layak bagi seseorang mengatakan apa yang belum diketahui.” Hingga akhir hadis