Allah itu Maha Agung Sedangkan Manusia Itu Sifatnya Hina, Fakir, Lemah dan Bodoh

Sebagian tugas ‘abdinya Allah untuk menghasilkan segala keagungan dan penghormatan (orang yang ingin mendapatkan kemulyaan/ingin tertetesi sifat –sifat kesempurnaan dan keagungan). Yaitu harus melekatkan hati ke sifat-sifat Allah, setelah menyatakan sifat-sifat ke’abdian yang sering hinggap di manusia.

Menyatakan sifat ke’abdian itu adalah kita harus tahu bahwa sebenar-benarnya diri kita itu hina, fakir, lemah dan bodoh. Setelah menyatakan diri hina, lalu harus diteruskan bahwa Allah saja yang Maha Agung. Maka kita harus bergantung kepada keagungan Allah untuk menghasilkan segala keagungan dari Allah.

Setelah menyatakan diri fakir, maka harus diteruskan dengan menyatakan bahwa Allah lah yang Maha Kaya, selain Allah semuanya fakir. Oleh karena itu kita harus bergantung kepada Maha Kayanya Allah swt, untuk menghasilkan kekayaan.

Setelah menyatakan diri apes, sehingga tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian diteruskan bahwa tidak ada dzat yang Maha Kuasa kecuali Allah. Maka kita harus bergantung kepada kekuasaan Allah, untuk menghasilkan segala kekuatan. Sehingga kita bisa melaksanakan segala perintah Allah swt, yang akhirnya menghasilkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Kita harus menyatakan diri memiliki sifat kekurangan, lalu mengakui sifat Allah yang Maha Sempurna. Kita harus menyatakan sifat-sifat ke’abdian di hadapan Allah, maksudnya harus menyatakan diri butuh kepada Allah, dan lemahnya diri kita bila dibandingkan dengan Allah swt. Maka kita akan diberi sifat kemulyaan dan kekayaan oleh Allah.

Jadi bagi kita sebagai ‘abdinya Allah tidak jelek apabila ingin diberi sifat kemulyaan dari Allah. Yaitu dengan jalan menyatakan dulu sifat-sifat kekurangan yang ada di diri kita.

Takhalluq yang diperbolehkan, maksudnya kita diperbolehkan berjuang mendekatkan diri ke Allah untuk mendapatkan macam-macam sifat yang dipuji oleh Allah. Seperti berusaha untuk memiliki sifat pemaaf, dermawan, dan berilmu.

Sedangkan takhalluq yang dilarang adalah kita menginginkan sifat yang tidak terpuji adanya di makhluk. Seperti sifat takabur, sebab sifat tersebut hanya pantas ada di Allah dan tidak pantas di makhluk.

Sifat Allah swt yang semuanya sempurna bukan hanya harus ta’alluq saja, tapi bisa diteruskan ke takhalluq dan tahaqquq, yaitu mengikuti atau mencontoh sifat-sifat Allah yang sempurna, yang sudah diatur oleh para ulama cara mencontohnya. Seperti dengan adanya kita ma’rifat kepada Allah, bahwa Allah memiliki sifat Maha Agung, Maha Kuat, Maha Kuasa, dan Yang Mengetahui. Maka diri kita dalam memegang perintah Allah harus ingin menjadi muslimin yang kuat dan agung, serta ma’rifat kepada Allah, juga harus pintar dalam hukum Allah.

Tahaqquq terhadap sifat-sifat Allah adalah segala sifat Allah yang sudah dikenal oleh kita, itu harus menancap kuat di hati kita. Sehingga hati kita manteng kepada sifat-sifatnya Allah, seperti kepada Maha Mengetahuinya Allah, Maha Kuasanya Allah, dan Maha Kayanya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus dua puluh dua)