Alam Itu Tercipta Sebagai Bukti Maha Esanya Allah dan Kekuasaan-Nya

Macam-macam keadaan (ciptaan Allah) yang terlihat itu menetap, sebab ditetapkan oleh Allah, dan dirusak karena Maha Esa nya Allah.

Disini akan dijelaskan hikmahnya diciptakan alam dan ditiadakannya alam tersebut. Setelah kita mengetahui bahwa sebelumnya alam itu tidak ada, dan nantinya alam itu akan tidak ada lagi. Nah mengadakannya dan meniadakannya itu ada hikmahnya, alam tersebut jadi ada dan menetap, yaitu ditetapkan oleh Allah, untuk menjadi ciri akan adanya Allah.

Seterusnya oleh Allah ditiadakan lagi, untuk menunjukkan akan Maha Esa nya Allah. Serta wujudnya Allah itu adalah wujud haqiqi, yaitu tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak diakhiri oleh ketiadaan. Sehingga dengan adanya alam, setelah diadakan (diciptakan) terus ditiadakan lagi, maka wujudnya alam itu ‘aridhi (yang baru-baru) lalu bakal tidak ada lagi.

Maka dari berfikir rusaknya alam, maka akan terfikir tetapnya Allah itu Maha Esa. Dan setelah berfikir Maha Esanya Allah, nantinya akan terfikir kekuasaan-Nya. Nah dengan kekuasaan Allah tersebut maka jadilah alam.

Kesimpulannya adalah bahwa alam ini beserta isinya tercipta atas kehendak Allah swt, dan suatu saat nanti akan hilang atau musnah. Jadi yang asalnya tidak ada, kemudian ada, dan nanti akhirnya tidak ada lagi. Allah lah yang menciptakan semua perkara yang ada di alam ini. Perkara tersebut memiliki sifat yang tidak abadi, suatu saat akan rusak dan musnah. Oleh karena itu dalam menjalani hidup di dunia ini, kita harus senantiasa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tiga puluh delapan)

Ingatlah Kepada Allah Ketika Melihat Ciptaan-Nya

Allah swt sudah memperbolehkan kita untuk melihat perkara yang ada dalam ciptaannya. Allah swt tidak mengizinkan kita untuk diam beserta mukawwanat. Menurut Allah kepada Nabi Muhammad “Ucapkan olehmu Muhammad, wahai orang-orang lihatlah oleh kalian semua dengan penglihatan berfikir, perkara yang ada di langit.” Nah dalam ayat yang barusan Allah membukakan pintu pemahaman dan pengertian untuk menghasilkan dalil tentang wujudnya Allah. Allah swt tidak berkata “undhurussamaawati”, maksudnya Allah tidak mengatakan bahwa kita semua harus melihat langit, yaitu supaya tidak menunjukkan terhadap wujudnya jirim langit.

Maksud firman Allah swt “Qulin dhuruu maa dza fissamaawati”. Di dalam ayat ini Allah swt memerintahkan untuk melihat serta dibarengin dengan berfikir terhadap segala keanehan yang ada di langit. Sehingga dengan berfikir akan mendatangkan dalil tentang wahdaniyat nya Allah dan kekuasaan Allah. Di ayat ini Allah swt memerintahkan untuk melihat segala keindahan yang ada di langit serta memikirkannya, Allah swt tidak memerintahkan keharusan untuk melihat jirimnya langit.

Karena walaupun tidak diberi tahu oleh Allah juga, langit tetap akan terlihat. Tetapi yang harus dilihat itu adalah kejadian adanya langit yang menunjukkan akan adanya Allah, yang mengadakan atau menciptakan langit tersebut.

Jadi Allah memperbolehkan manusia melihat segala keindahan dan kejadian di mukawwanat, serta diteruskan dengan harus melihat terhadap yang menciptakannya. Sebab Allah swt tidak mengizinkan hanya sekedar melihat dzat mukawwanat saja, karena tidak menjadikan kema’rifatan dan terhadap keimanan.

Kesimpulannya ketika kita melihat keindahan alam, maka harus terbersit atau ingat kepada yang menciptakannya (Allah swt)

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tiga puluh tujuh)

Allah Menciptakan Semua Makhluk, Langit dan Bumi

Kalau tidak dhohir dzat Allah dalam mukawwanat (dalam macam-macam perkara) yang diadakan oleh Allah, maka tidak akan bukti mukawwanat itu wujudnya macam-macam penglihatan. Dan kalau dhohir macam-macam sifatnya Allah, maka bakal lebur atau menghilang macam-macam mukawwanatnya Allah.

Allah itu memperlihatkan kepada makhluknya dan menyatakan adanya, yaitu dengan sebab menciptakan makhluk. Sehingga dengan adanya makhluk terlihat adanya khaliq. Apabila diilustrasikan seperti seseorang di dalam rumah yang menyatakan ada orang didalam, lalu menyalakan lampu diluar, maka dengan adanya lampu bisa dinyatakan ada orang didalam rumah.

Jadi Allah swt mengadakan makhluk (menciptakannya), hakikatnya Allah itu memperlihatkan akan adanya Dia yang menciptakan makhluk tersebut. Kalau Allah tidak mendhohirkan dalam mukawwanat, pasti tidak akan ada penglihatan yang bisa melihat mukawwanat. Sebab mukawwanatnya tidak ada, sekaligus penglihatannya juga tidak ada.

Apabila dhohir sifat-sifat Allah, maka bakal lebur dan rusak semua mukawwanat. Yaitu seperti yang dikatakan oleh Allah swt dalam riwayat ketika Nabi Musa ingin melihat dzat Allah. Maka menurut Allah “Kamu belum waktunya melihat Aku, lihatlah oleh kamu gunung, kalau gunung menetap kamu bisa melihat-Ku.” Maka ketika Allah tajalli untuk gunung itu, gunung tersebut menghilang, sehingga Nabi Musa tersungkur dan pingsan.

Juga didalam hadist diterangkan bahwa Allah swt tertutupi oleh cahaya, yang apabila dibuka cahaya tersebut maka akan berantakan (rusak) segala keadaan.

Kesimpulannya bahwa dengan diadakannya mukawwanat oleh Allah untuk menyatakan akan adanya Allah yang menciptakannya. Dengan adanya mukawwanat itu cukup untuk menjadikan dalil tentang adanya macam-macam kekuasaan Allah dan wahdaniat nya Allah. Seperti yang dijelaskan dalam Al Quran “Inna fii khalqis samaawati wal ardhi la aayaatil liqaumiy ya’qiluun, diciptakannya oleh Allah langit dan bumi itu menjadi dalil terhadap wahdaniat nya Allah bagi orang-orang yang berakal.”

Keterangan : Mukawwanat ; Yang Menciptakan

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tiga puluh lima)

Mengingat Allah Bila Melihat Ciptaan-Nya

Tidak menghalangi kita dalam ingat (eling) kepada Allah wujudnya perkara keadaan yang diciptakan oleh Allah swt. Tapi yang menghalangi kita yaitu dengan membayang-bayangkan perkara yang maujud yang diciptakan oleh Allah.

‘abdinya Allah sebenarnya bisa manteng (menguatkan) hatinya kepada Allah swt, tegasnya segala wujud ‘aridhi tidak harus menjadi penghalang dari mantengnya hati ke Allah. Ketika kita melihat ciptaan Allah, harus terbersit ingat kepada yang menciptakannya (Allah).

Kebanyakan ‘abdinya Allah sampai terhalang oleh ciptaan Allah, nah terhalangnya itu bukan oleh adanya ciptaan Allah, sehingga makhluk Allah tergambar didalam hatinya, yang akhirnya menghalangi hati dari ingat (eling) kepada Allah. Padahal seharusnya makhluk Allah itu (dari keindahan dunia) tidak menjadi penghalang, karena itu adalah wujud ‘aridhi (tadinya tidak ada nantinya juga akan tidak ada lagi).

Kalau dilihat ciptaan Allah, maka harus terbersit kepada yang menciptakannya. Jadi penglihatan kita jangan berhenti dari makhluk Allah, tetapi harus terbersit kepada Allah, yaitu dzat yang menciptakannya. Apabila berhenti penglihatannya dari perkara yang maujud, lalu terbayang didalam hatinya, maka itu pasti akan dapat menghalangi untuk eling (ingat) kepada Allah.

Bagaimana akan bersinarnya hati sedangkan cerminnya hati dipenuhi dengan gambaran-gambaran keindahan dunia, yang menjadi penyebab penghalangnya, sehingga lupa kepada Allah.

Kalau diilustrasikan seperti ini, seseorang naik perahu di dalam sungai, lalu melihat bayangan pepohonan. Dengan melihat bayangan itu, dia akhirnya balik lagi. Karena didalam hatinya berfikir bahwa didepannya ada pepohonan, padahal sebenarnya hanyalah bayangan. Seharusnya perahu itu tidak terhalang oleh bayangan, tapi harus tetap maju. Jangan menganggap bahwa di depan ada pepohonan, karena itu hanyalah bayangan.

Oleh karena itu hati kita harus tetap tidak terhalang, bila melihat keindahan dunia kita harus ingat kepada yang menciptakannya. Kalau tidak seperti itu maka akan sangat membahayakan (menjadikan kita lupa kepada Allah).

Dengan banyaknya orang yang berlomba-lomba memperbanyak harta, sehingga hartanya tergambar di dalam hatinya. Hal tersebut bisa membuat kita lupa kepada Allah, dan lupa kepada kehidupan setelah mati (akhirat).

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah keseratus tiga puluh empat)