Barzakh

Barzakh, yaitu alam sebagai batas antara kehidupan dunia dan akhirat, setelah manusia itu mati dan dikuburkan sampai dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat. Maka orang yang telah mati pasti masuk alam barzakh.

Setelah manusia dikuburkan, dia akan ditanya oleh dua orang malaikat yaitu Munkar dan Nakir. Keduanya berwibawa dan menakutkan, lalu mendudukkan seorang hamba dalam kuburnya. Nyawa hamba itu lalu dikembalikan pada tubuh, dan keduanya menanyakan tentang tauhid dan kerasulan. Kedua malaikat itu bertanya kepadanya, “Siapa Tuhanku? Apa agamamu? Siapa nabimu?”

Keduanya sebagai juru fitnah di alam kubur, dan pertanyaannyamerupakan permulaan fitnah sesudah mati.

Kemudian adanya azab (siksa) kubur dan kenikmatannya yang dapat dirasakan tubuh dan ruh sebagaimana kehendak Allah Ta’ala.

Al Haudl (Telaga Nabi Muhammad)

Al Haudl adalah telaga, yaitu telaga Nabi Muhammad untuk diminum orang-orang mukmin sebelum masuk surga setelah mereka melewati As Shirath. Orang yang telah minum seteguk air dari telaga, maka dia tidak akan merasa haus selamanya. Luas telaga itu dapat ditempuh perjalanan satu bulan, airnya sangat putih daripada susu dna lebih manis daripada madu. Di sekitarnya terdapat kendi-kendi sebanyak bintang-bintang di langit.

Syafa’at

Syafa’at adalah pertolongan atau pembelaan pada hari kiamat yang diberikan oleh Nabi Muhammad kepada para umatnya atas izin Allah.

Beberapa jenis syafa’at Nabi Muhammad:

  1. Syafa’at al Uzhma ketika para manusia diputusi pada hari kiamat.
  2. Syafa’at terhadap orang-orang yang berhak masuk neraka lalu tidak jadi masuk neraka.
  3. Syafa’at bagi orang yang telah masuk neraka lalu mereka dapat keluar dari neraka.
  4. Syafa’at bagi serombongan para manusia yang masuk surga tanpa hisab.
  5. Syafa’at untuk mengangkat derajat di surga.
  6. Syafa’at bagi orang-orang yang mati di Madinah.
  7. Syafa’at untuk meringankan siksaan terhadap paman Nabi, yaitu Abu Thalib.
  8. Syafa’at bagi orang yang membiasakan membaca shalawat atas Nabi.
  9. Syafa’at bagi orang yang amal kebaikan dana kejahatannya sama lalu dia masuk surga, dan syafaat penghuni Al A’raf lalu mereka masuk surga dengan syafaat Nabi saw.
  10. Syafa’at untuk memasukkan umat Nabi Muhammad ke surga sebelum umat yang lain.
  11. Syafaat Nabi saw terhadap orang-orang yang ahli melakukan perbuatan dosa besar dari umatnya.

Pengertian As Shirath dan Mizan

As Shirath

As Shirat merupakan jembatan yang melintang di atas neraka menuju surga.

Menurut Imam Nashr bin Muhammad As Samarqandi di dalam Tanbihul Ghafilin, dari Ibnu Mas’ud, bahwasanya ia berkata, “Seluruh manusia akan melintasi As Shirath, mereka maju mundur berdiri di sekitar neraka, kemudian mereka berjalan di atas As Shirath sesuai amal-amal perbuatan mereka. Diantara mereka ada yang dapat berjalan seperti kilat, ada yang lewat secepat angin, dan ada juga yang lewat seperti burung terbang. Diantara mereka ada yang lewat seperti kuda pacuan dan ada yang seperti onta yang cepat, bahkan ada yang lewat dengan merangkak. As Shirath itu sangat licin dan dapat menggelincirkan, isa sangat tajam setajam pedang. Ada yang mengatakan bahwa As Shirath itu lebih tajam daripada pedang dan lebih lembut daripada rambut. Pada As Shirath terdapat duri seperti duri pohon berduri yang sangat tajam, dan para malaikat berada di tepinya. Maka diantara yang lewat ada yang selamat dan ada yang tercakar dan terjerumus di neraka. Sedangkan para malaikat sama memohon, “Hai Tuhan, selamatkan, selamatkan.”

Mizan

Mizan, yaitu timbangan amal pada hari kiamat. Timbangan ini mempunyai mulut dua daun. Sifatnya seperti besarnya permukaan langit dan bumi. Seluruh amal perbuatan akan ditimbang padanya dengan kekuasaan Allah Ta’ala.

Pada hari itu amal seberat debu maupun sebesar biji sawipun akan masuk timbangan untuk menyempurnakan keadilan yang hakiki. Lalu lembaran amal-amal kebaikan didatangkan disitu dalam bentuk yang baik dalam daun neraca bercahaya. Dengan amal kebaikan itu maka dapat memberatkan timbangan sesuai derajatnya menurut Allah dengan karunia-Nya.

Kemudian lembaran perihal kejahatan juga didatangkan pada daun timbangan yang gelap. Maka timbangan amal itu menjadi ringan dengan keadilan Allah Ta’ala.

Timbangan amal benar-benar akan ditegakkan pada hari kiamat sebagai keadilan Allah yang hakiki, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Anbiya ayat 47:

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan.”

Inilah Golongan Manusia Yang Mengalami Kerugian Di Akhirat

Maa dza wajada man faqadaka wamalladzii faqada man wajadaka laqad khaaba rhadiya duunaka badalan walaqad khasira man baghaa ‘anka mutahawwilan.

Seseorang sudah menemukan yang kehilangan Allah swt, maksudnya orang yang belum mengenal Allah swt menemukan yang bisa menyelamatkan dirinya di akhrat, walaupun memiliki harta sedunia. Dan kehilangan orang yang wushul ke Allah, maksudnya orang yang sudah bisa wushul ke Allah tidak kehilangan suatu perkara yang bisa membuatnya rugi. Maka yakin sekali aka rugi orang yang meridhai selain Allah swt, pengganti Allah swt, dan pindah dari Allah.

Sebenar-benarnya orang yang kehilangan Allah swt, tidak memiliki perkara yang bisa menguntungkan dirinya di akhirat, walaupun mempunyai harta sedunia. Orang yang sudah wushul adalah orang yang sudah sampai kepada puncaknya tujuan.

Selain itu termasuk ke dalam golongan orang yang sangat merugi, orang-orang yang ridha kepada selain Allah, pengganti Allah. dan rugi juga orang yang berusaha atau sudah pindah dari Allah, maksudnya biarpun dibenci oleh Allah, asalkan diridhai dan dicintai oleh sesama manusia.

Didalam hadist diterangkan: “Orang yang mencari keridhaan manusia sambil dibenci (tidak disukai oleh Allah), maka oleh Allah akan dibenci dan akan dihinakan oleh sesama manusia.”

Kesimpulannya adalah bahwa kita hidup di dunia ini harus mencari keridhaan Allah dalam setiap perbuatan kita, jangan sampai melanggar aturan-aturan agama

Kita Harus Lebih Mengutamakan Urusan Akhirat Daripada Urusan Dunia

Di bawah ini akan dijelaskan tentang sebagian dari kenikmatan dunia yang sempurna, yaitu termasuk ke dalam kenikmatan yang sempurna. Dengan memberinya Allah kepada manusia perkara yang mencukupi.

Nabi Muhammad saw sering meminta kepada Allah agar dijauhkan dari kefakiran, yang bisa mengakibatkan lupa kepada-Nya, dan dari kekayaan yang dapat menjadikan madharat atau menjadikan manusia jauh dari Allah. Sehingga Nabi Muhammad bersabda: “khairudz dzikril khafi wa khairur rizki maa yakfi”.

Kalau kita diberi rizki yang bisa melaksanakan segala yang diperintahkan oleh Allah swt, intinya memiliki harta untuk ibadah kepada-Nya, atau untuk menyekolahkan anak di pesantren, atau ingin membangun sarana agama, serta tidak ada lebihan untuk berma’siyat kepada Allah. Maka hal ini harus disyukuri dengan sebenar-benarnya, sebab yakin nikmatnya sempurna.

Dalam berdoa kita harus menginginkan harta yang bisa mencukupi segala kebutuhan yang sedang dihadapi. Misalnya bagi santri agar berdoa supaya memiliki harta untuk bekal ibadah, ingin diberi kekayaan hati  yang bisa membawa ketenangan hati ketika dirinya sedang di pesantren. Dan ketika kembali dari pesantren perlu membangun macam-macam pembangunan agama (menyebarkan ilmunya). Dirinya tidak perlu menginginkan harta yang banyak yang menjadi lebihannya, sebab biasanya juga membawa keburukan.

Memiliki harapan mempunyai harta yang banyak yang biasanya membawa madharat, yaitu seperti yang difirmankan Allah swt di dalam Al Qur’an: “Kallaa innal insaana layatghaa an ra aa hus taghnaa”, sering membawa keburukan karena merasa dirinya memiliki kelebihan. Malahan banyak orang yang tidak sampai kepada tujuannya yang utama, disebabkan ditengah-tengahnya memiliki kelebihan, terus melihat dirinya kaya, berbeda dari orang lain, orang lain memuji-muji, sehingga akhirnya tidak mau meneruskan tujuannya yang utama.

Kita semua diperintahkan oleh Allah swt agar lebih mementingkan urusan akhirat, oleh perkara yang sudah diberikan oleh-Nya. Kemudian kita semua menjalankan terhadap haq/keharusan/kewajiban dalam urusan dunia.

Jadi dunia dan akhirat dua-duanya harus diurus, tetapi urusan akhirat harus lebih diutamakan. Dan yang dimaksud kaya adalah kaya hati, bukan kaya harta.

“Kekayaan itu bukan dari banyaknya harta, tetapi orang yang tenteram hatinya, bisa bertakwa kepada Allah walaupun dirinya tidak memiliki harta.”

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus lima belas)

Inilah Kenikmatan Surga dan Siksa Neraka

Kenikmatan di akhirat walaupun buktinya rupa-rupa, itu pastinya wujud disebabkan musyahadah ke Allah dan dekat kepada-Nya. Dan siksaan walaupun terbukti macam-macam, pastinya wujud dari adanya hijab atau terhalangnya ‘abdi dari Allah. Dan sebab adanya siksaan itu dari adanya hijab. Sedangkan menyempurnakan kenikmatan itu adalah dengan melihat dzat Allah swt Yang Maha Mulia.

Di bawah ini akan dijelaskan penyebab adanya macam-macam warna atau rupa-rupa kenikmatan dan siksaan.

Adanya macam-macam kenikmatan nanti di surga, yaitu dengan adanya bidadari dan gedung yang indah, dilayani oleh wildan mukhalladun, serta segala makanan dan minuman yang diinginkan. Nah ini adalah dari sebabnya musyahadah ke Allah swt dan wushul kepada-Nya. Kemudian nantinya akan disempurnakan dengan melihat dzat yang mukhalafatu lilhawadtsi. Intinya di dunia sudah mengenal Allah swt, dengan ma’rifat oleh sifat-sifat, serta menyatakan akan dekatnya Allah, sampai melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Di akhiratnya juga mendapatkan macam-macam kenikmatan, itu dengan dibarengin musyahadah dan taqarrubnya kepada Allah.

Sedangkan siksaan di neraka keadaannya macam-macam, seperti adanya air yang panas, adanya kayu zaqum yang pahit, ada ular dan kalajengking, dan itu semua dibarengin dengan adanya hijab. Sehingga tidak mengenal Allah swt dan jauh dari-Nya. Yang akibatnya di alam dunia tuli tidak mendengar kebenaran, tidak melihat kebenaran dan tidak kenal kepada Allah swt.

 

Diambil dari kitab Al Hikam karangan Assyeikh al Imam Ibni ‘Athoillah Assukandari (hikmah kedua ratus tiga belas)