Ciri-Ciri Orang Yang Ma’rifat Kepada Allah

Menurut Sayyidina Utsman radhiyallaahu ‘anhu, bahwa cirinya orang yang ma’rifat kepada Allah ada beberapa perkara, yaitu:

Khauf dan Raja’

Pertama, hatinya orang yang ma’rifat kepada Allah itu tetap serta takut, dan berharap-harap. Dan asalnya khauf adalah tahunya hati terhadap keagungan Allah swt dan pemaksaan Allah, dan Maha Kayanya dari seluruh makhluk, dan sangat beratnya siksaan dari Allah swt untuk orang yang maksiyat.

Kemudian timbul dari ma’rifat ini tingkah/perasaan takut yang disebut khauf. Serta buahnya dari khauf adalah meninggalkan berbagai macam kemaksiyatan.

Sedangkan asalnya raja’ yaitu tahunya hati terhadap kelapangan rahmat Allah serta besarnya karunia Allah, dan bagusnya perjanjian Allah untuk orang yang tha’at kepada Allah. Kemudian timbul dari ma’rifat ini kebahagiaan, yang disebut raja’. Buahnya dari raja’ adalah cepat-cepat (bersungguh-sungguh) dalam melaksanakan berbagai amal kebaikan.

Allah

Rasulullah saw bersabda: Tidak semata-mata berkumpul raja’ dengan khauf di dalam hati orang mukmin, melainkan Allah ‘azza wa jalla akan memberi kepada orang tersebut pengharapannya (kedua golongan tersebut), dan menyelamatkannya dari khauf (ketakutan). HR Imam Thabrani.

Kedua, orang yang ma’rifat kepada Allah lisannya tetap memuji kepada Allah swt.

Ketiga, dua mata orang yang ma’rifat kepada Allah tetap mempunyai perasaan malu dan menangis.

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Apabila tangisan Nabi Daud dan tangisan ahli bumi dibandingkan dengan tangisan Nabi Adam, maka tidak akan membandingi tangisan Nabi Adam.” HR Imam Ibnu ‘Asakir.

Keempat, perbuatan orang yang ma’rifat itu tetap ridha terhadap kehendak Allah.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Ahli Ma’rifat Adalah Yang Memenuhi Janji Allah

Keterangan yang diterima dari Syeikh Dzinnunil Mishrii Radhiyallaahu ‘anhu:

“Orang yang ma’rifat kepada Allah swt adalah orang yang memenuhi janji Allah, dengan cara melaksanakan segala perintah Allah. Dan hatinya orang itu adalah yang cerdas, artinya yang cepat mengerti. Serta amalnya orang itu adalah karena Allah dan bersih, maksudnya yang shalih dan akan bertambah setiap waktu.”

Allah sudah memerintahkan kepada manusia (hamba-Nya) untuk melaksanakan segala perintah-Nya. Karena tidak semata-mata Allah memerintahkan suatu perkara, pasti akan membawa kebaikan, kemanfaatan dan keberkahan bagi hamba-Nya. Baik itu di dunia maupun di akhirat.

Misalnya Allah memerintahkan shalat, ternyata setelah dilakukan penelitian oleh para ahli, banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari gerakan shalat ini. Gerakan shalat banyak membawa faidah dan manfaat bagi kesehatan tubuh, diantaranya adalah untuk kesehatan tulang, kesehatan jiwa, kesehatan persendian dan otot, dan lain sebagainya. Selain itu shalat ini merupakan pondasi atau tiangnya agama, jadi sangat penting sekali untuk dilakukan.

Kemudian Allah memerintahkan puasa yang sangat bermanfaat sekali bagi kesehatan tubuh dan jiwa manusia. Serta masih banyak sekali perintah Allah yang wajib dilaksanakan oleh kita semua.

Orang yang ma’rifat kepada Allah merupakan orang yang cerdas, artinya dia termasuk orang yang cepat mengerti dan paham dalam menerima hal-hal baru atau ilmu yang diberikan oleh Allah.

Ahli ma’rifat melaksanakan amal kebaikan itu adalah karena Allah, bukan untuk selain Allah, tidak ingin dipuji oleh makhluk.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Ketaatan Ahli Ma’rifat Kepada Allah

Berubahnya jiwa raga dalam tho’at, maksudnya semangatnya seseorang ketika melaksanakan tho’at kepada Allah, itu menjadi dalil terhadap ma’rifatnya. Seperti, bahwa sebenar-benarnya banyaknya bergerak anggota badan itu menjadi dalil terhadap kehidupan (seseorang masih hidup).

Dan maknanya adalah bahwa sebenar-benarnya mendatangkannya ‘abdi kepada tho’at (‘abdi melakukan tho’at) kepada Allah menjadi ciri ma’rifatnya dia kepada-Nya (Allah). dimana-mana seseorang banyak tho’atnya kepada Allah, berarti dia banyak ma’rifatnya kepada Allah.

Begitu juga ketika tho’atnya sedikit, maka sedikit pula ma’rifatnya kepada Allah. sebab dhohir (lahir) itu menjadi cerminnya batin.

Setiap orang tingkatan imannya pasti berbeda-beda, hal ini bisa menjadi petunjuk akan nilai keutamaan yang ada di orang tersebut. Ketika keimanannya kuat, manusia Ingsya Allah akan banyak sekali melakukan tho’at, artinya dia melaksanakan segala perintah Allah yang diwajibkan, dan menjauhi segala larangan Allah yang diharamkan.

Bahkan seseorang yang semangatnya tinggi dalam melaksanakan tho’at, selain perkara-perkara yang diwajibkan, dia juga melaksanakan perkara-perkara sunah, dan perkara-perkara yang dinilai baik serta bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Ketika manusia sangat bersemangat dalam melakukan tho’at kepada Allah, maka pasti dia bisa ma’rifat kepada Allah.

Ketho’atan manusia terhadap Allah berbanding lurus dengan kema’rifatannya, artinya ketika ketho’atannya banyak (tinggi), maka banyak (tinggi) pula ma’rifatnya kepada Allah. dan ketika tho’atnya sedikit, maka sedikit pula ma’rifatnya kepada Allah.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar

Munajat Ahli Ma’rifat Kepada Allah Yang Menguasai Seluruh Alam

Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Dia sudah memberi ilham tentang semua perkara untuk mengenal Allah swt, sehingga tidak ada suatu perkara kecuali tahu kepada-Nya.

Allah swt adalah penguasa, tetapi ada yang menyatakannya dengan lahir dan batin. Seperti muslimin ada yang menyatakan dengan batin saja.

Allah swt sudah mengenalkan kepada ahli ma’rifat  dalam semua perkara. Sehingga mereka melihat dengan mata hatinya kepada Allah swt dalam semua perkara. Sehingga tidak semata-mata melihat ke alam ciptaan Allah, kecuali langsung melihat kepada penciptanya, yaitu Allah swt. Maka Allah yang dhahir(nyata) untuk semua perkara. Maka di dalam hadist diterangkan: “Allaahumma antal awwalu falaisa qablahu syaiun fa antal aakhiru falaisa ba’dahu syaiun fa antadh dhaahiru qablahu syaiun”

 

Yaa manistawaa birahmaa niyyatihi ‘alaa ‘arsyihii fashar ‘arsyu ghaiban fii rahmaa niyyatihi kamaa shaaratil ‘awalimu ghaiban fii ‘arsyihi mahaqtal atsaara bil atsaari wa mahautal aghyaara bimuhiithaati aflaakil anwaari.

Kita harus bermunajat kepada Allah swt dengan mengikuti sifat, bahwa Allah swt itu yang membawahi ‘arasy, sehingga ‘arasy itu ada di tengah-tengah rahman nya Allah swt, seolah-olah ghaib. Seperti terbukti semua alam, bumi dan langit disimpan di ‘arasy, saking besarnya ‘arasy. Maka alam seolah-olah tidak ada. Seperti kelereng yang bertebaran di rumah.

Seluruh alam seolah-olah tidak ada  kalau dibandingkan dengan besarnya ‘arasy. Dan begitu juga seolah-olah arasy tidak ada bila dibandingkan dengan besarnya cahaya rahmannya Allah. Atau seperti lentera didekati lampu patromak, maka cahaya lentera seolah-olah tidak ada. Begitu juga lampu patromak dibandingkan dengan cahaya matahari, maka cahaya lampu patromak seolah-olah tidak ada.

Cara Memupuk Rasa Takut Kepada Allah Para Ahli Ma’rifat

Ilaahii anna raja ii laa yanqathi’u ‘anka wa in’ashaituka kamaa anna khaufi laa yuzaa yilunii wa in atha’tuka.

Ya Allah, sebenarnya pengharapanku dari-Mu tidak putus-putus, walaupun aku bermaksiyat kepada-Mu. Seperti sebenarnya ketakutan aku tidak putus-putus, walaupun aku tho’at kepada-Mu.

Dari doa atau munajat diatas menjelaskan tentang matangnya roja’ dan khoufnya ‘aarifiin. Roja’nya tidak berkurang disebabkan maksiyat, dan khoufnya ahli ma’rifat itu tidak putus-putus disebabkan tho’at.

Ahli ma’rifat yang hatinya banyak dipakai untuk memperhatikan takdir, tidak semata-mata terjadi maksiyat kecuali dengan ketentuan Allah, maka roja’ nya itu tetap. Sedangkan ghalib-ghalibnya manusia (biasanya) sering berpatokan (bersandar) terhadap amal, maka ketika berbuat dosa sering putus asa dikarenakan takutnya.

Ahli ma’rifat juga rasa takutnya kepada Allah tidak berkurang, walaupun dalam tho’at kepada-Nya. Malahan ketika sedang tho’at rasa takutnya lebih besar, sebab takut kedatangan perasaan ‘ujub yang lebih membahayakan.

Ilaahii qad da fa’atnil ‘awalimu ilaika waqad auqafanii ‘ilmii bikaramatika ‘alaika.

Jalannya ma’rifat kepada Allah swt itu terdorong oleh macam-macam ‘aaliim yang aneh, serta mengandung hikmah yang mendorong terhadap adanya ma’rifat kepada kekuasaan Allah swt. dan karena mengetahui akan kemurahan Allah swt, maka harus terus-terusan menghadap Allah swt, mengharapkan rahmat-Nya.

Dimana-mana melihat alam yang indah, maka mata hatinya langsung melihat kepada pencipta-Nya. Dan ketika melihat alam rubah dan rusak dan tidak bisa diharapkan, maka seolah-olah seluruh alam berkata seperti ini: “Dariku tidak ada yang bisa diharapkan kecuali dari Allah.”