Tugas dan Peranan Wanita Dalam Keluarga Menurut Islam

Alam wanita dalam rumah tangga yang islami, tidaklah sesempit dan segelap seperti yang digambarkan para aktivis wanita, yang berjuang mati-matian untuk emansipasi, padahal mereka sendiri tidak paham maknanya. Bagi wanita islam peranannya bukan sekedar berdiri tekun di dapur dan lumbung saja, tetapi jauh lebih luas dari itu. Mereka adalah instruktur yang amat berjasa dalam mempersiapkan kader pejuang islam di masa depan. Rasulullah bersabda : “Wanita adalah tiang negara, jikalau baik wanita, baiklah negara, jika hancur wanita hancurlah negara.”

Pendidikan anak awalnya adalah oleh ibu dan bapak, terutama ibu. Oleh sebab itu dalam kehidupan islam tidak pernah timbul keperluan akan Play Group. Lembaga seperti ini hanya timbul dalam budaya barat (kafir), atau di kalangan mereka yang bermental munafik. Diantara sebab-sebab timbulnya lembaga seperti ini adalah para ibu sudah tak betah di rumah, atau karena para wanita bekerja, sehingga tidak mempunyai waktu lagi untuk anak. Yang ada dalam islam adalah Maktab atau Kuttab yang biasa dilakukan di mesjid atau surau, atau di rumah guru ngaji. Maktab adalah lembaga tambahan dari pendidikan yang diajarkan orang tuanya di rumah. Di tempat itu putera-puteri islam dididik mengaji Al Qur’an, diajari akhlak, serta hukum-hukum agama.

Di dalam maktab, anak-anak dididik untuk menghayati ayat : “Dan Aku (Allah), tidak jadikan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. 51;56)
“Katakanlah, sembahyangku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. 3;162)
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main saja ? Dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS. 23;115)

Di dalam islam umur manusia hanya dibagi dua tahap, yaitu sebelum baligh dan sesudah baligh. Apabila seseorang telah baligh, maka ia telah masuk ke ambang dewasa, ia sudah mukallaf (orang yang sudah wajib memikul beban syara dan bertanggung jawab atas segala amalnya). Zaman remaja tidak ada dalam islam. Remaja adalah suatu konsep yang timbul sebagai sesuatu yang artificial (dibuat-buat) dalam budaya kafir barat. Dengan demikian pendidikan di rumah dan maktab itu bertujuan menolong si anak agar bersiap sedia untuk menjadi seorang dewasa, supaya mereka siap memikul kewajiban risalah, membela Al Islam dan bersegera menuju ampunan dan rahmat Allah. Karena hidup ini bukan untuk dihabiskan dalam main-main, tetapi merupakan suatu ujian, suatu perjuangan, yang hasilnya akan dirasakan setelah mati nanti.

Ya, wanita muslimat, pelitanya kehidupan ini. Rumah bukanlah suatu terongko atau penjara gelap, tetapi rumah baginya ialah tempat berteduh ia dengan suami dan anak-anak serta kerabat lainnya. Tempat mereka berlindung dari hujan, panas, badai serta dari gangguan manusia dan hewan. Disitu dia tinggal, memelihara kehormatan dirinya, memelihara harta suami dan menjaga anak-anaknya.

Dalam kehidupan islam, muslim (muslimat) erat kaitannya dengan mesjid. Mesjid merupakan bagian dari hidup mereka, maka seorang wanita yang shalih, bersama-sama suaminya ia akan berusaha menciptakan rumah mirip dengan suasana mesjid. Rumahnya bernuansa tenang lagi nyaman, membawa ketenangan jiwa dan kekhusuan beribadat kepada Allah. Dia bersihkan rumahnya dari hal-hal yang bisa menyebabkan malaikat rohmat tak mau masuk, yaitu perkara-perkara seperti gambar-gambar, arca-arca, serta musik-musik yang melalaikan jiwa dari mengingat Allah.

Kalau laki-laki muslim dituntut untuk shalat berjamaah di mesjid, maka bagi wanita rumah itulah sebagai ganti mesjid baginya, karena wanita lebih afdhol shalat di rumah dari pada di mesjid. Mereka asyik tenggelam dalam kesyahduan tilawah Al Qur’an, mereguk nikmat berdzikir dan melaksanakan amal ibadah lain yang membawa ketenteraman jiwa. Dia menggunakan waktu lapangnya untuk membaca kitab-kitab agama, menambah wawasan ilmunya, dan memperbaiki amalnya. Serta saling berdiskusi, saling menasihati dalam segala hal dengan suaminya.

Sungguh berbahagia seorang lelaki muslim yang dipertemukan Allah dengan seorang wanita shalihah. Karena walaupun waktunya lebih banyak dihabiskan di luar rumah, ia masih tetap sempat menambah ilmunya, isterinyalah yang mengajari. Isterinya memberikan kesimpulan dari berbagai macam ilmu agama yang dia telaah di saat suaminya bekerja. Rahmat Allah akan sangat melimpah untuk keluarga ini.

Wanita shaleh akan menceritakan kisah-kisah teladan kepada anak-anaknya. Diceritakan bagaimana para pejuang islam berjuang membela agamanya, bersimbah darah dan mengorbankan nyawanya demi kejayaan islam. Mereka membantu anak-anaknya mencintai islam, mereka mendidik agar anaknya tersebut berakhlak seperti rasul.
Insya Allah, di rumahnya akan menjadi tempat turunnya ketenangan jiwa yang selama ini didamba setiap orang. Serta menjadi benteng teguh, pelindung dari fitnah akhir jaman yang banyak terdapat di luar rumah.

Bagi suaminya, rumah adalah tempat dia memperbanyak amalan sunat, tempat ia mengumpulkan kekuatan kembali menuju jalan Allah. Berjihad menegakkan kalimah Allah. Ya Allah, jika tidak ada wanita shalihah, maka runtuhlah sendi kekuatan umat ini.

Alangkah ruginya seorang suami, apabila setelah letih bekerja mencari nafkah, dia tidak menemukan suasana mesjid di rumahnya. Malahan rumahnya menjadi tempat syaitan-syaitan bersarang dan beranak-pinak.

Bagi anak gadis, rumah merupakan tempat ia belajar menjadi seorang istri yang baik, yang di damba setiap mukmin. Di rumah ia belajar menjadi penolong suami di jalan Allah, ibu dan pengasuh bagi anak-anaknya nanti. Ia belajar secara informal dengan memperhatikan, meneladani dan menolong ibunya atau wanita-wanita lain yang lebih tua dari dirinya. Ia belajar segala hal yang diperlukan oleh seorang wanita dalam mengarungi hidup.

Dalam budaya islam sama sekali tak perlu membuang uang banyak untuk mendidik anak terampil di rumah tangga. Seorang mukminat, wanita yang masih tersimpan mutiara iman didadanya, tentu ia akan senang hati menerima aturan islam untuk tetap tinggal di dalam rumah, dan menjalankan tugas-tugasnya. Ia akan merasakan lezatnya tinggal di lingkungan Hijab, menolong dan membina budaya islam, serta dalam lindungan suaminya. Peranannya tidak kurang penting dari seorang mujahid yang berjuang mati-matian membela agama islam.

Gerakan emansipasi terjadi di lingkungan masyarakat yang kaum prianya tidak taat kepada Allah, berhati lemah, dayust, dan tidak menegakkan hukum Allah dalam kehidupan rumah tangganya. Sehingga istrinya tidak merasakan lezatnya tunduk patuh terhadap suami, bahkan ia merasa ingin melebihi suami dalam bidang yang seharusnya menjadi hak suami. Dia akan menentang apa yang dianggapnya sebagai “Malo Chauvinism” dan dominasi kaum lelaki.

Itulah sedikit gambaran dalam Al-Hijab. Benarlah sabda Nabi Muhammad SAW. “Sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita yang shalehah” (HR. Muslim)

Dirangkum oleh Ustadz M. Aas Satibi (pondok pesantren Pulosari Leuwigoong Kab. Garut) dari berbagai macam kitab fikih