Arti Anak Bagi Orang Muslim dan Cara Mendidiknya

Anak bagi seorang muslim ibarat tabungan pensiun bagi seorang pegawai. Seorang pegawai yang memiliki tabungan pensiun, maka bila kelak ia sudah tidak lagi mampu bekerja, ia tetap mendapat gaji dari tabungan pensiun sesuai dengan perjanjian semula. Begitu juga dengan anak, apabila orang tua yang muslim itu berhasil mendidik, membesarkan anaknya menjadi orang yang shaleh, mengarahkannya kepada jalan kebaikan, membinanya sehingga menjadi penegak agama, maka sekali pun nanti kedua orang tuanya sudah tidak bisa beramal shaleh lagi (mati), ia akan tetap mendapat limpahan pahala dari Allah, disebabkan amal shaleh anaknya.

Perhatikan hadist di bawah ini : “Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak yang di dapat oleh yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

“Jika anak Adam mati terputuslah segala amalnya, kecuali tiga yaitu : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak sholeh yang mendo’akan orang tuanya.” (Al Hadist)

Seorang muslim menanam saham pada anaknya dengan cara mengajarkan ilmu yang bermanfaat pada anaknya, membiasakan anak untuk mau mendoakan kedua orang tuanya.

Karena itu wajib bagi setiap orang tua muslim untuk mengarahkan anak-anaknya menjadi muslim yang baik, yang mencintai agamanya dan siap berkorban untuk ketinggian agama. Jika tidak, anak-anaknya itulah yang akan menjadi musuh di hari kiamat, dimana anak tersebut akan menuntut kepada Allah : “Ya Allah, mereka tidak mengenalkan aku kepada agama-Mu. Ya Allah, mereka tak mengajari aku, bagaimana untuk menjadi hamba-Mu yang baik”. Ya Allah…Ya Allah…bertumpuklah dosa di pundak kita, terseretlah kita ke neraka karenanya. Dalam membina anak menjadi muslim generasi tauhid, diperlukan beberapa tahap pembinaan, disertai do’a orang tuanya.

Pembinaan Anak Ketika Anak Dalam Kandungan

  • Pendidikan anak bermula dari sebelum ayah dan ibu menikah. Karena itu dalam memilih jodoh perlu benar mengikuti petunjuk yang diajarkan syariat islam.
  • Pergaulan suami isteri harus mengikuti adab-adab yang diajarkan islam.
  • Ketika anak dalam kandungan, ibu hendaklah bersungguh-sungguh menahan diri dari memakan barang yang syubhat (yang tak jelas halal dan haramnya). Lebih-lebih lagi dari yang haram, terutama selepas empat bulan.
  • Jangan sekali-kali sang ayah berani menafkahi isterinya dari hasil yang haram.
  • Ibu dan bapak hendaklah kuat beribadah, berzikir, serta membaca Al Qur’an.

Ketika Anak Dilahirkan

  • Anak yang lahir hendaklah disambut dengan tangan yang suci, dalam suasana yang penuh keislaman.
  • Beri anak tersebut ASI, sempurnakan susuan sampai dua tahun, kecuali atas kerelaan suami isteri (lewat persetujuan), maka tidak dosa apabila disusukan kurang dari dua tahun. Tapi jika sang suami tetap ingin agar anaknya disusui secara sempurna (dua tahun), sedang isterinya enggan, isteri memikul dosa. Jika isteri tidak mampu menyusui anaknya (karena air susu tak mau keluar, atau sebab yang lain), maka bolehlah anaknya itu disusukan pada yang lain. Itu pun ibu susunya mesti dipilih orang yang shalihah serta kuat agamanya. Susu yang bersih memberi keberkatan kepada anak, dan orang yang menyusui yang baik akhlaknya, akan berpengaruh kepada si anak. Dalam hal ini, kedua orang tua wajib mentaati undang-undang Allah yang termaktub dalam surat Al Baqarah ayat 233.
  • Sunat dicukur sampai tak bersisa (gundul), serta memberi sedekah perak atau emas seberat timbangan rambut itu pada hari ketujuh kelahirannya. Juga sunat mengaqiqahkan anak pada hari itu juga. Aqiqah adalah menyembelih kambing dan digunakan sesuai dengan keinginan syara. Untuk anak laki-laki dua ekor, dan anak perempuan satu ekor.
  • Pada hari ketujuh anak diberi nama yang bagus menurut pandangan islam, seperti Muhammad, Ibrahim, Fatimah, dll. Menamai anak dengan nama barat kafir atau nama yang tak ada hubungannya dengan islam adalah sesuatu yang tercela.
  • Rasulullah bersabda : “Diantara kewajiban ayah kepada anaknya adalah mendidiknya baik-baik (sesuai dengan islam), dan memberi nama yang baik”.
  • Hendaklah anak-anak kecil itu dibiasakan telinganya mendengar kalimah-kalimah suci.

Pendidikan Anak

• Hendaklah anak-anak diajari akhlak dan budi pekerti yang baik.
• Latihlah ia supaya kuat berperasaan malu. Ketika mulai berakal, latihlah ia supaya malu jika melakukan pekerjaan yang tidak disukai Allah.
• Apabila anak itu menampakkan pekerjaan yang baik dan perbuatan terpuji, hendaklah ia dimuliakan dan diberi hadiah yang menggembirakan di hadapan orang banyak, supaya mengekalkan perbuatan baik tersebut.
• Kalau anak terlahir dari keluarga miskin, hendaklah diajari sifat qanaah (menerima apa adanya) dan sifat hemat. Ajarkan padanya bahwa mengambil harta orang lain adalah sifat tercela, hina dan rendah derajatnya. Seperti yang tercantum dalam HR. Bukhori : “Jika diberi dirham, atau perhiasan, permadani atau pakaian (rizki). Jika diberi diam (tidak bersyukur), jika tidak diberi tidak rela (ngomel), tidak menerima qada dan qadar”.
• Larang anak-anak dari membiasakan diri bersumpah.
• Ibu bapaknya hendaklah mendoakan anak dengan do’a yang baik-baik, jangan memaki atau menyumpah mereka. Rasulullah bersabda : “Do’a ibu itu lebih cepat dikabulkannya”. Seorang bertanya : “kenapa Rasulullah ?”, jawab nabi : “Sebab ibu lebih menyayangi anak dari pada bapak, sedang do’a penyayang tidak akan sia-sia.” Ada seorang yang datang kepada Abdullah bin Mubarak, ia itu mengeluh atas perlakuan anaknya yang tak berbakti kepadanya. Abdullah bertanya : “Pernahkah anda mendo’akan celaka untuk anakmu ?” Jawab orang itu: “Ada” Abdullah berkata : “Engkaulah yang merusakkannya”.
• Orang tua hendaknya selalu menasehati anak agar menaati kedua orang tuanya. Sabda Nabi : “Dirahmati Allah seorang bapak yang membimbing anak untuk berbakti kepadanya.”
• Anak hendaknya diawasi baik-baik, laranglah dia dari bergaul dengan anak-anak yang jelek akhlaknya.
• Hindarkan anak dari bergaul dengan anak-anak yang terbiasa hidup mewah dan bersenang-senang serta tidak kuat agamanya.
• Didik anak untuk memuliakan kawan bermainnya.
• Ajari anak untuk duduk menurut sunnah.
• Dilatih anak-anak untuk berdiri apabila didatangi oleh orang yang lebih tua. Apabila dalam sebuah majelis para orang tua berdiri, hendaklah si anak pun ikut berdiri.
• Jangan dibiasakan anak-anak melakukan suatu pekerjaan secara sembunyi-sembunyi, karena ini akan melatih dia berbuat keburukan.

Pakaian dan Perhiasan

• Jangan biasakan anak-anak kepada perhiasan dan hidup bersenang-senang serta mewah. Sebab jika dibiasakan, nanti setelah besar ia akan menghabiskan hidupnya untuk mengejar kemewahan.

Rasul bersabda : “Barang siapa yang meninggalkan pakaian mewah karena tawadhu kepada Allah sedang ia dapat membelinya, Allah akan memanggilnya di hari kiamat di hadapan sekalian manusia, disuruh memilih pakaian iman yang dikehendakinya untuk dipakai.” Abu Said Al Khudri berkata : Rasulullah duduk di atas mimbar dan kami duduk disekitarnya, kemudian Nabi bersabda : “Sesungguhnya diantara yang saya khawatirkan atas kamu sepeninggalku nanti adalah terbuka lebarnya kemewahan dan keindahan dunia ini pada kamu.” (HR. Bukhori Muslim).

Rasulullah juga bersabda : “Tiap-tiap umat mempunyai cobaan dan ujian sendiri-sendiri, dan fitnah ujian pada umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi)

• Anak laki-laki sebaiknya dicela jika memakai pakaian berwarna-warni atau sutera. Lelaki sepatutnya malu memakai pakaian seperti itu, karena lebih pantas untuk wanita.
• Tanamkan nilai-nilai hidup Usroh (berkeluarga) dan bermasyarakat. Ajari mereka supaya tidak mementingkan diri sendiri.
• Latih anak-anak supaya ridho dengan hidangan yang tersedia, tanpa mengomel, merengut dan merajuk.

Makan dan Minum

  • Ajari anak-anak untuk makan menurut sunnah dan adab islam.
  • Ajari agar menyuap dan mengambil makanan dengan cara yang benar menurut islam, biasakan makan dengan tangan kanan.
  • Biasakan dia berdo’a sebelum dan sesudah makan.
  • Jangan anak bersegera / terburu-buru untuk makan, sebelum orang lain bersedia.
  • Jangan memperhatikan wajah orang yang sedang makan.
  • Sebaiknya makanan dikunyah hancur-hancur, jangan berpaling diantara kunyahan.
  • Jangan mengotorkan tangan dan pakaian dengan makanan itu.
  • Sekali-kali biasakanlah makan tanpa lauk-pauk, supaya ia tidak menganggap lauk-pauk sebagai sesuatu yang mesti ada (belajar qanaah).
  • Ingatkan anak-anak agar jangan banyak makan, karena itu sifat tercela seperti binatang. Anak-anak yang banyak makan hendaklah dicela di hadapan anak-anak lain, sebaliknya anak-anak yang sedikit makannya serta menjaga adab-adab makan dipuji secara wajar dan dimuliakan. Orang yang sedikit makannya akan mudah menerima ilmu.
  • Ajari anak-anak agar mendahulukan orang lain dalam hidangan makanan.
  • Didik dia agar selalu berpuas hati dengan makanan yang ada dan tidak cerewet.
  • Beri makan anak-anak makanan yang halal, tidak syubhat, apalagi haram. Karena kesucian makanan mempengaruhi roh dan jasad manusia. Seperti yang dikatakan Nabi bahwa setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram, tidak ada tempat kembalinya yang cocok kecuali neraka.
  • Jangan tidurkan anak di tilam yang empuk, supaya segala anggota badannya menjadi keras dan kuat tubuhnya serta tidak gemuk. Rayu anak agar sabar dengan tilam yang keras itu. Aisyah berkata : “Adalah kasur tempat tidur Nabi saw, dari kulit berisi sabut.” (HR. Bukhori)
  • Pisahkan tempat tidur anak perempuan dengan anak laki-laki. Dari Umar bin Suhaib dari ayahnya dari neneknya berkata Rasulullah : “Pisahkan anak laki-laki dari anak perempuan dalam tempat tidur mereka.”
  • Pisahkan tempat tidur anak-anak dengan orang tuanya, jika anak tersebut sudah berakal (mengerti pergaulan suami isteri).

Kesehatan dan Gerak Badan

  • Pada waktu siang, galakkan anak-anak berjalan, bergerak badan, dan jangan terlalu banyak tidur, supaya tidak terbiasa malas.
  • Setelah belajar / mengaji, galakkan anak-anak agar bermain-main selepas lelah. Tapi jangan dibiasakan terburu-buru bermain.
  • Anak-anak jangan dipaksa untuk belajar saja dan dilarang bermain, karena itu akan mematikan hatinya, menumpulkan otaknya, sebab akan membosankan hidupnya.
  • Jaga anak-anak dari berbagai macam penyebab penyakit.
  • Tahan anak-anak dari tabiat suka tidur di siang hari, karena ini membawa kemalasan, tapi jangan ditahan dari tidur di malam hari.
  • Biasakan anak-anak memakai alas kaki ketika berjalan.
  • Biasakan agar tangan anak selalu bersih.
  • Didik anak agar suka menggosok gigi.
  • Larang anak-anak dari bermain di hadapan orang tua, guru atau orang yang lebih tua. Didik anak agar menghormati mereka dengan pandangan penuh takzim.

Memiliki Harta

  • Hendaklah anak-anak dididik untuk tidak terlalu mencintai harta.
  • Anak-anak jangan diajari untuk berbangga diri dengan apa yang ada pada dirinya, seperti pakaian, alat permainan, dll. Biasakan agar dia bersifat tawadhu (rendah hati).
  • Kalau anak orang kaya, hendaklah diajarkan suatu doktrin bahwa kemuliaan itu terletak pada sifat suka memberi, bukan mengambil barang / hak orang lain. Mengambil hak orang lain adalah perbuatan tercela.
  • Jangan mengikuti kemauan anak-anak dalam kesenangan dan bermewah-mewah.

Menghukum Anak

  • Jika sekali-kali anak melakukan kesalahan, selama itu tidak berakibat fatal menurut syara, hal itu bisa dimaafkan.
  • Anak-anak yang melakukan kesalahan, janganlah dicaci. Agar ia tak biasa mendengar kata-kata cacian. Terlalu sering dicaci akan membuat mereka berani melakukan kesalahan lagi (nekad).
  • Bapak jangan selalu memarahi dan membuat malu anaknya.
  • Jika pertama kali anak berbuat salah, hendaklah dinasehati secara umum di hadapan anak-anak yang lain (tanpa menyebut namanya). Jika cara ini tak berkesan di hati anak, hendaklah dinasehati secara empat mata.
  • Jika dalam keadaan terpaksa kita memukul anak, janganlah dengan pukulan yang membahayakan, tetapi harus dengan niat mendidik. Sebaliknya, si anak harus dilatih tabah menahan sakit, sebagai seseorang yang berani. Sehingga kalau kelak di kemudian hari dia membela islam dalam perang, dia tidak akan mengeluh
  • Utamakan mendidik dan mengajar anak dengan lemah lembut, hindari sekecil mungkin tindak kekerasan pada mereka.
  • Ajari anak beradab islam, seperti sabda Nabi : “Pemberian paling utama seorang ayah kepada anaknya adalah mengajar adab (sopan santun)

Hiburan Anak-Anak

  • Ibu bapak hendaknya menggembirakan dan menghibur anak dengan cara yang diatur syariat islam. Sabda Nabi : “Surga ialah sebuah kampung tempat kesenangan, tiada masuk kedalamnya melainkan orang yang suka membuat anak-anak gembira.” Lalu sabda yang lainnya : “Barang siapa yang menggembirakan anak-anak, derajatnya sama dengan (pahala) orang yang menangis karena takut kepada Allah.” Sedangkan pahala orang yang menangis karena takut kepada Allah adalah diharamkan oleh Allah api neraka menyentuh tubuhnya.
  • Ibu bapak hendaknya selalu mencium anak-anaknya untuk menggembirakan mereka. Rasulullah bersabda : “Ciumilah anakmu, karena pahala setiap ciuman itu dibalas dengan satu derajat surga. Jarak antara dua derajat itu adalah 500 tahun.”
  • Berilah anak-anak buah tangan / hadiah. Dari Anas Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang keluar pergi ke pasar muslimin dan membeli keperluan, jika ia kembali ke rumah ia bawakan oleh-oleh dan diminta oleh anak perempuannya, niscaya ia memperoleh pandangan rahmat dari Allah, lagi tidak disiksa.”
  • Dilarang menghibur anak dengan perkara-perkara yang merusak akhlaknya, seperti lagu-lagu, bacaan khayalan, acara TV yang tidak mendidik, dll.
  • Anak-anak dilarang untuk mengidolakan artis, tapi sebaiknya para pahlawan islam.

Ibadah

  • Jika anak telah dapat membedakan tangan kanan dan tangan kiri, hendaklah ia dididik shalat dan shaum serta bersuci.
  • Apabila sudah berumur tujuh tahun, anak sudah harus mengerti dan mengerjakan shalat. Jika sudah 10 tahun belum mau shalat, pukullah ia dengan pukulan yang tidak membahayakan, pisahkan pula tempat tidur anak-laki-laki dan anak perempuan.

Pendidikan Khusus anak

  • Anak-anak harus diajari menulis, membaca serta memahami Al Qur’an.
  • Selalu dikisahkan kepada anak tentang sejarah perjuangan Rosul-Rosul Allah, para sahabat, dan orang-orang sholeh jaman dulu, agar pada hati anak tertanam kecintaan kepada mereka.
  • Sebaiknya anak-anak dijauhkan dari membaca, mendengar kisah dan lagu-lagu yang menggambarkan percintaan, kisah khayalan, komik, kartun, yang tidak berlandaskan syariat. Karena itu akan menumbuhkan benih-benih kerusakan dalam dirinya.
  • Seharusnya ditanamkan sedini mungkin kepada anak-anak terutama tentang ilmu agama, cerita atau kisah-kisah para Nabi, dll. Hal tersebut sangat baik, daripada cerita-cerita kartun dan komik yang kurang mendidik.
  • Anak semestinya dididik secara bertahap dari mulai syariat ilmu agama, hikmah, cerita tentang mati, surga dan neraka, padang mahsyar, hisab, dll.
  • Anak dididik di madrasah, ia diajarkan membaca Al Qur’an, akhlak, perjuangan aspek keimanan. Sedangkan pendidikan umumnya di sekolah.

Pendapat dari Hadist mengenai anak

Sabda Rasulullah saw : “Muliakanlah anak-anakmu dengan mengajarkan adab dan ilmu agama kepada mereka. Barang siapa memuliakan anak-anaknya, Allah akan memuliakannya di surga, terutama ibu.” Bahkan ada satu hadist yang menyatakan : “Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu”. Hal ini menunjukan betapa tingginya derajat kaum ibu, namun hal ini juga adalah sebuah isyarat bahwa tanggung jawab yang besar harus dipikul oleh seorang ibu dalam mendidik dan menjadikan anaknya agar masuk sorga kelak.

Seorang anak masuk sorga atau neraka, hal itu akan sangat tergantung dari pendidikan ibunya. Mampukah ia mendidik anaknya dengan baik atau tidak, menjadikan anak shaleh, beriman dan bertakwa kepada Allah. Serta mengamalkan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari, misalkan shalat.

Rasulullah bersabda :”Ibu itu adalah tiang negara, apabila si ibu itu baik maka baiklah negara ini, tetapi sebaliknya apabila ibu itu rusak maka akan binasalah negara ini.”
Apabila pada setiap keluarga ibunya sudah mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak yang shaleh, beriman dan bertakwa kepada Allah swt, sehingga mampu mengamalkan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari. Maka akan terciptalah masyarakat yang madani (Mawaddah Warahmah), yang kemudian akan tercapailah negara yang Baldatun Thoyyibatun Warabbun Gaffur yang kita cita-citakan.

Kita tahu bahwa sebuah negara terdiri dari kumpulan masyarakat, dan masyarakat terdiri dari kumpulan keluarga. Demikian juga akhlak dan perilaku, khususnya tentang kaum ibu yang diterangkan diatas. Dia harus mampu menciptakan suasana keluarga yang sejuk, tenteram dan damai, sakinah mawaddah warahmah. Sehingga akan tercipta lingkungan masyarakat yang kondusif, serta pada akhirnya tercipta negara yang Baldatun Thoyyibatun Warabbun Gaffur itu tadi.

Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang diberi rizki oleh Allah (berupa anak-anak), maka wajib baginya mengajar anak itu dengan baik adab dan akhlaknya. Semoga dengan itu ia kelak akan memperoleh kemewahan rezeki dengan syafaatnya.” (syariatnya karena anak-anaknya yang shaleh itu).

“Barang siapa yang meninggalkan (mati) anak dalam keadaan jahil (bodoh), tidak mengerti syariat (peraturan dari Allah). Maka tiap-tiap dosa yang dilakukan oleh anaknya (akibat kebodohannya itu), akan ikut menanggung juga ibu bapaknya.” Maka bimbinglah anak dan istrimu ke jalan agama yang benar supaya kelak menjadi anak dan istrimu di sorga.

“Barang siapa meninggalkan anaknya dalam keadaan shaleh, yang telah dibekali ilmu agama dan adab (oleh orang tuanya), maka kedua orang tuanya itu juga akan mendapatkan pahala atas amal yang dikerjakan oleh anaknya itu, tanpa mengurangi sedikit pun pahala buat si anak itu. Tapi barang siapa yang meninggalkan anaknya dalam keadaan fasik (rusak agamanya), adalah orang tuanya pula yang ikut memikul dosa si anak itu karena jahil (bodoh), tanpa dikurangi dosanya sedikit pun dari si anak.” Maksudnya orang tua berdosa dan anaknya pun tenggelam dalam luapan nanah dan darah, disebabkan dosanya itu.

Dirangkum oleh Ustadz M. Aas Satibi (pondok pesantren Pulosari Leuwigoong Kab. Garut) dari berbagai macam kitab fikih