Pengertian Cinta Kasih dan Kebencian

Umat muslim diharuskan untuk mencintai sesuatu karena Allah dan membenci sesuatu juga karena Allah.

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Amal yang lebih utama adalah cinta karena Allah dan membenci juga karena Allah.”

Dalam hadits tersebut terdapat isyarat bahwa seorang mukmin harus mempunyai beberapa kawan akrab yang dicintainya karena Allah. Dan diapun harus mempunyai orang yang dibencinya karena Allah ketika orang itu sedang berbuat durhaka kepada Allah. karena jika ada orang yang dicintai karena suatu sebab, maka orang itu tentu akan dibenci karena sebab yang berlawanan secara pasti.

Jadi, hal ini berlaku dalam hal cinta dan benci. Hanya saja masing-masing dari kedua hal tersebut terpendam dalam hati. Adapun dia dapat bercokol di hati hanyalah ketika benar-benar menguasai. Sebab ketika cinta itu menguasai akan tampaklah perbuatan orang-orang yang mencintai, seperti selalu bersama dan menyetujui, danini disebut berkasih-kasihan. Lalu ketika rasa benci itu menguasai akan tampaklah perbuatan-perbuatan orang yang membenci (jengkel), seperti menjauh dan menentang, dan ini disebut permusuhan (memusuhi).

Apabila ditanyakan dengan cara bagaimana orang dapat menampakkan kebencian. Maka jawabannya ialah menampakkannya tidak lepas dari dua hal, yaitu dengan ucapan dan perbuatan.

  1. Menampakkan dengan ucapan, misalnya dengan tidak mengajaknya berbicara atau juga berkata kasar kepadanya.
  2. Menampakkan dengan perbuatan, misalnya tidak menolongnya, menyakiti hatinya (berbuat jahat kepadanya) atau merusak tujuannya dalam perjalanan maksiatnya, bukan dalam hal yang tidak mempengaruhi perjalanan maksiat itu. Semua ini apabila maksiat itu timbul darinya denganc cara sengaja, baik dosa besar maupun kecil.

Adapun maksiat yang terjadi karena terpeleset yang dapat diketahui bahwa dia menyesalinya dan tidak membiasakannya, maka yang lebih utama adalah memejamkan mata dan menutupinya. Apalagi bila kemaksiatan tersebut merupakan jinayat (pelanggaran) hak kita dan hak orang yang berhubungan dengan kita, maka berpaling darinya adalah baik. Karena memaafkan orang yang telah menganiaya kita dan berbuat jahat kepada kita adalah merupakan budi pekerti para Shiddiqin.

Sedangkan orang yang menganiaya orang lain dan mendurhakai Allah, maka tidak berpaling darinya adalah justru berbuat baik kepadanya, maka tidak baik jika berbuat baik kepadanya. Karena berbuat baik kepadanya berarti berbuat jahat kepada orang yang dianiaya, sedang orang yang dianiayalah yang lebih berhak untuk diperhatikan. Dan lagi menguatkan hati orang yang dianiaya dengan mengabaikan orang yang berbuat aniaya adalah lebih dicintai Allah daripada menguatkan hati orang yang berbuat aniaya.

 

Sumber: Durrotun Nasihin