Persiapan Menghadapi Kematian

Selama hidup di dunia kita jangan sampai terlena, karena hidup itu tidak abadi, suatu saat kita pasti mati. Oleh karena itu kita harus bersiap menghadapi kematian.

Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang menghancurkan segala kelezatan.”

Kelezatan yang dimaksud dalam hadis diatas ialah kematian. Kematian memutuskan segala macam bentuk kelezatan, maka perbanyaklah dalam mengingatnya sehingga kita akan mempersiapkan diri menyambutnya.

Seseorang yang mengingat mati dengan arti sebenarnya, maka kenikmatan yang dihadapi membuatnya tersedak dan menghalanginya untuk mengharapkannya lagi di saat-saat mendatang, serta membuat zuhud terhadap dunia yang diangan-angankannya. Hanya saja jiwa-jiwa yang kotor dan hati-hati yang lengah ini menghajatkan untuk diperbanyak kata-kata dan diperpanjang nasehat. Jika tidak demikian, maka dalam sabda Nabi Muhammad di atas disertai firman Allah dalam surat Ali Imraan ayat 185:

“Setiap jiwa akan merasakan kematian.”

Sudah mencukupi bagi orang yang mendengarnya dan orang yang merenungkannya. Karena mengingat mati akan dapat menimbulkan rasa tidak senang terhadap dunia yang fana ini, dan sebaliknya akan mencurahkan perhatian dalam setiap saat kepada kehidupan akhirat. Karena para ulama berkata, “Kematian itu bukanlah suatu ketiadaan melulu dan bukan pula kemusnahan murni. Tetapi sesungguhnya kematian itu hanyalah merupakan terputusnya hubungan ruh dengan tubuh dan perpisahan ruh itu dari tubuh, pergantian suatu keadaan kepada keadaan yang lain dan pemindahan dari suatu negeri ke negeri yang lain.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad berikut ini, “Orang-orang mukmin itu tidaklah mati, tetapi mereka dipindahkan.”

Kematian itu adalah suatu bencana (musibah) yang terbesar. Allah benar-benar telah menyebutnya sebagai musibah.

Allah berfirman dalam surat Al Maa’idah ayat 106, “Lalu kamu ditimpa bencana kematian…”

Jadi kematian itu memang terbesar, tetapi lebih besar dari kematian itu sendiri kelengahan dari kematian, tidak mengingatnya dan kurang merenungkannya. Walaupun begitu pada kematian itu sendiri terdapat pelajaran bagi orang yang mengambil pelajaran.

Menurut Al Qurthubi bahwa sesungguhnya semua ummat Muhammad telah setuju bahwa kematian itu tidak ada batas umur yang ditentukan, waktu ang ditentukan atau sakit yang ditentukan. Sesungguhnya demikian itu hanyalah agar seseorang selalu menyediakan bekal untuk menyambutnya dan bersiap diri untuk menghadapinya. Tetapi orang dikuasai cinta dunia dan tenggelam di dalam kesenangan-kesenangannya tentu akan melupakannya dan tidak pernah mengingatnya. Bahkan jika kematian disebut-sebut di sampingnya dia membencinya dan tabiatnya tidak mau menerimanya. Karena pegaruh cinta dunia dan bercokolnya hal-hal yang berhubungan dengan dunia itu menghalanginya untuk berfikir tentang kematian yang menjadi sebab perpisahan dengan dunia itu, dan diapun tidak suka untuk mengingatnya. Jika memang dia mengingatnya maka dia mengingatnya karena menyusahkan dunia dan sibuk dengan mencaci kematian, ingatnya itu akan menambahnya lebih jauh dari Allah.

 

Sumber: Durrotun Nasihin