Mengapa Orang Mukmin Susah (Miskin) dan Orang Kafir Kaya?

Iman Abul Laits rahimahullah menceritakan dalam kitab At Tanbih dari Abdillah bin Al Harits, dari Ibnu Abbas, berkata, “Ada seorang Nabi mengadu kepada Allah Tuhannya dan berkata, ‘Ya Tuhanku, seorang hamba mukmin yang taat kepada-Mu dan menjauhi maksiat-Mu, maka dunia ini menjauh darinya dan bala’-bala’ berdatangan kepadanya. Sedang hamba yang kafir yang tidak mau taat kepada-Mu dan amat berani melanggar kemaksiatan-Mu maka bala’-bala’ menjauh darinya dan dunia dilapangkan baginya.”

Allah menurunkan wahyu kepadanya, “Sesungguhnya para hamba ini adalah milik-Ku, sedang segala macam bala’ pun milik-Ku. Masing-masing bertasbih memuji kebesaran-Ku. Lalu seorang mukmin adalah memiliki dosa, maka Aku jauhkan dunia daripadanya dan Aku hadakan bala’ padanya, jadilah bala’ itu menjadi penghapus dosa-dosanya sehingga kelak dia bertemu dengan-Ku dan Aku membalas segala macam kebaikannya. Sedang orang kafir, diapun memiliki bentuk kebaikan. Karena itu Aku lapangkan rezki untuknya dan Aku singkirkan bala’ daripadanya, serta Aku membalas kebaikan-kebaikannya di dunia ini, sehingga kelak dia bertemu dengan-Ku dan Aku akan membalas segala macam kejahatannya.”

Dalam Al Khabar disebutkan bahwa ada seorang mukmin dan seorang kafir pada zaman dahulu berangkat untuk mencari ikan. Bertindaklah orang kafir menyebut-nyebut berhala-berhalanya, lalu melemparkan jalanya sehingga dia mendapat ikan yang banyak.

Bertindak pula orang mukmin tersebut berdzikir kepada Allah dan melemparkan jalanya, tetapi tidak sedikitpun ikan datang. Kemudian ketika matahari terbenam dia memperoleh seekor ikan, tetapi ikan itu menggelepar-gelepar dan jatuh lagi ke dalam air dari tangannya

Pulanglah orang mukmin itu dengan tidak mendapatkan sesuatu, dan orang kafir tersebut pulang sedang jalanya penuh dengan ikan.

Bersedihlah malaikat yang menyertai si mukmin atas hal tersebut.  Ketika malaikat itu naik ke langit, Allah memperlihatkan kepada malaikat itu tempat tinggal si mukmin di surga. Berkatalah malaikat itu, “Demi Allah, tidak membahayakannya apa yang telah menimpanya itu setelah dia kembali ke tempat ini.”

Allah pun memperlihatkan kepada malaikat itu tempat tinggal si kafir di neraka. Berkatalah dia, “Demi Allah, tidak ada artinya apa yang telah menimpanya di dunia setelah dia kembali kesana.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin