Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail

Allah berfirman dalam surat Ash Shaffaat ayat 99-105:

  1. dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku[a].
  2. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.
  3. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar[b].
  4. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.
  5. tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
  6. dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,
  7. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu[c] Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

[a] Maksudnya: Ibrahim pergi ke suatu negeri untuk dapat menyembah Allah dan berda’wah.

[b] Yang dimaksud ialah Nabi Ismail a.s.

[c] Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksana- kannya.

Dikatakan bahwa sebab-sebab Nabi Ibrahim menyembeli putranya yaitu Ismail adalah bawah dia telah berkurban seribu ekor kambing, 300 ekor lembu dan 100 ekor unta dalam jalan Allah. semua orang dan malaikat sangat kagum mengenai pengorbanan itu.

Berkatalah Nabi Ibrahim, “Semua yang telah aku kurbankan bukan apa-apa bagiku. Demi Allah, jika aku mempunyai seekor putra, tentu akan aku sembelih untuk kepenringan di jalan Allah dan aku kurbankan untuk Allah swt.”

Setelah Nabi Ibrahim mengatakan demikian dan selang waktu beberapa lama, lupalah dia akan ucapan itu. Lalu setelah dia datang di Ardhul Muqaddasah (bumi suci), dia memohon kepada Allah untuk dianugerahi seorang anak. Dan Allah mengabulkan doanya.

Saat anak tersebut sudah besar, dikatakanlah kepada Ibrahim, “Penuhilah nadzarmu dahulu.”

Menurut Ibnu Abbas bahwa Ketika tiba malam Tarwiyah (8 Dzulhijjjah), dan ketika Nabi Ibrahim tidur, dia bermimpi ada orang yang berkata kepadanya, ‘Penuhilah nadzarmu.’ Ketika pagi harinya dia merenungkan apakah mimpi itu dari Allah atau dari setan. Karena itulah hari tersebut dinamakan hari Tarwiyah (renungan). Malam kedua dia bermimpi untuk kedua kalinya. Ketika pagi harinya dia telah mengetahui bahwa mimpi itu dari Allah. karena itu hari itu dinamakan hari Arafah (mengetahui), dan tempat itu dinamakan Arafah. Kemudian dia bermimpi pada malam ketiga seperti itu juga, maka diapun telah membulatkan tekadnya untuk menyembelih putranya. Karena itulah hari tersebut dinamakan hari nahar (menyembelih).

Ketika Nabi Ibrahim hendak pergimembawa Ismail untuk disembelih, berkatalah dia kepada Hajar, “Berilah anakmu Ismail dengan pakaian yang bagus, karena aku akan membawanya untuk bertamu.”

Maka Hajar mengenakan pakaian padanya dan meminyaki rambutnya serta menyisirnya. Lalu Nabi Ibrahim membawa pisau dan tali serta membawa Ismail pergi ke arah Mina. Belum pernah Iblis sejak dia diciptakan oleh Allah sibuk dan lebih banyak mondar-mandir dibandingkan dengan hari itu.

Ismail telah berlarian di depan ayahnya, datanglah Iblis dan berkata kepada Nabi Ibrahim, “Bukankah engkau dapat melihat kesempurnaan potongan tubuhnya, ketampanan wajahnya dan kelembutan tingkah lakunya?” Nabi Ibrahim menjawab, “Ya, tetapi aku telah diperintahkan untuk menyembelihnya.”

Setelah itu Iblis datang kepada Hajar, “Bagaimana engkau enak duduk-duduk, sedangkan Ibrahim pergi membawa anakmu untuk disembelihnya?” Hajar berkata, “Janganlah engkau berbohong kepadaku, apakah engkau pernah melihat seorang ayah membunuh anaknya sendiri?”

Iblis berkata, “Untuk keperluan itulah dia membawa tali dan pisau.” Hajr bertanya, “Untuk keperluan apakah dia harus menyembelihnya?” Iblis berkata, “Dia mengira bahwa Tuhannya memerintahkan demikian.” Berkatalah Hajar, “Seorang Nabi tidak akan diperintahkan untuk mengajarkan kebathilan, dan aku akan mengeluarkan nyawaku sendiri untuk memenuhi perintahnya, apalagi anakku.”

Setelah putus asa dalam mempengaruhi Nabi Ibrahim dan Hajar. Iblis datang kepada Ismail, “Engkau kelihatan gembira, sedangkan ayahmu akan menyembelihmu.” Ismail berkata, “Janganlah engkau berbohong, mengapa ayahku akan menyembelihku?” Iblis berkata, “Dia menyangka bahwa Tuhannya telah memerintahkan demikian.” Ismail berkata, “Kami akan mendengar dan mematuhi perintah Tuhanku.”

Ketika iblis akan mengucapkan kata-kata yang lain lagi, maka Ismail mengambil sebuah batu dari tanah dan melemparnya dengan batu itu, serta membutakan matanya yang sebelah kiri. Pergilah Iblis dengan tangan hampa dan kecewa. Maka Allah mewajibkan kepada kita untuk melempar jumrah di tempat ini, untuk mengusir setan dan mengikuti jejak Ismail.

Setelah Nabi Ibrahim sampai di Mina, berkatalah dia kepada Ismail, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka renungkanlah apa pendapatmu?” terangkanlah kepadaku, bagaimana pendapatmu? Apakah engkau dapat tabah menghadapi perintah Allah atau engkau harus meminta ampun sebelum dikerjakan. Ini adalah suatu ujian dari Nabi Ibrahim kepada putranya, apakah dia akan menjawab dengan ‘Mendengar dan patuh.’ Atau ‘tidak.’

Ismail menjawab, ‘Hai ayahku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, engkau akan menemukan aku termasuk orang-orang yang bersabar, Insya Allah.’ yaitu bersabar menghadapi perintah untuk disembelih.

Karena Nabi Ibrahim telah mendengar jawaban putranya itu, tahulah dia bahwa Allah telah mengabulkan doanya ketika dia berdoa kepada Allah, ‘Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang shalih.’ (Ash Shaffaat: 100). Lalu dia memuji kepada Allah sebanyak-banyaknya.

Kemudian Ismail berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, aku berwasiat kepadamu dengan beberapa hal:

  1. Engkau harus mengikat kedua tanganku agar aku tidak bergerak keras sehingga dapat menyakitimu.
  2. Engkau hendaknya menjadikan wajahku menghadap ke tanah agar engkau tidak memandang wajahku sehingga engkau menjadi kasihakn kepadaku.
  3. Singsingkan pakaianmu agar sedikit darahku tidak melumuri pakaianmu, sehingga menjadi berkurang pahalaku, dan ibuku akan melihatnya sehingga menjadi bersedih.
  4. Tajamkanlah pisaumu dan cepatlah dalam menggerakkannya di atas tenggorokanku agar lebih ringan, karena kematian sangat berat.
  5. Hendaklah engkau membawa bajuku kepada ibuku agar dapat dijadikan kenangan baginya dariku.
  6. Sampaikan salamku adanya dan katakanlah kepadanya, ‘Tabahkanlah hatimu menerima perintah Allah ini.’
  7. Janganlah engkau ceritakan padanya bagaimana engkau telah menyembelihku dan bagaimana engkau mengikat tanganku.
  8. Janganlah engkau bawa masuk anak-anak kepadaibuku agar tidak mengungkit kesedihannya terhadap aku.
  9. Apabila engkau melihat seorang anak janganlah engkau memperhatikannya sehingga engkau tidak menjadi gelisah dan bersedih hati.

Berkatalah Nabi Ibrahim, “sebaik-baik penolong adalah engkau hai anakku, untuk menghadapi perintah Allah swt ini.”

“ketika keduanya menyerah.” Yakni menyerahkan diri dan patuh terhadap perintah Allah “dan Ibrahim membaringkan putranya pada pelipisya” yakni menjatuhkan putranya pada belahan tubuhnya seperti seekor kambing yang disembelih.

Diletakkannya pisau itu di atas tenggorokan putranya, dan melaksanakan penyembelihan itu dengan keras dan kuat, tetapi dia tidak mampu memotong tenggorokan itu. Allah benar-benar telah menghilangkan tabir dari penglihata malaikat langit dan bumi. Ketika mereka melihat bahwa Nabi Ibrahim menyembelih putranya Ismail, rebahlah mereka dengan bersujud kepada Allah. kemudian Allah berfirman, “Lihatlah hambaku, bagaimana dia mneggerakkan pisaunya di atas tenggorokan puteranya demi mendapatkan ridha-Ku. Sedangkan waktu Kami berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi.’ (Al Baqarah: 30), kamu mengatakan, ‘Apakah Engkau akan menjadikan di bumi itu orang yang akan berbuat kerusakan di sana dan menumpahkan beberapa darah, sedang kami bertasbih dengan memuji kebesaran-Mu dan mensucikan Engkau (Al Baqarag: 30).”

Kemudian Ismail berkata kepada ayahnya, “Hai ayahku, lepaskanlah kedua tanganku dan kedua kakiku sehingga Allah tidak melihatku dalam keadaan terpaksa. Yakni di dalam taat kepada perintah-Nya dalam keadaan terpaksa. Tetapi letakkanlah pisau di atas leherku agar para malaikat mengetahui bahwa putra Nabi Al Khalil taat kepada Allah dan perintah-Nya dengan kesadarannya.”

Maka Ismail membentangkan kedua tangan dan kakinya tanpa diikat, dan dipalingkannya wajahnya ke tanah. Lalu Nabi Ibrahim menggerakkan pisau dengan semua kekuatannya. Tetapi pisau tersebut tidak dapat memutus leher Ismail.

Ismail berkata, “Wahai ayah, kekuatanmu lemah disebabkan kecintaanmu kepadaku sehingga tidak dapat menyembelihku.”

Maka Nabi Ibrahim memukulkan pisau (pedangnya) pada sebuah batu dan jadilah batu itu terbelah dua. Berkatalah beliau, “Engkau dapat memotong batu tetapi mengapa tidak dapat memotong daging?” berkatalah pisau itu dengan ijin Allah, “Hai Ibrahim, engkau engatakan ‘potonglah’ tetapi Tuhan berfirman, ‘Janganlah engkau potong’. Bagaimana aku harus menuruti perintahmu tetapi durhaka kepada Tuhanmu?”

Lalu Allah berfirman, “Dan Kami berseru kepada Ibrahim, ‘Hai Ibrahim, engkau benar-benar telah membenarkan mimpimu.’ Yakni apa yang dilihat dalam mimpi (wahyu Allah). terlihatlah bagi hamba-hamba-Ku bahwa engkau adalah memilih ridha-Ku mengalahkan cintamu pada putramu, dan dalam hal ini engkau telah menjadi orang yang berbuat baik. “Sesungguhnya demikianlah Kami akan membalas orang-orang yang berbuat baik.” (Ash Shaffaat: 104-105). Yakni orang-orang yang taat kepada perintah-Ku.

“Sesungguhnya ini benar-benar merupakan ujian yang nyata.” (Al Baqarah: 106)

Yakni penyembelihan itu adalah suatu ujian yang terang atau cobaan yang nyata dan membedakan antara orang yang berlaku ikhlas dengan yang lain. atau sebuah cobaan yang berat, sebab memang tidak suatu hal yang lebih berat daripada ujian ini.

“Dan kami tebus anak itu dengan binatang sembelihan yang besar.” (Al Baqarah: 107)

Yakni kami selamatkan anak yang diperintahkan untuk disembelih dengan binatang sembelihan yang besar dari surga, yaitu seekor kambing yang pernah digunakan kurban Habil dan diterima Allah. kambing itu hidup di surga sehingga dapat digunakan untuk menebus Ismail. Dia adalah seekor kambing yang besar tubuhnya.

Malaikat Jibril datang dengan membawa kambing tersebut sehingga dia dapat melihat Nabi Ibrahim sedang menggerak-gerakkan pisaunya pada tenggorokan Ismail. Berkatalah Jibril, “Allahu akbar, Allaahu akbar.” Nabi Ibrahim menyambut, “laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.” Ismail berkata, “Allaahu akbar wa lillaahil hamdu.”

Maka Allah menganggap bagus susunan kalimat ini, maka diwajibkan-Nya pada hari kita di hari-hari Nahar karena mengikuti jejak Nabi Ibrahim.

Ibnu Abbas berkata, “Seandainya penyembelihan itu dapat terlaksana sempurna tentu manusia menyembelih anaknya termasuk perbuatan sunat.” Dan Abu Hanifah mengambil dalil dengan ayat ini, bahwa jika ada orang bernazar untuk menyembelih anaknya maka wajiblah baginya menyembelih seekor kambing.

Diriwayatkan bahwa Ismail pernah berkata kepada ayahnya, “engkaukah yang lebih pemurah hati ataukah aku?” nabi Ibrahim menjawab, “Aku.” Ismail berkata, “Akulah yang lebih pemurah. Karena engkau memiliki anak yang lain, tetapi aku tidak memiliki kecuali satu nyawa saja.” Dan Allah berfirman, “Akulah yang lebih pemurah daripada engkau berdua, karena Aku telah memberikan tebusan untuk engkau berdua dan menyelamatkan engkau berdua dari siksaan berupa penyembelihan itu.”

Diriwayatkan bahwa para malaikat sangat kagum kepada kemuliaan Ismail di sisi Tuha, karena Allah mengirimkan seekor kambing dari surga di atas pundak malaikat Jibril sebagai tebusan untuknya. Allah berfirman, “Demi keagungan-Ku dan keluhuran-Ku, seandainya seluruh malaikat memikul tebusan di atas pundak mereka, tentu hal itu tidak dapat mengimbangi ucapan Ismail, “Hai ayahku, kerjakanlah apa yag diperintahkan kepadamu. Engkau akan menemukan aku termasuk orang-orang yang bersabar, Insya Allah.”

Nabi Ibrahim diuji oleh malaikat Jibril

Ketika Allah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai Al Khalil, berkatalah para malaikat, “Ya Tuhan, dia memiliki harta, anak dan istri. Bagaimana dia menjadi kekasih-Mu disertai semua hal yang menyibukkannya itu?”

Berfirmanlah Allah swt, “Janganlah kamu memandang rupa wajah hamba-Ku, dan jangan pula kepada hartanya. Tetapi pandanglah hatinya dan amal perbuatannya. Tidak ada sebuah cintapun dalam hati kekasih-Ku itu kepada selain Aku. Jika kamu mau, pergilah dan ujilah dia.”

Maka datanglah malaikat Jibril dalam bentuk manusia. Nabi Ibrahim memiliki 12 ribu ekor anjing untuk berburu dan menjaga kambing-kambingnya. Setiap anjing memiliki kalung dari emas, untuk memberi pelajaran bahwa dunia ii suatu yang najis dan najis tidak pantas kecuali untuk sesuatu yang najis pula. Nabi Ibrahim berada di atas sebuah bukit yang tinggi dan mengawasi kambing-kambingnya itu.

Jibril memberi salam kepadanya dan berkata kepadanya, “Milik siapakah kambing-kambing ini?” nabi Ibrahim menjawab, “Milik Allah, hanya saja saat ini ada di tanganku.”

Kemudian Jibril berkata, “Bersedekahlah dengan seekor kambing.” Ibrahim menjawab, “Berdzikirlah kepada Allah dan ambillah sepertiganya.” Maka jibril membaca Subbuuhun qudduusun rabbunaa wa rabbul malaaikati war ruuh (Maha Suci lagi Maha Agung Tuhan kami, Tuhan para malaikat dan Tuhan malaikat ruh (Jibril). Kemudian Ibrahim berkata, “Berdzikirlah untuk yang kedua kali maka ambillah separuhnya.”

Malaikat Jibril membaca Subbuuhun qudduusun rabbunaa wa rabbul malaaikati war ruuh. Kemudian Ibrahim berkata lagi, “Berdzikirlah untuk ketiga kalinya maka ambillah seluruhnya, beserta penggembala dan anjing-anjingnya.”

Berdzikirlah malaikat Jibril, dan Nabi Ibrahim berkata, “Berdzikirlah untuk yang keempat maka aku menyatakan sebagai budakmu.”

Allah berfirmn, “Hai Jibril, bagaimana engkau temukan kekasih-Ku?” Jibril menjawab, “Sebaik-baik kekasih adalah dia, ya Tuhanku.”

Maka Nabi Ibrahim memanggil-manggil, “Hai penggembala-penggembala kambing, halaulah kambing-kambing itu di belakang orang ini kemana dia mau. Karena kamu semua sekarang ini telah menjadi kekuasaannya.”

Lalu malaikat Jibril menampakkan dirinya dan berkata, “Hai Ibrahim, tidak ada keperluan bagiku dalam kambing-kambing itu. Aku hanya datang untuk mengujimu.” Nabi Ibrahim berkata, “Aku adalah khalilullah, aku tidak akan mencabut pemberianku padamu.”

Lalu Allah enurunkan wahyu kepada Nabi Ibrahim agar menjualnya dan membelikan uangnya pekarangan dan kebun serta menjadikannya sebagai waqaf yang dapat dimakan oleh orang fakir maupun orang aya sampai hari kiamat.”

Disebutkan bahwa orang yang memiliki 20 mitsqal emas atau 200 dirham perak (yaitu ukuran nishab bagi keduanya) setelah keperluan-keperluan pokoknya, maka dia adalah orang kaya. Jika orang memiliki harta selain dinar dan dirham, maka dilihat jka seharga dua ratus dirham itu maka dia adalah orang kaya, dan wajiblah baginya berkurban (menyembelih binatang kurban). Jika kurang dari itu maka tidaklah wajib.

Disebutkan pula bahwa orang yang memiliki pekarangan (tanah) adalah orang kaya jika seharga 200 dirham, sedang orang yang memiliki kebun anggur apabila seharga 200 dirham maka dia adalah orang kaya dengan kesepakatan para ulama. Karena kebun anggur adalah untuk kemewahan bukan keperluan pokok, sebab manusia dapat hidup tanpa dengan buah-buahan itu.

 

Sumber: Durrotun Nasihin