Keutamaan Sifat Sabar

Sifat sabar merupakan sebuah sifat yang terpuji, dan sangat dianjurkan sekali dalam syariat islam. Sabar ini dilakukan dalam berbagai situasi dan keadaan yang dihadapi oleh umat islam.

Diceritakan bahwa Asy Syibli rahimahullah tertahan di rumah sakit. Masuklah sekelompok orang menjenguknya. Mereka berkata, “Kami adalah orang-orang yang mencintaimu. Kami datang perlu menjengukmu.” Maka bertindaklah Asy Syibli melempar mereka dengan batu dan larilah mereka semua.

Kemudian Asy Syibli berkata, “Jika kamu adalah orang-orang yang mencintaiku tentu kamu akan bersabar menerima bala’ku ini.”

Nabi Muhammad bersabda, “Bersabar sesaat menghadapi sebuah musibah adalah lebih baik daripada beribadah setahun.”

sabar

Keutamaan sabar daripada syukur

Karena itu pernah disebutkan bahwa orang yang bersabar adalah lebih utama daripada orang yang bersyukur. Karena orang yang bersyukur akan bersama tambahan nikmat, seperti firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7:

“Sungguh jika kamu bersyukur tentu Kami akan menambah kepadamu.”

Sedang orang yang bersabar bersama dengan Allah swt, seperti firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 153, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.”

Demikian pula diriwayatkan dari Muhammad bin Maslamah, dari Nabi Muhammad, beliau bersabda:

Tiada kebaikan bagi seorang hamba yang tidak pernah hilang hartanya dan tidak pernah sakit tubuhnya. Sesungguhnya Allah swt apabila mencintai seorang hamba maka Dia akan mengujinya, dan apabila Dia menguji hamba itu bersabarlah hamba tersebut.”

Jenis dan Tingkatan Sabar

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dalam perihal sabar, dan Abusy Syaikh dalam perihal pahala. Dia berkata bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Kesabaran itu ada 3 macam” dilihat dari segi hubungannya ada 3 macam, yaitu ‘sabar menghadapi musibah’. Sehingga dia tidak membencinya ‘sabar menghadapi maut’ sehingga dia tetap menunaikannya ‘dan sabar menghadapi maksiat’ sehingga tidak terperosok ke dalamnya.

Barang siapa yang bersabar menghadapi musibah, yakni hal-hal yang membuat kebinasaan sehingga dia menolaknya dengan kebaikan tujuan hatinya, maka Allah akan menulis untuknya, yakni Allah menentukan atau memerintahkan untuk menulis dalam Lauh Mahfudh atau dalam buku catatan amal 300 derajat, yakni kedudukan tinggi di surga, ukuran antara kedua derajat itu adalah seperti antara langit dan bumi.

Barang siapa yang bersabar menghadapi maut, yakni untuk mengerjakannya dan memikul jerih payah karena ketentuan hukum, maka Allah akan menulis untuknya 600 buah derajat, jaraka antara kedua derajat adalah seperti apa yang ada diantara batas bumi teratas sampai batas terakhir dari bumiketujuh.

Dan barang siapa yang bersabar untuk meninggalkan maksiat, maka Allah menulis untuknya 900 buah derajat, jarak antara dua buah derajat adalah apa yang ada diantara batas bumi sampai batas tertinggi dari Arasy.

Jadi bersabar untuk meninggalkan hal-hal yang haram adalah tingkatan yang tertinggi, karena sulitnya menentang nafsu dan menekannya pada sesuatu yang bukan menjadi tabiatnya. Lalu di bawahnya barulah bersabar untuk mengerjakan segala perintah, karena kebanyakan perintah itu masih disukai oleh nafsu yang utama. Yang terakhir ialah bersabar menghadapi hal yang tidak disukai, karena ia bisa datang pada orang yang berbuat baik atau orang yang menyimpang, baik dalam keadaan sadar atau terpaksa.

 

Sumber: Durrotun Nasihin